ACCEPTED (Diterima) oleh Sdr. Jeff Minandar – (Ibadah Raya 3 – Minggu, 12 November 2017)

Penerimaan selalu menjadi salah satu kebutuhan jiwa manusia. Anda bisa saja memiliki sandang, pangan, papan yang lengkap, tetapi kalau Anda merasa tidak diterima, Anda akan selalu merasa kurang. Karena kita tahu bahwa kebutuhan manusia itu bukan saja kebutuhan fisik (physiological) namun juga psikis (psychological). Ini dapat dimengerti, karena manusia ini terdiri dari tubuh, jiwa, dan roh, kesemuanya punya kebutuhan.

Menariknya ketika suatu kebutuhan yang tidak dipenuhi maka biasanya ada 3 hal ini yang terjadi:

– Ada sesuatu yang hilang / kosong.

– Ada sesuatu yang mati.

– Ada sesuatu yang tersingkir / tidak berguna (Yunani: Apollumi). Yohanes 10:10.

Joyce Meyer sering sekali berbicara tentang penerimaan, terutama tentang menerima diri sendiri. Karena sering sekali demi penerimaan dan ketakutan akan penolakan, maka seseorang kemudian melakukan apapun juga untuk menyenangkan orang lain. Membuat orang lain senang bukan sesuatu yang salah, tetapi kadang itu terjadi di situasi dan kondisi yang salah. Kalau mengacu kepada apa yang disampaikan tentang perzinahan, bukankah pada banyak kasus ini terjadi karena berusaha diterima, dan berusaha menyenangkan seseorang.

Kebanyakan masalah penerimaan ini dimulai dengan ketidakmampuan menerima diri sendiri. Membandingkan adalah salah satu contohnya. Seandainya saya bisa seperti ini, coba saja saya punya yang dia punya, dan lain sebagainya. Sebenarnya bukan situasi dan kondisi yang menentukan keberadaan kita, namun reaksi kita terhadap situasi dan kondisi itu. Contoh klasik yang mungkin Anda sering dengar: “Kisah penjual sepatu.”

Beberapa dari Anda mungkin tidak punya segala sesuatu yang dibutuhkan untuk memulai (start) dengan baik, tapi dalam perjalanan hidup Anda belajar, saya mungkin tidak memulai dengan baik, tetapi saya mau pastikan saya akan akhiri (finish) dengan baik! 2Timotius 4:7. Inilah proses pencarian jati diri kita sebagai manusia. Semua orang berproses, beberapa tokoh di Alkitab menunjukkan kebutuhan mereka untuk diterima:

  • Kain – ingin persembahannya diterima Tuhan – ia mempersembahkan korban yang tak berkenan (tanpa penumpahan darah), coba perhatikan reaksinya. Kejadian 4:3-5.
  • Esau – ingin diterima ayah-ibunya – ia menikah lagi dengan keturunan Ismael, Kejadian 28:6-9.
  • Musa – ingin diterima sebagai pembebas rekan sebangsanya – ia membunuh orang Mesir yang menyakiti rekan sebangsanya itu, Keluaran 2:11-14.

Saya mengundang Anda mulai mengingat bagaimana proses pencarian jati diri dalam diri Anda, bagaimana Anda berusaha diterima. Secara jasmani, kita melalui proses ini sejak TK, SD, SMP, SMA, Kuliah, Kerja, dalam Keluarga, dalam Masyarakat, bahkan dalam Gereja. Anda ingat kesulitan-kesulitan apa yang Anda hadapi?

Secara rohani, sebenarnya perjalanan kerohanian kita juga berproses. Kalau Anda baca Yeremia 2:2 Allah melihat perjalanan rohani bangsa Israel itu pernah ada di “masa-masa muda” mereka yang penuh kasih kepada Allah. Atau dalam Ibrani 5:12-14, penulis surat Ibrani mengumpamakan ada pengikut Kristus yang “anak-anak rohani” (perlu susu) dan yang dewasa rohani (perlu makanan keras). Contoh terakhir dari apa yang dituliskan Rasul Yohanes di 1Yohanes 2:14, dimana ia menjelaskan tingkatan rohani: Anak – Orang Muda – Bapa.

Berbicara tingkatan rohani, saya teringat khotbah saya tentang “Anak Allah” di tahun 2015 (“Anak Allah” @gpdimahanaim-tegal.org), saya waktu itu mengutip penjelasan Joseph Prince tentang 3 perumpamaan “yang terhilang” di Lukas 15:1-32. Tetapi kali ini saya ingn melihat dari sisi lain, coba kita lihat satu per satu secara singkat. Tenang saja ini sudah hampir akhir dari pemaparan saya. Kalau mengutip Jentezen Franklin saya tidak akan berkhotbah “Firaun”.

Dalam 3 perumpamaan itu ada 3 hal yang hilang:

  1. Domba – ketika seseorang terhilang karena mereka bodoh dan tidak mengerti.
  2. Dirham – ketika seseorang terhilang karena satu pihak “meletakkannya” di tempat salah, atau diperlakukan dengan salah.
  3. Anak – ini yang menarik, ketika seseorang terhilang dengan pengertiannya yang salah, atau bisa jadi “pengejarannya” yang salah.

Pada dua perumpamaan pertama kita melihat ada seseorang yang mencari dan menemukan, tetapi di perumpamaan terakhir dia (karena “dia” bukan binatang, atau pun objek/barang) kembali atas dorongan hati untuk kembali. Keputusan itu tidak pernah terlambat. Bapa selalu menerima pertobatannya, dan mengingatkan dia bahwa dia selalu dikasihi. Sayangnya kita juga tahu sekarang bahwa bukan hanya yang bungsu yang terhilang, tetapi juga yang sulung! Kembali kepada kasih Bapa, dia menerimamu sebagai anak. Rencana Illahi untuk merestorasi apa yang terjadi di Taman Eden menjadi kenyataan. Lukas 15:24. DIA menerima kita untuk memulihkan kita.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

KESALAHAN JEMAAT TIATIRA – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 5 November 2017)

Wahyu 2:20-29

Pendahuluan

Pada beberapa  minggu yang lalu dijelaskan bahwa Yesus membanggakan jemaat di Tiatira, dalam pekerjaan dan kegiatan yang mereka lakukan bagi Tuhan – Wahyu 2:9. Demikian juga dengan kasih mereka yang dinyatakan kepada Tuhan dan sesama. Iman mereka pun teruji sebab meskipun dalam ancaman aniyaya yang begitu hebat, jemaat Tiatira tetap percaya kepada Yesus. Dan semua jemaat Tiatira terlibat melayani bahkan melayani dengan tekun.

Namun dalam Wahyu 2:20, semua perbuatan baik yang sudah jemaat Tiatira kerjakan tidak bertahan lama sehingga genaplah apa yang Rasul Paulus katakan dalam Galatia 3:3 “Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?” Jadi jemaat Tiatira sudah berlaku bodoh. Kemenangan dalam perlombaan ditentukan oleh garis akhir bukan hanya garis awal saja. Oleh sebab itu, teruslah bertanding dengan baik.

