1 Tesalonika 5:17
“Tetaplah berdoa.”
Pendahuluan
Surat 1 Tesalonika ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika, sebuah kota penting di Makedonia (sekarang wilayah Yunani) dan ini merupakan surat paling tua dalam Perjanjian Baru. Surat ini dipenuhi dengan semangat kasih pastoral dan pengharapan eskatologis. Tema utamanya meliputi: Keteguhan iman dalam penderitaan, Kekudusan dalam kehidupan sehari-hari, Pengharapan akan kedatangan Kristus kembali. Menguatkan jemaat yang sedang mengalami penganiayaan dan memberi pengajaran tentang kehidupan Kristen menjelang kedatangan Kristus yang kedua kali.
Pasal 5 secara khusus berisi nasihat-nasihat praktis bagi kehidupan orang percaya seperti menghormati para hamba-hamba Tuhan, hidup berdamai dengan semua orang, menegur dengan kasih bagi mereka yang hidupnya tidak tertib, menghibur yang tawar hati, membela mereka yang lemah, sabar akan semua orang, jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, usahakan yang baik, bersukacita senantiasa, tetaplah berdoa, mengucap syukurlah dalam segala hal, jangan padamkan Roh, jangan anggap rendah nubuatan, ujilah segala sesuatu peganglah yang baik, menjauhi segala bentuk kejahatan. Dari semua nasehat Rasul Paulus ini, Paulus memberikan perintah singkat yang sangat singkat padat berarti. Tetaplah berdoa.
Berikut mengapa kita harus tetap berdoa?
1. Berdoa bukan sekedar perintah melainkan kebutuhan. 1 Tesalonika 5:17 “Tetaplah berdoa.”
Ungkapan ini berasal dari bahasa Yunani: “ἀδιαλείπτως προσεύχεσθε” (adialeiptōs proseuchesthe), yang artinya berdoalah terus-menerus, tanpa jeda, tanpa henti. Ini bukan berarti kita harus berdoa setiap detik, tetapi memiliki pengertian bahwa sesuatu yang terus menerus, tanpa henti, artinya doa merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh orang percaya menjelang kedatangan Tuhan.
Pernahkah suatu hari, saudara bercerita tentang masalah hidup saudara dengan seseorang dan respon yang mereka berikan kepada saudara adalah berdoa. Mungkin saudara tidak begitu semangat mendengar saran “berdoa”. Karena saran berdoa kesannya terlalu simple dan standar. Tetapi sesungguhnya, berdoa adalah senjata utama kita dalam menghadapi setiap persoalan dalam hidup ini.
Doa seringkali tidak melepaskan kita dari masalah, tetapi doa dapat memberi kita kekuatan untuk menghadapi masalah itu. Tuhan Yesus tetap harus melewati jalan perderitaan, via dolorosa. Tetapi berkat doa yang Ia bangun bahkan di taman Getsemani Ia berdoa, Dia dapat melaluinya dengan hati teguh dan dalam penyerahan diri kepada Allah Bapa-Nya di Sorga. Kalau diibaratkan sebuah ilustrasi: kita sedang berjalan, lalu di depan kita menghadang sebuah gunung yang tinggi. Doa seringkali tidak membuat gunung itu lari dari hadapan kita. Tetapi doa dapat memberi kita kekuatan untuk mendakinya.
Berikut ayat menjelasakan Yesus selalu berdoa
1. Saat dibaptis – Lukas 3:21
“Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis, dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit…”
Doa saat memulai pelayanan publik.
2. Sering berdoa di tempat sunyi – Markus 1:35
“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi keluar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”
Yesus mencari waktu khusus untuk bersekutu dengan Bapa.
3. Semalam-malaman berdoa sebelum memilih murid – Lukas 6:12-13
“Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa, dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya lalu memilih dari antara mereka dua belas orang…”
Sebelum keputusan penting, Yesus berdoa semalaman.
4. Sebelum memberi makan 5.000 orang – Yohanes 6:11 / Matius 14:19
“Lalu Yesus mengambil roti itu, dan setelah mengucap syukur… Ia membagi-bagikannya…”
Doa pengucapan syukur sebelum mukjizat.
