DIBEBASKAN UNTUK MEMBEBASKAN – oleh Pdt. K. Joseph Priyono (Ibadah Raya 1,3 – Minggu, 24 Agustus 2025)

Kemerdekaan yang sejati tidak hanya bebas dari perbudakan dosa, kemerdekaan yang sejati juga berarti bebas dari luka hati.
Judul firman Tuhan pagi ini adalah:

DIBEBASKAN UNTUK MEMBEBASKAN

Mari kita membuka:
Yohanes 4:39 
Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.”

Pendahuluan
Kemerdekaan yang sejati tidak hanya bebas dari perbudakan dosa, kemerdekaan yang sejati juga berarti bebas dari luka hati. Pertemuannya wanita Samaria dengan Yesus telah mengubah hidupnya. Wanita yang dahulu hidupnya hancur, penuh dengan luka, sekarang tumbuh menjadi seorang pembawa berita. Dulu ia pergi mencari air dengan sembunyi-sembunyi, kini ia hadir untuk menjadi saksi. Oleh karena perkataanya banyak orang Samaria menjadi percaya.

Setiap orang tumbuh dengan luka. Ada orang yang mewarisi luka dari orang tuanya. Ada juga yang menerima luka dari sesamanya. Beberapa luka tidak terlihat oleh mata, tetapi luka itu menjerat jiwa kita. Banyak orang tumbuh dengan menyembunyikan luka, pura-pura tidak terjadi apa-apa tetapi dalam hatinya menyimpan luka. Dari wajahnya bisa merekah sebuah senyuman, tetapi dalam hatinya penuh dengan tangisan. Dari luar nampak hebat dan kuat tetapi dalamnya rapuh dan hancur.

Sekarang yang patut kita renungkan adalah: apakah kita ingin tumbuh dengan membagi luka atau kita memilih untuk menyalakan pelita? Orang-orang yang terluka cenderung melukai sesamanya. Tetapi wanita Samaria ini memilih bukan untuk membagi luka, ia memilih menyalakan pelita. Ia sadar hatinya penuh dengan luka, ada banyak kekecewaan yang dialami, kepahitan hidup yang dirasakan selama ini. Alih-alih menyalahkan orang lain, ia memilih menerima semua luka, lalu menyalakan pelita. Kalau ia membagi luka, akan banyak orang yang makin terluka, tetapi dengan menyalakan pelita maka ia memberikan kehangatan bagi sesama.

Yoh. 4:28, 29 
Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?”

Sadarilah, Tuhan tidak mencari orang yang sempurna, Tuhan mencari orang yang mau menerima kasihNya. Tuhan tidak mencari orang yang bersih, DIA mancari orang yang mau dibersihkan. Tuhan tidak menunggu engkau menjadi suci, Tuhan mencari orang yang mau disucikan. Percayalah, Tuhan tidak datang dengan penghukuman, IA datang membawa pengampunan, pemulihan dan kesembuhan.

Jejak-Jejak Luka Hati
Ada ungkapan yang berkata demikian: Keberadaan kita pada hari ini adalah hasil dari masa lalu dan apa yang terjadi pada hari ini akan menentukan hidup kita di masa depan.

Artinya siapa kita pada hari ini merupakan hasil dari pembentukan di masa lalu yang meliputi: pola asuh, pengalaman, harapan, perasaan, keyakinan, dan tindakan. Dengan kata lain apa yang terjadi di masa kecil kita, menentukan kehidupan kita di masa kini. Cara kita dibesarkan, pola asuh yang kita terima sangat mempengaruhi kesehatan jiwa dan mental kita. Itu akan membentuk perilaku dan karakter saat kita dewasa.

Untuk itu marilah kita belajar bagaimana caranya wanita Samaria ini mampu mengubah luka menjadi pelita.
1. Kesembuhan luka batin dibangun oleh ‘revelation’ bukan ‘reputation.’
Ayat 9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) 

Ayat 19 Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. 

Ayat 25,26  Jawab perempuan itu kepada-Nya: “Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.” Kata Yesus kepadanya: “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.” 

