Tuhan Membuat Kita Lebih Bijaksana – oleh Pdm. Simon Sitinjak (Ibadah Raya 1,3 – Minggu, 18 Mei 2025)

Mazmur 32:8 Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kau tempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.

Pendahuluan
Mazmur 32 adalah mazmur pengajaran yang ditulis oleh Daud, dan termasuk dalam kelompok mazmur pertobatan. Mazmur ini sangat erat kaitannya dengan pengalaman pribadi Daud saat jatuh dalam dosa, terutama peristiwa ketika ia berzinah dengan Batsyeba dan membunuh Uria (2 Samuel 11–12).

Daud menulis mazmur ini setelah ia mengalami pemulihan dari dosanya, dan setelah pengakuan dosa yang tulus di hadapan Tuhan.

Rugi menyembunyikan dosa
Sebelumnya, ia sempat menyembunyikan dosanya, dan akibatnya ia mengalami tekanan batin yang luar biasa Mazmur 32:3–4 Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; Ayat.4 sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Sela.

Berbahagia diampuni
Ay.1 Dari Daud. Nyanyian pengajaran. Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya yang dosanya ditutupi! Ay.2 Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!

Setelah ditegur melalui nabi Natan (2 Samuel 12), Daud bertobat dan mengalami pengampunan Allah.

Mazmur ini adalah bentuk syukur sekaligus ajaran bagi orang lain

  • Agar jangan menyembunyikan dosa, tetapi datang kepada Tuhan dan mengalami kasih karunia-Nya.
  • Agar kita menjadi orang yang mau dituntun oleh Tuhan
  • Hidup bijaksana di tengah dunia yang penuh godaan akan dosa

Kita akan melihat suatu hal sangat penting bahwa dari kegagalan dan kejatuhan Raja Daud menyadarkan kita betapa pentingnya menjalani kehidupan dengan penuh bijaksana.

Efesus 5:15-17 – “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, jangan seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif…”

  • Hidup bijaksana membuat kita berhati-hati dalam bertindak dan berkata-kata.
  • Orang bijaksana belajar dari kesalahan, baik dari dirinya maupun dari orang lain.

Berikut hal yang menjadikan kita lebih bijaksana dari Mazmur 32:8
Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamujalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.

1. Aku hendak mengajar artinya Tuhan adalah guru.
Allah sendiri sebagai Pengajar.
Kalimat “Aku hendak mengajar” adalah pernyataan langsung dari Allah. Tuhan bukan hanya memberi hukum, tapi juga mengajar umat-Nya secara pribadi. Ini menunjukkan relasi yang intim dan penuh perhatian.

Kata “mengajar” di sini berasal dari bahasa Ibrani yaitu “sakal”, yang berarti memberi pengertian, mendidik, atau menjadikan bijaksana. Ini bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi membentuk hidup dan karakter umat.

Mengajar untuk memandu hidup
Allah tidak membiarkan kita berjalan sendiri. Dalam konteks Mazmur 32, Daud baru saja mengalami pengampunan dosa, dan Tuhan berjanji untuk membimbingnya agar tidak jatuh ke dalam kesalahan yang sama lagi. Tuhan mengajar bukan untuk menghukum masa lalu, tapi memandu hidup kita untuk kita mempersiapkan masa depan.

Allah Mengajar Melalui Banyak Cara
Tuhan mengajar kita melalui:

  • Firman-Nya 2 Timotius 3:16-17
    Ayat 16  Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
    Ayat 17 Kesimpulannya, melalui Firman Allah, setiap orang yang sudah menjadi milik-Nya dimampukan dan diperlengkapi untuk menjalankan segala tugas yang baik yang diberikan Allah kepada kita.
  • Roh Kudus
    Yohanes 14:26  tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
  • Pengalaman hidup
    Ibrani 12:11 Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.
  • Orang lain/guru rohani
    Efesus 4:11 Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, Ay.12  untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,

Ketika Tuhan berkata, “Aku hendak mengajar”, itu berarti Ia berkomitmen menyertai proses pertumbuhan kita setiap hari.

Mengapa Kita Harus Diajar?
Karena kita sering:
– Tidak tahu jalan yang benar.
– Mengandalkan pengertian sendiri.
– Mudah disesatkan oleh dunia.

