KARUNIA ALLAH – oleh Pdt. Nicky Wowor (Ibadah Raya 2 – Minggu, 9 Desember 2018)

Titus 2:11-13

Karunia atau anugrah adalah pemberian yang diterima karena seseorang  yang tidak mampu untuk mendapatkannya. Allah memberikan yang terbaik bagi orang percaya, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Pemberian Allah begitu sempurna sebab pemberian Allah itu kudus, suci dan mulia. Sedangkan manusia hina dan berdosa, tetapi didalam ketidaklayakan manusia, Allah mencurahkan kasihNya secara cuma-cuma dan inilah Anugrah atau karunia Allah atas manusia.

Titus 2:11, kita harus menyadari anugrah Allah yang sudah menyelamatkan manusia. Dalam Yohanes 3:27, mengajarkan bahwa sebagai orang percaya kita harus menyadari bahwa Allah yang menganugrahkan karena tidak ada yang dapat kita miliki tanpa pemberian/anugrah Allah kepada kita. Jangan sampai lupa dengan anugrah Tuhan, karena jika Tuhan ambil anugrahNya maka kita binasa. Yakobus 1:17, Allah kita adalah pemberian yang terbaik, pemberian terbaik yang datang dari atas, yaitu dari Surga.

Titus 2:12, kita juga harus menyadari posisi kita sebagai orang percaya. Bahwa sebagai umat Allah, kita harus dekat kepada Tuhan, setia dan menyembah Tuhan dengan segenap hati karena kasih karunia Allah atas kita.

Titus 2:13, nasihat yang ketiga adalah waktu kedatangan Tuhan. Dimana segala susah dan sedih tidak ada lagi dan ini diterima oleh orang yang takut akan Dia dan hidup dalam kasih karunia-Nya.

KESIMPULAN
Allah memberikan kita karuniaNya untuk kita hidup didalam dunia ini bahkan untuk hidup yang akan datang maka tanggung jawab kita adalah mengisi hidup ini dengan meningkatkan standar hidup, bertumbuh dan berbuah dalam Yesus. Sehingga nama Allah dipermuliakan lewat kehidupan kita.

Tuhan Yesus memberkati.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

PEMBERIAN ALLAH YANG TERBAIK – oleh Pdt. Nicky Wowor, GPdI Mahanaim Taman Holis – Bandung (Ibadah Raya 1 – Minggu, 9 Desember 2018)

Yakobus 1:17

Bulan Desember merupakan bulan yang cukup sibuk bagi umat Kristiani. Sebab di bulan ini, gereja-gereja mempersiapkan perayaan natal yang terbaik. Berbicara soal natal, sebagian orang berpikir bahwa sifat natal hanya secara lahiriah, yaitu tentang hadiah, makanan, pakaian baru, pohon natal dan sebagainya. Namun esensi natal yang sesungguhnya, lebih dari sekedar persiapan secara lahiriah, sebab merupakan pernyataan Allah, bahwa Allah adalah Allah yang senang memberi. Natal merupakan pernyataan kasih Allah yang senang memberi kepada manusia. Dan satu-satunya pemberian Allah yang istimewa serta tak tertandingi nilainya, melebihi pemberian manusia dan merupakan kunci kebahagiaan karena pemberiaan Allah tersebut mencapai keselamatan kekal.

APAKAH PEMBERIAN ALLAH TERSEBUT?
Berdasarkan Roma 8:32, pemberian Allah yang istimewa:
1. Allah memberikan Anak-Nya yang tunggal, sebab manusia sudah berdosa (Roma 3:23).
Tuhan Yesus diberikan sebagai penebus bagi kita (Roma 4:25).

2. Allah mencukupi segala yang kita butuhkan
Jadi ketika Tuhan menyelamatkan kita, Tuhan juga mencukupkan segala sesuatu yang kita perlukan. Contohnya adalah pengalaman pribadi yang saya alami. Dahulu saya merindukan untuk merintis atau membuka pelayanan baru. Dimulai dari anak-anak sekolah minggu dan salah satu anak sekolah minggu saya delapan bersaudara. Jadi mereka secara bergantian dibawa ke gereja oleh orang tua mereka. Merekalah yang mula-mula saya bina. Berjalannya waktu, anak sekolah minggu semakin bertambah menjadi 200 anak. Pada saat itu saya membentuk les gratis bagi anak-anak sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah pertama (SMP). Dan sampai sekarang kami tidak kekurangan apapun sebab Tuhan mampu memakai orang lain untuk mencukupi segala sesuatu yang kami butuhkan. Tuhan sanggup mengubah dari tidak ada menjadi ada. Ketika Yesus diberikan, maka berkat-berkat selanjutnya Tuhan pasti disediakan (Filipi 4:19). Jika Yesus saja diberikan kepada manusia, hal-hal jasmani bukanlah sesuatu yang sulit bagi Allah, pasti Allah diberikan.

TANGGUNG JAWAB ORANG PERCAYA
Sebagai orang percaya, hari ini apakah yang dapat kita berikan untuk membalas setiap berkat yang IA berikan? Apakah itu yang terbaik? Pemberian terbaik bukan hanya soal nilai atau jumlah melainkan kualitasnya, apakah bermutu atau tidak. Bagaimana memberikan yang terbaik?
1. Memberikan Dengan Ketulusan
Contohnya adalah Habel tercatat dalam Ibrani 11:4. Dituliskan bahwa Habel termasuk dalam pahlawan iman karena apa yang ia berikan merupakan persembahan terbaik, persembahan yang lahir dari ketulusan hati. Persembahan yang terbaik keluar dari ketulusan hati.

2. Hidup Yang Mempermuliakan Allah
Dalam Roma 12:1,2 – persembahan yang terbaik dalam hidup adalah hidup untuk memuliakan Allah, dengan tubuh, jiwa dan roh.

