PUJIAN PENYEMBAHAN (2) – oleh Pdt. K. Joseph Priyono (Ibadah Raya 1 – Minggu, 29 September 2024)

Pendahuluan
Sepanjang bulan ini kita telah belajar tentang pujian dan penyembahan. Saya berharap ini tidak hanya menambah pengetahuan tetapi menjadi pengalaman. Karena sejatinya pujian penyembahan tidak cukup hanya dipelajari, pujian penyembahan harus dialami. Pujian penyembahan tidak hanya dimengerti, pujian penyembahan harus dinikmati.

Banyak orang kristen hanya mengerti arti pujian penyembahan, tetapi sayang mereka tidak mengalami kuasa pujian penyembahan. Mereka menyanyi tetapi tidak memuji, mereka beribadah tetapi tidak menyembah. Sekali lagi, banyak orang bisa nyanyi, tetapi tidak semua nyanyian adalan pujian penyembahan. Karena pujian penyembahan yang sejati itu lahir dari dalam hati, bukan sekedar ritual agamawi. Tuhan pernah menegur bangsa Israel karena mereka memuliakan Tuhan hanya dengan mulut saja tetapi tidak dengan hatinya.

Oleh sebab itu mari kita kembali belajar tentang pujian penyembahan dari:
Kisah Para Rasul 16:25-26 (TB) 
Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.

Dalam perjalanan misinya ke kota Filipi, rasul Paulus bertemu dengan seorang hamba perempuan yang mempunyai roh tenung; dengan tenungan-tenungannya tuan-tuannya memperoleh penghasilan besar. Hamba ini mengikuti Paulus dari belakang sambil berseru, katanya: “Orang-orang ini adalah hamba Allah Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan kepadamu jalan kepada keselamatan.”

Hal itu dilakukannya beberapa hari lamanya. Tetapi ketika Paulus tidak tahan lagi akan gangguan itu, ia berpaling dan berkata kepada roh itu: “Demi nama Yesus Kristus aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini.” Seketika itu juga keluarlah roh itu.

Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat, bahwa harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa kota. Dengan berbagai tuduhan palsu, akhirnya Paulus dan Silas dilemparkan ke dalam penjara. Atas perintah kepala penjara, Paulus dan Silas dimasukkan ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat.

Dalam keadaan seperti inilah Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah. Dan hasilnya, ketika mereka berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah maka terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.

Dari kisah ini apa yang dapat kita pelajari kebenaran tentang pujian penyembahan?
1. Pujian penyembahan lahir dari sebuah keputusan.
Dalam keadaan yang menyenangkan, ketika kita diberkati, usaha berhasil, keluarga semua sehat, keuntungan berlipat, mudah bagi kita untuk memuji Tuhan. Tetapi bagaimana jika yang terjadi sebaliknya? Kita mengalami kegagalan, hutang menumpuk, usaha sepi, menderita sakit, penuh masalah apakah kita masih bisa memuji Tuhan? Ketahuilah penyembahan tidak lahir karena situasi yang terjadi, tetapi keputusan dalam hati. Apapun keadaan yang kita alami kita dapat memilih untuk memuji menyembah Tuhan bukan memilih kecewa atau meninggalkan Tuhan. Paulus dan Silas memilih menyembah Tuhan meski kaki dan tangan mereka dibelunggu.

Demikian juga dengan Ayub dalam kehilangan dan duka yang mendalam Ayub memilih untuk tetap memuji dan menyembah Tuhan.
Ayub 1:20,21 
Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

2. Pujian penyembahan adalah pernyataan iman
Ayat 25  
Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.

Pujian penyembahan tidak sekedar lagu yang kita nyanyikan, pujian penyembahan adalah sebuah pernyataan iman. Melalui pujian penyembahan kita ekspresikan iman kita kepada dunia seperti yang dilakukan oleh Paulus dan Silas. Sementara orang-orang terhukum yang lain dipenuhi kesedihan dan dukacita, Paulus dan Silas justru menyatakan imannya dengan pujian penyembahan kepada Tuhan.

Yakobus 2:17 
Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.
Iman tanpa perbuatan adalah mati. Salah satu ekspresi iman adalah pujian penyembahan.  Dengan memuji iman kita ditumbuhkan kembali.

Apa yang terjadi saat iman dinyatakan melalui pujian penyembahan?
Pujian penyembahan mungkin tidak mengubah situasi yang terjadi, pujian penyembahan mengubah sikap hati. Saat kita menaikan pujian penyembahan dengan iman, maka keberanian akan dibangkitkan, harapan kita tumbuh, kekuatan kita bertambah dan keyakinan kita makin teguh. Sebab itu jika kita sedang takut mari kita menyembahlah, saat lemah mulailah menyembah. Apapun keadaan yang terjadi tetaplah menyembah Tuhan.

Mari kita melihat contoh kehidupan seorang penyembah antara Daud dan Saul saat berhadapan dengan Goliat. Ketahuilah keduanya berada pada situasi yang sama, menghadapi musuh yang sama, tetapi memiliki sikap yang berbeda. Saul takut menghadapi Goliat, tetapi Daud maju dengan berani. Apa yang membuat mereka berbeda? Daud adalah seorang penyembah sementara Saul hanya seorang yang percaya Allah. Daud mengenal siapa Allah yang dia sembah, sementara Saul hanya tahu tentang Allah. Dengan penuh keberanian Daud maju mengalahkan Goliat dalam nama Tuhan.

3. Pujian penyembahan menarik kuasa Tuhan
Ayat 26 
Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.

Ada kuasa Allah yang bekerja dalam pujian penyembahan. Saat Paulus dan Silas menyanyikan puji-pujian kepada Tuhan, maka terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua. Pujian penyembahan menggerakan kuasa Allah bekerja dengan luar biasa, melepaskan segala belenggu dan membuka semua pintu yang tertutup.

Pujian itu berbicara tentang Tuhan, sedangkan penyembahan itu berbicara dengan Tuhan. Saat kita berbicara dengan Tuhan disanalah kuasa Tuhan dinyatakan. Sebab itu apapun yang sedang kita hadapi pujilah Tuhan, percayalah dalam pujian penyembahan ada kuasa Tuhan yang bekerja dengan luar biasa.

4. Pujian penyembahan merubah masalah menjadi anugerah
Ayat 33 
Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis.

Di tengah-tengah masalah yang dihadapi, Paulus dan Silas memutuskan untuk menyembah Allah. Dan apa yang terjadi saat mereka menyembah? Bukan saja belenggu mereka diputuskan dan mereka dilepaskan, saat mereka menyembah Allah merubah masalah menjadi anugerah. Kepala penjara dan keluarganya percaya kepada Tuhan.

Sadarilah, saat kita menyembah ada anugerah Allah yang dinyatakan. Sebab itu tetaplah menyembah meski menghadapi banyak masalah, percayalah selalu ada anugerah saat kita menyembah.

Penutup
Jadilah seorang penyembah, sebab Tuhan mencari penyembah yang benar yang menyembah dalam roh dan kebenaran. Percayalah dalam penyembahan iman kita dibangkitkan, kuasa Tuhan dinyatakan dan anugerah Allah dilepaskan. Tuhan memberkati. KJP!

Arsip Catatan Khotbah