APAKAH YANG KAMU CARI? Seri – 23, Datang dan Tinggal Bersama (Ibadah Raya 2-Minggu, 22 April 2018)

Yohanes  1 : 35-39

Yohanes 1:39
Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya. “Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat.

Pendahuluan
Kita sudah membahas prinsip-prinsip pemuridan yang dilakukan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Untuk menjadi murid Yesus yang sejati mereka harus tinggal bersama dengan Yesus. Mengapa murid-murid harus tinggal bersama dengan sang rabi?

  1. Pengikut MENGETAHUI (to know) tetapi MURID : MENJADI (to be)

Lukas 6:40
Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.

Tujuan pemuridan Tuhan Yesus adalah membentuk semua orang yang mengikuti-Nya menjadi seperti Dia. Mereka tidak sekedar tahu tentang Yesus tetapi mereka menjadi seperti Yesus. Seorang murid bukan orang yang “to know’ tahu tentang tetapi “to be” menjadi seperti. Sayangnya banyak orang Kristen yang hanya puas tahu tentang Yesus tetapi hidupnya tidak menjadi seperti Yesus. Sadarilah setiap kita dipanggil bukan sekedar tahu tentang Yesus, lebih jauh menjadi seperti Yesus. Sebab itu jangan berhenti pada “mengetahui” bergeraklah menjadi seperti Yesus. Amin!

  1. Pengikut MENGAMBIL KEPUTUSAN tetapi MURID : BERKOMITMEN

Pertobatan adalah langkah awal dimana seseorang mengambil keputusan untuk mengikut Yesus sebagai Tuhan dan juru selamatnya. Biasanya pada langkah ini dibarengi dengan keputusan untuk meninggalkan hidup lama dan memulai hidup baru. Ini adalah langkah yang radikal seorang pengikut Yesus, tetapi harus diiringi dengan sebuah komitmen. Sebab keputusan tanpa komitmen adalah kebohongan. Pertobatan adalah keputusan, kesetiaan adalah komitmen. Seorang pengikut mengambil keputusan, tetapi seorang murid berkomitmen untuk tetap setia sampai garis finis. Seorang murid bukan sekedar menjadikan Tuhan Yesus yang pertama tetapi satu-satunya dalam hidupnya. Sekali Yesus tetap Yesus.

  1. Pengikut MENJALIN HUBUNGAN tetapi MURID : MEMBANGUN KEINTIMAN

Tuhan Yesus menghendaki agar setiap orang percaya tidak hanya terhubung dengan Yesus, tetapi berhubungan intim dengan pribadi-Nya. Yesus ingin hubungan dengan anak-anak-Nya bukan hubungan biasa atau basa-basi tetapi hubungan yang akrab, intim dan mendalam antara seorang Bapa dan anak-Nya.

Pembahasan lebih detail ketiga prinsip di atas dapat Bapak, Ibu, Sdr/i dapat lihat di Mahanaim Magazine atau website gereja. Sekarang kita akan pelajari prinsip yang keempat dalam pemuridan yang dilakukan Tuhan Yesus.

  1. PENGIKUT Fokus HASIL, MURID Fokus PROSES

Inilah alasan mengapa murid harus tinggal bersama sang guru. Seorang murid tidak dihasilkan secara spontan, tetapi melalui proses panjang.

Tanda-tanda Seorang Pengikut yang Hanya Fokus kepada Hasil.

  1. Seorang Pengikut Mencari Kemudahan

Yohanes 6:2
Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mujizat-mujizat penyembuhan, yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit.

Inilah gaya atau ciri seorang pengikut, ia datang kepada Yesus karena ada mujizat. Seorang pengikut selalu mencari kemudahan dan menjauhi kesulitan. Jika kekristenan kita hanya mencari kemudahan itu berarti kita adalah seorang pengikut dan bukan murid.

  1. Seorang Pengikut Mencari Jalan Pintas

Markus 10 : 35 – 37
Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, meminta kepada Yesus agar diperkenankan duduk di sebelah kanan dan di sebelah kiri kelak dalam kemuliaan Tuhan.

Pengikut itu identik anak-anak yang hanya mencari kesenangan dan jalan pintas. Yakobus dan Yohanes merasa dekat dengan Yesus, langsung potong kompas, minta duduk sebelah kanan dan di sebelah kiri kelak dalam kemuliaan Tuhan.

Contoh lain seorang yang mencari jalan pintas adalah Saul. Ketika ia sedang terjepit karena negerinya dikepung musuh, ia mencari pertolongan melalui seorang dukun.

1 Samuel 28:7
Lalu berkatalah Saul kepada para pegawainya: “Carilah bagiku seorang perempuan yang sanggup memanggil arwah; maka aku hendak pergi kepadanya dan meminta petunjuk kepadanya.” Para pegawainya menjawab dia: “Di En-Dor ada seorang perempuan yang sanggup memanggil arwah.”

  1. Menghindari Kesulitan

Mat 7:13
Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;

Tuhan Yesus telah berkata terus terang kepada pengikut-Nya bahwa untuk menjadi pengikut-Nya mereka harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Yesus setiap hari. Tetapi seorang pengikut selalu menghidari kesulitan dan memilih jalan yang lebar. Jalan Tuhan terkadang bukan yang tercepat, bukan pula yang termudah tetapi pasti yang terbaik. Seorang pengikut sejati ia akan menapaki jalan yang sempit sebab ujungnya menuju kemuliaan.

BAHAYA HANYA FOKUS KEPADA HASIL
Jika kekristenan kita hanya berfokus kepada hasil akhir, kita akan terjebak dalam bahaya rohani yaitu:

a. Menilai Tuhan Berdasarkan Peristiwa.
Jika peristiwa yang kita alami baik, diberkati, sehat dan untung kita berkata: Tuhan baik. Sebaliknya jika peristiwa yang terjadi adalah kesusahan, penderitaan, sakit, kita menilai Tuhan tidak baik.

b. Menghalalkan Segala Cara.
Dalam Kej. 27 kita melihat orang yang fokus kepada hasil akhir ia menghalalkan segala cara untuk mendapat berkat. Yakub gunakan cara licik untuk memperoleh berkat kesulungan.

MURID : Dibentuk Melewati PROSES
Saat Tuhan Yesus mengundang dua orang murid Yohanes Pembaptis untuk mengikuti-Nya itu berarti Ia mengundang mereka untuk mengikuti seluruh prosesnya.