KESIMPULAN
Tuhan adalah Allah yang senang memberi dan pemberianNya bukanlah pemberian asal-asalan atau tidak layak. Melainkan pemberian yang terbaik yaitu diriNya sendiri yang mati tersalib ganti manusia, sehingga kita yang sesungguhnya binasa namun beroleh hidup kekal karena Kristus. Dan ketika kita ada didalam Kristus, IA mencurahkan berkat-berkatNya secara berlimpah. Maka, sekarang tanggung jawab kita adalah melayani Dia dengan ketulusan hati dan memiliki hidup sesuai kehendakNya sehingga nama Allah dipermuliakan dalam kita, sebab itulah pemberian terbaik. Tuhan Yesus memberkati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PEMBUNUH RAKSASA MEMBELA KEHORMATAN TUHAN DAN BUKAN MENCARI KEHORMATAN DIRI SENDIRI (Seri PEMBUNUH RAKSASA) – oleh Pdt. Joseph Priyono (Ibadah Raya 3- Minggu, 9 Desember 2018)

Kehidupan yang kita jalani tidak pernah sepi dari raksasa-rakasasa kehidupan. Kita akan menemukan raksasa-raksasa disepanjang jalan yang kita lalui. Di sisi kiri atau kanan, di depan atau di belakang raksasa-raksasa bermunculan untuk menghambat laju perjalanan kita bahkan menghentikan dan menghancurkan langkah kita. Raksasa memang akan selalu ada, tetapi berita baiknya adalah bahwa kita dapat mengalahkan raksasa-raksasa tersebut. Dari kisah perkelahian antara Daud dan Goliat, membuktikan bahwa raksasa bisa dikalahkan. Daud seorang gembala, anak yang masih muda, bersama Tuhannya ia maju membunuh Goliat sang raksasa.

Beberapa waktu yang lalu kita sudah pelajari rahasia kemenangan Daud melawan Goliat.

  1. Pembunuh raksasa memilih mendengar suara Tuhan, bukan suara lawan.
  2. Pembunuh raksasa memilih memandang Tuhan bukan lawan.
  3. Pembunuh raksasa memilih siapa yang menyertai bukan siapa yang dihadapi.
  4. Pembunuh raksasa memilih memperkatakan kemenangan bukan kekalahan.

Saat ini kita akan memperlajari kunci kemenangan Daud yang kelima.

5. Pembunuh raksasa memilih membela kehormatan Tuhan dari pada mencari kehormatan diri sendiri.

 Inilah rahasia kemenangan Daud. Ia dapat mengalahkan Goliat karena peperangannya ditujukan untuk membela kehormatan Tuhan bukan kehormatan diri sendiri.

Mari kita perhartikan perkataan Daud.

1Sam 17:26  Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: “Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?”

1Sam 17:45  Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.

1Sam 17:46  Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah,

1Sa 17:47  dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.”

Dari perkataan Daud ini, kita dapat menyimpulkan bahwa keberanian Daud maju berperang melawan Goliat karena ia ingin membela kehormatan Tuhan. Daud tidak rela, Goliat menghina dan mencemooh Allah Israel. Bagi Daud menjunjung tinggi harga diri Tuhan, lebih penting dari pada mencari penghargaan diri sendiri.

Kuasa Rasa Hormat
Dalam kehidupan yang kita jalani “Rasa Hormat” adalah kunci pembuka kehidupan. Kehidupan akan berjalan dengan baik kalau setiap orang memiliki rasa hormat.

Abraham Maslow adalah seorang psikolog asal Amerika Serikat, seorang pelopor psikologi humanistik mengajarkan teori hirarki kebutuhan manusia yang lebih dikenal dengan “Piramida Maslow.” Menurutnya bahwa salah satu kebutuhan manusia adalah rasa hormat atau dihormati. Bagi orang yang kebutuhan fisiknya belum terpenuhi, orang mengabaikan rasa hormat. Baginya yang penting bisa makan, tidak peduli dihormati atau tidak. Tetapi jika kebutuhan fisik sudah terpenuhi, lalu kebutuhan rasa aman juga sudah terpenuhi dan kebutuhan sosialnya terpenuhi, barulah seseorang memerlukan pemenuhan rasa hormat.

Namun, jauh sebelum Maslow mengemukankan teorinya, Tuhan sudah mengetahuinya lebih dahulu bahwa manusia memerlukan rasa hormat. Oleh sebab itu kepada manusia Allah memerintakan agar saling menghormati.

Perintah menghormati:

  • Menghormati Tuhan (Ulangan 32:3  Yosua 7:19;  1Timotius 1:17 )
  • Menghormati orang tua (Kel. 20:12; 5:16; Mat 15:4; Mar 7:10; Eph 6:2)
  • Menghormati Pemerintah ( 13:1 1Pet. 2:17)
  • Menghormati setiap orang (1Pet. 2:17; 12:10)

Pengaruh rasa hormat
Rasa hormat dapat mempengaruhi beberapa variabel psikologis dalam diri seseorang, seperti:
a. Komitmen
Komitmen dalam keanggotaan maupun hubungan ditentukan dari rasa hormat. Seberapa besar rasa hormat yang kita miliki, maka sebesar itu juga komitmen yang kita tunjukan.

Contoh: Keanggotaan gereja/organisai: Kita akan bertahan menjadi anggota organisasi selama kita masih menghormati organisasi tersebut. Hubungan suami istri: Komitmen terhadap pasangan ditentukan rasa hormat kepada pasangan. Hubungan dengan Tuhan: rasa hormat kepada Tuhan, menentukan komitmen kita kepada firmanNya. Kehilangan rasa hormat kepada pribadiNya membuat kita abai terhadap firmanNya.

b. Konflik
Rasa hormat sangat dibutuhkan dalam mencegah maupun mengatasi konflik. Pada budaya masyarakat timur, saat individu kurang menunjukkan rasa hormat kepada orang-tuanya, intensitas konflik atau adu argumentasi, antara anak dan orang-tua, cenderung lebih sering dibandingkan jika anak menunjukkan rasa hormatnya kepada orang-tua.

c. Perilaku
Rasa hormat menentukan perilaku. Perlakukan kita kepada seseorang atau barang tergantung rasa hormat yang kita berikan. Semakin dihormati semakin diperlakukan baik.

d. Kuasa
Kuasa sejati tidak dilahirkan dari jabatan atau kedudukan tetapi kepada rasa hormat. Seseorang dapat memiliki kedudukan atau jabatan tapi tidak memiliki kuasa jika kehilangan rasa hormat. Dalam ilmu kepemimpinan yang diajarkan oleh John Maxwell, ada lima tingkat kepemimpinan yaitu:

1.Posisi atau Jabatan
Pada level ini adalah, “orang lain mengikuti karena keharusan.” Pengaruh dimiliki karena berdasarkan jabatan, artinya ada keharusan.