KELEMAHAN JEMAAT TIATIRA

Kelemahan jemaat Tiatira disebabkan karena jemaat Tiatira mengijinkan wanita Izebel hadir ditengah-tengah jemaat. Izebel yang dimaksud bukan istri Ahab, anak Etbaal raja Tirus pada zaman Perjanjian Lama. Namun yang dimaksud adalah Roh Izebel yang menyesatkan (roh iblis) yang merusak gereja di akhir zaman. Roh-roh penyesat itu telah merasuki orang dan mengaku bahwa mereka adalah nabi, penginjil, guru yaitu pada pendeta pada zaman sekarang. Oleh sebab itu, perlu untuk jemaat berhati-hati dalam menerima pengajaran. Karena para penyesat menyusup ke dalam gereja-gereja, mereka berlaku seperti malaikat terang tetapi ajarannya menyesatkan jemaat serta hamba-hamba Tuhan lainnya.

DUA AJARAN ISEBEL

  1. Mengajar berbuat Zinah

Izebel mengajarkan jemaat untuk berbuat zinah, baik zinah Rohani maupun Jasmani.

  • Perzinahan Jasmani

Perzinahan jasmani adalah suatu ketidaksetiaan pada komitmen sebagai suami istri ataupun kebujangan mereka.

Khusus pada kelas pernikahan, ada 3 hukum wajib yang dipatuhi oleh mereka yang akan menikah. Perhatikan Kejadian 2:24, yaitu:

– Meninggalkan orang tua.

– Bersatu dengan Istrinya.

– Menjadi satu daging.

Bagi mereka yang sudah lakukan ke-2 hukum dapat melakukan hukum ke-3. Kepada pasangan suami/Istri, wajib memberikan roh; jiwa dan tubuh (organ seksual) hanya pada satu pribadi yaitu pasangannya. Jika salah satu pasangan memberikan hati, jiwa dan organ seksualitas mereka kepada orang lain diluar pasangannya, dia akan dipandang berzinah oleh Allah. Matius 5:27,28 – Seseorang yang memandang wanita (ataupun pria) dan menginginkannya pasti berdosa. Oleh sebab itu kita harus setia dengan pasangan kita. Tetapi khusus kepada mereka yang bujang (belum menikah), juga wajib menjaga diri mereka. Banyak kasus dalam kalangan muda yang belum menikah tetapi sudah lakukan hukum ke-3, yaitu satu daging. Seorang bujang bertanggung jawab menjaga hati; jiwa dan tubuh (organ seksual) agar tidak dinajiskan dengan perzinahan.

  • PERZINAHAN ROHANI

Saat dimana kita membuka hati kepada kasih Allah (Yohanes 3:16) serta menyambut Yesus maka pada saat itu secara rohani, kita masuk dalam persekutuan dengan Yesus. Bahkan 1 Korintus 10:16, kita menikmati perjamuan sama dengan bersekutu dengan Kristus. Dikatakan perzinahan rohani ketika kita bersekutu dengan Allah tetapi kita juga bersekutu dengan roh-roh lain. Pada hal, Rasul Paulus menerangkan bahwa orang percaya sudah dipertunanggan dengan Kristus. 2 Korintus 11:2,3 – kita harus menjaga kemurnian agar Kristus dapat menikmatinya. Yesus adalah pribadi yang setia dan tidak akan mengkhianati kasihnya kepada kita. Permasalahnya apakah kita bisa menjaga cinta kita untuk tetap mengasihi Yesus waktu suka ataupun duka.

Perasaan Rasul Paulus kepada jemaat Korintus dalam 2 Korintus 11:3 “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” Hal ini juga merupakan perasaan gembala. Jika ada jemaat yang tidak setia dan cinta dunia bahkan pergi ke dukun, gembala akan merasa sedih dan kecewa. Sebab menurut Wahyu 12:3, pada akhir zaman Iblis bekerja dengan segala cara untuk menyeret orang-orang pilihan Allah. Secara khusus jemaat di Tiatira, dalam Wahyu 2:20, inilah bentuk perzinahan rohani. Lebih baik pendapatan sedikit dari pada uang banyak karena berhala.

Kasus penyesatan terjadi pada jemaat di Korintus. Dalam 2 Korintus 11:4, jemaat mengijinkan Yesus yang lain dengan mengajarkan bahwa ada keselamatan yang lain, injil yang lain serta roh yang lain yaitu roh yang lain. Mereka tidak sadar bahwa iblis sanggup membuat mujizat dan tanda ajaib yang luar biasa. Biarkan iman kita kepada firman Allah bukan kepada mujizat.

KESIMPULAN

Sebagai pengikut Kristus yang sejati, hendaklah kita semakin waspadah dalam menanggapi setiap ajaran yang mulai menyerang iman Kristen kita. Dengan hidup kudus, setia dan belajar firman Allah. Mengenal Allah dengan benar adalah kunci untuk kita dapat hidup dalam kebenaran firman Allah. Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk dapat bertahan sampai akhir hidup.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MENJADI MISKIN DI HADAPAN ALLAH oleh Pdt. JS. Minandar (Ibadah Raya 3 – Minggu, 29 OKTOBER 2017)

Matius 5:1-3

Khotbah Yesus di bukit adalah sebuah khotbah yang sangat terkenal dan banyak diingat orang dan murid Yesus sebab berisi cara hidup pengikut Yesus yang sejati. Dan dari sekian banyak rangkaian khotbah dengan topik-topik tertentu, Yesus memulai dengan menyampaikan 8 ucapan bahagia. Itu sebabnya di tempat Yesus memberi makan banyak orang, dibangun sebuah gereja. Jangan sampai kita berpikir khotbah tentang berbahagia miskin dihadapan Allah adalah menjadi miskin secara ekonomi, seperti beberapa kelompok yang melakukan hal-hal tersebut dengan tidak memiliki apapun karena ingin mentaati firman ini dengan tafsiran yang salah. Karena banyak ayat yang menjelaskan  kepada kita bahwa Allah berjanji untuk memberkati anak-anakNya. Jadi Allah berjanji memberkati umatNya sebab Allah rindu memberkati mulai dari kanak-kanak sampai orang-orang tua. Mazmur 138:1-6 dan Lukas 24:50-51, Yesus memberkati semua orang dan juga saat kenaikan Yesus ke soranga, Yesus dalam posisi memberkati bahkan sampai saat ini Yesus memberkati. Inilah janji berkat, bukan kemiskinan. Jadi jika demikian apa yang dimaksud berbahagia orang yang miskin? Artinya, meskipun dalam keadaan sakit dan menderita, diberkati dan kaya, serta sehat dan tak kekurangan apapun, jadilah miskin di hadapan Allah.

ARTI MISKIN DIHADAPAN ALLAH

Orang miskin adalah orang yang tidak dapat memenuhi kehidupannya meskipun  sudah dengan berbagai upaya, sehingga ia membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya dengan kemampuannya sendiri. Dari sini kita mengerti bahwa menjadi miskin dihadapan Allah adalah sebuah sikap rohani, jangan di hadapan manusia. Inilah sebuah sikap orang yang benar-benar rohani di hadapan Tuhan. Suatu sikap yang bijak, benar dan berkenan di hadapan Tuhan. Ia menyadari bahwa ia tidak dapat memenuhi kebutuhannya kalau Tuhan tidak menolong, karena kekayaan dan pengertahuan dunia tidak kekal.

