HARUSKAH MELAYANI DI GEREJA? – Oleh Pdm. Patrick B. Lazarus (Ibadah Raya 3 – Minggu, 8 Maret 2026)

Roma 12:1–8

Pendahuluan
Mungkin bagi sebagian dari kita, jawabannya langsung muncul di hati: “Ya, tentu harus! Itu kan kewajiban orang Kristen.” Namun di sisi lain, mungkin ada juga yang bergumul: “Apa benar harus? Saya sudah sibuk dengan pekerjaan, lelah mengurus keluarga. Datang ke gereja saja sudah syukur. Apa Tuhan tidak memaklumi?” Pertanyaan seperti ini sering muncul dalam kehidupan orang percaya. Untuk memahami hal ini dengan benar, kita perlu melihat terlebih dahulu bagaimana Alkitab memandang gereja.

GEREJA DALAM ALKITAB
Di dalam Alkitab, gereja memiliki dua pengertian:
1. Gereja Universal
Gereja universal adalah seluruh orang percaya di segala tempat dan zaman dengan Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja.

“Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.” (Efesus 1:22–23)

“Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. (1 Korintus 12:13)

2. Gereja Lokal
Gereja lokal adalah komunitas orang percaya di suatu tempat tertentu, seperti gereja di Yerusalem, Efesus, Korintus, dan kota-kota lainnya.

Beberapa Kesalahpahaman Tentang Gereja Lokal
Ada beberapa konsep terkait gereja lokal yang sering muncul dalam kehidupan orang Kristen masa kini.
a. Percaya Tanpa Keterikatan Gereja
Sebagian orang berpikir bahwa seorang anak Tuhan tidak perlu bergabung atau berkomitmen pada sebuah gereja lokal. Fenomena ini dikenal dengan istilah “Believing Without Belonging.” Istilah ini dipopulerkan oleh sosiolog Grace Davie pada tahun 1990-an untuk menggambarkan orang yang memiliki keyakinan agama secara pribadi, tetapi tidak mau terlibat dalam kehidupan gereja atau pelayanan. Padahal, dalam Alkitab, iman Kristen selalu diwujudkan dalam kehidupan komunitas.

b. Gereja Harus Sempurna
Ada juga orang yang memiliki ekspektasi bahwa gereja harus sempurna. Akibatnya, mereka memperlakukan gereja seperti memilih restoran: jika tidak cocok, mereka pindah ke tempat lain. Padahal kenyataannya, gereja tidak pernah sempurna, karena gereja terdiri dari orang-orang berdosa yang sedang dipulihkan oleh kasih karunia Tuhan. Gereja adalah tempat orang-orang yang sedang bertumbuh dalam Kristus, bukan kumpulan orang yang sudah sempurna.

c. Gereja Hanya Tempat untuk Dilayani
Ada pula pemikiran bahwa gereja adalah tempat kita datang untuk dilayani. Jujur saja, sebagai seorang pelayan Tuhan, saya sendiri pernah bergumul dengan topik ini. Saya khawatir tema seperti ini disalahpahami seolah-olah gereja sedang “meminta dilayani”. Memang benar, gereja harus melayani jemaat. Namun bukan berarti kita datang ke gereja hanya untuk menerima pelayanan, seperti seseorang datang ke restoran untuk dilayani. Gereja bukan hanya tempat kita menerima, tetapi juga tempat kita memberi diri bagi Tuhan.

Belajar dari Roma 12
Roma 12 berbicara tentang bagaimana orang percaya hidup sebagai respons terhadap kasih karunia Allah. Dalam bagian ini kita menemukan tiga kebenaran penting untuk menjawab pertanyaan “Haruskah kita melayani di gereja?”
1. Melayani di Gereja Lokal Adalah Ibadah kepada Allah
“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)

Ayat tersebut merupakan fondasi yang sangat penting. Perhatikan kata “karena itu.” Kata ini menunjuk kepada semua kemurahan Allah yang sudah dijelaskan Paulus dalam pasal-pasal sebelumnya. Kita telah:
●          diselamatkan,
●          diampuni,
●          diterima menjadi anak-anak Allah.
Lalu apa respons kita? Apakah cukup hanya dengan datang beribadah setiap hari Minggu?

Paulus berkata “Persembahkanlah tubuhmu.” Artinya, persembahkan seluruh hidup kita:
●          waktu,
●          tenaga,
●          kemampuan,
●          talenta.
Di Perjanjian Lama, persembahan adalah binatang yang disembelih. Namun dalam Kristus, ibadah sejati adalah hidup yang dipersembahkan bagi Allah setiap hari.