5. Saat mengadakan perjamuan kudus – Lukas 22:19
“Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya…”
Doa syukur dalam momen spiritual penting.
6. Di Taman Getsemani – Matius 26:36–44; Markus 14; Lukas 22:39–46
“Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa: ‘Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku…’” (Matius 26:39)
Doa penuh pergumulan dan penyerahan sebelum disalibkan.
7. Di atas salib – Lukas 23:34, 46 / Matius 27:46
“Ya Bapa, ampunilah mereka…”
“Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku…”
“Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Doa terakhir dalam penderitaan. Ia tetap berbicara kepada Bapa.
8. Doa Imam Besar – Yohanes 17
Seluruh pasal ini adalah doa Yesus kepada Bapa, termasuk:
- Doa untuk diri-Nya sendiri
- Doa untuk para murid-Nya
- Doa untuk semua orang percaya (termasuk kita)
Ini adalah salah satu doa paling panjang dan dalam dari Yesus.
Tetaplah berdoa menjelang kedatangan Tuhan. Hal yang tiba-tiba akan datang dalam perjalanan kehidupan kita tetapi ketika kita jadikan doa sebagai kebutuhan hidup setiap hari dalam hidup kita maka saya percaya ada kekuatan dan pertolongan untuk kita dapat menghadapinya.
2. Doa membentuk hubungan yang hidup bukan sekedar Ritual. 1 Tesalonika 5:17 “Tetaplah berdoa.”
Ungkapan ini berasal dari bahasa Yunani: “ἀδιαλείπτως προσεύχεσθε” (adialeiptōs proseuchesthe), yang artinya: berdoalah terus-menerus, tanpa jeda, tanpa henti. Hal ini bukan berarti kita harus berdoa setiap detik, tetapi memiliki sikap hati yang selalu terhubung dengan Tuhan dalam setiap situasi.
Seberapa kita dekat dengan Tuhan? Kalimat tetap mengandung arti terus menerus, tanpa jeda, tanpa henti, setiap waktu. Tidak tahukah saudara, ini yang Tuhan mau didalam doa kita, ada jalinan hubungan yang terus menerus dibangun secara vertikal yaitu dari kita orang percaya kepada Tuhan kita Yesus Kristus.
Banyak orang melihat doa hanya sebagai tugas rohani atau ritual yang harus dijalankan seperti doa pagi, doa makan, doa sebelum tidur. Tetapi sebenarnya, doa bukan sekadar kewajiban formal, melainkan cara kita hidup bersama Tuhan setiap hari.
Jika doa hanya jadi kebiasaan kosong, maka relasi kita dengan Tuhan akan terasa hambar dan jauh. Tetapi jika doa lahir dari kerinduan hati, maka hubungan itu menjadi hidup, hangat, dan penuh kasih.
Ketika doa kita bukan kegiatan agamawi atau ritual belaka maka hubungan yaitu percakapan yang rutin tapi penuh kasih akan membangun ikatan yang kuat. Sama halnya, doa yang tulus dan rutin membangun keintiman rohani. Seiring waktu:
- Doa kita berubah: dari sekadar permintaan menjadi penyembahan
- Kita tidak hanya bicara tentang masalah, tapi juga menikmati hadirat-Nya
- Kita mulai lebih sering mendengar suara Tuhan, bukan hanya berbicara
Matius 6:6
Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
Yesus mengajar bahwa doa bukan untuk dilihat orang seperti orang-orang Farisi. Mereka berdoa di gang-gang, di pinggir jalan, di pasar-pasar, di keramaian. Mereka menaikkan doa mereka dengan kata-kata indah atau panjang tetapi tanpa hubungan yang intim dengan Tuhan melainkan ritual belaka sehingga mereka mencari panggung, pembenaran, pujian kehormatan dari manusia. Tetapi Yesus katakan bahwa doa bukan mencari panggung dan sebagainya melainkan hubungan pribadi yang rahasia dan penuh kasih antara Bapa dan anak-Nya. Maksudnya sekalipun saudara berdoa sendiri maupun doa bersama maka doa itu antara saudara pribadi dengan Tuhan. Doa yang sejati tidak butuh panggung, tapi membutuhkan keheningan dan kerendahan hati untuk hubungan yang hidup.
