KEHIDUPAN DALAM PENGUDUSAN YANG PROGRESIF – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Kematian Tuhan Yesus 1 – Jumat, 3 April 2026)

Pendahuluan :
Untuk membahas tema ini kita lihat dalam Roma 6:10-12. 
Roma 6:10 –  Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.”
Roma 6:11 – “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.”
Roma 6:12 – “Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya”

Penjabaran dari ayat-ayat tersebut :
Roma 6:10 – “Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.”
Kematian Yesus terhadap dosa, bukan karena Ia berdosa, tetapi Ia yang tidak berdosa memberikan Diri-Nya menjadi korban penebus dosa. Ibrani 10:10

Ibrani 10:10 – “Dan karena kehendaknya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya, oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.”
Yesus mati bukan karena tidak berdaya, seperti apa yang diolok-olokan mereka yang tidak percaya Yesus. Yesus memberikan diri-Nya untuk mati menaggung dosa manusia yang membawa kepada kematian. Jika Ia tidak memberikan diri-Nya, maka tidak ada sesuatu apapun yang sanggup menyentuh-Nya. Yesus memberikan diri-Nya sebagai persembahan untuk mati menggantikan manusia sebagai penebusan dosa.

Roma 6:11 – “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa.”
Ini merupakan perintah berjalan atau pengkudusan progresif, artinya bukan berhenti sampai dikuduskan dari dosa, tetapi harus berlanjut terus maju kearah kesempurnaan.

Istilah memandang adalah istilah akuntansi, artinya secara hati-hati menambahkan, menjumlahkan kehidupan kita yang sudah mati bagi dosa kearah kehidupan dalam kebenaran. Dalam bahasa Yunani dipakai kata “Logizomai”, ini akar kata dari “Logizesthe”,  artinya memperhitungkan sebagai kesadaran rohani bahwa kita telah mati bagi dosa, dan itu menjadi fakta atau perbendaharaan pikiran kita. Dari kata “Logizomai” kemudian muncul kata logika, bahwa kita telah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah.

Roma 6:12 – “Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi didalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.”

Karena dosa sudah dikalahkan oleh penebusan Yesus, maka setiap orang percaya yang sudah ditebus, harus senantiasa menentang usaha dosa untuk berkuasa kembali. Dosa dapat memperalat tubuh kita yang fana untuk berkuasa kembali sehingga kita menuruti keinginannya.

Bagaimana kita dapat mencegahnya?
Roma 6:13 – “Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.”

Setiap orang yang sudah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah, harus menggunakan anggota-anggota tubuhnya kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. Dan jangan lagi mau diperalat dosa menjadi senjata kelaliman.

Matius 16:24 – “Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”

Roma 8:13 – “Sebab jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.”

Setiap orang percaya yang sudah mati bagi dosa, harus memiliki komitmen untuk mematikan perbuatan-perbuatan tubuh yang berdosa oleh pertolongan Roh Kudus. Apa saja hal yang harus dimatikan dalam kehidupan kita?

Kolose 3:5 –Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa napsu, nafsu jahat dan juga keserakahan yang sama dengan penyembahan berhala.”

Lima perbuatan duniawi yang dapat menghalangi untuk kita hidup dalam persekutuan dengan Allah:
Kata ‘matikanlah’ = NEKROSATE, artinya bukan sekedar mengendalikan tetapi menghancurkan secara total. Prakteknya seperti menebang sebuah pohon, yang kemudian dibatangnya tumbuh lagi tunas-tunas baru, tunas itu yang harus kita segera patahkan matikan jangan diberi kesempatan tumbuh kembali.

1). Percabulan = PORNEIA – Amoralitas seksual
2). Kenajisan = AKARTHASIA – Kekotoran moral, pikiran atau tindakan yang najis tidak bermoral, mesum.
3). Hawa Nafsu = PATHOS – Nafsu birahi atau keinginan hasrat yang tak terkendali.
4). Keinginan jahat = EPHYTIMIAN KAKEN –  Hasrat batin untuk berbuat jahat.
5). Keserakahan / Ketamakan= PLEONEXIA – Keinginan-keinginan tak terbatas untuk memilki lebih, dengan menghalalkan segala cara.

Kelima hal ini harus sudah mati dan harus dimatikan jika muncul lagi dalam keinginan tubuh jasmani kita, dengan kekuatan Roh Kudus. Untuk itu semua orang percaya yang sudah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah harus dipenuhi dengan Roh Kudus yang memang sudah dijanjikan untuk menyertai kita. Agar kehidupan kita yang sudah dikuduskan tetap terjaga dan secara progressif kita bertumbuh kearah kesempurnaan menjadi sama dengan gambaran Yesus.

Arsip Catatan Khotbah