Tuhan tahu bahwa tanpa bimbingan-Nya, kita bisa gagal lagi, maka Ia menawarkan diri-Nya sebagai Guru Hidup. Ketika Tuhan berkata, “Aku hendak mengajar”, itu adalah janji kasih dan bimbingan-Nya.
Dia bukan hanya Juruselamat yang mengampuni dosa kita, tapi juga Guru Agung yang memimpin kita setiap langkah.
Biarlah kita siap diajar agar pengajaran Tuhan efektif dalam hidup kita, kita harus memiliki hati yang terbuka, rendah hati menerima teguran, setia melakukan yang diajarkan.

2. Aku hendak Menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh artinya Tuhan adalah Gembala yang baik (Sejati)
Kalimat “menunjukkan jalan yang harus kautempuh” artinya Tuhan memberikan petunjuk atau arahan tentang cara hidup atau langkah-langkah yang benar yang sebaiknya kita ambil dalam hidup ini supaya kita tidak salah dan berdosa didalam bertindak.

Lebih detailnya: Menunjukan, jalan, harus Kau tempuh.

  • Menunjukkan berarti Tuhan aktif dan sadar membimbing kita agar tidak tersesat atau salah langkah.
  • Jalan di sini melambangkan cara, arah, atau pilihan hidup yang harus kita jalani.
  • Harus kautempuh menunjukkan bahwa jalan itu bukan sekadar pilihan bebas, tapi jalan yang terbaik, yang penuh berkat dan kehendak Tuhan.

Jadi, Tuhan ingin kita mengikuti jalan yang benar dan baik sesuai dengan kehendak-Nya, supaya hidup kita penuh damai, berbuah baik, dan terlindungi dari bahaya atau kesalahan.

Dari tiga kalimat menunjukkan, jalan, yang harus ditempuh jika diibaratkan hubungan kita dengan Tuhan seperti gembala dan domba, Tuhan seperti gembala yang menunjukkan jalan aman dan subur agar domba-dombanya tidak tersesat ke tempat berbahaya. Gembala menyertai dan selalu ada ketika kita ada dalam situasi lembah atau perjalanan yang penuh bahaya dan tantangan.

Yohanes 10:14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku Yohanes 10:27 Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,

Mazmur 23 Mazmur Daud. Tuhan adalah gembalaku, takkan kekuranganaku.
Ay.2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;
Ay.3  Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Ay.4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. 

3. Aku hendak memberikan nasihat artinya Dia adalah Konselor yang sejati
Tuhan tidak hanya mengajar, menunjukkan jalan yang harus ditempuh tetapi juga memberi nasihat dan nasihat Tuhan membawa hikmat, perlindungan, dan berkat. Orang yang mendengar dan menaati nasihat Tuhan akan hidup dalam damai dan kemenangan.

Dalam kehidupan ini, kita sering menghadapi dilema dan tantangan yang membuat kita bingung menentukan langkah yang benar. Banyak orang mencari nasihat dari manusia—baik dari teman, keluarga, atau konselor profesional. Namun, sebagai orang percaya, kita memiliki Konselor Sejati, yaitu Tuhan sendiri, yang siap membimbing dan menuntun kita dalam setiap aspek kehidupan.

Tuhan tidak hanya memberikan petunjuk, tetapi secara aktif membimbing kita. Sama seperti seorang konselor yang memahami situasi seseorang, Tuhan mengetahui jalan terbaik bagi hidup kita. Dalam segala keputusan—pekerjaan, keluarga, pelayanan—kita perlu datang kepada Tuhan sebagai konselor utama kita.

Nasihat Tuhan selalu membawa kehidupan, hikmat, dan kebenaran. Banyak orang mencari solusi sendiri tanpa melibatkan Tuhan, tetapi justru berakhir dalam kesulitan. Firman Tuhan adalah sumber nasihat yang sempurna.

Mazmur 119:105 – “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

Beberapa ayat Yesus  adalah Konselor sejati
Yesaya 9:5 (TB) “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”

Yesus disebut sebagai “Penasihat Ajaib” yang berarti Dia adalah sumber hikmat dan nasihat yang sempurna.

Yohanes 14:26 (TB) “Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”

Yesus mengutus Roh Kudus sebagai Penghibur dan Konselor, yang menuntun dan mengajar kita dalam kebenaran.

