Yesus Sang Pembebas– oleh Pdm. Simon Sitinjak (Ibadah Raya 1 – Minggu, 3 Agustus 2025)

Galatia 5:1; 13-15 – supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan janganlah kamu lagi dikenakan kuk perhambaan. Ay.13 Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. 14.Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!. 15 Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.

Pendahuluan
Hari ini kita merenungkan satu kebenaran yang sangat mendasar dan sangat kuat: Yesus adalah Sang Pembebas! Banyak orang hidup dalam ikatan—ikatan dosa, rasa bersalah, hukum yang menuntut, dan kehidupan rohani yang kering. Tapi Injil kebenaran datang membawa kabar baik, dalam terjemahan BIS‘Kita sekarang bebas, sebab Kristus sudah membebaskan kita! Sebab itu pertahankanlah kebebasanmu, dan jangan mau diperhamba lagi. ‘

Kristus sudah membebaskan kita.’ Dari sini kita akan melihat pribadi yang luar biasa’Yesus Sang Pembebas.’

1. Yesus membebaskan kita dari tuntutan Hukum Taurat
Ay.1 “Kristus telah memerdekakan kita supaya kita sungguh-sungguh merdeka.”

Jemaat di Galatia, yang sebagian besar terdiri dari orang-orang non-Yahudi, menerima ajaran bahwa orang yang sudah percaya Yesus untuk dapat diselamatkan harus mengikuti tuntutan hukum Taurat. Hukum Taurat salah satunya berisi tentang sunat.

Ay.2 Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu. Ay.3 Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat..

Paulus menentang keras ajaran ini, karena Paulus percaya bahwa keselamatan hanya diberikan melalui iman kepada Kristus. Hukum Taurat diberikan menyingkapkan dosa-dosa yang mereka lakukan tetapi tidak memberikan soulusi untuk lepas dari dosa, karena tidak seorangpun dapat memenuhi dengan sempurna hukum Taurat.

Galatia 6:11 Lihatlah, bagaimana besarnya huruf-huruf yang kutulis kepadamu dengan tanganku sendiri. Ay.12 Mereka yang secara lahiriah suka menonjolkan diri, merekalah yang berusaha memaksa kamu untuk bersunat, hanya dengan maksud, supaya mereka tidak dianiaya karena salib Kristus. Ay.13  Sebab mereka yang menyunatkan dirinyapun, tidak memelihara hukum Taurat. Tetapi mereka menghendaki, supaya kamu menyunatkan diri, agar mereka dapat bermegah atas keadaanmu yang lahiriah. Ay.14 Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. Ay.15 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.

Yesus datang bukan untuk menambahi beban agama, Yesus datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat tapi menggenapi hukum Taurat. Hukum Taurat menunjukkan kita berdosa tetapi tidak ada solusi untuk menyelamatkan kita itu sebabnya didalam Matius 11:28, undangan kasih Yesus bagi semua yang letih karena mencoba menyenangkan Allah lewat usaha dan aturan.

Matius 11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Hubungan dengan Pembebasan dari Hukum Taurat:
Beban hukum taurat itu berat

  • Dalam konteks orang Yahudi, “beban berat” yang dimaksud salah satunya adalah beban hukum Taurat dan tradisi keagamaan.
  • Ahli Taurat dan orang Farisi membuat hukum menjadi lebih berat dengan aturan-aturan tambahan (lihat Matius 23:4: “Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang…”).
  • Hukum menuntut kesempurnaan (Yakobus 2:10), tetapi manusia tidak sanggup mencapainya.

Yesus menawarkan kelegaan melalui kasih karunia

  • Ketika Yesus berkata “Marilah kepada-Ku… Aku akan memberi kelegaan,” Ia mengundang semua orang keluar dari beban sistem agama yang kaku dan memberatkan.
  • Kelegaan itu adalah kasih karunia, pengampunan, dan penerimaan Allah tanpa syarat, yang tidak bisa diperoleh dari usaha manusia sendiri.
  • Dalam Galatia 5:1, Paulus berkata, “Kristus telah memerdekakan kita…” — inilah bentuk kelegaan sejati yang Yesus janjikan.

Yesus mengganti hukum dengan kasih dan hubungan

Setelah membebaskan kita dari hukum, Yesus mengundang kita dalam hubungan kasih, bukan kewajiban kaku.

“Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku…” (Matius 11:29) — kuk-Nya adalah lembut dan ringan, karena kita dipimpin oleh kasih, bukan oleh ketakutan akan hukum.

2. Yesus membebaskan kita dari dosa kedagingan
Ay.13 Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.

Selanjutnya Paulus memberi tanggapan terhadap pengajaran sesat yang mengancam jemaat di Galatia. Paulus berjuang untuk mempertahankan Injil kebenaran dan kebebasan yang ia ajarkan. Paulus memperingatkan agar kebebasan yang diberikan Kristus tidak disalahgunakan untuk memenuhi keinginan daging. Sebaliknya, kebebasan itu harus digunakan untuk melayani sesama dalam kasih. 