Sikap menjadi miskin dihadapan Tuhan akan tereksperesi dalam kehidupan, artinya orang akan mengetahui dan melihat. Terlihat lewat kesetiaan beribadah karena ia sadar saat ia beribadah ia sedang membutuhkan Tuhan dalam hidupnya. Termasuk orang yang miskin dihadapan Allah akan ditunjukkan dalam kesetiaan berdoa yaitu dimanapun berada membutuhkan Tuhan bukan berdoa saat ada jadwal doa di gereja.

RIWAYAT HIDUP SAUL

Saul adalah raja pertama dari bangsa Israel. Banyak orang yang beranggapan bahwa Saul adalah seorang yang jahat bahkan ada yang beranggapan bahwa Saul orang jahat, diangkat Allah untuk memimpin Israel. Kemudian Saul dihukum oleh Allah dan digantikan orang yang berkenan kepada Allah. Ini tafsiran yang salah sebab Allah memilih orang yang baik dan benar. Saul mengawali perannya sebagai raja dengan cara yang benar dan berkenan dihadapan Allah, 1 Samuel 10. Hanya ia tak merasa miskin di hadapan Allah. 1 Samuel 10:1 – Tuhan sudah memfasilitasi Saul dalam kepemimpinannya.

  1. Bukti sebagai raja yang diurapi

Dengan cara menyelamatkan umat Allah dari musuh yang ada disekitarnya. Saul membuktikan dengan cara menyelamatkan bangsa israel dari musuh-musuh di sekitarnya. Perhatikan 1 Samuel 11, Nahas orang amon mengancam akan mencungkil mata kanan orang Israel yang tinggal di Yanes Gilead. Nahas artinya adalah ular, berkonotasi negatif. Gambaran iblis mengacam umat Allah dan mengincar mata akan untuk membuat pandangan kita tidak tertuju pada hal-hal rohani sehingga kehidupan hanya fokus pada hal duniawi.

Saat Saul mendengar ancaman tersebut, Saul bertindak dengan mengerahkan tentara untuk melawan Nahas sehingga penduduk Yabesh Gilead luput. Terbukti Saul baik di hadapan Tuhan dan berharap kepada Tuhan.

  1. Menjadi manusia baru

1 Samuel 10:2-6, minyak urapan yang dituangkan Samuel di kepala Saul bukan cuma ritual pelantikan. Tapi bukti bahwa Allah benar-benar menyertai Saul. Orang yang miskin di hadapan Allah pasti Tuhan membekati. Saul mengalami kepenuhan Roh Kudus seperti nabi. Dikatakan Saul berubah menjadi manusia lain, 1 Samuel 10:10. Sejak minyak urapan dituangkan atas Saul, maka Saul menjadi seperti nabi. Ia turut kepenuhan seperti nabi. Saul menjadi pemimpin yang ideal: jabatannya adalah raja tetapi kelakuannya seorang nabi. Karena Saul merasa miskin di hadapan Allah.  Ada 3 jabatan di Israel:

  • Imam , pengantara antara manusia dengan Allah
  • Nabi, juru bicara Allah
  • Raja, Pemimpin umat

  1. Seorang yang rendah hati

1 Samuel 10:15,16 – Paman Saul tidak turut hadir waktu Saul dilantik sebagai raja. Sepulangnya pelantikan, pamannya menanyakan ia dari mana. Ia mengatakan pergi mencari keledai dan pergi bertemu Samuel. Pamannya kehilangan keledai dan menyuruh orang untuk mencarinya. Pamannya bertanya apa yang Samuel sampaikan kepada Saul ketika sedang mencari keledainya. Saul mengatakan bahwa keledainya sudah ditemukan. Saul tidak menceritakan soal pelantikannya, ia hanya cerita soal keledai yang ditemukan. Karena menjadi miskin di hadapan Allah, Saul jadi orang yang miliki karakter ilahi yaitu rendah hati.

Ketika  dilantik Saul tidak sombong dam merasa dirinya hebat. Sebaliknya ia bersembunyi di barang-barang, 1 Samuel 10:22. Tetapi Samuel seorang nabi, ia tahu dimana tempat Saul bersembunyi.  Orang yang diberkati dan tinggi rohaninya pasti akan memiliki rendah hati.

  1. Tidak mudah tersinggung dan sakit hati ketika dihina

1 Samuel 10:27,  orang dursila sama dengan preman, menghina Saul dengan komentar negatif dan tidak membawa upeti atau persembahan kepada Saul tetapi Saul pura-pura tuli. Saul dapat mengendalikan diri karena ia menjadi miskin dihadapan Allah.

  1. Memiliki roh pengampunan

1 Samuel 11:12, 13 – ada rakyat yang ingat bahwa ada yang melecehkan Saul, tetapi Saul justru mencegah pembunuhan atas orang dursila tersebut sebab ia tidak memiliki dendam.

MENGAPA SAUL MENJADI JAHAT

Saat kita percaya kepada Yesus maka ada kehidupan yang baik tetapi mengapa tidak menjadi semakin utuh dalam kehidupan kita? Seperti Saul yang seharusnya menjadi semakin baik tetapi justru merosot keadaannya dan berubah menjadi jahat. Ia mencoba membunuh Daud karena ia merasa diri kaya dihadapan Tuhan. Dahulu ia beribadah dengan sungguh dan mencari Tuhan, tetapi sesudah ia sukses ia tidak lagi mencari Tuhan dan kemudian mencari dukun. Terlihat dari ratapan Daud setelah Saul mati, 2 Samuel 1:21. Para tentara israel rajin naik ke gunung untuk ke Gilboa membawa pedang dan perisai untuk digosok dengan minyak sebab jika tidak digosok akan berkarat dan rapuh. Tetapi Saul malas dan tidak melakukannya. Rajinkan diri beribadah dan berdoa lebih banyak. Cari Tuhan dan baca firman Tuhan dan menjadi kuat dalam Tuhan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

EVALUASI KEHIDUPAN SERI 3 – “MENGAKHIRI PERTANDINGAN DENGAN BAIK” oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 2 – Minggu, 29 Oktober 2017 )

2 Timotius 4:7

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”

Dalam ayat ini Rasul Paulus sedang mengevaluasi diri dalam hidupnya. Evaluasi itu penting untuk:  Memperbaiki kesalahan; Mengetahui kekurangan atau kelemahan yang ada, untuk selanjutnya dapat bertindak dengan benar dan tepat. Menjelang kedatangan Yesus yang kedua kali, setiap orang percaya perlu mengevaluasi kehidupan rohaninya karena yang tahu kondisinya adalah pribadi yang bersangkutan.

Apa saja yang perlu kita evaluasi dalam hidup kita? Menurut 2 Tim 4:7, ada 3 hal yang telah dicapai Paulus:

  • Telah mencapai garis akhir
  • Telah memelihara iman
  • Telah mengakhiri pertandingan dengan baik.

I. TELAH MENCAPAI GARIS AKHIR

Mencapai garis akhir berarti :

Pertama, tetap dijalur yang ditentukan, artinya tidak pakai jalan pintas tetapi sesuai di jalur yang ditetapkan.

Kedua, tidak menyimpang  artinya lurus tidak melenceng dari jalurnya.

Ketiga, menyelesaikan semua lintasan, tidak ada satu lintasan pun yang tidak dilewati. Dalam perlombaan kehidupan kita tidak bisa pilih lintasan, tetapi semua lintasan harus dilewati.

