Firman Tuhan sore hari ini adalah khotbah seri tentang “CAWAN PAHIT KEHIDUPAN.” Kita semua menyadari bahwa hidup yang kita jalani tidak selalu diwarnai dengan hal-hal yang manis/menyenangkan, tetapi kadang-kadang juga hal-hal yang pahit. Hidup ini tidak selalu diisi dengan tawa ceria, tapi juga derita dan air mata. Hidup juga tidak selalu dipenuhi dengan kebahagiaan tetapi juga kesedihan. Tidak semua pengalaman hidup ini menyenangkan, kadang juga juga kesusahan. Menerima hal-hal yang baik dan menyenangkan tentu tidak sulit tetapi menerima hal-hal buruk dan menyakitkan kadang-kadang butuh perjuangan. Itulah yang disebut: CAWAN PAHIT KEHIDUPAN.
Beberapa cawan pahit kehidupan yang telah kita pelajari adalah:
- Penderitaan
- Pengkhianatan
- Kegagalan.
Sekarang marilah kita belajar Cawan Pahit Kehidupan yang keempat yaitu:
“PENGHINAAN”
Matius 27 : 27 – 31
Sebelum disalibkan Tuhan Yesus mengalami penghinaan yang luar biasa. Dia diperlakukan semena-mena, para serdadu menjadikannya sebagai tontonan umum, Ia dipermalukan, direndahkan, diolok-olok, dihujat dan diludahi. Sungguh penghinaan tanpa batas yang dialami oleh Tuhan Yesus. Dia Tuhan pencipta manusia, tetapi sekarang sang pencipta dihina oleh ciptaanNya sendiri, DIA Tuhan yang mulia sekarang dihina dan direndahkan. Tuhan Yesus dengan rela meminum cawan pahit kehidupan yaitu PENGHINAAN.
Seorang psikolog yang bernama Abraham Maslow dalam sebuah teorinya yang disebut; Piramida Maslow, ia menyampaikan bahwa salah satu kebutuhan manusia adalah DIHARGAI. Setelah seseorang mampu memenuhi kebutuhan dasarnya yaitu makan, minum, dan pakai, maka manusia akan berusaha memenuhi kebutuhan yang kedua yaitu rasa aman. Aman dari secara keuangan, aman dari kejahatan, sakit, kecelakaan, dll. Lalu naik kebutuhan yang ketiga yaitu Kebutuhan Sosial: membangun hubungan sosial, relasi, dicintai, dll.
Dan yang keempat adalah kebutuhan untuk dihargai. Semua orang butuh dihargai, orang senang diperlakukan dengan baik, dihormati dan diperlakukan dengan cara-cara yang manusiawi dan terhormat. Tetapi kenyataannya tidak selalu demikian. Kita menginginkan penghormatan tetapi yang kita terima adalah penghinaan. Kita direndahkan, dikecilkan, dipandang sebelah mata, diabaikan dan tidak diperhitungkan. Kita diremehkan dan tidak dianggap apa-apa.
Ketahuilah, saat kita sukses semua orang akan menyanjung. Saat kita berhasil semua orang akan memuji. Saat kita berada puncak kehidupan, banyak orang berkata turut berperan dalam kesuksesanmu. Tetapi saat kita jatuh semua orang akan menjauh, saat kita gagal, percayalah: pujian berubah jadi hinaan, sanjungan berubah jadi cacian.
Kenyataan-kenyataan ini tidak dapat kita hindari, lebih-lebih kita sebagai anak-anak Tuhan. Penghinaan adalah bagian dari perjalanan iman menuju kedewasaan.
Dalam Matius 10:22 Tuhan Yesus berkata:
Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.
2Petrus 3:3
Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya.
Bukankah hal ini sedang terjadi? Hari-hari ini orang kristen dihina di mana-mana. Tuhannya dihina, kitabnya dihina, ajarannya dihina, simbol-simbol agama dihina. Bahkan dalam hidup sehari-hari kita juga tidak bebas dari hinaan.
Hinaan bisa aja kita alami, tetapi bagaimana caranya kita menghadapi hinaan. Mari kita belajar dari Tuhan Yesus Kristus saat menghadapi hinaan.
- Hadapi hinaan dengan diam
Matius 27:12 – 14
Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawab apapun. Maka kata Pilatus kepada-Nya: “Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?” Tetapi Ia tidak menjawab suatu katapun, sehingga wali negeri itu sangat heran.
Menghadapi berbagai macam tuduhan dan hinaan, Tuhan Yesus memilih diam. Tuhan Yesus diam bukan karena tidak mampu melawan, bukan pula karena tidak punya jawaban, DIA diam karena DIAM adalah cara terbaik membungkam lawan.
Mengapa harus diam?