Seorang murid dihasilkan melalui proses, tempaan dan pembentukan dari hari ke hari yang berlangsung seumur hidup. Berhenti menjalani proses berarti berhenti mengembangkan diri. Mengapa harus melewati proses?

  1. TUHAN Memiliki Standar Tertentu.

Setiap sekolah memiliki standar dan kriteria murid yang dihasilkan. Di sekolah umum kita mengenal istilah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Seorang murid dinyatakan lulus sekolah jika nilai yang dicapai melampui atau sama dengan nilai KKM. Demikin juga seorang murid Yesus, ia dinyatakan lulus jika memenuhi standar yang ditentukan oleh Tuhan Yesus. Apakah standarnya?

a. Menurut Apa yang Baik pada Pemandangan Penjunan
Yeremia 18:4
Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.

Ukuran yang telah ditentukan adalah menurut apa yang baik pada pemandangannya yaitu pemandangan penjunan bukan pemandangan kita. Itulah sebabnya Tuhan mengijinkan segala kesulitan, bencana, kesukaran dan sakit kita alami sebab yang Dia menginginkan bejana yang seperti diinginkan hati-Nya.

b. Mengikuti TELADAN-NYA
Yohanes 13:15
sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.

Tuhan Yesus ingin agar setiap murid mengikuti teladan-Nya. Untuk itulah mereka tinggal serumah dengan sang guru agar mereka tidak hanya mendengarkan ajaran-Nya terlebih mereka mengikuti telandan-Nya. Di depan mata murid-Nya, Tuhan Yesus memperagakan gaya hidup kerajaan Allah agar diikuti oleh murid-murid-Nya.

c. Serupa Kristus
Roma 8:28
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Kebanyakan dari kita menyukai ayat 28 ini. Kita mempercayai bahwa Tuhan merangkai segala peristiwa untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Tetapi apakah kita tahu untuk tujuan apakah Tuhan mengijinkan segala sesuatu terjadi? Tujuannya adalah ayat 29 yaitu serupa dengan gambaran Anak-Nya.

Roma 8:29
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

Proses tidak pernah mengkhianati hasil! Selama kita mengikuti prosesnya, kita akan mendapatkan hasilnya. Selamat memasuki proses Tuhan sebagai murid Tuhan. GBU. KJP!!

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

BERTUMBUH JADI BARU – oleh Ps. Jeff Minandar (Ibadah Raya 1 – Minggu, 22 April 2018)

Sepanjang tahun ini Gembala kita mengambil tema “Bertumbuh” untuk GPdI Mahanaim Tegal. Suatu tema yang menantang disatu sisi, karena kita diharapkan untuk menunjukkan pertumbuhan, menjadi lebih besar, lebih matang, dan tentu saja salah satu karakteristik pertumbuhan yang sehat adalah berbuah!

Ketika menyiapkan apa yang akan saya sampaikan ke jemaat hari ini, yang terpikir di benak saya ada 2 hal. Pertama, tentu saja tentang pertumbuhan, namun yang kedua saya rasa juga tak kalah penting yaitu pembaruan. Keduanya kemudian menjadi fusi, dan lahirlah judul: “Bertumbuh Jadi Baru”.

Mengenai kedua hal ini saya rasa kita sudah sangat familiar. Pertumbuhan adalah perubahan dari kecil menjadi besar. Pembaruan adalah perubahan dari lama menjadi baru. Sederhana saja! Saya rasa definisi singkat barusan bisa membantu kita untuk membedakan keduanya.

Dalam Firman Tuhan sendiri jelas sekali Yesus meminta kita bertumbuh dan berbuah, seperti misalnya dalam perumpamaan di Lukas 13:6-9. Secara singkat, itu bercerita tentang pohon ara yang tumbuh di kebun anggur dari seorang pemilik kebun. Ketika ia mencari buah dari pohon itu, dia tidak menemukannya. Dia segera memerintahkan kepada pengurus kebun itu untuk menebangnya. Tetapi pengurus kebun itu menahan niat pemilik kebun ini, dengan berkata: “…biarkanlah dia tumbuh…, mungkin tahun depan ia berbuah…” (ayat 8-9).

Ada banyak interpretasi mengenai siapa pemilik kebun, siapa pengurus kebun, siapa yang dimaksud dengan kebun anggur, dan siapa yang dimaksud dengan pohon ara. Tetapi satu hal yang sangat jelas disitu adalah:

  1. Ada Waktu dimana Buah itu Menjadi Patokan Penilaian.

Kita semua memiliki modal dalam hidup ini, waktu, tenaga, kesehatan, dan lain sebagainya. Tetapi apa yang dihasilkan oleh apa yang kita miliki ini menjadi penilaian apakah kita berbuah atau tidak. Yohanes pembaptis pernah dengan keras menegur orang Farisi dan Saduki yang datang untuk dibaptis dengan perkataan: “…hasilkanlah buah yang sesuai…” Matius 3:9.

Sudahkah waktu, tenaga, kesehatan kita, kita gunakan untuk menghasilkan sesuatu bagi Tuhan. Anda mungkin berkata saya secara rutin membawa persembahan. Apakah Tuhan mau uang milik kita? Itu semua pada dasarnya milikNYA, karena IA pemilik segala sesuatu. Mazmur 95:4-5.

  1. Ketika Pertumbuhan Berarti Kesempatan Baru.

Ketika pengurus kebun berkata “…biarkanlah dia tumbuh…” itu bukan berarti pohon itu sudah selamat, akan ada masa dimana pemilik kebun itu akan datang untuk memeriksa apakah dari pohon itu dihasilkan buah. Banyak orang merasa kesempatan itu selalu ada, saya rasa kalau kita belajar dari apa yang disampaikan Gembala tentang Jemaat Filadelfia, pada Ibadah Raya minggu lalu, kita mengerti. Ada pintu atau jendela kesempatan yang akan ditutup. Jika kita hidup sekarang itu bukan karena Allah lalai, tetapi karena IA memberi kesempatan untuk bertobat. 2Petrus 3:9.

Kita masih punya kesempatan sekarang untuk berbuah. Salah satu buah Roh di dalam Galatia 5:22 adalah kebaikan. Ini kesempatan kita, kesempatan untuk berbuat baik. Galatia 6:9-10.