2. Hubungan atau Perkenanan
Kepemimpinan berdasarkan pada hubungan dengan orang lain. Orang lain mengikuti Anda karena mereka menginginkan, Anda menyukai dan memperlakukan orang lain seakan-akan bernilai dan mengembangkan pengaruh dengan modal hubungan baik tersebut.

3. Produktifitas atau Hasil
Pada tingkat ini, pemimpin memperoleh pengaruh dan kepercayaan karena produktifitas Anda sebagai seorang pemimpin. Berapa dan apa kontribusi Anda pada tim Anda.

4. Reproduksi  – Mengembangkan Orang Lain
Para pemimpin menjadi besar dan berpengaruh bukan karena kekuasaan mereka, tetapi karena kemampuan untuk memberdayakan orang lain.

5. Rasa Hormat atau Respect
Ini adalah tingkatan tertinggi dalam kepemimpinan sekaligus sebagai puncak kepemimpinan. Pemimpin dalam tingkat ini, akan tetap memimpin sekalipun tidak menduduki jabatan.  Kepemimpinan ini terjadi karena rasa hormat.

Jika dalam hubungan sosial rasa hormat begitu penting, apalagi dalam hubungan kita dengan Allah. Rasa hormat memiliki peranan yang sangat penting.

Wahyu 4:10-11
maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata:
“Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.”

 Apakah yang dimaksud rasa hormat?
Rasa hormat artinya memberi/menaruh nilai kepada sesuatu atau seseorang. Seberapa besar kita menaruh nilai, maka sebesar itulah kita memberikan penghormatan. Sikap hormat tidak ditentukan oleh apa dan siapa yang kita hormati, karena sikap hormat tidak sama dengan rasa takut atau segan. Sikap hormat tidak dipaksakan oleh kekuatan eksternal, tetapi diberikan oleh kita. Contoh: Ada istri yang memberikan sikap hormat kepada suami karena rasa takut, takut disebut kurang baik atau takut karena suaminya galak. Ini bukan rasa hormat yang sesungguhnya. Rasa diberikan dari hati yang tulus tanpa ketakutan dan paksaan.

Menghormati Tuhan
Menghormati Tuhan artinya kita memberikan nilai yang tinggi, yang utama, yang mulia kepada Tuhan. Apakah kenyataannya saat ini? Apakah gerejaNya sedang memberikan nilai yang tinggi? Apakah kita sedang memberikan rasa hormat kepada Tuhan. Menurut saya gereja sudah mulai kehilangan rasa hormat kepada Tuhan, itulah sebabnya gereja mengalami kemunduran dan kemandulan. Gereja kehilangan ketajaman, gereja menjadi tumpul tanpa kuasa. Mengapa semuanya ini terjadi? Karena gereja kehilangan rasa hormat. Ketiadaan rasa hormat akar hilangnya kuasa.

Mari kita melihat akibat ketiadaan rasa hormat kepada Tuhan.
1. Hilanganya kemuliaan Tuhan.
1Sam. 4:21  Ia menamai anak itu Ikabod, katanya: “Telah lenyap kemuliaan dari Israel” –karena tabut Allah sudah dirampas dan karena mertuanya dan suaminya.”

Pada waktu itu bangsa Israel sedang berperang melawan bangsa Filistin. Ketika bangsa Israel maju berperang dengan Filistin, mereka kalah telak, empat ribu orang tewas di medan pertempuran. Mereka berfikir kekalahannnya disebabkan karena tabut Tuhan tidak ada ditengah-tengah mereka. Akhirnya mereka memerintahkan orang-orang mengambil tabut Tuhan dari Silo. Ketika tabut Tuhan ada ditengah-tengah pertempuran ternyata mereka juga kalah, bahkan tabut Tuhan dirampas bangsa Filistin.

Tabut perjanjian adalah lambang kehadiran Tuhan. KehadiranNya seharusnya memberikan kemenangan kepada bangsa Israel, tetapi ternyata kehadiran tabut Tuhan tidak memiliki pengaruh apa-apa kepada bangsa Israel. Mengapa hal ini terjadi?

  • Para imam tidak menghormati Tuhan
    1Sa 2:12  Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan TUHAN,
  • Lebih menghormati manusia daripada Tuhan.
    1Sam. 2:29  Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel?

2. Menerima kutuk
Mal. 2:2 – Jika kamu tidak mendengarkan, dan jika kamu tidak memberi perhatian untuk menghormati nama-Ku, firman TUHAN semesta alam, maka Aku akan mengirimkan kutuk ke antaramu dan akan membuat berkat-berkatmu menjadi kutuk, dan Aku telah membuatnya menjadi kutuk, sebab kamu ini tidak memperhatikan.

3. Melenyapkan Mujizat, Markus 13:53-58
Ayat 57-58  berkata: “Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.” Mengapa tidak percaya? Karena tidak hormat? Mengapa tidak hormat? Karena mereka mengenal Yesus sejak dari kecil di Nazaret. Akibatnya di kampungnya sendiri tidak banyak mujizat yang dibuat oleh Yesus.

Bentuk-bentuk sikap tidak menghormati Tuhan.

  1. Tidak mempercayai perkataanNya.
  2. Tidak melakukan perintahNya.

1Samuel 2:30
Sebab itu–demikianlah firman TUHAN, Allah Israel–sesungguhnya Aku telah berjanji: Keluargamu dan kaummu akan hidup di hadapan-Ku selamanya, tetapi sekarang–demikianlah firman TUHAN–:Jauhlah hal itu dari pada-Ku! Sebab siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati, tetapi siapa yang menghina Aku, akan dipandang rendah.

