MAZMUR 90:12 Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”
DEFINSI UCAPAN SYUKUR
Ucapan syukur adalah sikap hati yang mengakui dan memuji kebaikan serta menghormati Allah atas segala hal, baik dalam keadaan senang maupun sulit, dan diungkapkan melalui perkataan, doa, dan tindakan.
1 Tesalonika 5:18
Mengucapkan syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”
DEFENISI BIJAKSANA
Bijaksana (hikmat) adalah kemampuan untuk melihat dan bertindak menurut kehendak Allah, bukan hanya berdasarkan pengetahuan manusia, tetapi melalui ketaatan akan Tuhan, kebenaran, dan pemahaman rohani.
Amsal 9:10 Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.”
Hubungan antara ucapan dengan kebijaksanaan menurut Firman Tuhan sangat erat dan saling melengkapi. Alkitab mengajarkan bahwa orang yang mengucap syukur dengan tulus adalah orang yang memiliki hati yang bijaksana, karena ia menyadari dan mengakui kebaikan serta kesetiaan Allah dalam segala keadaan.
CONTOH : KAIN DAN HABEL
Alkitab mencatat peristiwa persembahan Kain dan Habel. Dalam Kejadian 4:1–7 disebutkan bahwa Tuhan mengindahkan persembahan Habel, tetapi tidak mengindahkan persembahan Kain.
JENIS PERSEMBAHAN HABEL
Habel mempersembahkan korban darah: “…Habel mempersembahkan korban dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya.”
Kejadian 4:4
Ini adalah korban hewan, yang nantinya menjadi dasar korban penghapus dosa menurut hukum Taurat.
Imamat 17:11
Korban ini menunjukkan penyadaran akan dosa dan kebutuhan akan penebusan.
IBRANI 11:4
Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.
CONTOH: ELIA DAN JANDA DI SARPAT
TAAT (TUNDUK)
Dalam Bahasa Ibrani (Perjanjian Lama):
• Kata “shama” (שָׁמַע): artinya mendengar dan menaati (Ulangan 6:4 – “Dengarlah, hai Israel…”). Artinya mendengar dalam pengertian aktif, mendengar dengan niat untuk melakukan.
Dalam Bahasa Yunani (Perjanjian Baru):
• Kata “hupakouō” (ὑπακούω): artinya patuh, tunduk setelah mendengar (Efesus 6:1 – “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu…”)
Kata tersebut berasal dari “hupo” (di bawah) dan “akouō” (mendengar) yang artinya mendengar dan tunduk.
JENIS PERSEMBAHAN KAIN
Kain mempersembahkan hasil tanah: “…Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu sebagai korban persembahan kepada TUHAN.”
Kejadian 4:3 Setelah beberapa waktu lamanya, maka KAIN mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada TUHAN sebagai korban persembahan.
Ini bisa menunjukkan sikap hati yang tidak sungguh-sungguh menghormati Tuhan.
Persembahan Habel diterima karena iman yaitu ketundukan kepada Allah dan kepercayaan akan kebutuhan penebusan.
Sementara itu, Kain tampaknya tidak mempersembahkan dengan iman atau ketulusan hati.
Kejadian 4:6–7, Tuhan menegur Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? … Jika engkau berbuat baik, bukankah engkau akan diterima? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu.”
Ini menunjukkan bahwa masalah utama bukan pada jenis persembahan semata, tetapi pada hati dan kelakuan Kain. Persembahan yang benar harus datang dari hidup yang benar di hadapan Tuhan.
Mazmur 51:17-19 – Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.
JENIS – JENIS UCAPAN SYUKUR
1. UCAPAN SYUKUR SEBAGAI PUJI – PUJIAN
Pujian syukur dalam bahasa Ibrani : “Todah” (תּוֹדָה). Artinya pengakuan atau pujian kepada Allah, sering kali sebagai respon atas anugerah atau pertolongan Tuhan.
Mazmur 100:4 – “Masuklah melalui pintu-pintu-Nya dengan ucapan syukur (todah ), ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian.”
Dalam Bahasa Yunani artinya rasa terima kasih. Kata ini juga menjadi akar kata dari “Ekaristi” (Perjamuan Kudus).
Contoh: 1 Tesalonika 5:18 – “Mengucap syukurlah ( eucharisteite ) dalam segala hal…”
2. UCAPAN SYUKUR DALAM DOA (PERMOHONAN)
SYUKUR DALAM DOA
Dalam Bahasa Ibrani : “Barak” (בָּרַךְ). Arti: memberkati atau memuji Tuhan, sering digunakan dalam konteks doa berkat atau doa syukur.
Tuhan menikmati syukur kita dan kita menikmati Tuhan.
Contoh:
Mazmur 103:1 – “Pujilah Tuhan (barak), hai jiwaku…”
Bahasa Yunani: “Proseuchē” (προσευχή) dan “Deēsis” (δέησις)
Filipi 4:6
“…nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (eucharistias).”
Efesus 3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,
MENGUCAP SYUKUR DAN BIJAKSANA
1. Ucapan syukur adalah ciri orang bijaksana
Orang yang bijaksana mengetahui bahwa hidup ini adalah anugerah dan bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan. Ia tidak bersungut- sungut, tapi justru memilih bersyukur.
EFESUS 5:15-20
“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamubodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita”
Ini menunjukkan bahwa hidup bijaksana termasuk didalamnya adalah gaya hidup penuh ucapan syukur (mengucap syukur bukan karena tetapi meskipun).
2. Ucapan syukur menuntun kepada pengertian rohani
Orang yang tidak bersyukur cenderung menjadi gelap pikiran dan menjauh dari kebenaran.
Roma 1:21
“Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap.”
Mengucap syukur bisa menjadi awal dari pencapaian rohani, tetapi orang bijaksana dan mengucap syukur sebagai tanda kerendahan hati dan pengakuan akan kebesaran Allah.
3. Ucapan syukur membentuk karakter bijaksana
Orang yang terbiasa bersyukur akan membentuk karakter yang rendah hati, tenang, dan tidak cepat mengeluh (sungut – sungut).
Kesimpulan :
– Ucapan syukur adalah buah dari hikmat dan sekaligus sarana untuk bertumbuh dalam hikmat.
– Orang yang bijaksana tahu untuk bersyukur dalam segala hal karena ia melihat segala sesuatu dari sudut pandang Allah, bukan manusia.
Bijaksana = tahu mengucap syukur
Mengucap syukur = tanda pengenalan akan allah yang benar
Mazmur 150: 1-6
(1) Haleluya!
Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya!
Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat!
(2) Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat!
(3) Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi!
(4) Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling!
(5) Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang!
(6) Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!