Mengenai sesuatu yang baru, banyak orang berpikir itu artinya sama sekali baru. Tetapi, dari perspektif pertumbuhan, saya melihat begini: sesuatu yang baru itu muncul saat yang lama bertumbuh jadi baru. Lihatlah pertumbuhan sebuah pohon, ketika ia bertunas dan masih kecil, orang tidak menghiraukannya. Tetapi jika selang beberapa waktu dan orang melihat batangnya yang besar, rantingnya, daunnya dan buahnya, bisa jadi mereka berkata bahwa itu pohon baru. Padahal sebenarnya itu adalah tunas pohon yang sama. Tetapi sekarang ia menjadi besar karena ada pertumbuhan, ada sesuatu yang baru, yang menjadi nampak.

Anda mungkin berpikir saya sudah terlambat untuk mengeluarkan hal-hal yang baru. Tapi tahukah kita bahwa Allah kita adalah Allah dari segala sesuatu yang baru. Wahyu 21:5. Bagi saya karya salib adalah kesempatan baru, dan kita selalu bisa bertumbuh menjadi sesuatu yang baru, ketika kita percaya pada salib itu. Pada suatu malam Allah memberikan kepada saya suatu gambaran jelas mengenai hal ini. IA menyediakan kesempatan baru bagi saya, dan tentu bagi Anda juga.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Memuaskan Hati Yesus , oleh Pdt. Erenst Rorong – GPdI Balapulang (Ibadah Raya 3-Minggu, 8 April 2018)

Yohanes 12:1-3

Ini adalah kisah Yesus yang mampir di Betania, tempat dimana Yesus membangkitkan Lazarus. Apa yang membuat Yesus tertarik ke Betania? Betania memiliki arti rumah persinggahan atau rumah perjanjian. Namun Yesus mampir ke Betania bukan karena itu tempat persinggahan, melainkan di Betania Yesus mengadakan satu perjanjian (Lukas 24:50-53). Yesus mengadakan perjanjian dengan murid-murid sebelum Ia naik ke Sorga. Murid-murid harus ke Yerusalem dan menanti janji Bapa. Lalu apa sebenarnya yang menarik hati Yesus ke Betania?

Di Betania keilahian Yesus disambut. Orang Betania meninggikan Yesus hingga dapat dikatakan Yesus merasa puas. Ini berbeda dengan penduduk di Yerusalem dimana keilahian Yesus terluka. Sekalipun dijuluki kota damai sejahtera tetapi penduduknya tidak menghargai keilahian Yesus. Hati Yesus terluka karena karakter orang Yerusalem. Ia melihat orang-orang yang ada di Bait Allah merubah tata cara ibadah. Rumah Allah diubah fungsinya dari tempat orang memuliakan Allah menjadi tempat mencari keuntungan dengan menjual hewan korban (Matius 21:12-17). Tidak ada lagi pujian kepada Allah dalam Bait Allah. Karena perbuatan ini mereka harus menanggung akibatnya. Yerusalem diijinkan untuk diserang musuh  (Lukas 19:43).

Hal sebaliknya terjadi di Betania. Karena mereka menyambut dan menghargai keilahian-Nya maka Yesus mengerjakan mujizat di Betania lewat dibangkitkannya Lazarus. Disaat kita menghargai keilahian Kristus maka disaat itu Allah akan menyatakan mujizat-Nya.

Di Betania Yesus secara manusia melepaskan kelelahan-Nya. sekalipun tidak banyak yang menyambutnya.

Kita belajar dari beberapa orang yang menyambut Yesus :

  1. Maria

Yesus disambut oleh Maria dan yang pertama dilakukannya adalah duduk dekat kaki Yesus. Tidak sekedar duduk, dalam peristiwa lainnya Maria mengambil minyak dan mencurahkan di kaki Yesus. Dia kembali mencurahkan minyak itu dari kepala sampai seluruh tubuh Yesus sehingga tercium aroma yang harum. Maria tidak pernah merasa cukup atau puas dalam melayani Yesus, ia selalu ingin berbuat lebih bagi Tuhan. Bagi Maria yang begitu menghormati Yesus maka ada Mujizat yang dialaminya. Apa yang kita persembahkan bukanlah untuk manusia melainkan untuk menunjukkan penghormatan kepada Yesus. Terkadang berkat tertahan karena kita merasa sudah cukup dalam hal berkorban. Matius 21:18, Yesus keluar dari Betania melihat Pohon Ara dan mencari buah namun tidak didapati-Nya. Di luar Betania tidak didapati buah. Pohon Ara disini menggambarkan hidup kita. Saat ini Yesus juga mencari buah dari hidup kita. Ketika kita menghormati Dia maka hidup kita akan menghasilkan buah.

  1. Marta

Yesus tidak menyalahkan Marta karena dia pun bekerja keras untuk melayani kemanusiaan Yesus, ada pengorbanan yang diberikan Marta. Namun, yang Yesus tegaskan disini adalah ketika kita bisa seperti Maria dengan memilih yang terbaik yaitu menyenangkan keilahian-Nya. Marta menggambarkan orang yang mau kerja keras melayani Tuhan.

  1. Lazarus

Lazarus bukan saja dibangkitkan Yesus melainkan hidupnya juga telah dipulihkan. Ia hidup dalam persekutuan dan menjadi saksi bagi Tuhan.

3 orang ini menunjukkan 3 hal yang mendorong gereja untuk bertumbuh, yaitu :
1). Selalu ingin memberi yang terbaik bagi Tuhan.
2). Melayani pekerjaan Tuhan dengan giat.
3). Hidup yang menjadi kesaksian

Potensi-potensi ini harus menyatu dalam pelayanan, kuncinya berserah untuk dipakai oleh Allah. Ada karunia yang berbeda yang diberikan kepada setiap jemaat. Sekecil apapun pelayanan yang diberikan kita harus melakukan sebaik mungkin agar Yesus disenangkan. Haleluya!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jemaat Filadelfia – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 15 April 2018)

Wahyu 3:7
Dan tuliskanlah kepada  malaikat jemaat di Filadelfia: Inilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.”