 Ini adalah hukum Allah “siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati”. Daud menghormati Tuhan, akibatnya Tuhan menghormatinya dengan memberikan kemenangan atas Goliat. Hormatilah Tuhan maka Tuhan akan memberikan kehormatanNya kepada kita. Tuhan memberkati. KJP!

Posted in Uncategorized | 1 Comment

JANGAN HANYUT DIBAWA ARUS – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya 1,2 – Minggu, 2 Desember 2018)

IBRANI 2:1-4

Dalam kehidupan ini, sebagai orang percaya ada banyak hal yang harus diperhatikan dan diselaraskan dengan firman Tuhan. Jika kita meneliti Ibrani 2:1-4, kelima hal tersebut adalah:

1. Ibrani 2:1 – Kita harus lebih teliti memperhatikan apa yang kita dengar
Nasihat pertama yang perlu diperhatikan bahwa gereja masa kini akan diperhadapkan dengan arus yang begitu kuat, arus yang mampu menghanyutkan dan menyeret setiap orang percaya kepada kebinasaan. Kuatnya arus membuat kapal tersebut hanyut dan keluar dari jalur pelayaran, kandas dan kemudian terdampar.  Kapal tersebut merupakan gambaran tentang kehidupan setiap pribadi, bahwa dalam hidup kekristenan kita tantangan kekristenan tidak semakin berkurang melainkan terus meningkat. Dan jika seseorang sampai terbawa arus tersebut hingga kapal kehidupannya kandas, maka ia akan bertanggung jawab kepada Tuhan. Apakah penyebab seseorang dapat kandas dalam pengiringannya kepada Tuhan? Menurut Ibrani 2:1 karena kurang teliti dan memperhatikan serta mendengar firman Allah.

Ketelitian dalam mendengar firman Tuhan adalah hal yang penting karena hidup kita seumpama kapal dan kitalah sedirilah nahkodanya. Jika dalam menjalani kehidupan rohani tidak dengan teliti mendengarkan dan merenungkan firman Tuhan, maka kita akan mudah terseret dengan arus yang membawa pada kebinasaan. Oleh sebab itu, betapa pentingnya kita merajinkan diri beribadah kepada Tuhan dengan penuh kesungguhan dan kerinduan sebab dalam ibadah kita mendengar dan merenungkan firman Tuhan. Dan jika firman Tuhan didengar dengan sungguh-sungguh dan dimengerti maka akan mudah untuk mempraktekannya. Mengapa harus bersungguh-sungguh? Perhatikan poin ke dua.

2. Ibrani 2:2 – Sebab Tuhan akan memberikan pembalasan setimpal dengan perbuatan kita.
Tiap pelanggaran dan ketidaktaatan ada konsekuensinya yaitu balasan yang setimpal dari Tuhan. Dalam Keluaran 19:1-25, menceritakan bahwa Tuhan ingin berbicara kepada umat-Nya, seperti seorang pendeta dengan jemaatnya. Tetapi saat itu, Isarel takut menghadap Allah, mereka meminta agar Musa saja yang berbicara kepada Allah dan menyampaikan kepada mereka. Dan melalui hamba-hamba Tuhan, firman Tuhan disampaikan. Namun berjalannya waktu, setelah kematian Yesus di kayu salib, firman Allah bukan hanya dapat disampaikan oleh utusan Allah atau hamba Tuhan/nabi. Tetapi jemaat juga dapat meyampaikan firman Allah. Dalam Kisah Para Rasul 7:51-53, Tuhan memakai Stevanus, yaitu Diaken, untuk memberitakan firman Tuhan kepada orang Yahudi di zamannya.

Tetapi orang Yahudi menolak pemberitaan Stevanus, kemudian membunuhnya. Akibatnya, tahun 70 M – Jendral Titus serta tentaranya membinasakan orang Yahudi dengan cara mengepung kota Yerusalem. Namun karena cukup lamanya tidak ada perintah, maka Jendral Titus menyerang Yerusalem. Dan orang Yahudi yang selamat adalah mereka yang menerima firman Tuhan yang disampaikan oleh Stevanus, mereka sudah menyingkir. Dan mulai sejak itu, orang Yahudi tidak memiliki negara dan oleh Dewan PBB 1998, tidak memiliki tanah kediaman sekian lama.  Semua itu terjadi akibat dari menolak firman Allah.

Jika sekarang kita beribadah namun tidak dengan sungguh-sungguh mendengar firman Allah, melainkan tertidur, main handphone dan lain sebagainya maka kita sama dengan menolak firman Allah. Dan orang Kristen yang demikian akan mudah terseret arus. Solusinya adalah kita harus perbaiki cara beribadah kita, supaya kita benar-benar menjadi orang yang menghargai firman Allah dan menjadi jemaat yang kokoh serta berdaya tahan.

3. Ibrani 2:3 – Akibat menolak firman Allah
Rasul Paulus mengingatkan, “Bagaimana mungkin kita bisa luput dari kebinasaan kalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang besar?” Perhatikan, Firman Tuhan diberitakan kepada kita untuk mengingatkan kita agar kita tidak DIBINASAKAN tapi DISELAMATKAN. Dan kita yang hidup di zaman Perjanjian Baru (Kasih Karunia) adalah orang-orang yang istimewa atau orang-orang yang besar.  Sebab Tuhan menjadikan kita umat yang Istimewa. Perhatikan dalam Lukas 7:31, tentang Yohanes pembabtis.

