Matius 20:26–28 – “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”
LATAR BELAKANG
Sebelum Tuhan Yesus menyampaikan pengajaran mengenai arti seorang pelayan, terlebih dahulu terjadi sebuah peristiwa yang menjadi latar belakang munculnya pengajaran tersebut. Dalam Markus 10:17–19, Yesus untuk ketiga kalinya memberitahukan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia akan menderita, diserahkan kepada para pemimpin agama, dihukum mati, dan pada hari yang ketiga akan bangkit kembali. Fokus Yesus saat itu bukanlah kemuliaan duniawi, melainkan menyelesaikan misi keselamatan yang diberikan oleh Bapa.
Namun setelah pemberitahuan itu, justru muncul sebuah permintaan yang menunjukkan bahwa murid-murid masih memiliki cara pandang duniawi. Dalam Matius 20:20–23, ibu Yakobus dan Yohanes datang kepada Yesus untuk meminta agar kedua anaknya kelak mendapat tempat yang terhormat di dalam Kerajaan Allah, yaitu duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus. Permintaan ini menunjukkan adanya keinginan untuk memperoleh kedudukan, kehormatan, dan pengakuan. Mereka ingin menjadi yang paling besar dan paling utama. Sikap ini memperlihatkan bahwa ego dan ambisi pribadi masih lebih menonjol daripada kerendahan hati.
Permintaan tersebut menimbulkan reaksi dari murid-murid yang lain. Matius 20:24 mencatat bahwa sepuluh murid menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Bahkan dalam Markus 9:34, sebelumnya mereka pernah memperdebatkan siapa yang terbesar di antara mereka. Hal ini membuktikan bahwa persoalan mencari posisi dan kehormatan ternyata menjadi pergumulan seluruh murid, bukan hanya Yakobus dan Yohanes.
Melihat keadaan itu, Yesus kemudian menjelaskan bahwa prinsip Kerajaan Allah sangat berbeda dengan prinsip dunia. Dunia mengajarkan bahwa seseorang dianggap besar apabila memiliki kuasa, jabatan, dan mampu memerintah orang lain. Dalam Matius 20:25, Yesus mengatakan bahwa para pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan menggunakan kekuasaan untuk menindas. Akan tetapi, di dalam Kerajaan Allah, kebesaran seseorang tidak diukur dari seberapa banyak orang yang melayani dirinya, melainkan dari seberapa besar kerelaannya melayani orang lain.
MELAYANI TUHAN
Firman Tuhan dalam Roma 8:28–29 menjelaskan bahwa tujuan utama Allah bukan sekadar memberkati umat-Nya atau menyelesaikan setiap persoalan hidup mereka. Tujuan terbesar Allah adalah membentuk setiap orang percaya menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya, yaitu Yesus Kristus. Salah satu sarana yang Tuhan gunakan untuk membentuk karakter tersebut adalah melalui pelayanan.
Karena itu, ketika seseorang diberi kesempatan melayani Tuhan, sesungguhnya ia sedang dibentuk agar semakin menyerupai Kristus. Pelayanan bukan hanya sebuah aktivitas di gereja, melainkan sebuah proses pembentukan karakter. Melalui pelayanan, Tuhan mengikis ego, kesombongan, kepentingan pribadi, dan menggantikannya dengan kerendahan hati, kasih, serta pengorbanan.
Yesus mengatakan bahwa apabila seseorang ingin menjadi besar, ia harus menjadi pelayan. Kata “pelayan” berasal dari bahasa Yunani: Diakonos, yang menggambarkan seorang pelayan meja atau seorang yang dengan sukarela memenuhi kebutuhan orang lain. Orang yang melayani tidak mencari penghormatan, melainkan berusaha memberikan yang terbaik bagi orang yang dilayani.
Lebih jauh lagi, Yesus berkata bahwa orang yang ingin menjadi terkemuka harus menjadi hamba. Kata “hamba” berasal dari bahasa Yunani Doulos, yang berarti budak. Seorang budak tidak hidup untuk dirinya sendiri, melainkan sepenuhnya tunduk kepada tuannya. Ia taat, setia, dan mengutamakan kehendak tuannya di atas kehendaknya sendiri. Inilah teladan yang diberikan Yesus. Ia datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan bahkan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang.
Menjalani hidup yang penuh pengabdian bukanlah sesuatu yang terjadi secara otomatis, tetapi merupakan gaya hidup yang harus terus dipupuk. Setelah membawa kita masuk ke dalam keluarga Allah melalui kelahiran baru, Tuhan terus membentuk kita agar memiliki karakter yang sama seperti Yesus, yaitu karakter yang suka melayani dan rela memberi.
Karakter seorang Diakonos maupun Doulos ditandai dengan kerendahan hati, ketaatan, kesetiaan, dan selalu mengutamakan kehendak Tuhan. Gambaran ini juga terlihat dalam Mazmur 123:2, di mana seorang hamba terus memandang kepada tuannya sebagai tanda ketundukan dan kesiapan untuk melayani.
MELAYANI SEPERTI YESUS
Dalam Yohanes 13:1–15, Tuhan Yesus memberikan teladan nyata tentang arti pelayanan. Menjelang penderitaan dan penyaliban-Nya, Yesus justru mengambil posisi sebagai seorang hamba dengan membasuh kaki murid-murid-Nya. Pada zaman itu, membasuh kaki merupakan pekerjaan seorang budak yang paling rendah. Namun Yesus rela melakukannya sebagai contoh bagi para murid.
Melalui tindakan tersebut, Yesus ingin menunjukkan bahwa kepemimpinan di dalam Kerajaan Allah bukanlah tentang dihormati, tetapi tentang melayani. Karena itu dalam Yohanes 13:15, Yesus berkata, “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”
Yesus tidak hanya mengajar melalui perkataan, tetapi Ia terlebih dahulu mempraktikkannya dalam kehidupan-Nya. Ia menjadi contoh yang hidup bagi setiap pengikut-Nya.
PELAYANAN YESUS – TELADAN KITA
Yohanes 13
Pelayanan Yesus dimulai dengan dasar yang benar, yaitu kasih. Ayat 1 menjelaskan bahwa Yesus mengasihi murid-murid-Nya sampai kepada kesudahannya. Kata kasih yang digunakan adalah Agapao, yaitu kasih Allah yang tidak bergantung pada balasan ataupun keadaan. Pelayanan yang sejati hanya dapat lahir dari kasih seperti ini.
Pada ayat 4, Yesus bangun dari tempat duduk-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan membutuhkan kemauan pribadi. Tidak ada orang yang dipaksa menjadi pelayan yang sejati. Pelayanan dimulai ketika seseorang rela meninggalkan kenyamanannya untuk memenuhi kebutuhan orang lain.
Masih pada ayat yang sama, Yesus menanggalkan jubah-Nya. Tindakan ini menggambarkan kerelaan untuk merendahkan diri. Orang yang ingin melayani harus bersedia melepaskan gengsi, status, maupun kebanggaan pribadi.
Kemudian Yesus mengambil kain lenan, mengikatkannya pada pinggang-Nya, menuangkan air ke dalam sebuah basi, lalu mulai membasuh kaki murid-murid-Nya dan mengeringkannya. Semua ini menunjukkan bahwa pelayanan dilakukan dengan sungguh-sungguh dan diselesaikan sampai tuntas. Yesus tidak melakukan pelayanan setengah hati.
Yang lebih mengagumkan lagi adalah kepada siapa Yesus melayani. Dalam ayat 6–10, Yesus membasuh kaki Petrus, padahal Yesus tahu bahwa Petrus akan menyangkal-Nya tiga kali. Namun Yesus tetap melayaninya. Hal ini mengajarkan bahwa kita tetap dipanggil melayani orang yang suatu saat mengecewakan kita.
Dalam ayat 11, Yesus juga membasuh kaki Yudas Iskariot. Yesus mengetahui bahwa Yudas akan mengkhianati-Nya, tetapi Ia tetap menunjukkan kasih dan pelayanan kepadanya. Ini mengajarkan bahwa pelayanan tidak bergantung pada perlakuan orang terhadap kita. Demikian pula terhadap murid-murid yang lain. Yesus tahu bahwa mereka semua akan meninggalkan-Nya ketika Ia ditangkap di taman Getsemani, tetapi Ia tetap membasuh kaki mereka. Pelayanan Yesus tidak dipengaruhi oleh kesetiaan orang lain, melainkan oleh kasih-Nya sendiri.
Karena itu dalam ayat 17, Yesus berkata, “Berbahagialah kamu jika kamu mengetahui semuanya ini dan melakukannya.” Berkat Tuhan tidak hanya diberikan kepada orang yang mengetahui Firman, tetapi kepada mereka yang mempraktikkannya.
HILANGNYA HATI YANG MELAYANI
Firman Tuhan juga mengingatkan bahwa hati seorang pelayan dapat hilang apabila seseorang mulai dikuasai oleh ego dan keinginan untuk menjadi yang paling utama. Contohnya adalah Diotrefes dalam 3 Yohanes 1:9–10. Rasul Yohanes menegur Diotrefes karena ia tidak lagi memiliki hati seorang hamba.
Diotrefes suka menjadi yang pertama, tidak mau tunduk kepada pimpinan rohani, menyebarkan perkataan-perkataan yang jahat, serta menolak bahkan mengusir saudara-saudara seiman yang datang untuk melayani Tuhan. Sikap seperti ini sangat bertentangan dengan karakter Kristus.
JAGALAH HATI YANG MELAYANI
Rasul Paulus merupakan contoh seseorang yang mengalami perubahan hidup. Dahulu ia adalah seorang pemimpin agama Yahudi yang terpandang. Namun setelah berjumpa dengan Yesus, ia rela menyebut dirinya sebagai hamba Kristus.
Dalam Kolose 1:18–20, Paulus menjelaskan bahwa Yesus harus menjadi yang terutama dalam segala sesuatu. Walaupun Yesus memiliki kedudukan tertinggi, dalam Filipi 2:5–11 Ia rela merendahkan diri, mengambil rupa seorang hamba, taat sampai mati di kayu salib, dan menyerahkan hidup-Nya demi keselamatan manusia.
Karena itu Paulus mengajak setiap orang percaya untuk memiliki pikiran dan hati yang sama seperti Kristus. Selama hidup-Nya di dunia, Yesus senantiasa memiliki hati yang melayani sebagaimana ditegaskan kembali dalam Matius 20:28.
YESUS PENOLONG KITA
Tantangan terbesar dalam melayani sebenarnya bukanlah orang lain, melainkan diri kita sendiri. Ego, harga diri, keinginan untuk dihargai, dan kecenderungan mencari kepentingan pribadi sering kali menjadi penghalang untuk melayani dengan tulus.
Apabila kita hanya mengandalkan kekuatan sendiri, kita akan mudah kecewa, lelah, dan akhirnya berhenti melayani. Namun kabar baiknya adalah Yesus sendiri datang untuk melayani kita dan memampukan kita memiliki hati seorang pelayan.
Matius 20:28 mengingatkan bahwa Yesus datang bukan hanya memberikan teladan, tetapi juga memberi kuasa agar kita mampu melayani dan memberi seperti Dia. Hal ini juga ditegaskan dalam 1 Yohanes 3:16, bahwa melalui kasih Kristus kita belajar menyerahkan hidup bagi sesama.
Selain itu, 2 Korintus 3:18 menjelaskan bahwa Roh Kudus terus bekerja mengubah kehidupan orang percaya dari hari ke hari sehingga semakin serupa dengan Kristus. Oleh karena itu, hati yang melayani bukanlah hasil usaha manusia semata, melainkan buah dari pekerjaan Roh Kudus di dalam kehidupan setiap orang percaya.
KESIMPULAN
Melayani seperti Yesus bukan sekadar melakukan banyak pekerjaan di gereja, tetapi memiliki hati yang rela merendahkan diri, mengutamakan orang lain, dan taat kepada kehendak Allah. Dunia mengajarkan bahwa kebesaran diukur dari jabatan dan kuasa, tetapi Yesus mengajarkan bahwa kebesaran sejati diukur dari kerelaan untuk menjadi pelayan dan hamba.
Melalui pelayanan, Tuhan sedang membentuk setiap orang percaya menjadi semakin serupa dengan Kristus. Dasar pelayanan adalah kasih, teladannya adalah Yesus, kekuatannya berasal dari Roh Kudus, dan tujuan akhirnya adalah memuliakan Tuhan melalui kehidupan yang melayani dengan rendah hati.