 PENDAHULUAN
Diantara tujuh sidang jemaat di Asia kecil maka Jemaat Filadelfia dapat dikatakan sebagai Jemaat  yang tidak memiliki cacat cela. Tidak ada teguran yang dikemukakan oleh Tuhan tentang jemaat Filadelfia. Bahkan predikat dari Jemaat di Filadelfia adalah jemaat yang dikasihi oleh Kristus (The Church Christ Loved). Jika kita bandingkan akan sangat berbeda dengan Jemaat di Sardis,yang oleh para akademisi diberi gelar: Zombie Church. Jika kita memilih tentu saja kita ingin menjadi seperti jemaat Filadelfia.

GEREJA SEMPURNA
Predikat jemaat Filadelfia sebagai Jemaat yang dikasihi Yesus, sedang jemaat sardis atau kelima jemaat yang lain mendapat teguran. Bukan berarti bahwa Allah pilih kasih. Mengasihi yang satu dan menegur yang lainnya. Tetapi Tuhan Yesus mengasihi jemaat Filadelfia sebab mereka menggambarkan pengikut Yesus yang sejati atau gereja sempurna yang tidak memiliki cacat-cela. Pengikut Yesus Yang Sejati, yang akan disingkirkan ke Padang Gurun sebelum Antikristus memerintah  di bumi selama 3,5 tahun. Tidak ada cara lain, agar tidak dikuasai dan alami penyiksaan oleh Antkristus yang akan memerintah dunia ini selama 3.5 tahun adalah memiliki kualitas kekristenan, pengiringan dan pelayanan yang sekualitas dengan  Jemaat Filadelfia.

CARA YESUS PERKENALKAN DIRI
Khusus kepada jemaat Filadelfia, secara berbeda Tuhan Yesus memperkenalkan diri-Nya dibandingkan dengan jemaat Efesus, Smirna, Tiatira, Pergamus dan Sardis. Jika diperhatikan dalam Wahyu 3:7, Tuhan Yesus memperkenalkan diri dalam kepada jemaat Filadelfia,  yaitu :

  1. YANG KUDUS

Untuk menjadi Pengikut Yang Sejati (Gereja Sempurna), kehidupan orang percaya harus kudus sama seperti Yesus adalah kudus. 1 Petrus 1:16 “…sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Jadi, ukuran kekristenan gereja sempurna bukan manusia atau para tokoh Alkitab, melainkan Kristus sendiri. Yesuslah yang menjadi standar kekristenan semua orang percaya. Dan kekudusan tersebut mempengaruhi seluruh aspek kehidupan: rohani;  jiwani dan jasmani yaitu: kekudusan dalam rumah tangga, pekerjaan atau usaha, pergaulan dan hubungan dengan lawan jenis. Dan kekudusan harus dimulai dari roh, kemudian ke pikiran dan diaplikasikan dalam sikap/tubuh. Bagaimana caranya menjadi kudus? Cara untuk hidup kudus adalah hidup sesuai Firman Allah. Yohanes 15:3 “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.”

Untuk mencapai hidup kudus (bersih), kita harus: baca; dengar dan lakukan atau selaraskan hidup kita dengan firman Allah. Firman Allah menjadi seperti cermin yang akan menunjukkan hal-hal salah dari diri kita sehingga kita dapat memperbaiki hidup. Jadi, jemaat Filadelfia dikasihi Yesus, bukan karena melakukan perbuatan spektakuler. Tetapi karena Jemaat Filadelfia membaca; mendengar dan melakukan atau selalu menyelaraskan hidupnya  sesuai Firman Tuhan.

  1. YANG BENAR

Cara Yesus memperkenalkan diri, yang kedua sebagai YANG BENAR. Perhatikan, kekudusan atau hidup kudus, berkaitan dengan hati atau batin. Sedangkan kebenaran atau hidup yang benar, berkaitan dengan perbuatan atau perilaku. Kekudusan dan kebenaran adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Untuk hidup benar harus dimulai dari hati atau batin yang kudus. Orang kudus, pikiran dan perbuatannya, pasti benar atau tidak bertentangan dengan  firman Allah. Matius 15:18 “Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.”

Sebab itu Pengikut Yesus Yang Sejati adalah pengikut Yesus yang menyelaraskan hati dan hidupnya sesuai Firman Tuhan. Di gereja kita diingatkan; dinasihati; ditegur oleh firman Allah, agar hidup kita selaras firman Allah?  Dalam Lukas 8:18 “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar…” Cara kita mendengar firman Allah akan menentukan kualitas rohani, yaitu dengan cara menaruh fokus hanya kepada firman Allah. Cara kita mendengar firman Allah akan menentukan kualitas  rohani kita.

  1. YANG MEMEGANG KUNCI DAUD

Pada umunya, kita mengerti bahwa Daud, adalah seorang raja terbesar di Israel. Tetapi Yesus jauh lebih besar, lebih tinggi dan lebih mulia dibanding Daud. Daud pernah jatuh dalam dosa tetapi Yesus sempurna. Sebab itu Yesus disebut sebagai Pemegang Kunci Daud. Artinya Daud memerintah Israel selama  40 tahun, tetapi Yesus memerintah dan berkuasa untuk selama-lamanya.

Kunci Daud
Yesus Memegang Kunci Daud, artinya semua kuasa di bumi dan di sorga ada di tangan Yesus. Dalam Wahyu 3:7 yang merupakan kutipan dari Yesaya 22:22 berbunyi demikian :“Aku akan menaruh kunci Daud ke atas bahunya: apabila ia membuka, tidak ada yang menutup; apabila  ia menutup tidak ada yang dapat membuka.”

Kalimat “menaruh kunci ke atas bahunya”, jika kita menghubungkan kedua ayat tersebut yaitu Yohanes 19:17, dan Yesaya 22:22, maka kunci yang dimaksud adalah Salib Yesus.

Dalam Kisah 2 – 4, selain Salib Yesus, Gereja mula-mula di Yerusalem juga menerapkan 4 Kunci lainnya yaitu :

  1. Firman Tuhan
  2. Nama Yesus
  3. Roh Kudus
  4. Bertekun dalam Doa.

SALIB YESUS
Korban kematian Yesus di salib ialah satu-satunya kunci keselamatan di bumi dan di sorga. Artinya tidak seorang pun di bumi, yang bisa masuk sorga, kalau ia tidak mau menerima atau menolak kunci  yang dikaruniakan sorga bagi dunia yaitu Salib Yesus. Roma 10:9,10 menuliskan, jika kita mengaku dengan mulut kita, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hati kita, bahwa Allah telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, maka kita akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.