– Orang bijak, mendiamkan hinaan
Amsal 12:16
“Bodohlah yang menyatakan sakit hatinya seketika itu juga, tetapi bijak yang mengabaikan cemooh”
Membalas hinaan dengan hinaan hanya akan menimbulkan peperangan. Itu seperti menyiram api dengan bensin. Nyalanya akan makin berkobar dan membakar semua orang. Jadilah bijak, abaikan hinaan maka hinaan akan padam.
Hinaan itu adalah sampah kehidupan, menerima hinaan itu seperti menyimpan sampah dalam diri kita. Maka jadilah bijak, biarkan orang menghina kita, tak perlu mendengarkannya. Abaikan saja cemoohan dan hinaan maka semua akan kembali kepada orang tersebut.
– Harga diri kita tidak ditentukan oleh apa kata orang, tetapi oleh apa kata Tuhan.
Sadarilah, hinaan seseorang tidak mengubah nilai hidup kita. Semua yang orang katakan bukanlah kebenaran, yang merupkan kebenaran adalah apa yang dikatakan oleh firman Tuhan.
Yesaya 43:4
Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.
Abaikan semua hinaan, sebab hinaan tidak membuat harga diri kita jadi berkurang. Apapun yang orang katakan tentang kita tidak akan merubah cinta dan kasih Tuhan kepada diri kita. Kalau ada orang yang menghina, itu karena engkau mulia, kalau ada orang yang merendahkan karena engkau penuh kehormatan, kalau orang ingin menjatuhkan sebab engkau berada di tempat yang tinggi.
Contoh: Daud dan Goliat.
Daud tidak menghiraukan hinaan Goliat. Daud percaya pada Tuhan yang berkuasa menolong dan memberi kemenangan kepadanya.
– Pembalasan adalah haknya TUHAN
Roma 12:19
Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.
Jika ada orang yang menghina tak perlu membalasnya. Cukup diam saja, serahkan semua kepada TUHAN yang Maha Kuasa. Jangan buat status untuk melawan hinaan. Jangan gunakan jarimu untuk menyerang cacian. Percayalah, apa yang ditabur seseorang, itu juga akan dituainya. Menabur hinaan akan menuai hinaan, menabur cacian menuai kehancuran.
Yesaya 29:20
“Sebab orang yang gagah sombong akan berakhir dan orang pencemooh akan habis, dan semua orang yang berniat jahat akan dilenyapkan,”
Merendahkan orang lain dengan hinaan takkan membuat seeorang terlihat lebih tinggi, justru caci maki yang dilontarkan itu menistakan diri sendiri. Ia seperti seorang yang menggali kubur bagi dirinya sendiri.
- Jadikan caci maki sebagai landasan untuk meraih prestasi.
Tidak ada orang yang sempurna, dibalik kehebatan seseorang selalu ada kekurangan. Jika ada orang yang menghina karena kekurangan yang kita miliki, tak perlu sakit hati. Kumpulkan semua hinaan, menjadi batu pijakan untuk meraih keberhasilan. Jadikan caci maki sebagai landasan untuk meraih prestasi.
Ingatlah kepada firman TUHAN:
Lukas 14:11
“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”
Orang sombong akan direndahkan, tetapi mereka yang direndahkan akan ditinggikan oleh Tuhan. Jadi jangan kecewa kalau dihina, jangan marah kalau dianggap rendah, percayalah di tangan Tuhan terletak kuasa untuk meninggikan dan merendahkan.
Ingatlah sebuah anak panah: Agar anak panah bisa melesat jauh ke depan, ia harus bersedia ditarik mundur ke belakang. Jika kita sedang direndahkan itu artinya Tuhan menarik kita kebelakang agar dapat melesat jauh ke depan, lebih tinggi dan lebih sukses. Sebab itu jadikan hinaan sebagai landasan prestasi, bungkam hinaan dengan keberhasilan.
- Ampuni dan Berkati
1Petrus 3:9
dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.
Inilah cara terbaik mengatasi hinaan dan cacian yaitu melepaskan pengampunan. Ingatlah, kita dipanggil untuk menjadi berkat bagi semua orang, termasuk mereka yang menghina, merendahkan, bahkan mereka yang mencaci maki kita. Sebab itu jangan balas kejahatan dengan kejahatan, cacian dengan cacian tetapi berilah pengampunan.
Rasanya memang berat, sulit untuk mengampuni saat dicaci maki, tetapi ketahuilah mengampuni adalah cara tertinggi menghormati diri sendiri. Marah saat dihina mungkin orang bilang itu lumrah, tetapi itulah cara termudah untuk membuat nilai diri semakin rendah. Inilah saatnya bangkit dari hinaan dengan cara melepaskan pengampunan. Dengan mengampuni kita mampu merubah hinaan jadi pujian, cacian jadi tepuk tangan dan kesuksesan. Jangan biarkan impian masa depan terkubur karena hinaan dan cacian, tetapi kuburlah hinaan dan cacian dengan pengampunan. Tuhan memberkati. KJP!