 

II. MEMELIHARA IMAN

Sudah dijelaskan dalam surat Ibrani 3:14, tentang perlunya memelihara iman, dikatakan “Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita semula.“

Setiap orang yang percaya kepada korban Kristus, maka pada hari itu juga ia telah mendapat bagian di dalam Kristus, yaitu pengampunan dosa, keselamatan dan berbagai berkat Tuhan tidak perlu menunggu kalau nanti sudah sampai di sorga. Namun ayat ini tidak berhenti disini, selanjutnya dikatakan “asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita semula.” Artinya selama kita masih hidup di dunia ini, kita harus mempertahankan apa yang sudah menjadi bagian kita di dalam Kristus itu dan memelihara iman kita jangan sampai gugur. Sebab jika tidak keselamatan yang kita peroleh bisa hilang.

III.   MENGAKHIRI PERTANDINGAN DENGAN BAIK

Inilah topik ketiga yang menjadi pokok bahasan kita. Kehidupan kita digambarkan seperti sebuah pertandingan lari yang tidak tahu kapan finisnya.  Semakin lama kita berada di arena kehidupan ini, kita harus berlari dengan sungguh-sungguh dan benar. Mengapa?  Karena masih ada kemungkinan kita bisa dikalahkan dan tidak sampai pada garis akhir. Setiap orang percaya dalam pertandingan kehidupannya Tuhan ingin semuanya berakhir dengan baik.  Untuk itu semua tantangan dan rintangan harus dapat kita atasi.

MENGAKHIRI DENGAN BAIK

Penilaian mengakhiri pertandingan dengan baik dapat berarti: tidak pakai jalan pintas; sesuai aturan ; sportif/ tidak curang ; fokus pada garis finis. Sebaliknya jika keempat hal ini dilanggar justru akan menjadi penyebab kegagalan dalam perlombaan kehidupan kita. Mari kita bahas k empat hal ini.

  1. JALAN PINTAS

Beberapa contoh orang-orang yang gagal karena menggunakan jalan pintas:

  • ABRAHAM DAN SARAH, Kej 16:1-16. Karena lama menunggu janji Allah tentang keturunan tidak kunjung datang, mereka memakai jalan pintas untuk segera punya anak lewat Hagar. Benar mereka memang memperoleh anak laki-laki yaitu Ismail, tetapi itu bukan yang dikehendaki dan dirancang Tuhan. Abraham nyaris gagal untuk sampai pada tujuan Allah, karena mencoba memakai jalan pintas. Allah sempat bungkam tidak berfirman lagi pada Abraham selama 13 tahun (Kejadian 16:16  hubungkan dengan  Kejadian 17:1) . Tokoh selanjutnya adalah

  • RAJA SAUL, 1 Samuel 28:1-7. Karena Tuhan bungkam ketika Saul berdoa minta tolong waktu diserang musuh, itupun karena ketidaktaatannya terhadap perintah Tuhan, Saul menjadi gusar dan ketakutan. Apalagi Nabi Samuel sebagai hamba Tuhan yang menjadi penghubung sudah meninggal. Saul mengambil jalan pintas untuk masalahnya dengan memanggil dukun pemanggil arwah. Akhir hidup raja Saul berakhir tragis, ia tidak mampu memenangkan pertandingan hidupnya dengan baik sebagai raja yang dipilih sendiri oleh Allah.  Ia sebenarnya masih ada kesempatan untuk memperbaiki hidupnya seperti Abraham, tapi sayang ia telah masuk jerat iblis, sehingga ia bunuh diri. Berbahaya main-main dengan kuasa kegelapan, sekali kita membuka diri terhadap iblis kita akan masuk jeratnya dan sukar untuk melepaskan diri yang pada akhirnya iblis akan benamkan pada kebinasaan.

  1. SESUAI ATURAN

Contoh orang yang gagal karena tidak melakukan sesuai dengan aturan: NADAB DAN ABIHU, Imamat 10:1-2. Nadab dan Abihu anak-anak Harun meskipun sudah diberi tahu tentang aturan mengenai api ukupan Tuhan yang tidak boleh diambil dari api lain selain dari api korban bakaran,  tetapi mereka melanggar aturan dengan mengambil api asing yang bukan api dari Allah. Tuhan menghukum mereka melalui api yang membakar mereka hidup-hidup.  Dalam perlombaan kehidupan kita jangan pernah kita keluar dari aturan yang sudah firman Tuhan tentukan. Apapun cara yang kita gunakan meskipun mungkin itu baik tetapi kalau diluar aturan firman Tuhan, akan mendatangkan hukuman.

  1. SPORTIF/ TIDAK CURANG

Contoh orang yang gagal karena bertindak curang: ANANIAS DAN SAFIRA.

Kis 5:1-11, meski mereka bermaksud baik dengan memberi persembahan, Tuhan hukum mereka karena membawa dengan hati yang curang. Adalah hak mereka sebenarnya untuk mengurangi uang persembahan dari hasil penjualan tanahnya, dengan berterus terang kepada Petrus sebagai wakil Tuhan yang menerimannya. Namun mereka memilih berdusta kepada Tuhan dan tidak sportif. Mereka bersikukuh mengatakan uangnya utuh tidak dikurangi. Tuhan tidak memberi kesempatan lagi kepada mereka langsung mendapat hukuman Tuhan. Jangan melakukan kecurangan apapun bentuknya dalam kita melakukan pengiringan hidup kepada Tuhan, sebab Tuhan tidak dapat dipermainkan, sebaliknya jika kita jujur apa adanya justru kemurahan Tuhanlah yang akan kita peroleh.

  1. FOKUS PADA GARIS FINIS

Beberapa contoh dalam alkitab orang yang gagal karena tidak fokus pada tujuan:

  • SIMSON, Hakim-hakim 14. Simson gagal dalam mengemban kepercayaan Tuhan sebagai hakim Israel, karena gagal fokus pada tujuan, ia beralih fokus pada wanita khususnya Delilah.

  • YUDAS ISKARIOT, Matius 26:14-16. Rasul Tuhan yang dikasihi ini gagal menyelesaikan panggilannya sebagai rasul Tuhan, karena fokusnya beralih bukan lagi kepada Tuhan tetapi kepada mamon. Jika Simson gagal karena dikalahkan oleh wanita, Yudas gagal karena tamak akan uang, mereka gagal fokus karena wanita dan uang.

Setiap orang pasti memiliki kelemahannya masing-masing, dan hanya yang bersangkutan yang dapat mengetahui betul hal itu.  Abraham kelemahannya tidak berpikir panjang; Raja Saul suka menyepelekan perintah;  Nadab dan Abihu kelancangannya membuat mereka terhukum;  Ananias dan Safira melakukan kecurangan; Simson lemah soal wanita; Yudas Iskariot lemah soal uang.

Mungkin kita memiliki kelemahan dari salah satunya atau kelemahan lain yang tidak ada dalam daftar di atas.  Semua hal itu akan menjadi penghambat dalam pertandingan kehidupan kita.  Setiap orang yang sudah ditebus oleh darah Yesus seharusnya sudah bebas dari belenggu kelemahan itu dan fokus pada panggilan hidup kita pada Tuhan, Filipi 3:13-16. Kita harus bangun kehidupan kita dengan pengajaran firman, agar tidak dikatakan seperti dalam Galatia 3:3 – memulai dengan Roh tetapi mengakhiri dengan daging.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

APAKAH YANG KAMU CARI? Seri 17 – KOMITMEN TOTAL oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 1 – Minggu, 29 Oktober 2017)

Yohanes 1:39

Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat.

