MELAYANI SEPERTI YESUS (3) – oleh Pdt. Daniel Rahardjo (Ibadah Raya 3 – Minggu, 26 Juli 2026)

Matius 20:26–28 – “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

LATAR BELAKANG
Pengajaran Tuhan Yesus mengenai hati seorang pelayan kembali diawali dengan peristiwa ketika para murid masih memandang kebesaran menurut ukuran dunia. Sementara Yesus sedang mempersiapkan diri menghadapi penderitaan dan kematian-Nya, para murid justru memikirkan siapa yang akan memperoleh kedudukan paling tinggi dalam Kerajaan Allah.

Dalam Markus 10:17–19, Yesus untuk ketiga kalinya memberitahukan bahwa Ia akan menderita, diserahkan kepada para pemimpin agama, dihukum mati, dan bangkit pada hari yang ketiga. Pikiran Yesus tertuju kepada salib sebagai jalan keselamatan bagi manusia.

Sebaliknya, dalam Matius 20:20–23, Yakobus dan Yohanes meminta tempat yang terhormat di sebelah kanan dan kiri Yesus dalam kemuliaan-Nya. Permintaan ini menunjukkan bahwa mereka masih dipengaruhi oleh keinginan untuk memperoleh kehormatan dan kedudukan. Mereka mempromosikan diri sendiri sehingga ego lebih menonjol daripada semangat melayani.

Permintaan tersebut membuat murid-murid yang lain marah (Matius 20:24). Bahkan sebelumnya mereka pernah memperdebatkan siapa yang terbesar di antara mereka (Markus 9:34). Keinginan menjadi yang paling utama ternyata menjadi pergumulan seluruh murid. Karena itu Yesus menegaskan bahwa prinsip Kerajaan Allah berbeda dengan prinsip dunia. Dunia mengukur kebesaran berdasarkan jabatan, kekuasaan, dan kemampuan memerintah orang lain. Sebaliknya, Yesus mengajarkan bahwa orang yang terbesar adalah mereka yang rela menjadi pelayan dan hamba bagi sesamanya.

HIDUP YANG DIPENUHI PENGABDIAN
Mengikut Kristus berarti memilih jalan kehidupan yang penuh pengabdian. Menjadi seorang pelayan bukanlah sebuah tugas yang dilakukan sesekali, melainkan sebuah gaya hidup yang harus terus dibangun setiap hari.

Yesus sendiri adalah Hamba yang sempurna. Seluruh hidup-Nya dipersembahkan untuk melakukan kehendak Bapa dan melayani manusia. Karena itu setiap pengikut Kristus dipanggil untuk memiliki karakter yang sama dengan Guru yang diikutinya.

Firman Tuhan dalam Roma 8:28–29 menjelaskan bahwa tujuan utama Allah bukan hanya membawa kita kepada keselamatan, tetapi membentuk kita menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya. Setelah seseorang mengalami kelahiran baru dan menjadi bagian dari keluarga Allah, Roh Kudus mulai membentuk karakter Kristus di dalam dirinya.

Karakter yang paling menonjol dalam kehidupan Yesus adalah hati yang selalu siap melayani dan memberi. Ia tidak pernah hidup bagi kepentingan-Nya sendiri, tetapi mengabdikan seluruh hidup-Nya bagi keselamatan manusia. Oleh sebab itu, pelayanan merupakan salah satu proses yang Tuhan gunakan untuk mengubah kita menjadi semakin serupa dengan Kristus.

YESUS MEMBERI TELADAN
Salah satu gambaran paling indah mengenai hati seorang pelayan terdapat dalam perumpamaan Orang Samaria yang Murah Hati (Lukas 10:30–37). Dalam kisah ini, Yesus sebenarnya sedang menggambarkan diri-Nya sendiri sebagai Pribadi yang datang untuk menyelamatkan manusia yang terluka oleh dosa.