Jika diperhatikan dalam perjalanan waktu, manusia yang hidup di zaman Perjanjian Lama tidak ada sosok seperti Yohanes Pembaptis yang hidup di zaman perjanjian lama dan perjanjian baru. Ia memberitakan tentang Yesus yang datang untuk menghapus dosa. Yohanes pembabtis telah mati sebelum Yesus dipermuliakan di atas kayu salib. Bagi orang  percaya yang hidup setelah Yesus disalib, mereka akan mendapat kemuliaan yang lebih besar dari Yohanes, sebab dosa-dosa mereka telah ditebus setelah kematian Yesus di kayu salib. Karena zaman Taurat orang dibenarkan jika melakukan hukum Taurat, sedang zaman kasih karunia orang dibenarkan karena Kristus dan tidak ada yang sia-sia bila dikerjakan untuk Yesus.

Untuk lebih jelas, kita dapat memperhatikan table berikut :

Begitu beratnya syariat Taurat, sehingga tidak ada yang dapat melakukannya. Karena aturan taurat, jika seseorang melakukan satu kesalahan maka semua aturan yang benar terhitung salah. Contoh seperti soal ujian sekolah. Satu salah maka 9 dianggap benar. Taurat tidak demikian, satu salah maka sembilan yang lain juga terhitung salah. Sedang zaman kasih karunia, hal paling kecil yang dilakukan seseorang berdasarkan iman kepada Yesus diperhitungkan benar. Itu sebabnya Yesus katakan apa yang kecil di kerajaan Allah lebih besar kemuliaannya dari Yohanes Pembabtis. Sebab itu jangan main-main dengan firman Allah, sebaliknya semakin sungguh-sungguh mendengar firman Tuhan. Bobot firman ibadah raya tidak lebih hebat dari ibadah kemah atau ibadah  wadah. Sebab itu, hargai firman Tuhan.

PENUTUP
Semakin derasnya arus, semakin juga kita kokoh didalam Yesus. Inilah waktunya untuk kita:
1. Rajinkan dan giatlah beribadah – Ibrani 10:25.
Iblis bekerja keras untuk menyeret orang percaya dengan menyodorkan berbagai-bagai dosa. Jadi, jika ada firman yang keras kita terima dari hamba Tuhan, bukan kita melawan mereka melainkan karena mereka mengasihi kita (Galatia 4:16,17).

2. Merenungkan firman Allah
Merenungkan artinya jika kita melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak Allah dan dalam nama Tuhan Yesus dengan iman dan keyakinan yang teguh maka jika semua dilakukan, kita bukan jadi orang yang menolak .

3. Praktekan firman Tuhan – Kolose 3:23
 Apapun yang kita lakukan, lakukan dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan kerjakan dengan hati yang penuh kasih.

Tuhan kiranya menolong dan memampukan kita untuk hidup dalam kehendakNya. Tuhan Yesus memberkati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

JANGAN MEMBINASAKAN BAIT ALLAH -oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya – Minggu, 18 November 2018)

Kolose 3:24,25

 PENDAHULUAN
Dalam khotbah minggu lalu, sudah dibahas tentang Kolose 3:23. Bahwa sebagai pengikut Kristus, agar kita melakukan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan dengan motivasi seolah-olah seperti untuk Tuhan. Dan ruang lingkupnya yaitu:

  • Ayat 8, kepada istri-istri agar melaksanakan setiap tugas dengan sukacita dan seperti kepada Tuhan bukan kepada suami.
  • Ayat 19, suami-suami agar mengasihi istri seperti mengasihi Tuhan
  • Kepada anak agar taat kepada orang tua, karena didikan orang tua yang sudah diberikan dengan sungguh-sungguh.
  • Nasihat kepada bapak-bapak dalam status sebagai pemimpin agar melakukan dengan sungguh-sungguh setiap tanggung jawab.
  • Dan kepada hamba-hamba yaitu karyawan, agar melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan. Dengan menghormati majikan dan pemimpin dan bukan bekerja baik saat dilihat majikan.

Jika semua tugas dan tanggung jawab dilakukan seperti ayat 23, maka hasilnya di Kolose 3:24, dari Tuhanlah kita akan menerima bagian/warisan sebagai upah. Asal melakukannya dengan sungguh-sungguh dan motivasi melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Maka berkat Tuhan akan diberikan kepada mereka yang bekerja seperti untuk Tuhan. Contohnya, seperti Yusuf yang bekerja pada Potifar. Suatu ketika isteri Potifar bertujuan merusak masa depannya dan mimpinya menjadi mimpi kosong. Saat ia dimasukan dalam penjara, ia tetap kerjakan dengan sungguh-sungguh setiap tugas, meskipun sudah difitnah. Alhasil, meskipun Yusuf selama 13 tahun diuji, waktu Tuhan tidak pernah terlambat sampai akhirnya ia naik tingkat menjadi pemimpin.

Jadi jika kita kerjakan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh untuk Tuhan dan bukan manusia maka genaplah apa yang dikatakan Yesus dalam Matius 25:40 bahwa kita akan menerima bagian atau warisan karena segala sesuatu yang kita perbuat tidak sia-sia. Dan inilah maksud Kolose 3:24b “Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.” Yaitu ketika kita memberi kepada orang yang membutuhkan (miskin), kita telah memberi kepada: Tuan kita à “YESUS.”

Sebaliknya Kolose 3:25, setiap kesalahan ada konsekwensi atau akibatnya yang harus kita pertanggungjawabkan. Tetapi ada kesalahan yang sangat serius, yang tidak boleh dilakukan oleh para “Pengikut Yesus” yaitu: MEMBINASAKAN BAIT ALLAH.

Ada hal yang tidak boleh kita lakukan dalam berjemaat atau berkomunitas yaitu, membinasakan bait Allah. Jangan lakukan kesalahan dalam berkomunitas, dari suami; istri; anak dan hamba. Perhatikan dalam 1 Korintus 3:16, dituliskan bahwa kamu adalah bait Allah.  Kata “KAMU” di ayat ini, bukan menunjuk “orang pribadi”, tetapi “JEMAAT” (Perhimpunan orang percaya yang ada di Korintus). Selanjutnya dikatakan Kamu adalah Bait Allah. Sedang kata “BAIT ALLAH”, dalam bahasa Yunani istilah “BAIT ALLAH” dipakai dua kata, yaitu: HIERON dan NAOS. Artinya, HIERON adalah Bait Allah secara umum (keseluruhan) dari pagar; halaman sampai tempat Maha Kudus. Sedang NAOS adalah Tempat Maha Kudus (Inggris: Mercy Seat – Takhta Kasih Karunia – Takhta Anugerah). Arti umum: tempat Allah bertakhta atau tempat Allah berhadirat (Allah tidak bertakhta di halaman, di ruang kudus, tetapi di NAOS – Tempat Maha Kudus).