Pada bagian akhir telah kita pelajari bahwa undangan Yesus dengan berkata: “Marilah dan kamu akan melihatnya” adalah undangan untuk melihat yang tak terlihat. Untuk mengajarkan kebenaran ini, Tuhan Yesus membawa murid-muridNya menuju ke kota Kana untuk menghadiri undangan pesta pernikahan. Sementara pesta sedang berlangsung, tiba-tiba sebuah berita yang mengejutkan sampai kepada pemimpin pesta bahwa mereka kehabisan anggur. Ini adalah masalah besar bagi yang empunya pesta sebab akan mendatangkan malu yang luar biasa. Untunglah saat itu Yesus hadir disana dan menyelesaikan masalah tersebut dengan membuat mujizat air menjadi anggur.

Di depan mata murid-muridNya Tuhan Yesus menyatakan mujizat dan mendemontrasikan kuasaNya mengubah air menjadi anggur. Mengapa Tuhan menunjukkan kuasaNya kepada murid-muridNya?

Hal ini memberikan dua pengertian kepada kita yaitu:

a. Membawa murid-murid memasuki dimensi baru dalam pemuridan yaitu dimensi supranatural/melihat yang tak terlihat.

Ibrani 11:3

Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.

 b. Agar murid-murid semakin PERCAYA kepada YESUS

Yoh 2:11

Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.

Tujuan utama dari segala undangan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya adalah membawa mereka pada tingkat kepercayaan penuh kepada Tuhan Yesus. Dengan melihat mujizat yang dibuatNya, mereka mengenal bahwa guru yang mereka ikuti bukan guru biasa, sebaliknya murid-muridNya mengenalNya sebagai orang yang berkuasa. Dengan demikian kepercayaan mereka kepada Yesus makin bertumbuh.

Inilah tujuan akhir yang Tuhan Yesus inginkan kepada murid-muridNya saat Ia berkata; “marilah dan kamu akan melihatnya” yaitu: “KOMITMEN TOTAL”

Ada dua komitmen yang Tuhan Yesus inginkan dari murid-muridNya:

1.Komitmen untuk percaya pada apapun yang Yesus katakan.

Seorang murid dipanggil untuk mempercayai apapun yang gurunya ajarkan. Tuhan Yesus melatih dan memperlengkapi mereka dengan berbagai ilmu teologi dan ketrampilan bahkan menunjukkan kuasa kepada mereka, dimaksudkan agar mereka memiliki tingkat kepercayaan penuh pada apapun yang Yesus katakan.

Dalam proses pemuridan mempercayai perkataan sang guru adalah sangat penting. Tanpa mempercayai perkataan sang guru, seorang murid tidak pernah mengalami pertumbuhan dan kemajuan dalam hidupnya.

Mengapa seorang murid harus mempercayai perkataan sang guru?

a.Mempercayai perkataan sang guru adalah jalan menuju pertumbuhan dan kedewasaan.

Ibrani 5:11,12

Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan. Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.

Mengapa banyak anak Tuhan mandul secara rohani? Tua di gereja tetapi tidak pernah menjadi dewasa? Karena mereka lamban dalam hal mendengarkan. Ini bukan karena mereka tuli atau ada masalah dalam pendengarannya, tetapi karena hati mereka tidak percaya kepada firman Tuhan. Contohnya adalah dua orang murid Yesus yang menuju Emaus.

Lukas 24:25

Lalu Ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!

Ketidakpercayaan kepada firman yang telah disampaikan Yesus sebelum hari kematianNya, membuat dua orang muridNya ini kehilangan pengharapan dan tidak mengenali orang yang berbicara dengannya adalah Yesus.

Berbeda dengan jemaat di Berea, hati mereka lebih baik karena percaya dan menerima firman Tuhan.

Kisah Rasul 17:11

Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.

b. Mempercayai perkataan sang guru adalah landasan membangun pengertian yang sejati dan benar.

Yohanes 20:29

Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Seorang pengikut, ia melihat tanda lebih dahulu baru percaya. Tetapi seorang murid, ia percaya sekalipun tidak ada tanda-tanda. Inilah kebenaranNya bahwa kepercayaan kita akan membangun pengertian yang benar tentang kebenaranNya.

Contoh:  Kita semua percaya bahwa Tuhan itu baik! Amin?! Pertanyaannya: Apakah Ia tetap baik, kalau anda susah, menderita, rugi, bangkrut bahkan mati? Seorang yang percaya kepada Allah akan tetap berkata Tuhan itu baik apapun situasinya. Sebaliknya pengikut/orang yang tidak percaya mengukur kebaikanNya berdasarkan situasinya. Keadaan baik berarti Tuhan baik, keadaan sukar, miskin, menderita berarti Tuhan tidak baik. Salah! Tuhan tetap baik sekalipun keadaan yang kita alami tidak baik, keadaan yang tidak baik Dia ijinkan terjadi demi kebaikan kita. Amin.

c.Mempercayai perkataan sang guru adalah pintu gerbang mujizat

Ibrani 11:1

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Mempercayai firmanNya dan pribadiNya adalah benih terjadinya mujizat. Seorang Perwira di Kapernaum menuai mujizat karena benih iman yang ditanam kepada Yesus. Matius 8:13 mengatakan: Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

Markus 9:23  Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”

d. Ketidak percayaan melemparkan kita jauh dari rencana dan tujuan Tuhan.

Ibrani 3:19

Demikianlah kita lihat, bahwa mereka tidak dapat masuk oleh karena ketidakpercayaan mereka.

Ini adalah ironi, sebab dengan berbagai mujizat dan kuasa Allah, bangsa Isarel dikeluarkan dari tanah perbudakan di Mesir. Dari penderitaan mereka dijanjikan sebuah negeri yang berlimpah susu dan mandunya. Dengan pimpinanNya mereka disertai dengan tiang awan dan tiang api menghantar mereka masuk ke negeri perjanjian, namun semuanya gagal dan sia-sia karena ketidakpercayaan mereka. Ketidak percayaan telah melemparkan mereka jauh dari rencana dan tujuan Tuhan yang mulia itu.

  1. Komitmen untuk mentaati apa yang sudah didengar.

Seorang murid tidak dipanggil menjadi pengikut saja tetapi menjadi penurut Firman. Tidak hanya meditasi dan refleksi tetapi reaksi dan aksi nyata kebenaran firman Allah. Murid tidak hanya bertanya: apa yang Ia katakan, tetapi bertanya: apa yang harus kita lakukan.

Mengapa harus mentaati apa yang sudah didengar?

a.Murid dipanggil menjadi pelaku bukan hanya pendengar.

Yakobus 1:22 

Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.

Dalam Yohanes 6 kita melihat dengan jelas perbedaan antara seorang murid dan pengikut. Seorang pengikut hanya mencari kesenangan, seorang Murid mencari pertumbuhan. Seorang pengikut mencari berkat, seorang murid mencari pemberi berkat. Pengikut, tidak berkomitmen mentaati apa yang sudah didengar. Seorang murid : taat melakukan apa yang sudah didengar. Muridkah kita?

b. Mustahil menerima kuasaNya tanpa mengadopsi kehidupanNya

Roma 8:29 

Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

Tujuan pemuridan adalah menjadikan setiap orang percaya serupa dengan Dia. Sebab hanya dengan menjadi serupa dengan DIA, kita akan menerima kuasaNya.

c.Ketaatan adalah ujung dari percaya.