Tetaplah berdoa
Doa bukan hanya rutinitas, tapi relasi hidup antara kita dan Allah. Bukan soal jumlah kata, tapi kedalaman hati. Bukan soal aturan, tapi kasih yang mengalir dari hati yang terhubung dengan Bapa.
3. Doa Menumbuhkan Pengharapan, Iman dan Kasih. 1 Tesalonika 5:17 “Tetaplah berdoa.”
Ungkapan ini berasal dari bahasa Yunani: “ἀδιαλείπτως προσεύχεσθε” (adialeiptōs proseuchesthe), yang artinya: berdoalah terus-menerus, tanpa jeda, tanpa henti. Hal ini bukan berarti kita harus berdoa setiap detik.
Suatu tumbuhan yang dirawat dibutuhkan kegiatan yang terus menerus seperti memelihara, menyiram, memupuk, dan sebagainya untuk tanaman itu dapat bertumbuh dan berbuah dengan maksimal.Tetaplah berdoa artinya dengan kita terus berdoa dan berdoa dapat menumbuhkan pengharapan, i,an dan kasih kita.
Lukas 18:1 Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Maksud pesan Yesus memberi perumpamaan ini tidak lain supaya pendengar yang membaca dan mendengar perumpamaan ini supaya mereka tetap berdoa, tidak jemu-jemu, tidak bosan, tidak berhenti berdoa.
Di pasal sebelumnya Yesus sampaikan keadaan akhir zaman akan ada penyesatan, kejahatan semakin merajalela, nabi dan mesias palsu, iman dan kesetiaan seorang hamba akan diuji, kurangnya kasih dan ucapan syukur dalam diri seseorang digambarkan 10 orang kusta tetapi hanya satu yang memuliakan Allah, dan tanda-tanda kedatangan Anak Manusia.
Dari semua penjelasan maka Yesus meminta untuk mereka tetap berdoa sebab
- Di dalam doa pengharapan kita dibangkitkan
Seorang janda yang sebenarnya tidak ada harapan untuk dia bisa menang akan perkaranya di pengadilan tetapi karena kegigihan dan kesungguhanya ia datang kepada hakim itu maka hasilnya tidak mengecewakan.
Ayat 3 Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku.
Ay. 5 namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Dengan tetap berdoa harapan dibangkitkan. - Di dalam doa iman kita bertumbuh
Seorang janda diuji kesabaranya dalam menanti jawaban.
Ay. 3 Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. 18:4 Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun,
Saat doa kita belum dijawab atau jawaban doa itu tidak maka jadikan proses penantian kita didalam doa adalah proses bagaimana iman kita sedang diuji, justru saat kita tetap berdoa disitulah Tuhan ingin melihat seberapa besar iman kita kepada Dia.
Ay. 8 Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” - Didalam doa kasih akan bertambah
Perumpamaan seorang janda yang terus mendatangi hakim yang lalim ini menjadi teguran yang keras buat kita seberapa besar kasih kita kepada Tuhan. Tuhan mengasihi kita tidak perlu dipertanyakan lagi kasih-Nya bagi kita.
Ay. 6 Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! 18:7 Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?
Artinya melalui perumpamaan ini Tuhan menjelasakan Allah mengasihi orang-orang pilihanNya tetapi mereka yang siang malam berseru kepada-Nya yang tetap berdoa, seharusnya seruan siang dan malam adalah kesempatan untuk kita terus menyatakan kasih kita kepada Tuhan. Sebab kasih dan setia Allah terbukti bagi orang percaya.
Saat doamu masih belum ada jawaban teruslah berdoa, kasih dan kuasa-Nya tidak berubah. Jadikan kesempatan doa siang dan malam artinya tetap berdoa menambahkan kasih kita kepada Tuhan.
– Jangan menyerah ketika belum ada jawaban
– Terus percaya meski keadaan belum berubah
– Setia berdoa karena doa bukan hanya untuk jawaban, tetapi juga proses membentuk hati kita menumbuhkan iman, harap dan kasih kita.
Jadi, tetaplah berdoa!