Sebab itu Yesus berkata Matius 18:20 “Sebab di mana dua  atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di  tengah-tengah mereka.” Yesus hadir bukan di gedung, tapi Dia hadir dalam himpunan orang  yang percaya kepada Yesus. Himpunan itu menjadi Naos-Nya Allah, yaitu tempat Allah berhadirat. Jadi sebagai pengikut Yesus JANGAN BINASAKAN BAIT ALLAH karena Tuhan Yesus ada dalam himpunan orang benar.

Hal ini berkaitan erat dengan Kolose 3:25 “Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahan nya itu. Karena Tuhan tidak  memandang orang.” Artinya kita jangan sampai berbuat salah terhadap NAOS, di mana kita membinasakan Bait Allah, yaitu telah membinasakan: “Persekutuan Jemaat”. Karena 1 Korintus 3:17 “Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah ialah kamu.”

Cara membinasakan Bait Allah, bukan dengan merusak gereja melainkan dengan tidak sadar ucapan; perilaku; sikap dan perbuatan, telah membinasakan: NAOS Tempat Maha Kudus Allah, dengan cara :

  • Merusak Persekutuan Jemaat
  • Merusak Rohani Jemaat.

MEMBINASAKAN
Kata “Membinasakan”, dalam bahasa Yunani: PTHIERO, artinya mengotori, menodai, mencabuli, merusakkan. Jika ada yang membinasakan bait Allah, Allah tidak akan diam, dan akan buat perhitungan kepada orang tersebut. Oleh sebab itu, sebagai pengikut Yesus harus punya komitmen yang kuat dan bertindak hati-hati. Jangan sampai karena ucapan, perilaku; perbuatan; sikap kita; kita binasakan bait Allah. Sebab jika ada orang yang  membinasakan bait Allah, Allah tidak akan tinggal diam, sebaliknya Allah akan bertindak dan membuat perhitungan.

JEMAAT SECARA INDIVIDUAL
Ketika orang percaya berkumpul bersama dalam ibadah, persekutuan jemaat menjadi tempat Maha Kudus Allah (Naos) bagi Allah. Dan setelah selesai ibadah, kita tetap harus berjaga-jaga dan berhati-hati agar kita tidak rusakkan bait  Allah yaitu tubuh kita.  1 Korintus 6:19 “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh kudus yg diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan   milik kamu sendiri?”

Tubuh disini adalah hidup pengikut Yesus adalah bait Roh Kudus, NAOS atau Tempat Maha Kudus Allah, di mana Allah bertahta dalam diri kita. Artinya, kita yang telah ditebus oleh darah Yesus dan diselamatkan, kita harus menjaga hidup kita kudus. Sehingga Yesus tetap bertakhta di dalam diri (hidup) kita, sehingga bertumbuh menjadi serupa dengan Yesus atau jadi Pengikut Yesus Yang Sejati.

KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa, Tuhan Yesus berdiam dalam himpunan orang percaya yaitu dalam ibadah Raya, keMah maupun dalam doa-doa bersama. TuhanYesus juga berdiam dalam diri setiap pengikut Yesus. Oleh sebab itu, biarlah kehidupan kita terus dijaga agar kita tidak membinasakan bait Allah yaitu himpunan orang percaya dan membinasakan bait Allah yaitu tubuh kita dengan hidup tidak benar. Kiranya Allah Roh Kudus menolong setap kita agar berkomitmen untuk menjadiberkat bagi orang lain dan terus bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus. Tuhan Yesus memberkati

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KEPEKAAN ROHANI – oleh Pdt. Hani Paulus (Ibadah Raya 3 – Minggu, 25 November 2018)

Kita sudah terbiasa dengan kepekaan yang bersifat lahiriah. Ketika mengantuk, kita tahu tubuh kita membutuhkan istirahat; ketika lapar, kita tahu tubuh kita membutuhkan asupan makanan. Namun apakah kita peka jikalau roh kita memiliki kebutuhan juga?

Sore ini kita akan belajar mengenai kepekaan rohani bahwa kepekaan rohani akan menolong kita untuk memenuhi Kerinduan Tuhan atas hidup kita seperti ayat Firman Tuhan yang akan kita baca bersama dalam 1 Tesalonika 5:23 (TB) “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.”

1 Tesalonika 5 berisi nasihat-nasihat dan harapan Paulus bagi Jemaat dalam menanti kedatangan Yesus ke dua kali. Secara khusus Harapan Paulus bagi Jemaat di Tesalonika pada ay. 23 ini.

SEMOGA
Bukan berbicara tentang mudah-mudahan terjadi tetapi semoga hal ini terjadi pada diri setiap jemaat yang ada di Tesalonika.

ALLAH DAMAI SEJAHTERA
Apapun keadaan kita, jangan takut untuk datang kepada Allah. Meskipun Dia adalah Allah yang kudus, Paulus memperkenalkan bahwa Allah yang menguduskan kita itu adalah Allah Damai Sejahtera. Allah ingin berdamai dengan kita dan mengerti sejahtera kepada hidup kita.

MENGUDUSKAN KAMU SELURUHNYA
Bahasa Yunani: HOLOTELES (Perfectly Complete), sempurna.

DARI PIHAK ALLAH
Apa yang Tuhan lakukan dalam menyucikan atau menguduskan umat-Nya, sempurna.

Jangan takut kepada tuduhan Iblis atas diri kita. Pegang janji Tuhan, kita sudah dibasuh dan dikuduskan oleh darah Yesus.