Orang-orang yang terluka cenderung untuk membangun reputasi agar ia diterima dan dihargai. Ia berpikir dengan memiliki reputasi yang baik ia dapat menyembuhkan lukanya. Tetapi kebenarannya bahwa reputasi tidak membuat lukanya sembuh kembali. Mengapa? Sebab reputasi mengharapkan pengakuan dari luar, sedangkan luka hati membutuhkan kesembuhan dari dalam. Reputasi tidak menyelesaikan akar masalah karena penilaian manusia mudah berubah. Itulah sebabnya semakin mengejar reputasi, semakin besar luka yang kita alami. Luka-luka yang kita alami hanya bisa disembuhkan ketika kita menerima ‘revelation’ bukan ‘reputation.’

‘Revelation’ adalah pewahyuan Ilahi yang kita terima melalui kebenaran firman Tuhan.

Yohanes 8:32 – dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” 

Jadi saat kita menerima firman bukan hanya sebatas pengetahuan, tetapi sebagai pewahyuan dari Tuhan disitulah kita akan menemukan jawaban dan kesembuhan. Logos yang menjadi rhema itu yang bisa menyembuhkan luka. 

2. Ceritakanlah semua luka kepada Tuhan seperti anak kepada Bapanya
Yoh 4:17, 18  
17 Kata perempuan itu: “Aku tidak mempunyai suami.” Kata Yesus kepadanya: “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, 

18  sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.” 

Ada pepatah yang berkata: Jika kebahagiaan dibagikan maka kebahagiaan akan mengganda, dan jika beban dibagikan maka beban itu akan berkurang.

Ketahuilah, setiap orang memiliki batas kemampuan untuk memikul beban. Itulah sebabnya jika beban hidup ini terasa berat jangan pura-pura menjadi kuat. Datanglah kepada Tuhan, ceritakan semua keluh kesahmu kepada Tuhan. Ketahuilah saat kita mau menceritakan semua beban, persoalan dan semua luka, Tuhan bukan hanya mau mendengarkanNya tetapi Tuhan juga mau menyembuhkannya.  

Contoh : Hana
1Samuel 1:15  
Tetapi Hana menjawab: “Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur ataupun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan TUHAN

3. Izinkan kasihNya menggantikan kepahitan dan dendam
Yohanes 4:15  
Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.” 

Setiap luka selalu meninggalkan rasa sakit, jika rasa sakit ini tidak diobati maka rasa sakit agar berubah menjadi kepahitan dan dendam. Berapa banyak orang kristen, bertahun-tahun ikut Tuhan tetapi tetap hidup dalam kepahitan dan dendam. Ada kebencian dan kemarahan yang terus-menerus dibiarkan membara dalam dada dan membelenggu hidupnya. 

Satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari belenggu kepahitan dan dendam adalah membiarkan kasih Tuhan memenuhi hati kita. Hanya orang-orang yang telah menerima kasih Tuhan yang mampu melepaskan pengampunan dan mengasihi dengan ketulusan. Orang yang telah merdeka dalam Tuhan ia mampu:

  • Mengasihi tanpa takut terlukai
  • Mampu memberi tanpa takut kehilangan
  • Mampu mengampuni meski selalu disakiti, 
  • Mampu mengasihi tanpa takut dikhianati, mengapa?

Bukan karena kekuatannya tetapi karena kasih Tuhan yang ia telah terima.

Kita tidak bisa mengasihi sesama, jika belum mengalami kasih ALLah yang sempurna.

DIBEBASKAN UNTUK MEMBEBASKAN
Kita bisa menyelamatkan banyak generasi dengan cara mengakhiri luka hati. Jangan wariskan luka hati kita kepada generasi selanjutnya, cukup berhenti sampai di diri kita. Pastikan bukan luka yang kita tinggalkan tetapi pelita yang kita nyalakan. Ingat, kita dibebaskan untuk membebaskan. 

Sadarkah kita, anak-anak kita terluka karena luka yang kita bawa. Apa yang dulu kita terima dari orang tua,, tanpa sadar kita lakukan kepada anak-anak kita. 

Apa yang disembunyikan hati, akan diperlihatkan oleh sikap kita. Isi hati kita akan selalu terlihat dalam sikap kita, jujurlah pada dirimu sendiri agar setiap tindakanmu mencerminkan keaslian dan kemurnian dari dalam hati.

Manusia yang merdeka adalah manusia yang telah sembuh dari luka. Ia tidak butuh pengakuan orang lain untuk berbahagia, tidak butuh pujian untuk merasa berharga. Ia sadar bahwa di hadapan Tuhan dirinya sangat berharga. Tuhan memberkati. KJP!

Arsip Catatan Khotbah