GEREJA LOKAL DIRANCANG TUHAN UNTUK MENGGENAPI TUJUAN-NYA – Oleh Pdt. K. Hani Paulus (Ibadah Raya 2 – Minggu, 8 Maret 2026)

Manusia sudah dirancang menggenapi tujuan Tuhan atas dirinya. Tidak ada ciptaan Tuhan yang tidak punya tujuan, khususnya manusia. Tuhan menciptakan manusia yang mempunyai kehendak bebas bukan sebuah robot yang bisa sepenuhnya dikendalikan oleh penciptanya. Kehendak bebas untuk memilih merupakan kesukaan Tuhan kalau saja manusia dapat memilih untuk lebih mengasihi Tuhan dengan kehendak bebasnya tersebut daripada kehendaknya sendiri.

Dan tujuan Tuhan sendiri pasti berhasil namun Tuhan harus berhadapan dengan kehendak bebas yang telah Ia taruh dalam diri manusia. Jadi kalau tidak berhasil bukan karena Tuhan gagal melaksanakan rancangan-Nya namun kehendak bebas yang telah diberikan untuk manusia yang membuat gagal kita memenuhi tujuan-Nya dalam hidup kita.

Untuk hal itu, Tuhan telah ‘menyuntikkan’ kemampuan kedalam ciptaan-Nya untuk dapat memenuhi tujuan-Nya. Tuhan memasukkan kemampuan untuk terbang bagi burung sehingga burung tidak perlu ke sekolah penerbang untuk bisa terbang. Begitu juga dengan kemampuan bagi ikan untuk berenang, kemampuan untuk bertumbuh bagi sebuah benih. Lalu apa tujuan Tuhan menciptakan manusia?

Dalam Roma 8:29, mengatakan bahwa sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran anak-Nya, supaya Ia…

  • Jadi untuk apapun yang menjadi tujuan Tuhan, IA telah memasukkannya lebih dulu dalam bentuk potensi untuk dapat mencapainya.
  • Dan untuk mencapainya, Dia membuat proses dan mengijinkan proses itu datang kepada orang percaya. Dan proses itu terjadinya di dalam gereja lokal.
  • Ada dua institusi yang dibentuk oleh Tuhan. Pertama dalam Pernikahan atau Rumah Tangga (antara suami dan Istri) dan kedua dalam Gereja Lokal (antara jemaat). 

1Pe 4:10  Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia (charisma atau gift) yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah (charis atau grace)

  • Untuk terjadinya proses dibutuhkan minimal dua orang. Di dalam gereja lokallah tempat terjadinya proses tersebut. Tidak mungkin tidak ada gesekan. Ketika terjadi gesekan satu dengan yang lain, kita harus dapat memandangnya seperti satu tubuh, Tubuh Kristus.

Firman Allah mengatakan untuk kita saling melayani. Disinilah proses itu dimulai. Ketika kita membuang keegoisan kita, tidak boleh ada jemaat yang hanya ingin dilayani atau yang senang hanya dilayani saja. Tidak boleh, semua harus saling melayani. Ini juga sebagai tanda kedewasaan kita gereja-Nya, diproses sehingga mengalami kedewasaan penuh untuk menyambut Dia sebagai ‘Mempelai’ sorga kita. Hanya orang dewasa yang siap menikah. Jangan menyerah apalagi lari dari proses. Kita akan dianggap tidak dewasa.

Sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang. 

  • Seperti yang dikatakan di atas, Tuhan memasukkan kedalam rangcangan-Nya untuk dapat memenuhi tujuan-Nya. Tuhan telah menaruh pada tiap-tiap orang sesuai dengan karunia yang telah diterima.
  • Nama lain dari karunia itu adalah charisma, gift, pemberian, kemampuan, kesanggupan, talenta, bakat atau potensi.
  • Semua ini diberikan secara cuma-cuma dari Tuhan yang murah hati. Untuk apa Dia berikan semua itu kalau bukan untuk memenuhi tujuan-Nya yaitu saling melayani.

Disertai tanggung jawab sebagai Pengurus yang baik dari kasihkKarunia yang sudah dipercayakan.

  • Kita hanyalah sebagai pengurus yang baik (Good Steward atau Oikonomos), Matius 25:14-30. Orang-orang yang diberi kepercayaan untuk mengelola bukan sebagai pemilik.
  • Kepercayaan yang diberikan ini ada tanggung jawab dibelakangnya yaitu bagaimana kita menggunakan apa yang telah Tuhan percayakan.
  • Cari tahu apa potensi yang telah kita terima. Galilah potensi, kemampuan, kesanggupan apa yang kita mampu. Gunakanlah sebaik-baiknya, manfaatkanlah bagi komunitas dimana kita ber’KeMah’ bagi kepentingan semua orang.
  • Ingat waktu kita hidup begitu singkat untuk kita bisa saling melayani. Hari Tuhan segera datang, entahkah Dia datang secara pribadi lewat kematian ataukah saat  Dia datang kembali untuk menjemput orang-orang yang dikasihi-Nya

Mazmur 39:4-5 (TB)
“Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku! Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku; bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! Sela

Arsip Catatan Khotbah