DIBUKA DAN DITUTUP
Pintu keselamatan mulai dibuka adalah saat Yesus disalib. Pada saat seseorang mengaku dan percaya. Ketika Yesus disalibkan, ada 2 penjahat yang disalib Bersama Yesus, (Lukas 23:33-43). Ibaratnya kedua penjahat ini sudah ada di pintu neraka bahkan semua orang yakin akhir hidup kedua  penjahat yang disalib bersama Yesus pasti masuk neraka. Tetapi ketika penjahat itu percaya dan memohon keselamatan (Lukas 23:43), ia pindah dari maut kepada hidup, Yohanes 5:24. Pintu maut ditutup dan pintu kerajaan Surga dibukakan. Kalau Yesus membuka pintu keselamatan bagi kita orang yang percaya, maka tidak ada seorang pun yang bisa menutupnya. Iblis sekalipun tidak bisa menghalanginya.

BATAS KUNCI DIBERIKAN
Dua pengertian :

  • Secara Umum
    Kunci keselamatan Yesus berikan sejak Yesus disalibkan sampai awal pemerintahan Antikristus. Perhatikan Gambar

Jarak kita dengan kemurahan Allah sudah sangat dekat. Selagi ada kesempatan mari kita semakin giat bersaksi tentang Yesus.

  • Secara Pribadi
    Kunci salib diberikan kepada setiap orang sebatas usia orang tersebut. Jangan sia-siakan kesempatan yang Yesus beri dengan terus menolak keselamatan yang Yesus beri. Kematian bisa terjadi kapanpun disaat yang tidak kita duga.

Yesus Berkuasa Membuka/Menutup Wahyu 3:7b “Apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.” Iblis memakai segala cara untuk menutup pintu penginjilan  dan keselamatan. Tuhan dapat bergerak dengan cara-Nya, dan  bila Allah bekerja maka Negara-negara non Kristen atau garis keras sekalipun, tidak dapat menolak tentang lawatan Allah. Jika Yesus membuka jalan maka tidak ada yang mustahil.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

APAKAH YANG KAMU CARI? Seri – 22 “Datang dan Tinggal Bersama” (Ibadah Raya 1 – Minggu, 8 April 2018 oleh Pdt. Joseph Priyono)

Yohanes 1:39
Ia berkata kepada mereka: “Marilah dan kamu akan melihatnya.
” Merekapun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat.

Pendahuluan
Mengapa banyak orang kristen tidak mengalami pertumbuhan iman? Karena banyak orang yang yang hanya senang menjadi pengikut tetapi tidak mau menjadi murid. Mereka tua di gereja tetapi tidak pernah menjadi dewasa. Tua itu pasti, tetapi dewasa adalah pilihan. Untuk menjadi tua, kita tidak perlu melakukan apa-apa, waktu akan menghantar kita menuju penuaan. Menjadi dewasa membutuhkan upaya dan usaha membangun diri dari hari ke hari hingga menjadi dewasa didalam Tuhan.

Tuhan Yesus mengundang dua orang murid Yohanes yang mengikutiNya dari belakang bukan untuk menjadikan mereka sebagai pengikut tetapi seorang murid. Itulah sebabnya sejak hari itu mereka tinggal bersama dengan Yesus. Apakah perbedaannya menjadi seorang pengikut dan seorang murid?

  1. Pengikut Mengetahui (to know) tetapi Murid: Menjadi (to be)

Lukas 6:40
Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.

 Menjadi seorang murid Tuhan bukan sekedar mengetahui tentang Tuhan, tetapi menjadi seperti Yesus. Sayangnya banyak orang kristen puas karena mengetahui tentang Tuhan, bahkan bangga kalau makin banyak tahu firman Tuhan. Banyak orang kristen bermegah diri, karena telah lulus kelas pendalaman alkitab dari tingkat pertama hingga akhir. Itu baik, tetapi persoalannya adalah apakah pengetahuan alkitab yang banyak membuat kita semakin menyerupai Yesus? Kekristenan bukan masalah seberapa banyak kita tahu firman tetapi seberapa banyak kita menyerupai Yesus. Semakin banyak firman yang kita tahu, seharusnya membuat kita semakin “persis” dengan Yesus. Ingatlah! Seorang murid dipanggil untuk menjadi sama dengan gurunya.

  1. Pengikut Mengambil Keputusan tetapi Murid Berkomitmen

Perbedaan kedua antara pengikut dan murid adalah “Seorang pengikut mengambil keputusan, tetapi seorang murid berkomitmen. Mengambil keputusan adalah langkah awal menjadi pengikut Yesus. Seseorang harus memutuskan dulu dalam dirinya untuk meninggalkan hidup lama dan mempercayakan dirinya sepenuhnya didalam kuasa Tuhan Yesus. Tetapi keputusan tanpa komitmen adalah sia-sia dan kebohongan. Firman Tuhan berkata: orang yang bertahan sampai kesudahannya yang akan selamat. Pertobatan itu keputusan, tetapi kesetiaan adalah komitmen. Pertobatan dan percaya harus dibarengi kesetiaan hingga akhir. Jadi tidak sekedar mengambil keputusan tetapi kita harus berani mengambil komitmen. Komitmen artinya bukan sekedar menjadikan Yesus yang pertama dalam hidup kita, Yesus harus menjadi yang satu-satunya.

  1. Pengikut Menjalin Hubungan tetapi Murid Membangun Keintiman.

Seorang murid dari rabi Yahudi selalu tinggal bersama gurunya. Bukan saja tinggal, mereka juga akan selalu mengikuti kemanapun sang guru pergi. Hal ini dimaksudkan agar antara sang guru dan murid tidak sekedar terhubung tetapi membangun keintiman. Tuhan merindukan hubungan dengan anak-anaknya bukan hubungan yang ala kadarnya, basa-basi, ataupun biasa-biasa, lebih dari itu Ia merindukan keintiman seperti keintiman antara Bapa, Anak dan Roh Kudus. Tuhan ingin hubungan yang akrab dengan anak-anakNya.

Tanda-tanda seorang penjalin hubungan

a. Mengikut Yesus dari Jauh
Luk 22:54
Lalu Yesus ditangkap dan dibawa dari tempat itu. Ia digiring ke rumah Imam Besar. Dan Petrus mengikut dari jauh.

