Menjaga hati – oleh Pdm. Simon Sitinjak (Ibadah Raya 3 – Minggu, 26 Maret 2023)

“ Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan , karena  dari situlah terpancar kehidupan .” (Amsal 4:23).

Pendahuluan 
Penulis Amsal menulis bahwa hati adalah sumber kehidupan. Apapun yang ada dalam hati kita akan terlihat jelas dari cara, gaya dan sikap hidup kita. Kita bisa mengetahui suasana hati seseorang dari apa yang keluar dari mulutnya. Bahkan dari raut mukanya pun bisa menyiratkan suasana hatinya. Jadi menjaga hati adalah salah satu prioritas utama orang percaya. Seluruh perspektif, dan respons kita terhadap apapun yang terjadi di sekitar kita berasal dari sifat dan keadaan hati kita. Jika hati kita dipenuhi hal yang baik, maka respon dan perspektif kita terhadap segala hal akan cenderung positif.  Jika hati kita terkontaminasi hal yang buruk, segala hal akan terlihat negatif. Jika hati kita bersih, maka bersih pula pikiran kita sehingga bersih pula kata-kata kita. Jika kata-kata kita bersih, maka bersih pula perbuatan kita.

Jadi Inti segala hal dalam hidup kita bersumber dari hati kita. Jika hati kita kuat, sehat, dan hati kita baik-baik saja, maka kita akan bisa hidup dengan baik. Kita akan mampu mencintai, siap mengampuni, dan suka memberi. Tetapi jika tidak, maka kita akan mudah kesal, senang menggerutu dan bersungut-sungut dan cepat marah.

Hati yang tidak terjaga bisa menjadi tempat subur bagi tumbuhnya akar-akar pahit yang bukan saja menyusahkan kita tetapi juga bisa mencemarkan banyak orang. Sangat penting bagi kita untuk terus menjaga hati kita dengan sungguh-sungguh, karena dari sanalah terpancar seluruh kehidupan kita.

Setidaknya ada tiga alasan mengapa kita perlu menjaga hati kita:
1. Karena hati sangat berharga. 
Hati adalah inti dari siapa kita. Hati  adalah diri-sejati kita— inti keberadaan kita. Di sinilah semua impian kita, keinginan kita, dan hasrat kita hidup. Hati adalah bagian dari diri kita yang terhubung dengan Tuhan dan orang lain. Sama seperti tubuh fisik kita, jika hati kita—hati rohani kita—mati, kepemimpinan kita mati. Inilah mengapa Salomo berkata, “jagalah” artinya hati benar-benar berharga dan penting untuk kita lebih perhatikan untuk  jadikan itu prioritas utama kita.

2. Karena dari hati ada sumber dari semua yang kamu lakukan. 
Raja Salomo mengatakan hati kita itu adalah “mata air kehidupan, terpancar kehidupan.” Dengan kata lain, itu adalah sumber dari segala sesuatu dalam hidup kita. Hati kita meluap ke dalam pikiran, perkataan, dan tindakan. . Apa yang akan saudara pancarkan? Tergantung bagaimana cara saudara menjaga hati saudara. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjaganya karena hati sasaran serangan.

Ketika Salomo mengatakan untuk menjaga hati kita, ini menyiratkan bahwa kita tinggal di zona pertempuran, di mana dalam peperangan yang akan mendatangkan korban jiwa.  Ada banyak korban ditemukan akhir-akhir ini dimana orang-orang kalah dan menyerah saat menghadapi situasi yang sulit, keadaan yang berat dan itulah kenyataan perang yang kita hadapi. Serangan-serangan ini seringkali datang dalam bentuk keadaan yang mengarah pada kekecewaan, keputusasaan, atau bahkan kepahitan. Dalam situasi ini, kita dapat saja kalah dan tergoda untuk berhenti meninggalkan lapangan peperangan dan menyerah.

Ada beberapa contoh tokoh di dalam Alkitab yang mengalami dampak negatif ketika tidak dapat menjaga hatinya;
1). Hawa tertarik hatinya dan memakan buah pohon yang telah dilarang Tuhan karena hatinya tertarik pada buah pohon itu.
Kejadian 3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.

2). Kain panas hati sehingga membunuh adiknya, Habel.
Kejadian 4:6 Firman TUHAN kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?