Paulus juga berkata: “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia.” (1 Korintus 15:10). Artinya, pelayanan di gereja bukan kegiatan tambahan. Pelayanan adalah ibadah. Ketika Anda:
●          melayani di pintu masuk gereja,
●          latihan paduan suara setelah lelah bekerja,
●          menyapu halaman gereja,
●          merapikan kursi sebelum ibadah,
Itu bukan sekadar aktivitas. Itu adalah ibadah yang kudus dan berkenan kepada Allah. Orang yang sungguh mengerti anugerah Tuhan tidak hanya datang beribadah, tetapi mempersembahkan hidupnya dalam pelayanan.

2. Melayani di Gereja Lokal Membutuhkan Pikiran yang Diperbarui
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu…” (Roma 12:2)
Poin ini sangat penting.

Khotbah ini bukan hanya untuk orang yang belum melayani, tetapi juga bagi mereka yang sudah melayani. Mengapa? Karena tanpa pikiran yang diperbarui, kita bisa melayani dengan cara pikir dunia.

Apa yang terjadi jika pelayanan dilakukan dengan cara pikir dunia?
●          Mencari Pujian
Orang melayani agar dilihat orang lain. Ingin dipuji, ingin dianggap sebagai pelayan yang setia. Ketika pujian tidak datang, semangat pelayanan pun padam.

●          Kehilangan Kerendahan Hati
Seseorang bisa merasa: paling mampu, paling sibuk, paling berjasa. Akibatnya: sulit bekerja sama, mudah tersinggung, muncul kesombongan rohani.

●          Merasa Tidak Perlu Melayani
Pikiran dunia berkata: “Untuk apa capek-capek melayani? Buang waktu saja. Saya sudah cukup baik dengan datang ke gereja.”
Ini adalah cara berpikir yang egois dan tidak sesuai dengan kehendak Allah. Karena itu Paulus berkata: “Berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Biarkan Firman Tuhan memperbarui cara kita berpikir. Tanpa pembaruan pikiran, pelayanan bisa menjadi sumber dosa: kesombongan, kekecewaan, bahkan persaingan. Tetapi dengan pikiran yang diperbarui, pelayanan menjadi sumber sukacita dan berkat.

3. Melayani di Gereja Lokal Membuka Jalan Menemukan Peran Kita
“Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota…” (Roma 12:4–8)
Inilah indahnya rencana Allah. Ketika kita melayani dengan hati yang benar, dan pikiran yang diperbarui, kita akan masuk ke dalam pengalaman yang luar biasa menemukan peran kita dalam tubuh Kristus.

Gereja bukan sekadar organisasi. Gereja adalah tubuh Kristus yang hidup. Dan di dalam tubuh ini, setiap anggota: penting, memiliki fungsi dan memiliki karunia yang berbeda. Seperti tubuh manusia ada tangan, kaki, mata, telinga, semuanya memiliki fungsi yang berbeda. Demikian juga di dalam gereja: ada yang memiliki karunia melayani, ada yang mengajar, ada yang menasihati, ada yang memberi, ada yang memimpin,ada yang menunjukkan kemurahan dan lain-lain.

Namun ada satu pertanyaan penting: Jika seseorang tidak pernah terlibat dalam pelayanan, bagaimana ia dapat menemukan karunia yang Tuhan berikan kepadanya? Ketika setiap anggota menemukan dan menjalankan perannya dengan setia, maka tubuh Kristus akan bertumbuh dengan sehat dan harmonis. Sebaliknya, jika ada anggota yang tidak mau berfungsi, tubuh itu akan menjadi timpang.

Kesimpulan
Perhatikan bagaimana Paulus memulai seruannya: “Demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu…” Ini adalah seruan Injil. Alasan terbesar kita melayani bukanlah kewajiban, tetapi kasih karunia Allah yang dinyatakan melalui salib Kristus. Kita tidak melayani supaya diselamatkan. Kita melayani karena sudah diselamatkan. Kita tidak melayani supaya dikasihi Tuhan. Kita melayani karena kita sudah terlebih dahulu dikasihi oleh-Nya.

Jadi, haruskah kita melayani Tuhan di gereja lokal? Jawabannya bukan sekadar “harus.” Tetapi orang yang mengerti kasih karunia Tuhan akan rindu mempersembahkan hidupnya untuk melayani Dia.

Arsip Catatan Khotbah