Inilah tanda seorang penjalin hubungan, ia mengikut Yesus dari jauh. Seorang penjalin hubungan akan selalu menjaga jarak dengan Yesus. Mengikut Yesus kalau menyenangkan tetapi menghindari penderitaan. Seorang penjalin hubungan rajin ke gereja, aktif ibadah tetapi tidak sungguh-sungguh melakukan firman Tuhan. Ia senang dengan acara gereja tetapi tidak mendalam. Seorang penjalin hubungan puas sebagai penonton gereja dan menikmati pelayanan dari gereja tetapi mengindari korban dan persembahan.

b. Mengikut Yesus karena Berkat, Kesenangan dan Keuntungan
Yoh 6:66
Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.

Kemanakah ribuan orang yang telah menikmati roti mujizat yang dibuat Yesus? Bukankah tiga hari terakhir mereka mengiring Yesus? Mengapa sekarang satu persatu mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia? Jawabannya karena mereka adalah seorang penjalin hubungan dan bukan seorang murid. Seorang penjalin hubungan hanya mencari berkat, kesenangan dan keuntungan tetapi tidak siap menderita bagi Dia. Orang-orang ini mengikut Yesus karena roti, tetapi tidak siap menerima roti hidup yang menyelamatkan jiwa mereka. Mereka hanya mencari kesenangan tetapi menghindari kesulitan. Mereka mengikut Tuhan hanya ingin mendapatkan manfaat dan keuntungan semata. Ikut Tuhan hanya cari mujizat tetapi menolak sang pemberi mujizat. Seorang murid lebih tertarik kepada pribadi-Nya lebih dari segala sesuatu yang diperbuat-Nya. Seorang murid tidak mencari kesembuhan tetapi penyembuh-Nya, bukan pemberian-Nya tetapi sang pemberi-Nya.

c. Lebih Memperhatikan Tampilan Lahiriah dari pada Rohaniah
Matius 23:27
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.

Seorang pengikut fokusnya hanya hal-hal lahiriah. Ia suka mendandani yang diluar tetapi lupa mengurus hati. Seorang pengikut lebih mempertimbangkan penilaian manusia dari pada penilaian Allah. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat adalah contoh nyata dari seorang pengikut. Mereka sibuk dengan ritual dan tampilan keagamaan, tetapi tidak sibuk dengan urusan hati. Mereka seperti kuburan yang nampak dari luar putih bersih tetapi dalamnya penuh kotoran dan tulang belulang.

Seorang Murid Membangun Keintiman
Berbeda dengan seorang pengikut, seorang murid menjalin hubungan dengan sang guru. Seorang Murid memilih untuk melekat dan menjadi seperti gurunya. Mengapa seorang murid harus membangun keintiman dengan sang guru?

a. Keintiman Menghasilkan Pengenalan
Yohanes 10:14
Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku

Mengetahui dan mengenal adalah dua hal yang berbeda. Mengetahui tentang Tuhan berbeda dengan mengenal Tuhan. Kita mungkin mengetahui tentang presiden Jokowi, tetapi apakah kita mengenalnya? Banyak orang Kristen hanya tahu tentang Tuhan tetapi tidak mengenalnya. Mengapa bisa demikian? Karena tidak ada keintiman. Buah dari keintiman adalah pengenalan. Jadi jika kita tidak intim dengan Tuhan maka kita tidak akan mengenalNya.

Firman Tuhan berkata: “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” Inilah keintiman! Keintimam adalah pengenalan antara dua pribadi secara timbal balik. Gembala mengenal domba-dombanya, sebaliknya domba-dombanya juga mengenal gembala. Pengenalan yang demikikan hanya tercipta melalui keintiman bukan sekedar terhubung.

Bagaimana kita bisa mengenal Tuhan dengan benar, kalau kita tidak membangun keintiman dengan pribadiNya. Coba masing-masing kita cek diri kita. Apakah kita memiliki kebiasaan membaca dan merenungkan firman Allah setiap hari? Adakah kita sediakan waktu khusus untuk bersekutu dengan Tuhan dalam doa? Inilah penyebabnya mengapa banyak orang kristen tidak mengenal Tuhan dengan benar. Ternyata mereka hanya terhubung dengan Tuhan tetapi tidak ada keintiman. Sekaranglah saatnya membangun keintiman dengan Tuhan agar memiliki pengenalan yang benar pula.

b.Keintiman Menghasilkan Iman
Ibrani 11:17 – 19
Keintiman menghasilkan pengenalan, pengenalan menghasilkan iman. Semakin intim kita akan semakin kenal, jika kita semakin kenal maka kita akan semakin percaya. Jadilah inilah hubungan antara keintiman, pengenalan dan iman. Ketiganya saling berkaitan dan mempengaruhi satu dengan lainnya. Contohnya adalah Abraham. Abraham adalah pribadi yang intim dengan Tuhan. Sejak dipanggil keluar dari Ur-kasdim, ia disetiap tempat ia senantiasa membangun mezbah bagi Tuhan. Keintimannya dengan Allah melahirkan pengenalan, kemudian dari pengenalan itu membuahkan kepercayaan penuh kepada Allah. Itulah sebabnya Abraham tidak segan-segan mengorbankan Ishak kepada Allah sebab Ia mengenal-Nya dan mempercayai-Nya bahwa Allah berkuasa membangkitkan Ishak sekalipun dari kematian.

Berapa lama kita sudah menjadi orang Kristen? Apakah iman kita bertumbuh? Apakah rasa kuatir kita makin berkurang? Apakah kita memiliki damai sejahtera dalam menjalani kehidupan dari hari kehari? Jika jawaban atas semua pertanyaan itu adalah ya, itu berarti kita makin mengenal-Nya dan mempercayai. Tetapi jika jawabannya “tidak” jangan-jangan kita hanya seorang penjalin hubungan, kita tidak memiliki keintiman dengan Tuhan. Ingatlah, tingkat kepercayaan kita tergantung keintiman kita dengan DIA.

c. Keintiman Menginginkan Tuhan Lebih dari Segalanya
Mazmur 73:25,26
Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.