Yakobus 2:26

Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Iman seperti apakah yang kita miliki? Semuanya akan nyata melalui tindakan kita. Mereka yang memiliki iman yang penuh kepada Tuhan tidak pernah memiliki keraguan untuk bertindak sekalipun ditengah kemustahilan. Nyatakan iman anda melalui tindakan anda. GBU, KJP!!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MATA YESUS BAGAIKAN “NYALA API” – oleh Pdt. JS. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 22 Oktober 2017)

Wahyu 2:18,19

 

 

PENDAHULUAN

Kita sedang mempelajari pengikut Yesus yang sejati dari jemaat yang ada di Asia kecil. Saat ini kita akan berkaca dari kehidupan jemaat di Tiatira. Pada bahasan khotbah sebelumnya kita sudah pelajari bahwa ada 2 orang wanita yang berpengaruh bagi kehidupan jemaat di Tiatira, yaitu :

Lidia  : Seorang wanita yang awalnya tidak kenal siapa Yesus, namun hidupnya berubah setelah bertobat dan menerima Yesus sebagai Juruselamat. Karena iman dan pelayanannya, maka di kota Tiatira dapat berdiri himpunan orang percaya, yaitu jemaat Tiatira.

Izebel  : Oleh karena pengaruh/ajarannya, jemaat yang sudah percaya kepada Yesus justru berubah menjadi penyembah berhala dan berbuat zinah. Dalam injil Matius 24:24, Yesus memperingatkan bahaya penyesatan di akhir zaman. Ini membuat kita sadar betapa pentingya mendasarkan kekristenan kita bukan pada tanda ajaib atau mujizat melainkan kebenaran Firman TUHAN.

CARA YESUS PERKENALKAN DIRI

Yesus memperkenalkan diri-Nya  kepada jemaat Tiatira, dengan berkata:

“Inilah firman Anak Allah yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga.”

Yang dimaksud “Mata Yesus bagaikan nyala api, adalah :

  1. Yesus melihat semua ciptaan-Nya

Yesus yang adalah Allah sanggup melihat semua ciptaan-Nya, baik yang ada di bumi, di sorga, dan bahkan di bawah bumi. Yesus sanggup melihat sampai ke alam Roh yaitu tempat bagi roh orang yang sudah meninggal baik yang percaya kepada Yesus maupun yang tidak percaya. Tempat bagi roh orang mati yang percaya Yesus disebut Firdaus sedang tempat bagi roh orang mati yang tidak percaya pada Yesus adalah Hades.

Alam Roh (Firdaus dan Hades)

  • Firdaus : Tempat bagi roh orang yang percaya Yesus sebelum masuk ke sorga.

Untuk orang percaya saat meninggal rohnya langsung dibawa ke Firdaus. Yesus perhatikan orang percaya yang mati dianiaya, yang ada di Firdaus ketika mereka menuntut pembalasan. (Wahyu 6:10,11)

  • Hades : Tempat/alam roh bagi roh orang mati yang tidak percaya kepada Yesus sebelum masuk ke neraka.

Saat orang yang tidak percaya kepada Yesus meninggal rohnya akan dibawa ke Hades. Jika dalam Lukas 16:23,24 menceritakan Abraham dapat melihat orang yang ada di Hades, maka Yesus pun dapat melihat roh orang mati di alam maut (Hades-penjara), ketika disiksa dan alami penderitaan sebelum mereka dilempar ke dalam neraka.

  1. Yesus Perhatikan Aktifitas Kita

Dengan mata-Nya Yesus dapat memperhatikan aktifitas kita baik tubuh, roh dan jiwa kita, artinya apa yang kita lakukan di tempat tersembunyi Yesus tahu, saat kita diam tanpa ada aktivitas fisik, Yesus dapat melihat aktivitas jiwa kita yaitu apa yang ada dalam pikiran dan hati kita bahkan sampai roh kita.

Karena itu Tuhan ingin kita saling mengingatkan bahwa Tuhan memperhatikan aktifitas bahkan mencatat setiap tindakan kita. Seperti tertulis dalam Maleakhi 3:16 Beginilah berbicara satu sama lain orang-orang yg takut akan Tuhan: “Tuhan memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapan-Nya bagi orang-orang yang takut akan Tuhan dan bagi orang-orang yang menghormati nama-Nya.”

TUHAN PERHATIKAN CARA IBADAH

Manusia hanya menilai ibadah seseorang dari kehadiran di gereja artinya hanya terbatas pada aktifitas fisik saja, tetapi TUHAN menilai ibadah yang kita lakukan sampai pada aktifitas jiwa bahkan roh kita. Ibadah yang berkenan pada Tuhan, tidak cukup hanya dengan kehadiran kita di gereja dan melakukan  ritual ibadah melainkan harus ada dorongan dari dalam jiwa dan roh  saat kita memuji dan menyembah Tuhan, juga saat membawa persembahan.

 

Bila hanya tubuh kita yang hadir  dalam ibadah, maka kitalah orang yang menggenapi perkataan Yesus dalam Markus 7:6 :

Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya  jauh dari pada-Ku.”

Dengan demikian kita bukan pengikut Yesus yang sejati, bila ibadah kita tidak kita lakukan dari dalam hati (roh) dan jiwa serta terekspresi dari tubuh kita. Penyembahan kita seharusnya dimulai dari roh seperti yang dikatakan dalam Yohanes 4:24

“Allah itu Roh dan barangsiapa  menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran”.

IBADAH JEMAAT TIATIRA

Dari pandangan dan penilaian Yesus, jemaat Tiatira adalah jemaat yang beribadah dengan cara yang benar. Hal ini terungkap dari ucapan Yesus yang secara terus terang berkata kepada jemaat Tiatira dalam (Wahyu 2:19)

“Aku tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunan-mu. Aku tahu, bahwa pekerjaan mu yang terakhir lebih banyak daripada yang pertama”.

Yesus memperhatikan ibadah jemaat Tiatira, dimulai dari :

  1. IMAN JEMAAT TIATIRA

Jemaat Tiatira melakukan segala sesuatu termasuk ibadah karena menyakini sudah diselamatkan bukan untuk memperoleh keselamatan. Agama lain berusaha berbuat baik untuk beroleh selamat tapi kita tahu sebagai  orang-orang yang percaya kepada Yesus kita diselamatkan bukan oleh karena usaha dan perbuatan baik, tapi oleh iman kepada Yesus. (Efesus 2:8,9  Roma 10:9,10). Jemaat Tiatira adalah contoh jemaat yang menjalankan ibadah dengan iman kepada Yesus.

  1. KASIH JEMAAT TIATIRA

Kasih datang dari hati, dengan demikian semua kegiatan ibadah yang dilakukan jemaat Tiatira, dilakukan bukan sekedar formalitas atau ritual belaka. Tapi dengan kasih (dari dalam hati)! Apapun bentuk pelayanan yang kita kerjakan sekalipun itu sederhana jika dilakukan dengan kasih ada pahalanya.  (Matius 10:42)

 

  1. KETEKUNAN JEMAAT TIATIRA

Kata yang digunakan dalam bahasa Yunani untuk kata TEKUN adalah HYPOMENO  yang artinya tetap tinggal di bawah, Bertahan pada posisi, kokoh dan kuat.