Seorang yang sedang melakukan perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho disamun, dipukuli, dirampok, lalu ditinggalkan hampir mati di pinggir jalan. Orang tersebut tidak lagi memiliki kemampuan untuk menolong dirinya sendiri. Ia membutuhkan seseorang yang bersedia berhenti dan menunjukkan belas kasihan. Ironisnya, seorang imam dan seorang Lewi justru melewati orang itu tanpa memberikan pertolongan. Mereka adalah orang-orang yang memahami hukum Taurat dan aktif dalam pelayanan keagamaan, tetapi agama dan tradisi saja ternyata tidak cukup untuk menggerakkan hati mereka menolong sesama. Pengetahuan tanpa kasih tidak menghasilkan pelayanan yang sejati.

Kemudian datanglah seorang Samaria. Orang Samaria pada masa itu dipandang rendah oleh bangsa Yahudi, namun justru dialah yang menunjukkan hati seorang pelayan. Ayat 33–34 mencatat bahwa ketika melihat orang yang terluka itu, hatinya tergerak oleh belas kasihan. Belas kasihan menjadi awal dari sebuah pelayanan yang nyata.

Ia tidak hanya merasa kasihan, tetapi segera bertindak. Luka-luka orang tersebut dibebat, dituangi minyak dan anggur sebagai obat, lalu ia dinaikkan ke atas keledainya sendiri dan dibawa ke sebuah rumah penginapan untuk dirawat. Semua itu dilakukan dengan penuh perhatian dan kasih.

Pelayanannya tidak berhenti sampai di sana. Ayat 35 mencatat bahwa keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan sebagai biaya perawatan. Bahkan ia berjanji akan mengganti semua biaya tambahan apabila diperlukan ketika ia kembali. Sikap ini mengingatkan kita kepada ajaran Yesus dalam Matius 5:41, yaitu kesediaan untuk melakukan lebih daripada yang diminta.

Orang Samaria tersebut juga menghendaki agar pemilik penginapan merawat orang yang terluka itu dengan kasih yang sama seperti yang telah ia tunjukkan. Hal ini menggambarkan bagaimana Yesus bukan hanya menyelamatkan manusia, tetapi juga mempercayakan gereja-Nya untuk terus merawat dan membangun kehidupan orang-orang yang telah diselamatkan.

LEBAH SEBAGAI MODEL PELAYANAN
Materi ini kemudian menggunakan kehidupan lebah sebagai gambaran mengenai pelayanan yang efektif. Lebah merupakan makhluk yang hidup dalam sebuah koloni yang teratur. Seluruh koloni memiliki satu pemimpin, yaitu ratu lebah, sedangkan anggota lainnya terdiri dari lebah pekerja dan lebah penjaga.

Yang menarik, setiap lebah memahami tugasnya masing-masing dan bekerja bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi demi kelangsungan hidup seluruh koloni. Mereka memiliki etos kerja yang sangat tinggi. Setiap hari lebah mengumpulkan nektar dan serbuk sari dari bunga-bunga untuk menghasilkan madu yang menjadi kebutuhan bersama.

Lebah juga merupakan makhluk sosial yang sangat bergantung pada kerja sama. Tidak ada seekor lebah yang dapat membangun koloninya sendirian. Seluruh anggota saling melengkapi sesuai fungsi yang telah ditetapkan.

Ratu lebah sendiri menjalankan peran yang melayani. Tugas utamanya adalah memastikan kelangsungan hidup koloni dengan menghasilkan generasi baru. Kepemimpinannya bukan untuk mencari penghormatan, tetapi demi menjaga kehidupan komunitas.

Pelajaran penting dari kehidupan lebah adalah bahwa pelayanan yang sehat selalu dibangun di atas kerja sama, kesetiaan menjalankan tugas, serta kerelaan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

DEBORA – “RATU LEBAH”
Dalam Alkitab terdapat seorang tokoh yang namanya memiliki arti lebah, yaitu Debora (Hakim-Hakim 4:4). Nama Debora sendiri berarti lebah, sedangkan nama suaminya, Lapidot, berarti obor. Kedua nama ini memberikan gambaran mengenai kehidupan yang produktif sekaligus membawa terang.