Hasil akhir dari keintiman dengan Tuhan adalah menginginkan pribadi-Nya lebih dari segala-galanya. Daud menyadari akan hal ini. Keintimannya dengan Tuhan telah membawanya mengenal dan mempercayai-Nya lebih dari segala harta yang dimiliki dan kedudukannya sebagai raja. Baginya, Tuhan adalah harta terbesar yang ia miliki. Tuhan memberkati, KJP!!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Apakah Kita Sudah Sampai Disana? – oleh Ps. Jeff Minandar (Ibadah Raya 2 – Minggu, 8 April 2018)

Kita sudah merayakan Paskah, yang sebenarnya menjadi dasar dari keyakinan Kristen kita. Anda pasti masih ingat dengan ayat di Roma 10:9, bukan? Bahkan Paulus juga dalam pembelaannya dihadapan Agripa menyebutkan bahwa kematian dan kebangkitan Yesus adalah sesuatu yang menjadi inti berita dari Paulus sebagai rasul Kristus, dan bahkan nabi-nabi sebelum dia. Kisah Para Rasul 26:22-23. Tetapi apakah Paskah adalah puncak dari kekristenan kita? Apakah kita sudah sampai disana? Keberhasilan seorang Kristen adalah saat ia percaya akan kematian dan kebangkitan Yesus?

Mengenai hitungan waktu kita mengenal hari, bulan dan tahun. Dalam perjalanan kekristenan kita kalau ibarat seorang pelari, kita ini sudah di ujung sebelum Hari Kedatangan Tuhan kali yang kedua. Tentu saja kita tidak mau kalah sebelum finis. Seorang pelari malahan mempercepat geraknya saat akan finis!

Menariknya di Alkitab kita diibaratkan pelari. 1Korintus 9:24. Dalam ayat ini Paulus menjelaskan mengenai suatu gelanggang pertandingan, dan dikatakan semua berlari. Kita semua ada dalam pertandingan.

Karena kita ada dalam satu gelanggang yang sama, kita ada dalam kondisi yang sama. Track-nya sama, jarak tempuhnya sama, dan tujuannya sama. Hanya saja sering kali kita saling membandingkan. Ah dia kan dari keluarga pelari, ah dia kan pakai sepatu terbaru, ah dia kan gen pemenang. Baca ini: Roma 8:37.

“Yang terpenting dari sebuah kesuksesan besar adalah kesuksesan kecil yang berulang.”

Maksudnya apa, kita tidak bisa berharap langsung menerima kemenangan besar. Namun kita harus bisa memenangkan serentetan kemenangan-kemenangan kecil. Yosua 12:7-24. Jadi dibandingkan engkau melihat apa yang belum engkau dapat (yang biasanya bikin engkau frustrasi), kenapa engkau tidak melihat apa yang sudah Tuhan letakkan dibawah kakimu (maksudnya apa yang sudah engkau menangkan). ARE YOU THERE YET? Not yet, but I will be there.

Ada cerita inspirasi yang mungkin bisa jadi kesaksian. Yang pertama kisah nyata, yang kedua kisah dari Alkitab. Dua-duanya namanya sama. Yes, you’re right ini bukan tentang Jeff. Tapi tentang orang yang paling dekat dengan saya. Namanya: “Joseph”. Joseph Sudana Minandar. Beliau memiliki latar belakang yang sederhana, kalau tidak salah hanya lulusan SMA. Tinggal di daerah sederhana, tetapi sekarang menjadi seseorang yang kalau tidak kenal dekat dengan beliau pasti biasa aja, tapi bagi saya Luar biasa. Ada 2 titik dalam hidup yang bagi saya menentukan dimana beliau sekarang. Pertama ketika berusia 32 tahun, menjadi pimpinan SAB, dan kedua, di tahun 2004 ketika memutuskan meninggalkan Tegal atau meneruskannya.

Joseph yang kedua adalah Joseph Bar Jacob. Yusuf bin Yakub. Dalam Kejadian 39:2. Kita belajar mengenai bagaimana standar kesuksesan itu didefinisikan ulang. Ini yang saya rindu saat kita datang bukan sekedar beribadah, tapi mengalami revolusi mental. Perubahan pikiran, metanoia. Sehingga engkau bisa introspeksi, dan menata hidupmu ke depan dengan lebih baik lagi. Are we there yet? Not yet, but with God, I will be there.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MENANG ATAS GONCANGAN – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Paskah – Minggu, 1 April 2018)

Matius 26:32

PENDAHULUAN
Pada perayaan kematian Yesus, dalam Matius 26:31 dengan terus terang Yesus menjelaskan bahwa setiap orang percaya akan mengalami goncangan. Tetapi, Matius 26:32 Yesus teguhkan murid-murid agar mereka tidak takut, gelisah atau gentar menghadapi goncangan karena Yesus akan bangkit dan Yesus akan mendahului mereka ke Galelia. Apakah yang dimaksud dengan Yesus mendahului murid-murid ke Galelia? Sebelum kita bahas hal ini, kita perhatikan dahulu bagaimana keadaan murid-murid ketika mengalami goncangan sebelum Yesus bangkit atau disalibkan.

MURID-MURID DALAM GONCANGAN
Markus 14:43-52, saat Yesus bicara dengan murid-murid-Nya, Yudas datang dengan serombongan orang bersenjata untuk menangkap Yesus. Yudas mencium Yesus, sebagai isyarat untuk menangkap Yesus. Terjadilah keributan, sehingga seorang murid Yesus memotong telinga hamba Imam Besar. Dalam Markus 14: 43-52, setelah Yesus berdoa, ia bercakap-cakap dengan murid-murid-Nya. Ada sekumpulan orang datang dan menahan Yesus. Lalu murid Yesus bernama Yudas memberi tanda dengan mencium Yesus. Pada proses penangkapan Yesus, semua murid meninggalkan Dia dan melarikan diri.

TIDAK KEBAL GONCANGAN
Ketika goncangan datang semua murid itu meninggalkan Yesus dan melarikan diri. Tidak ada orang yang kebal goncangan, semuanya tergoncang dan meninggalkan Yesus. Apa yang murid-murid akan alami, kalau saat itu merupakan saat yang menentukan antara selamat atau binasa maka semua murid pasti binasa. Artinya bila bertahan dalam goncangan, maka akan selamat namun bila tinggalkan Yesus maka akan binasa! Semua binasa, karena semua meninggalkan Yesus.