Ini memberikan pengertian bahwa Jemaat Tiatira adalah jemaat yang tekun :

  • Ketika diberkati, mereka setia ibadah, memuji Tuhan, bawa korban dan melayani Tuhan.
  • Ketika alami ujian, merekapun tetap beribadah, memuji Tuhan, bawa korban dan melayani Tuhan.

Artinya Ibadah, pelayanan dan ketekunan jemaat Tiatira, tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi fisik; ekonomi; masalah; ujian; tantangan, bahkan apa pun juga.

Contoh Hidup Ayub : Ayub tidak hanya beriman dan setia saat kondisi berkecukupan atau diberkati. Iman, ibadah dan pengabdiannya kepada Tuhan tidak berubah di situasi buruk sekalipun. Saat diijinkan Tuhan untuk alami musibah, Ayub mengoyakkan pakaiannya sebagai tanda bahwa hidup bukan bergantung pada hal jasmani dan mencukur kepala sebagai  tandai kemuliaan jasmani hanya bersifat sementara. Ayub kemudian mengambil sikap untuk menyembah bahkan tetap menaikan pujian dan beribadah kepada TUHAN (Ayub 1:20-21). Ketika alami sakit dan secara fisiknya tidak memungkikan dia beribadah, Ayub masih tetap memuji Tuhan dari roh dan jiwanya. Kondisi yang dialami tidak membuat dia kecewa terhadap Tuhan (Ayub 2:9)

 

  1. Pekerjaanmu Yang Terakhir Lebih Banyak Daripada Yang Pertama

Yang dimaksudkan adalah kuantitas dan kualitas ibadah jemaat Tiatira, makin hari makin meningkat/ naik, bukan menurun apalagi mogok atau berhenti. Tuhan menginginkan kehidupan kekristenan kita semakin alami peningkatan dalam iman, kasih dan ketekunan. Seperti yang dikatakan dalam Amsal 4:18

“Tetapi jalan orang benar itu  seperti cahaya fajar yang kian bertambah terang sampai  rembang tengah hari.”

KELEMAHAN JEMAAT TIATIRA

Namun Jemaat Tiatira yang hidup dalam kasih; iman; pelayanan; tekun dan terus meningkat secara kuantitas dan kualitas itu telah dirusakkan dan dihancurkan karena memberi kesempatan kepada ajaran (Roh) Izebel. Menurut sejarah tidak ada lagi orang percaya di Tiatira.

Kesimpulan

Ini menjadi sebuah pelajaran, kita harus berhati-hati agar tidak terbawa oleh ajaran sesat yang akhirnya menghancurkan iman kita. Berdirilah di atas kebenaran Firman Allah yang murni apapun situasi dan kondisi yang kita alami.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

EVALUASI KEHIDUPAN seri 2 – MEMELIHARA IMAN (Ibadah Raya 3 – Minggu, 15 Oktober 2017)

2 Timotius 4:7

“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”

 

Pendahuluan

Dalam ayat ini Rasul Paulus sedang mengevaluasi diri dalam hidupnya. Evaluasi itu penting untuk memperbaiki kesalahan, mengetahui kekurangan atau kelemahan yang ada dan agar dapat bertindak dengan benar dan tepat.

Menjelang kedatangan Yesus yang kedua kali, setiap orang percaya perlu evaluasi kehidupan rohaninya karena yang tahu kondisinya adalah pribadi yang bersangkutan.  Apa saja yang perlu kita evaluasi dalam hidup kita?  Dalam 2 Tim 4:7, ada 3 hal yang telah dicapai Paulus:

  1. Telah mencapai garis akhir
  2. Telah memelihara iman
  3. Telah mengakhiri pertandingan dengan baik

Dalam pembahasan pertama telah dijelaskan tentang:

I.TELAH MENCAPAI GARIS AKHIR

Mencapai garis akhir berarti :

  • Tetap dijalur yang ditentukan, tidak memakai jalur lain atau jalan pintas
  • Tidak menyimpang, fokus pada jalan yang ditentukan Tuhan, menang terhadap semua godaan
  • Menyelesaikan semua lintasan, artinya tidak ada lintasan yang tidak dilewati tetapi semua dilewati secara tuntas.

Kehidupan kita digambarkan seperti sebuah pertandingan lari yang tidak tahu kapan finisnya. Semakin lama kita berada di arena kehidupan ini, kita harus berlari dengan sungguh-sungguh dan benar. Mengapa ?  Karena masih ada kemungkinan kita bisa dikalahkan dan tidak sampai pada garis akhir.

II. MEMELIHARA IMAN

Untuk membahas tentang memelihara iman, kita perlu melihat apa yang tertulis dalam Ibrani.3:14 “Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita semula.”.

Dalam ayat ini, ada dua hal yang menarik untuk kita mengerti:

  1. Karena kita telah mendapat bagian di dalam Kristus”

Maksudnya adalah pada waktu seseorang mengambil keputusan untuk percaya atau beriman kepada Tuhan Yesus, maka ia sudah mendapat bagian didalam Kristus.

Bagian apa yang didapatkan bagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus?

  • Keselamatan, Yoh 3:16 – Pada waktu seseorang percaya kepada Yesus dan menjadikannya sebagai Tuhan dan juru selamatnya, maka orang itu sudah menerima keselamatan tidak harus menunggu nanti kalau sudah di sorga.
  • Dibangkitkan dari kematian, 1 Tesalonika 4:14-16 – Orang yang percaya Tuhan mendapat jaminan kebangkitan kembali untuk menerima tubuh yang baru dalam kemuliaan.
  • Kehidupan kekal, Yoh 3:16 – Kehidupan kekal sudah menjadi bagian orang yang ada didalam Kristus, selagi ia masih hidup dalam dunia ini.

Tetapi tidak berhenti sampai disini, bagian kedua dalam surat Ibrani. 3:14 ,selanjutnya dikatakan:

 

  1. “…asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita semula.”

Artinya, keyakinan iman kita harus dipegang teguh sampai pada akhirnya, agar kita tetap dapat memiliki apa yang sudah bagian kita itu. Dipegang teguh sampai pada akhirnya dapat berbicara tentang dua hal :

a. Sampai Tuhan Yesus datang kedua kalinya. Ini akhir secara global bagi seluruh kehidupan di dunia ini

b. Sampai kematian menjemput. Hal ini berbicara tentang akhir dari kehidupan masing-masing orang percaya di dunia ini.

Karena kematian itu tidak ada yang dapat mengetahui kapan datangnya, maka setiap orang percaya harus memelihara imannya agar tidak kehilangan apa yang sudah seharusnya ia dapatkan itu. Iman menjadi kunci keselamatan dan semua bagian yang sudah Tuhan tentukan bagi kita. Dalam surat Filipi 2:12 – dikatakan “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat, karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar…..”

Kata “Kerjakan keselamatanmu“ mengandung arti :

  • Mempertahankan iman.

Iman harus dipertahankan apapun tantangan dan godaan yang harus dihadapi orang percaya, jangan sampai iman lepas dan terhilang.  Bagi Tuhan tidak ada istilah sekali selamat tetap selamat,  untuk selamat pertahankan iman kita sekalipun nyawa taruhannya.

  • Memelihara iman.

Selain dipertahankan, iman kita juga harus dipelihara lewat pengajaran firman Tuhan, untuk itu kita harus merajinkan diri beribadah dengan taat dan senantiasa ada dalam persekutuan dengan Tuhan.