Matius 11:28-29 (TB) “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”

Yesus mengundang kita untuk datang kepada-Nya sebagai Konselor yang penuh kasih dan memberikan ketenangan jiwa.

Ibrani 4:15-16 “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”

Yesus adalah Imam Besar yang memahami penderitaan kita, sehingga kita bisa datang kepada-Nya dengan penuh keyakinan untuk menerima pertolongan.

Berikut level kepedulian
Simpati adalah perasaan ikut merasakan atau peduli terhadap kesedihan, kesulitan, atau keadaan seseorang, tapi dari jarak tertentu.
Contoh: Saat temanmu sedih karena kehilangan sesuatu, kamu merasa sedih juga dan mengucapkan kata-kata penghiburan.

Empati adalah kemampuan untuk benar-benar merasakan dan memahami perasaan orang lain, seolah-olah kamu berada di posisi mereka.
Contoh: Ketika temanmu sedih, kamu tidak hanya merasa sedih, tapi juga bisa memahami apa yang dia rasakan secara mendalam, seolah kamu ikut merasakan kesedihan itu.

Compassion (Belas Kasihan atau kasih sayang yang aktif). Ini bukan hanya merasakan atau memahami perasaan orang lain (empati), tapi juga mendorong tindakan nyata untuk membantu dan meringankan penderitaan mereka. Jadi compassion itu seperti empati yang disertai dengan keinginan kuat untuk bertindak.
Contoh: Kamu tidak hanya merasakan kesedihan temanmu, tapi juga aktif mencari cara untuk menolong dia, misalnya menemani, membantu, atau memberi solusi.

Yohanes 16:13“Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.”
Yesus, melalui Roh Kudus, menuntun kita kepada seluruh kebenaran, seperti seorang konselor yang membimbing kliennya menuju kehidupan yang lebih baik.

4. Mata-Ku tertuju kepadamu  artinya Tuhan pengintai kekal
“Mata-Ku tertuju kepadamu” menunjukkan bahwa Tuhan selalu memperhatikan dan menjaga umat-Nya. Ini menggambarkan kasih Tuhan yang personal, seperti seorang ayah yang menjaga anaknya. Tidak ada satu pun dari kita yang luput dari perhatian Tuhan.
Ini berarti Tuhan tidak pernah lalai atau acuh terhadap kehidupan kita, tetapi dengan penuh kasih dan perhatian, Dia selalu memelihara dan menuntun kita.

Makna “mata-Ku tertuju kepadamu”
1. Perhatian penuh dari Tuhan
Artinya Tuhan tidak pernah lengah atau acuh terhadap hidup kita. Dia memperhatikan setiap detail — dari hal besar sampai hal kecil — dengan kasih dan kesabaran. Perhatian ini bukan sambil lalu, tapi sungguh-sungguh dan penuh kasih, seperti seorang ayah atau ibu yang menjaga anaknya dengan sepenuh hati.

2. Kepedulian yang Pribadi dan Khusus
Tuhan tidak melihat kita sebagai bagian dari kerumunan saja, tapi sebagai pribadi yang unik. Dia mengenal setiap nama, kebutuhan, dan isi hati kita. Kepedulian-Nya tidak bersifat umum, tapi sangat pribadi — artinya Tuhan peduli secara khusus kepada kamu, bukan hanya kepada “semua orang.”

3. Pengawasan dan Perlindungan
Tuhan selalu mengawasi jalan hidup kita, tidak hanya untuk melihat, tetapi juga melindungi dari bahaya, godaan, atau kesalahan. Seperti penjaga yang setia, Tuhan siap bertindak demi keselamatan dan kebaikan kita.

4. Kasih dan Kesetiaan Tuhan
Perhatian Tuhan yang terus-menerus ini juga mengekspresikan kasih-Nya yang tidak pernah lepas atau mengendur. Tuhan setia menemani dan menjaga kita setiap saat. Semua perhatian, kepedulian, dan perlindungan itu lahir dari kasih yang tidak pernah berubah dan kesetiaan Tuhan yang kekal. Sekalipun kita kadang tidak setia, Tuhan tetap setia dan tidak berhenti mengasihi.

Kesimpulan
Jadilah bijaksana melalui kesediaan kita menjadikan Dia guru, Dia gembala yang baik, Dia konselor ajaib dan Dia pengintai kekal.

Arsip Catatan Khotbah