1 Korintus 1:2 (TB)  “kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.”

Namun sesungguhnya apakah kita sudah sempurna?
Jawabannya adalah belum.
Kita menyadari masih banyak cacat cela dalam perjalanan kerohanian kita. Itu sebabnya hal yang kedua disampaikan oleh Paulus adalah Semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat cela pada hari kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.

Jadi ada tiga bagian diri kita yang sudah dikuduskan Tuhan yang harus dipelihara dengan baik bahkan sempurna sampai hari kedatangan Tuhan Yesus. Jadi ada peran aktif dari diri kita juga untuk mengerjakannya.

Manusia lahiriah kita memang peka terhadap kebutuhan jasmani tetapi apakah kita peka terhadap kebutuhan pemeliharaan roh, jiwa, tubuh yang dikehendaki Tuhan?

  • Tubuh kita dalam perjalanan menuju penguasaan diri, Gal 5:23
  • Jiwa kita dalam perjalanan menuju kedewasaan, Efesus 4:13-15
  • Roh kita yang mengalami kelahiran baru, Semakin Kuat, Lukas 1:80; 2:40

Jika Kehilangan Kepekaan Rohani?

  • Tubuh kita dikuasai oleh Panca Indra
  • Jiwa kita Dikuasai oleh Keinginan Daging
  • Roh kita Lemah

Kunci utama dari Kepekaan Rohani ada dalam roh manusia kita. Jika roh manusia kita kuat, jiwa kita akan stabil, tubuh kitapun akan lebih mudah untuk dikendalikan terhadap keinginan-keinginan duniawi.

Apa Kebutuhan Utama dari roh?
1.
Kesadaran akan kehadiran Tuhan
Yohanes 4:24 (TB)  “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”
Kepekaan akan kehadiran Tuhan, membawa roh kita terus menerus aktif dan takut akan Tuhan juga membuat roh kita selalu berjaga-jaga untuk tidak tercemar oleh keinginan daging

2. Roh Allah (sumber)
Menyembah Bapa, Yoh 4:24
Kebutuhan utama roh kita adalah terhubung dengan sumbernya yaitu roh Allah, caranya adalah melalui penyembahan. Allah itu roh, tidak dapat dihampiri dengan jiwa apalagi tubuh. Allah hanya dapat didekati atau dihampiri oleh roh manusia kita. Ekspresi jiwa dan tubuh yang sejati adalah berasal dari dorongan roh manusia meresponi kehadiran Roh Allah. Hasilnya jiwa mengalami kedewasaan dan tubuh mulai memiliki penguasaan diri.

3. Firman Tuhan, Rom 8:32
Firman Tuhan seperti bahan bakar bagi roh manusia kita. Tanpa Firman Tuhan, roh manusia kita tidak terkoneksi dengan kebenaran Allah. Jika demikian roh manusia kita akan jadi liar tak terkendali dan mudah dimanipulasi oleh roh kegelapan.

Selamat terhubung dengan roh Allah dan memiliki kepekaan rohani. Tuhan Yesus memberkati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PARA PENGEJEK DI AKHIR ZAMAN – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 2 – Minggu, 25 November 2018)

YUDAS 1:17 – 19

Akhir-akhir ini sedang marak ejek-mengejek khususnya di media sosial dari orang yang mendukung dan yang tidak mendukung calon presiden tertentu, dan ejek mengejek ini kemudian cenderung meluas sampai menyinggung pada masalah keimanan. Alkitab banyak mencatat tentang pengejek-pengejek khususnya dari orang-orang yang tidak percaya atau yang menolak percaya kepada Yesus. Bicara soal pengejek konotasi kita pasti menunjuk kepada orang-orang yang pasti diluar iman kepada Yesus, apakah benar demikian? Mungkinkah ada pengejek yang justru muncul dari kehidupan orang percaya?  Mari kita lihat ayat pokok kita diatas mengenai para pengejek di akhir zaman ini.

“Tetapi kamu saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh Rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab mereka telah mengatakan kepada kamu: Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka. Mereka adalah pemecah belah yang dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus.”

Yudas 1:17-19
Yudas yang menulis tentang hal ini, bukanlah Yudas Iskariot tetapi Yudas saudara Yakobus yang adalah saudara sekandung dari Yesus  dari pernikahan Yusuf dan Maria. Kita tahu bahwa Yesus dilahirkan bukan dari benih laki-laki (Yusuf) tetapi dari Roh Allah, setelah Yesus menjadi besar, maka Yusuf dan Maria dalam hidup pernikahan selanjutnya melahirkan beberapa anak dan salah satunya adalah Yudas, dalam Alkitab terjemahan lama (Bode) Yudas ditulis Yehuda.

Mengejek dalam pengertian umum dapat diartikan sebagai orang yang suka menghinakan; meremehkan; mengolok-olok, yang semuanya dilakukan melalui ucapan atau perkataan.

KRITERIA PENGEJEK
Yudas 1: 8b  “….Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka.”

Dari ayat di atas kita dapat mengetahui bahwa kriteria pertama adalah:
1). Orang yang fasik.
2).  Pemecah Belah
3). Hidup tanpa Roh Kudus, Yudas 1:19
Tetapi yang menjadi sumber dari ketiga kriteria itu adalah yang pertama : KEFASIKAN.

Fasik artinya orang yang tidak mengenal hukum. Bagi kita orang-orang yang percaya, Tuhan sudah memberikan hukum dan aturan kepada kita melalui firman-Nya.

 Yudas 1: 17 diawali dengan kata “..Tetapi kamu saudara-saudaraku yang kekasih.  Kata “Tetapi” untuk membedakan atau pembanding, maksudnya adalah pengikut Kristus cara hidupnya harus berbeda dengan orang duniawi yang tidak mengenal hukum Tuhan itu.