  • Meningkatkan iman pada kesempurnaan.

Karena kita masih hidup dalam dunia ini, maka selain dari mempertahankan dan memelihara iman kita, iman juga harus disempurnakan. Bagaimana kita menyempurnakan iman kita? Praktekkan apa dalam hidup kita segala sesuatu yang kita imani dari firman Tuhan, itulah yang menyempurnakan iman kita.

Mengerjakannya dengan “Takut dan gentar.” Keselamatan karena iman kita itu semuanya harus dikerjakan dengan takut dan gentar.  Apa maksudnya?

Kata “Takut“ dalam bahasa Yunani = PHOBOS, artinya takut yang tidak bersifat membinasakan melainkan rasa hormat yang disertai ketakutan yang mengendalikan dan memulihkan yang menuntun kepada kesucian moral iman yang benar. Takut berbuat dosa, takut membuat Tuhan kecewa  yang jelas akan membawa konsekuensi kehilangan keselamatan kita. (Maz. 5:8; 85:10; Ams.14:27; 16:6.)

MEMELIHARA IMAN

Inilah hal kedua dari pembahasan evaluasi kehidupan kita. Ada hal yang menarik tentang iman yang harus kita pelihara, dalam surat Yudas 1:20. Ditulis demikian “Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.”.

Jika berbicara tentang iman, kebanyakan orang umumnya orientasinya kepada Mujizat; Kesembuhan Ilahi; Doa yang dijawab; Kemenangan atas masalah; Pertolongan yang ajaib dan satu hal lagi tentang mengusir setan. Semuanya ini benar dan nyata dapat terjadi dalam kehidupn orang percaya karena iman. Tetapi Iman yang suci seperti yang dikatakan oleh Yudas tidak berhenti pada hal-hal yang menguntungkan orang yang percaya saja. Ada sisi lain yang harus dihadapi oleh orang percaya yang justru menuntut dan menyedot semua kepemilikan kita.

Contoh: ABRAHAM

Dalam surat Ibrani 11:17 dikatakan “Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia yang telah menerima janji itu rela mempersembahkan anaknya yang tunggal.”

Abraham karena imannya tidak sedang mendapatkan sesuatu dari Tuhan, tetapi justru Tuhan yang meminta sesuatu dari dirinya, dan yang Tuhan minta tidak main-main, sesuatu itu adalah pribadi yang begitu disayangi dari semua milik Abraham. Ia rela kehilangan apapun dalam hidupnya asal yang satu itu tetap dapat ia miliki, dialah Ishak anak satu-satunya yang diperoleh dengan mujizat dan itulah yang diminta Tuhan dari Abraham. Tidak ada catatan bahwa Abraham protes, bahkan bertanya pun tidak. Apa yang membuat Abraham begitu tegar, kuat dan tetap mempercayai Allah? Kerelaannya-kah? Ya, itu memang ditulis dalam ayat ini, tetapi bukan itu yang menjadi jawabannya, tetapi karena imannya.  Abraham tetap tidak berubah imannya meski anak satu-satunya harus dikorbankan, karena imannya tetap ia jaga, Abraham tidak menjadi kecewa karena permintaan Tuhan itu, tetapi ia tetap mempercayai Allah penuh tanpa syarat.  Bagaimana jika Tuhan meminta sesuatu yang sangat berharga dihidup saudara dengan tiba-tiba seperti yang terjadi pada Abraham? Apakah saudara akan kecewa, tidak lagi beribadah dan meninggalkan Tuhan? Masih sanggupkah saudara tetap memelihara iman saudara, tidak goyah dan tetap mempercayai Tuhan ?

AYUB

Pengalaman Ayub ditulis dengan sangat jelas puncaknya dalam  Ayub 2:9,10

“Maka berkatalah istrinya kepadanya: Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah! Tetapi jawab Ayub kepadanya: Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk ?…..”

 

Jika Abraham diminta satu hal saja, tidak demikan dengan Ayub. Tuhan menginjikan Iblis untuk mengocok iman Ayub dengan merampas habis-habisan semua kepemilikannya bahkan semua orang yang dikasihinya. Semua kekayaannya lenyap dalam satu hari, dalam satu hari juga ke 10 anaknya mati mengenaskan. Dapat kita bayangkan Ayub harus menghadapi bukan 1 peti tapi 10 peti mati anaknya dalam satu kali upacara penguburannya, satu saja kehilangan anaknya orang tua akan begitu sedih dan pilu menghadapinya, apalagi Ayub. Puncaknya, istri satu-satunya orang yang paling dekat sebagai satu-satunya orang yang diharapkan dapat menguatkan dan menghiburkan dirinya, justru memperberat bebannya, bukannya menguatkan imannya tetapi justru mendorong Ayub untuk berbalik melawan Allah dengan menyuruh Ayub mengutuki Allah dan mati saja. Bagaimana jika hal ini menimpa hidup saudara, masih bertahankah iman saudara, masihkah tetap mempercayai Allah ?

Lihat bagaimana Ayub menyikapi semuanya itu dengan imannya dari kalimat yang ia ucapkan “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk ?…..” Pertanyaan Ayub tidak dijawab istrinya yang imannya sudah rontok, kitalah yang harus menjawab pertanyaan Ayub.  Apakah dengan iman, kita hanya mau menerima yang baik saja dari Tuhan seperti mujizat, kesembuhan, pertolongan yang ajaib dan berkat-berkat lainnya? Bagaimana jika Tuhan sebaliknya meminta banyak hal untuk kita berikan kepada Tuhan, yang berarti menjadi sesuatu yang buruk pada keadaan kepemilikan kita  seperti kepada Ayub dan Abraham, apakah juga kita mau menerimanya? Kekuatan dan luar biasanya Ayub bukan pada fisik atau ketahanan tubuhnya, tetapi pada imannya yang kuat, ia tetap menjaga imannya untuk tidak goyah.

 

Kita lihat bahwa Iman yang suci justru menyedot semua kepemilikan kita bagi Tuhan, bahkan pada satu titik tertentu sampai  kepada nyawa kita. Seperti yang terjadi pada diri Stefanus. Dalam  Kisah 7:59 “Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya : Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.”

Stefanus dirajam dengan batu, aniaya yang mengerikan, yang merenggut nyawanya karena imannya kepada Kristus. Stefanus tidak terlihat takut dan gentar tapi justru menyerahkan nyawanya kepada Tuhan. Bagaimanan jika hal ini juga terjadi dalam hidup saudara, masihkah terpelihara iman saudara, tetap bertahan sampai akhir ?  Akan datang saatnya seperti apa yang dikatakan Yesus. Matius. 10:28. – “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi tidak berkuasa membunuh jiwa, takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh didalam neraka.”

 

Tuhan memberi peringatan bahwa akan ada orang-orang percaya yang diberi karunia untuk alami hal ini, dan hanya orang-orang yang tetap memelihara imannya dengan kuat yang sanggup melewati semuannya itu dengan kemenangan.

 

Kesimpulan

Hanya orang yang berkomitmen memelihara iman yang sejati, yang dapat bertahan menghadapi situasi apapun dalam hidupnya, sampai kepada nyawanya sekalipun imannya tidak akan berubah. Sekali Yesus tetap Yesus.

Posted in Uncategorized | Leave a comment