AKIBAT GONCANGAN

  • Yudas Iskariot
    Dari dua belas murid Yesus, orang pertama yang digoncang adalah Yudas. Karena Yudas Iskariot, murid Yesus yang suka bersosialisasi. Tapi, Yudas tidak sanggup menghadapi goncangan, Matius 26:14-16. Puncaknya, Yudas tega mengkhianati Yesus di taman Getsemani. Sampai sekarang kebutuhan uang, masih menjadi alat yang efektif bagi iblis untuk menggoncang anak Tuhan di akhir zaman.
  • Petrus
    Ketika Petrus menghadapi goncangan, Petrus tidak sanggup mengalahkan perasaan takut dalam dirinya, sehingga Petrus memilih menyangkal Yesus dari pada mengaku Yesus. Tingkat penyangkalan Petrus semakin berat dan serius. Perhatikan, Matius 26:70 Petrus menyangkal dengan cara pura-pura tidak mengerti. Kata Petrus: “Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud.” Matius 26:72, Petrus menyangkal Yesus dengan bersumpah, dan berkata: “Aku tidak kenal orang itu…” Matius 26:74 Petrus mengutuk dan bersumpah:“Aku tidak kenal orang itu”

Mengapa Petrus menyangkal Yesus? Petrus adalah model murid Yesus yang sombong rohani. Ia merasa dirinya paling rohani, paling hebat dibanding murid-murid lainnya. Yesus bernubuat goncangan yang akan dialami Petrus. Matius 26:33, Petrus menjawab-Nya: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku   sekali-kali tidak.”  Seharusnya Petrus berdoa: “Yesus tolong, aku tak berdaya, kuatkan aku…!!!”

  • Orang Muda
    Markus 14:51,52  “Ada seorang muda, yang pada waktu itu hanya memakai sehelai kain lenan untuk menutup badannya, mengikuti Dia. Mereka hendak menangkapnya, tetapi ia melepaskan kainnya dan lari dengan telanjang.” Melihat murid-murid lari meninggalkan Yesus, anak muda ini kecewa, sebab itu anak muda ini berusaha mengikut Yesus dan tak mau mengkhianati Yesus. Tapi ketika orang-orang berusaha menangkap dia, ia melarikan diri dengan bertelanjang (melepaskan kain lenannya).

Jubah lenan adalah pakaian yang diperoleh lewat proses upacara. Pada khotbah beberapa minggu lalu, sudah dijelaskan bahwa seorang imam harus punya 2 jubah:

  • Jubah lenan berwarna putih
  • Jubah indah berwarna-warni

1 Petrus 2:9, orang percaya juga adalah Imam-imam yang berkerajaan. Jangan sampai karena ketakutan kita lari meninggalkan Yesus dan meninggalkan jubah lenan (keselamatan).

Dalam Alkitab ada beberapa referensi mengenai makna bertelanjang, yaitu:

  • Kejadian 2:25, makna bertelanjang adalah kehilangan Kemuliaan.
  • Yesaya 20:4, makna bertelanjang merupakan penghinaan
  • Kisah Rasul 19:16, makna bertelanjang adalah kalah

Jadi konotasinya tidak baik. Tetapi mengapa anak muda itu lari? Karena anak muda ini tidak bertahan, karena dia ingin mengikut Yesus dengan cara mengandalkan kekuatannya, ia berpikir ia tetap bisa ikut Yesus dan mencoba bertahan meskipun murid-murid lain sudah lari. Setiap kita tidak mungkin sanggup ikut Yesus dengan mengandalkan: kekuatan, jabatan, kedudukan, kekayaan dan uang.

  • Keluarga Kleopas – Lukas 24:13-33
    Kleopas dan istri ialah murid Yesus, mereka mengasihi dan rindu mengikut Yesus, sehingga mereka putuskan untuk pindah dari Emaus ke Yerusalem. Tetapi, ketika Yesus disalib, mereka mengalami goncangan, sehingga mereka memutuskan meninggalkan Yesus pergi dari kota Yerusalem kembali ke Emaus. Kleopas meninggalkan Yesus ketika mengalami goncangan karena tidak berpegang pada firman Allah (Lukas 24:25) sehingga mereka tergoncang dan gagal.

Sebagai pengikut Yesus yang sejati, untuk menjadi kuat dan bertahan, dan  menjadi orang yang terpilih dan menjadi pengikut Yesus sejati kita perlu memperhatikan Matius 26:32 dan Yohanes 21:1-14. Dituliskan setelah iman dan komitmen para murid terpuruk karena goncangan yang mereka alami, membawa mereka kembali pada kehidupan lama. Petrus menjadi pelopor pertama. Tetapi Yohanes 21:4-6, pada saat murid-murid gagal karena tidak mendapat seekor ikan pun, ternyata Yesus sudah mendahului murid-murid-Nya ke Galilea dan menunggu mereka di pantai danau Tiberias. Di sana Tuhan Yesus memberkati murid-murid secara jasmani (Jala yang kosong dipenuhi berkat) Tetapi  Yesus memberkati murid-murid dengan berkat rohani.

Yohanes 21:15-19, Yesus memulihkan Petrus yang putus asa; tidak ada harapan, akibat goncangan yang telah membuat Petrus terpuruk. Tetapi, apakah hanya Petrus saja yang Yesus nasehati; kuatkan dan pulihkan?

KEBANGKITAN YESUS
Dalam Markus 14:32 Yesus berkata: “Akan tetapi sesudah Aku bangkit…” Ayat ini menjelaskan bahwa kebangkitan Yesus mendatangkan kemenangan bagi murid-murid-Nya atas segala bentuk goncangan yang murid-murid alami.

Apakah kebangkitan yang Yesus maksudkan? Dalam Roma 8:11 menuliskan bahwa Yesus bangkit oleh :

  • Kuasa Bapa yang sanggup membangkitkan Yesus
  • Yesus adalah Allah yang sanggup bangkit dari kematian
  • Sesuai Roma 8:11, Yesus bangkit oleh Kuasa Roh Kudus yang bekerja di dalam-Nya.

Apabila Roh Kebangkitan, yaitu Roh Kudus ada dalam diri kita, maka kita jadi “Pengikut Yesus Yang Sejati”, yang tak tergoncangkan. Contoh: Kisah 5:41 “Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus.” Mereka berani karena mereka sudah mengalami kebangkitan rohani. Jadilah pengikut Yesus yang sejati dan tetap berdaya tahan. Tuhan memberkati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment