Pendahuluan
Tak terasa waktu cepat berlalu, namun kita masih berada di ruang tunggu. Hari ini kita memasuki ruang tunggu seri ke-9. Kita sudah mempelajari alasan-alasan mengapa Tuhan membawa kita masuk ke ruang tunggu, al.:
- Di Ruang tunggu Tuhan melatih kesabaran kita.
- Di ruang tunggu kita menanti untuk diperlengkapi dengan kuasa Illahi.
- Di ruang tunggu Allah menguji iman kita.
- Di ruang tunggu kita mendapatkan kekuatan baru.
- Di ruang tunggu kita menerima dari Tuhan agar mendapat membagikan.
- Di ruang tunggu kita diam agar Tuhan yang berperang
- Di ruang tunggu kita diam agar dapat melihat TUHAN.
- Anggur baru harus diisikan ke dalam kirbat baru.
Seakarang marilah kita mempelajari seri ke sembilan, mengapa kita harus berada di ruang tunggu.
9. DI RUANG TUNGGU, BAPA RINDU UNTUK BERSEKUTU
Yesaya 30:18
“Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!”
Sebagai anak-anak Tuhan, kadang-kadang kita bertanya mengapa Tuhan tidak segera menjawab doa kita. Mengapa Tuhan seolah-olah diam pada saat kita membutuhkan? Mengapa Tuhan seakan membiarkan kita mengalami penderitaan? Padahal kita sudah taat melakukan firmanNya, kita setia beribadah, tekun memberikan korban persembahan, dan rajin melayani Tuhan. Mengapa Tuhan tetap diam? Mengapa Tuhan membiarkan kita lama-lama berada di ruang tunggu? Apakah Tuhan tidak mengerti yang kita alami? Apakah Tuhan sudah tidak lagi peduli?
BUKAN! Perhatikan ayat pokok kita:
“Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!”
Inilah isi hati Tuhan. Dia menanti-nantikan saatnya hendak menunjukan kasihNya kepada anak-anakNya. Dia rindu untuk bangkit dan menyayangi kita. Dia rindu mencurahkan berkatNya, Bapa rindu menyatakan kasihNya dan kuasaNya luar biasa. Jika Allah benar-benar rindu menyatakan kasihNya kepada kita, lalu mengapa Dia membiarkan kita menunggu di ruang tungguNya? “Sebab di ruang tunggu, BAPA rindu untuk bersekutu.” Ketahuilah bahwa kerinduan Tuhan, Dia tak sekedar rindu untuk memberkati, lebih dari itu Bapa rindu untuk membangun relasi.
RELASI ADALAH JALAN UNTUK DIBERKATI
Yohanes 15:4
Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.
Syarat ranting untuk berbuah adalah melekat dengan pokok anggur. Tanpa relasi ranting akan mati dan akhirnya dibakar ke dalam api. Ranting tidak perlu berusaha untuk menghasilkan buah, ia cukup memastikan bahwa keberadaannya selalu melekat pada pokoknya. Demikian juga dengan kita, agar dapat menghasilkan buah maka kita wajib membangun hubungan dengan Tuhan sebagai sumber kehidupan.
Dalam kekristenan hubungan dengan Tuhan menjadi hal yang penting. Tanpa terhubung dengan Dia maka kekristenan menjadi kering dan mati. Ketahuilah Allah bukan objek untuk dipelajari, Allah adalah pribadi untuk dijumpai. Allah bukan benda/materi untuk diketahui, Allah adalah pribadi untuk dinikmati. Untuk itulah kadang-kadang Tuhan menahan kita di ruang tungguNya agar kita dapat membangun relasi dengan diriNYA.
Sayangnya banyak orang Kristen hanya ingin diberkati tanpa memiliki relasi, mereka hanya mencari berkatNya, tetapi tidak mencari sang pemberi berkat. Mereka tertarik dengan pemberianNya tetapi tidak tertarik dengan si pemberiNya. Itulah sebabnya, banyak orang Kristen hidupnya biasa-biasa saja, rohaninya tidak bertumbuh, imannya tidak berkembang. Mengapa? Sebab mereka hanya puas dengan yang baik, sementara Tuhan menyediakan yang terbaik. Mereka senang dengan yang biasa, sedangkan Tuhan menyediakan berkat yang luar biasa.
Ingatlah, TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu.
Jangan puas hanya dengan pemberianNya, jangan puas dengan berkat-berkatNya saja, carilah pribadiNya, sebab dengan mendapatkan DIA, kita mendapatkan sumberNya. Dengan mendapatkan sumberNya, kita mendapatkan segala-galanya. Sadarilah: “Mendapatkan sang raja, Anda akan mendapatkan istananya.”
Ingatlah kisah anak yang hilang (Lukas 15). Saat ia masih berada di rumah bapanya, hidupnya penuh kebahagiaan dan sukacita. Segala yang dimiliki bapanya dapat dinikmati sepuasnya. Namun keadaannya berubah saat ia pergi meninggalkan rumah bapanya. Ketika hubungan dengan bapanya terputus, hidupnya menderita dan sengsara, bahkan sekedar untuk makanpun ia tidak mampu memenuhinya. Pada akhirnya timbulah kesadaran bahwa di rumah bapanya ada banyak hamba dan makanan yang melimpah, sementara di sini ia menderita kekurangan. Si bungsu memutuskan kembali kepada bapanya, tak perlu menjadi anaknya lagi, jadi salah satu hambanya saja sudah cukup baginya. Tetapi saat bapanya melihat ia datang kembali, bapanya segera berlari, memeluknya, memberikan pakaian dan sepatu yang baru. Inilah gambaran hati Bapa di sorga. Bapa rindu untuk bersekutu. Percayalah saat hubungan dipulihkan maka seluruh hidupnya juga dipulihkan.
Penutup
Jika Tuhan belum menjawa doa, dan mengabulkan yang kita minta, jangan kecewa, tetaplah setia di ruang tungguNya, sebab kerinduanNYA tak sekedar untuk memberkati tetapi membangun relasi. Percayalah saat relasi dibenahi, berkat-berkat Tuhan telah menanti untuk dinikmati. Tuhan memberkati. KJP!