Pendahuluan
Kasih karunia atau anugerah adalah pemberian Allah yang terbaik dan cuma-cuma kepada manusia yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Kasih karunia adalah kata benda abstrak, yang mengungkapkan perasaan, perhatian dan kasih yang mendalam. Jika kasih karunia adalah kata benda, lalu siapa kasih karunia itu ? Ini pertanyaan yang cerdas. Untuk menjawab hal ini perlu penjelasan dari ayat yang menerangkan ayat dalam kebenaran Alkitab. Jawabannya kita lihat dalam :
1 Yohanes 4:16 “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.”
Kasih karunia adalah Allah itu sendiri, karena Allah adalah kasih yang memberikan Diri-Nya kepada manusia yang dikasihi-Nya. Allah yang adalah kasih itu, telah menyatakan karunia-Nya sejak manusia jatuh dalam dosa, dapat kita lihat dalam :
- Kejadian 3:9 – Kasih-Nya yang memberikan inisiatif untuk memberi solusi atas kejatuhan manusia pertama dalam dosa.
Ketika manusia jatuh dalam dosa karena melanggar perintah Tuhan, mereka menjadi takut dan bersembunyi dari hadirat Tuhan. Yang mengagumkan adalah justru Allah yang berinisiatif untuk mencari manusia.
Kejadian 3:9 “Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya : Dimanakah engkau?”
Manusia yang membutuhkan penyelesaian yang seharusnya datang kepada Tuhan, bukan Tuhan yang malah mendatangi mereka, tetapi karena kasih karunia-Nya Tuhan yang turun mencarinya untuk memberikan solusi bagi kejatuhan manusia.
Kasih karunia-Nya juga ditunjukkan dalam pelayanan Yesus di dunia. Ketika diperhadapkan kepada-Nya wanita berdosa yang kedapatan berzinah, orang-orang farisi menuntut hukuman mati dengan dirajam batu sesuai hukum Taurat, yang kemudian diperhadapkan kepada Yesus sebagai alat untuk mencobai Dia sebagai seorang pengajar saat itu. Secara hukum Taurat memang seharusnya dirajam, tetapi Yesus sang kasih karunia itu memilih untuk tidak menghukum wanita itu. Ia memberi pengampunan dan memberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki hidupnya.
Yohanes 8:10-11 “Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya : Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau? Jawabnya : Tidak ada, Tuhan. Lalu kata Yesus : Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang “
Kalimat “Akupun tidak menghukum engkau”, itu menunjukkan bahwa meskipun wanita itu lolos dari hukuman yang dituntut oleh orang-orang farisi sesuai dengan hukum Taurat, tetapi sebenarnya ada satu orang yang dapat menghukumnya yaitu Yesus sendiri. Kasih karunia-Nya menetapkan untuk tidak menghukumnya, tetapi mengampuni dan memberikan kesempatan kedua bagi wanita itu untuk bertobat. Perhatikan kalimat : Pergilah dan jangan berbuat dan berdosa lagi.
Puncak dari kasih karunia Allah melalui pribadi Yesus adalah ketika Yesus memberikan Diri-Nya menjadi tebusan dosa bagi banyak orang di kayu salib.
Ibrani 9:28a “Demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang “.
Kasih karunia-Nya kemudian akan menjadi sempurna pada kedatangan-Nya yang kedua kali. Ibrani 9:28b “Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka yang menantikan Dia.”
Kasih karunia Allah telah diberikan melalui pribadi Yesus dan terus berlangsung sampai pada kedatangan-Nya kembali.
Kasih karunia-Nya sudah Allah buka lebar bagi manusia. Lalu apa yang harus dikerjakan untuk kasih karunia yang telah Allah berikan? Bagi orang yang belum percaya, selama masih ada disebut hari ini baginya, maka hari ini adalah kesempatan untuk segera mengambil keputusan menerima kasih karunia Allah melalui Yesus Kristus untuk pengampunan dosanya. Karena hari ini juga merupakan kasih karunia, sebab bisa jadi hari esok sudah tidak lagi ada kesempatan baginya.
Bagaimana dengan orang yang sudah percaya ?
Filipi 2:12 “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir.”
Kata mengerjakan ditulis dalam teks aslinya : Katergazomai (κατεργαζομαι). Kata ini berarti “menghasilkan sesuatu dengan melakukan sesuatu, mencapai, merampungkan, menuntaskan.” Katergazomai merupakan turunan dari katá Ergázomai yang berarti “to bring to completion” (menyelesaikan). Kata ini muncul dua puluh dua kali dalam Perjanjian Baru. Dalam Filipi 2:12, “Mengerjakan keselamatan” adalah arahan untuk membiarkan kelahiran baru dalam Kristus terwujud dalam tindakan. Artinya, kita harus:
- Menjalani hidup yang mengalami dan mengerjakan karya penyelamatan Allah.
- Mengerjakan keselamatan kita sampai akhir, sampai terwujud.
- Melayani Tuhan tanpa mengeluh atau bersungut-sungut. Ini mencakup mulai saat kita percaya sampai saat kita masuk surga.
Jika kita lalai mengerjakan kasih karunia keselamatan kita, kita bisa kehilangan keselamatan yang sudah disediakan bagi kita itu.
Bagaimana dengan kata “takut” dan “gentar“? Kata takut dan gentar dalam bahasa Yunani adalah Phobos dan Tremos.
- Phobos adalah kata benda yang berarti “takut, teror, atau tanda bahaya”. Dalam Perjanjian Baru, kata ini diterjemahkan sebagai “takut” sebanyak 43 kali.
- Tremos adalah kata Yunani yang berarti “gentar“.
Dalam Filipi 2:12, “takut dan gentar” merupakan ungkapan lazim dalam Perjanjian Lama. Tetapi ungkapan ini tidak harus ditafsirkan dengan menekankan kata-kata “takut” dan “gentar”. Maksudnya adalah “sungguh-sungguh”, dengan kesadaran akan kelemahan diri sendiri dan dengan ingat akan keadilan Allah.
Takut disini adalah takut akan Tuhan, yang aplikasinya dapat kita pelajari dalam, Amsal 8:13. “Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan, aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh muslihat.”
Takut akan Tuhan adalah membenci kejahatan, takut Tuhan kecewa kalau kita yang sudah ditebus Tuhan kembali pada kejahatan, bukan cuma menjauhi tetapi harus kontra yaitu membenci semua yang jahat, yang meliputi kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat dan mulut penuh muslihat. Waktu yang Tuhan berikan adalah waktu untuk segera memperbaiki apa yang salah dan keliru untuk segera kembali kepada kebenaran firman-Nya. Roma 2:4 “Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? “
Waktu merupakan kasih karunia Allah untuk memberi kesempatan kepada kita untuk memperbaiki dan bertobat dari semua kesalahan dan pelanggaran yang kita lakukan.
Selain takut yang sudah kita ketahui aplikasinya, hal yang ke dua adalah gentar. Apa aplikasi gentar dalam kehidupan orang percaya?
Roma 11:22 “Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-Nya; jika tidak, kamupun akan dipotong juga. ”
Bagi kita orang percaya yang menyia-yiakan kasih karununia Alah, jangan pikir meski Tuhan sudah menebus dosa kita, tetapi kita tidak lagi mengerjakan keselamatan yang sudah diperoleh apalagi menolak memperbaiki kesalahan dan perbuatan yang bertentangan dengan kebenaran firman-Nya, Allah juga akan memotong kita dan melemparkannya kedalam kebinasaan. Sebab bagi Tuhan tidak berlaku sekali selamat tetap selamat. Bagi orang yang belum percaya tidak ada jalan lain untuk selamat selain menerima kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus. Dan bagi kita orang percaya untuk tetap dalam keselamatan, tetaplah kerjakan keselamatan kita sampai tuntas. Tuhan memberkati.