Yudas 1:18 – Menjelang kedatangan Tuhan akan tampil pengejek-pengejek.
Yes 53:3 – Yesaya menubuatkan bahwa kehadiran-Nya akan dijadikan bahan ejekan.
Matius 27:39-42 – Para imam dan orang Farisi mengejek Yesus

SIAPA SEBENARNYA YANG DIMAKSUD PENGEJEK-PENGEJEK OLEH YUDAS ITU?
Yudas 1:18 – Dikatakan bahwa menjelang akhir zaman akan “tampil“  Digunakan kata tampil atau muncul dengan kata lain, pada awalnya mereka adalah orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Tetapi karena mereka tidak bersungguh-sungguh di dalam Tuhan, dan hidupnya lebih dikuasai oleh keinginan duniawi dari pada Roh Kudus, mereka berbalik menjadi para pengejek. ( Bandingkan 1 Yohanes. 2:19)

Menjelang kedatangan Yesus, akan terjadi banyak kejatuhan karena kehilangan iman, 1 Yoh 2:18,19. Bahkan menjadi murtad dan anti terhadap Kristus (Anti Kris ). Jadi pengejek-pengejek di akhir zaman yang akan tampil justru adalah orang-orang yang tadinya percaya kepada Yesus, tetapi hidup mereka selanjutnya tidak bertahan dalam Kristus, tetapi keluar dari hukum Allah sehingga mereka berbalik menjadi para pengejek terhadap iman kepada Yesus.

BENTUK EJEKAN
Ay. 18 – “Mereka hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka.”
Mengejek Tuhan bisa dalam bentuk verbal (ucapan), tetapi juga dapat lewat perbuatan. Ejekan lewat perkataan (verbal). Tuhan Yesus menebus dan menyelamatkan kita adalah untuk memuliakan Tuhan, bukan untuk mengejek. Itulah sebabnya setiap kata yang terucap akan dipertanggungjawabkan dihadapan Tuhan.

Matius 12:36,37 – “Tetapi Aku berkata kepadamu. Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkan pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”

Yakobus 3:9 “Dengan lidah kita memuji Tuhan Bapa kita, dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah.”

Hati-hati dengan lidah kita, dengan perkataan kita bisa memuji Tuhan, tetapi dengan lidah yang sama kita juga bisa mengejek Tuhan. Banyak orang tidak menyadari bahwa dengan mengejek atau menghina kelemahan atau kekurangan orang lain sebenarnya kita sedang mengejek atau menghina Tuhan yang menciptakan orang itu. Tuhan pernah begitu marah kepada bangsa Israel karena perkataannya dianggap meremehkan kehadiranNya.

Maleakhi 3:13- “Bicaramu kurang ajar tentang Aku firman Tuhan. Tetapi kamu berkata : Apakah kami bicarakan di antara kami tentang Engkau?”

Umat Israel dinilai kurang ajar perkataannya oleh Tuhan, karena apa? Maleakhi 3:14 – Umat Israel meremehkan pertemuan ibadah, mereka menganggap ibadah itu adalah hal yang sia-sia tidak ada keuntungannya.  Hal ini membuat Allah marah karena dalam setiap pertemuan ibadah apapun baik indah raya, ibadah cabang, wadah, doa bahkan Kemah disitu Tuhan berhadirat sebab himpunan orang percaya itu adalah tempat kudusnya Tuhan (NAOS) dimana Tuhan hadir. Dua tiga orang saja yang berkumpul atas nama Tuhan, Yesus hadir ditengah-tengahnya. Jadi bagaimana mungkin umat Israel begitu sembrononya mengatakan ibadah itu sia-sia, tidak heran Tuhan mengatakan “Bicaramu kurang ajar tentang Aku” sebab mereka sudah mengejek Tuhan.

HUKUMAN TUHAN
Karena setiap perkataan kita akan dipertanggung jawabkan di hadapan Tuhan, sudah barang tentu para pengejek tidak akan luput  dari penghukuman Tuhan.  Hukuman tidak harus menunggu penghakiman Tuhan, tetapi hukumannya dapat terjadi juga selagi ia masih hidup di bumi.

Contoh:
Kisah 12:21-23 – Raja Herodes menghina Allah lewat perkataannya. Ia mati ditampar malaikat Allah.  Herodes dengan sombongnya berpidato sampai dipuja-puja sebagai suara Tuhan dan bukan suara manusia. Entah perkataan ejekan apa yang diucapkannya, mungkin karena begitu jahatnya omongannya terhadap Tuhan sehingga  Alkitab tidak menuliskannya, yang pasti jahat dan menista Tuhan sampai malaikat Tuhan turun dan menamparnya sampai mati itu pasti sudah sangat keterlaluan.

Tindakan kita juga dapat dinilai mengejek Tuhan, jika tahu hal yang dilarang Tuhan tetapi dengan sengaja kita melakukannya. Contoh Ananias dan Safira  dalam Kisah Rasul 5:1-11 – Mereka adalah aktifis jemaat mula-mula yang penuh dengan semangat melayani dan berkorban. Tuhan menghukum keduanya dengan mati seketika itu juga, saat mereka dinilai mendustai Roh Kudus dengan tidak mengatakan yang sebenarnya tentang uang hasil penjualan tanahnya yang janjinya diserahkan penuh. Tetapi mereka menahan sebagian uang itu dan mengatakan bahwa uang itu sepenuhnya bagi Tuhan.  Dusta mereka merupakan ejekan seolah-olah Tuhan dapat dipermainkan, akibatnya Tuhan hukum mereka seketika itu juga tewas didepan jemaat lainnya.

Sebagai pengikut Kristus yang baik, mari jaga hati dan ucapan kita, jangan sembrono mengucapkan kata-kata yang mencela atau menjelekkan orang lain apalagi yang menyangkut pekerjaan Tuhan. Belajarlah selain mengucap syukur ucapkanlah juga kata-kata berkat, yang memberi dorongan, penghiburan yang menguatkan orang lain. Tetap sabar dalam menghadapi perkataan orang lain yang mungkin menyakitkan hati dan jangan membalas yang jahat dengan hal yang jahat juga. Tetap dalam jalur kebenaran Tuhan supaya jangan kita masuk dalam golongan pengejek-pengejek di akhir zaman ini.

Posted in Uncategorized | Leave a comment