Dunia mengartikan kebebasan sebagai “melakukan apapun yang saya mau”. Yesus membebaskan kita dari perbudakan dosa, bukan untuk kita kembali hidup dalam dosa. Tapi kebebasan sejati adalah kuasa untuk hidup benar di hadapan Allah—sesuatu yang tidak mungkin tanpa Roh Kudus.

Galatia 5:19 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, Ay.20 penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, Ay.21 kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu–seperti yang telah kubuat dahulu–bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Waspadalah karena kekudusan menjadi hal yang semakin ditinggalkan dalam kehidupan sehari-hari maupun pelayanan. Kedagingan membuat manusia tidak mampu melakukan kehendak Allah. Orang yang dikuasai daging adalah seperti budak, meski merasa dirinya “bebas”.

Yesus memberikan kuasa untuk menolak keinginan daging
“Jangan mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa…” (Galatia 5:13)

  • Kemerdekaan bukan izin untuk berdosa, tetapi kuasa untuk menang atas dosa.
  • Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus memberi kita Roh Kudus, yang memampukan kita berkata “tidak” pada keinginan daging  

Galatia 5:16 Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging

Dalam Kristus, kita punya pilihan yang sebelumnya tidak kita miliki: hidup dalam Roh, bukan dalam daging. Yesus tidak hanya menghapus masa lalu kita, tapi mengubah cara hidup kita hari ini.

Gunakan kebebasan kita untuk hidup kudus, bukan untuk memuaskan daging. Kebebasan dalam Kristus adalah panggilan untuk menjadi serupa dengan Dia.
Yesus tidak hanya menyelamatkan kita dari hukuman dosa, tapi juga membebaskan kita dari kuasa dosa, terutama dosa kedagingan yang sering menguasai hidup manusia. Dia memberi kita kemerdekaan dan kuasa melalui Roh Kudus agar kita hidup benar, kudus, dan penuh kasih.

Galatia 5:22 Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, Ay.23.kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

3. Yesus membebaskan kita untuk mengasihi dan melayani 
Ay.13b melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. 14.Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!. 15 Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.

Yesus membebaskan kita untuk kita melayani dan mengasihi. Dalam Galatia 5 ini Rasul Paulus sedang menasehati jemaat Galatia tentang status mereka sekarang di dalam Kristus.

Dosa merusak relasi manusia — bukan hanya dengan Allah, tetapi juga sesama.
Sebelum mengenal Kristus, kita hidup terpusat pada diri sendiri: mementingkan diri, membalas kejahatan dengan kejahatan, penuh kebencian dan perselisihan. Yesus menghancurkan kuasa dosa di kayu salib dan memberikan kita hati yang baru, yang sanggup melayani dan mengasihi.

2 Korintus 5:17 jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru. yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

  • Kemerdekaan atau pembebasan dari Kristus adalah panggilan untuk melayani dengan kasih. Layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. (Galatia 5:13b) Kemerdekaan dalam Kristus bukan untuk hidup semaunya, tapi untuk menghidupi kasih secara nyata.
  • Kasih adalah bukti orang yang telah dibebaskan dimerdekakan. Galatia 5:14 “Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Kasih bukan sekadar perasaan, tetapi:

  • Pilihan untuk melayani
  • Tindakan untuk memberi
  • Kesediaan untuk mengampuni

Kasih bukanlah beban, tapi buah dari kemerdekaan sejati dalam Kristus. Tanpa kasih, kemerdekaan bisa berubah menjadi keegoisan. Dengan kasih, kemerdekaan menjadi saluran berkat.

  • Kemerdekaan tanpa Kasih, Gereja Bisa Hancur (Ayat 15)
    15 Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan Jika gereja tidak hidup dalam kasih, maka jemaat bisa saling menjatuhkan.

Yesus membebaskan kita bukan supaya kita melukai, tetapi saling membangun. Orang yang sungguh mengalami kasih Kristus, akan menjadi pembawa damai, bukan pembuat celaka.

Kemerdekaan tanpa kasih akan menghancurkan gereja karena:

  • Kebebasan berubah menjadi egoisme
  • Jemaat saling melukai, bukan saling melayani
  • Tubuh Kristus menjadi terpecah, bukan terbangun

Kemerdekaan dalam Kristus hanya bermakna jika dijalankan dalam kasih. Karena kasih adalah jiwa dari semua kebebasan Kristen — kasih yang menuntun, melindungi, dan mempersatukan.

Kesimpulan
Yesus sang Pembebas, memberikan kita kemerdekaan yang sejati dengan kita tidak lagi diperbudak, dibelenggu, dan dikuasai oleh dosa, diberi kebebasan dengan batas kebenaran dan kesempatan melayani dengan kasih.

Arsip Catatan Khotbah