3). Saul menjadi panas hati terhadap Daud, sehingga dia berusaha untuk membunuhnya.
1 Samuel 18:7-8

4). Haman panas hati ketika Mordhekai tidak memberi rasa hormat kepadanya.
Ester 3:5 Ketika Haman melihat, bahwa Mordekhai tidak berlutut dan sujud kepadanya, maka sangat panaslah hati Haman,

Tuhan tidak berkenan kepada mereka yang memiliki hati yang panas, hati yang iri dan hati menyimpan dendam (hati yang tidak lurus). Orang yang hatinya tidak lurus akan kehilangan berkat dan kesempatan dari Tuhan, sebaliknya orang yang hatinya lurus pasti dikasihi Tuhan. 

Tuhan memberikan kasih karunia-Nya kepada orang-orang yang berhati lurus sebab Saul  ditolak Tuhan dan Daud dipilih karena Tuhan mendapati Daud memiliki hati yang lurus,

Yesaya 26:7“Jejak orang benar lurus, Engkau yang merintis jalan lurus baginya”.

Bagaimana caranya untuk menjaga hati agar tetap kondusif dan memancarkan kehidupan yang positif bagi hidup kita?
1. Membawa hati kita kepada Tuhan melalui doa karena Tuhanlah yang menguji hati.
Mazmur 17:3  Bila Engkau menguji hatiku,memeriksanya pada waktu malam, dan menyelidikiaku, maka Engkau tidak akan menemui sesuatu kejahatan;mulutku tidak terlanjur.

2. Penuhi hati dengan Firman Tuhan dan Roh kudus
Belajar kepada Firman Tuhan sebab Firman Tuhan adalah sarana yang paling efektif dan yang dapat mendeteksi hati manusia. Karena itu bacalah Firman Tuhan setiap hari.

Mazmur 119:11 Ajaran-Mu kusimpan dalam hatiku, supaya aku jangan berdosa terhadap-Mu
Mazmur 119:12 Terpujilah Engkau, ya TUHAN; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.
Mazmur 119:13 Dengan bibirku aku menceritakan segala hukum yang Kauucapkan.
Mazmur 119:14 Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta.
Mazmur 119:15 Aku hendak merenungkan titah-titah-Mu dan mengamat-amati jalan-jalan-Mu.
Mazmur 119:16 Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan.

Yohanes 14:27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.

3. Mau dan siap sedia dibentuk serta dipulihkan oleh Tuhan. 
Sebab Tuhan adalah ali dalam memulihkan hati dan menjadikannya menjadi sesuatu yang indah dan berharga di mata-Nya.

1 Yohanes 3:19-23
Rasul Yohanes sampaikan ini kepada jemaat karena pada saat itu mereka mengalami apa yang dikatakan “tuduhan hati yang menyebabkan hidup menjadi tidak tenang” (ayat19-20). Jemaat waktu itu bergumul dengan orang-orang yang mereka benci karena orang-orang itu ‘jahat’ dan akhirnya membuat mereka tertunduk lesu karena sadar bahwa mereka ‘tidak bisa’ melakukan apa yang Tuhan perintahkan: “saling mencintai” (lihat ayat 18).

Ketidakmampuan untuk bisa mengasihi itulah yang membuat jemaat di sana ‘menuduh hati mereka sendiri’ bahwa mereka ‘tidak pantas dan tidak layak’ menjadi pengikut Tuhan.Yang menarik adalah bagaimana cara Tuhan melalui Yohanes menunjukkan cara agar hati yang rusak itu bisa dipulihkan.

Bebaskan hati kita dari segala tuduhan atau dosa
ay. 20 Allah lebih besar dari pada (apa yang ada di dalam) hati kita (yang mungkin memberatkan hidup kita) serta mengetahui segala sesuatu .’ Allah tahu bahwa hal itu sulit dilakukan: ‘tetap mencintai orang yang telah berbuat jahat’ dan Dia tahu betul adakalanya kita ‘belum mampu’ melakukan hal itu. Tuhan tahu bahwa kita ini belum cukup mampu (bukannya tidak mampu) melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya.

Datang penuh percaya dan minta kepada-Nya untuk hati kita dimampukan melakukan kehendak-Nya.
Ay. 21Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah, 
Ay. 22 dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya. 

Pastikan hati kita berada di hadapan Tuhan agar pikiran, perbuatan dan kata-kata kita benar-benar ada di hadapan-Nya. Ketidakberesan dalam hati akan menghalangi kegembiraan dan damai sejahtera pada diri kita dan kita akan kehilangan berkat-berkat dari Tuhan.
Raja Salomo mengatakan yang terbaik: “Di atas segalanya, jagalah hatimu, karena itu adalah mata air kehidupan” (Amsal 4:23).

Arsip Catatan Khotbah