Debora merupakan satu-satunya perempuan yang dipakai Tuhan menjadi hakim atas Israel. Ia biasa duduk di bawah pohon kurma Debora untuk menghakimi bangsa Israel. Pohon kurma dalam Alkitab sering melambangkan kehidupan orang benar, sebagaimana tertulis dalam Mazmur 92:13, “Orang benar akan bertunas seperti pohon korma.” Sebelum dipakai Tuhan sebagai hakim, Debora dikenal sebagai seorang pemintal rami yang digunakan untuk membuat sumbu lampu di Kemah Suci. Pekerjaan yang sederhana itu menunjukkan bahwa Tuhan sering kali mempersiapkan seseorang melalui kesetiaan dalam perkara kecil sebelum mempercayakan tanggung jawab yang lebih besar.

Ketika Barak dipanggil Tuhan untuk berperang melawan Sisera, Debora tidak berjalan sendiri. Ia mengajak Barak maju bersama-sama. Sikap ini menunjukkan bahwa Debora adalah seorang pemimpin yang memiliki roh persekutuan. Ia tidak mencari kemuliaan bagi dirinya sendiri, tetapi mau bekerja sama dengan orang lain demi menggenapi kehendak Allah.

Dalam Hakim-Hakim pasal 5, setelah memperoleh kemenangan, Debora bersama Barak menaikkan nyanyian pujian kepada Tuhan. Ia menyadari bahwa kemenangan bukan berasal dari kekuatan manusia, melainkan karena pertolongan Allah. Seorang pelayan sejati selalu mengembalikan seluruh kemuliaan kepada Tuhan.

Menariknya, Alkitab mencatat bahwa yang akhirnya membunuh Sisera bukanlah Debora, melainkan Yael. Hal ini menunjukkan bahwa Debora tidak berusaha mengambil seluruh penghargaan bagi dirinya. Ia bersukacita melihat Tuhan memakai orang lain untuk menyelesaikan pekerjaan-Nya.

MELAYANI TUHAN
Firman Tuhan kembali menegaskan bahwa tujuan Allah adalah membentuk setiap orang percaya menjadi serupa dengan Kristus (Roma 8:28–29). Salah satu proses pembentukan tersebut terjadi melalui pelayanan. Kesempatan melayani merupakan anugerah yang patut disyukuri. Dalam pelayanan, Tuhan sedang melatih kita memiliki hati yang rendah, taat, dan rela berkorban seperti Yesus.

Yesus berkata bahwa orang yang ingin menjadi besar harus menjadi Diakonos, yaitu seorang pelayan yang bersedia memenuhi kebutuhan orang lain. Sedangkan orang yang ingin menjadi terkemuka harus menjadi Doulos, yaitu seorang hamba yang sepenuhnya menyerahkan hidupnya kepada Tuannya.

Inilah kehidupan yang telah diteladankan Yesus. Ia datang bukan untuk mencari pelayanan dari manusia, tetapi justru melayani manusia dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang. Oleh sebab itu, setiap orang percaya dipanggil untuk mengikuti teladan Kristus dengan hidup yang penuh pengabdian, kerendahan hati, serta kasih kepada sesama.

KESIMPULAN
Melayani seperti Yesus berarti memiliki hati yang digerakkan oleh belas kasihan, bukan oleh keinginan untuk dihormati. Teladan Orang Samaria yang murah hati menunjukkan bahwa pelayanan sejati selalu diwujudkan melalui tindakan nyata yang rela berkorban bagi sesama.

Seperti kehidupan lebah yang bekerja bersama demi kepentingan koloni, demikian pula gereja dipanggil untuk membangun budaya pelayanan yang dilandasi kerja sama dan saling melengkapi. Debora juga menunjukkan bahwa pemimpin yang berhati hamba adalah pemimpin yang hidup benar, memiliki roh persekutuan, mengutamakan kemuliaan Tuhan, dan bersukacita ketika orang lain dipakai Allah.

Pada akhirnya, tujuan setiap pelayanan bukanlah meninggikan diri sendiri, melainkan menjadi semakin serupa dengan Yesus Kristus, Sang Hamba Agung yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan hidup-Nya bagi keselamatan banyak orang.

Arsip Catatan Khotbah