MELAYANI DENGAN DOA, DAYA, DAN DANA – oleh Pdt. K. Joseph Priyono (Ibadah Raya 1,2,3 – Minggu, 12 Juli 2026)

Keluaran 17:8-16

Keluaran 17:11
Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel,
tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek.

Pendahuluan
Dalam Keluaran 17 ini, bangsa Israel menghadapi serangan dari Amalek. Menariknya, kemenangan Israel tidak hanya ditentukan oleh kemampuan Yosua bersama pasukannya di medan perang, tetapi juga oleh doa Musa di gunung, serta dukungan Harun dan Hur kepada Musa. Dikatakan: dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. 

Tetapi siapa yang tahan mengangkat tangan seharian. Pada akhirnya Musa kelelahan, tangannya turun sehingga lemah kekuatan orang yang bertempur. Syukurlah ada Harun dan Hur yang menopang, sehingga tangan Musa tetap terangkat sampai peperangan berakhir dan kemenangan dialami bangsa Israel.

Peristiwa ini mengajarkan bahwa kemenangan terjadi ketika ada keseimbangan antara: doa, daya dan dana. Pekerjaan Tuhan tidak bisa berjalan tanpa 3D, pekerjaan Tuhan akan berjalan kalau ditopang dengan 3D: doa, daya, dan dana. 

Ada orang-orang yang bersedia berlutut di hadirat Tuhan, tetapi juga harus ada orang-orang yang memberikan dayanya, kemampuannya, tenaga, talentanya, pikiran, waktu untuk pekerjaan Tuhan. Dan ada orang-orang yang mempersembahkan dananya, uangnya, kekayaannya untuk pekerjaan Tuhan.

Untuk itu mari kita pelajari, bagaimana 3 hal ini yaitu Doa, Daya dan Dana, itu berperan dalam mencapai tujuan bersama yaitu kemenangan.

1. MELAYANI DENGAN DOA
Ayat 10b-11
tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit. Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. 

Musa menyadari peperangan ini tidak mungkin dimenangkan tanpa campur tangan Tuhan. Oleh karena itu ia bersama Harun dan Hur naik ke puncak bukit untuk berdoa kepada Tuhan sambil mengangkat tangan.

Secara teologis, tangan yang terangkat melambangkan:

  • Ketergantungan penuh kepada Allah. 
  • Penyerahan total kepada Tuhan
  • Penyembahan kepada Tuhan
  • Mohon pertolongan Tuhan

Musa memahami bahwa tanpa doa mustahil Israel dapat mengalahkan orang Amalek. Mereka bukan bangsa pejuang, bukan pula prajurit perang yang terlatih. Mereka semua adalah mantan budak, yang sehari-harinya hanya melakukan pekerjaan yang diperintahkan tuannya. Tetapi oleh karena Musa, Harun, dan Hur naik ke bukit untuk berdoa, Israel mengalami kemenangan.

Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan.
Doa bukanlah pelengkap pelayanan, doa adalah fondasi pelayanan.

Lihat, ketika tangan Musa terangkat, Israel menjadi kuat. Tetapi ketika Musa tangannya diturunkan, Israel alami kelemahan.
Jadi apa yang dilakukan Musa, Harun dan Hur di atas bukit memiliki pengaruh kepada mereka yang ada di medan pertempuran. Yang dikerjakan di tempat tak terlihat, memiliki pengaruh di tempat yang terlihat. Menang atau kalah bukan semata-mata ditentukan kehebatan pasukan, bukan pula kemampuan pasukan Yosua berperang, tetapi oleh kuasa doa.

Gereja yang kuat bukan gereja yang besar, gereja yang kuat adalah gereja yang berdoa.
Lihatlah gereja mula-mula, mereka kuat, tetap tegak berdiri meskipun ditekan dengan kesulitan, dipenuhi tantangan, bahkan aniaya  sekalipun. Mereka tidak memiliki gedung gereja, tidak memiliki organisasi, tetapi mereka memiliki doa.

Kisah Para Rasul 2:42  
Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. 

Gereja tanpa doa: 

  • Ibadah akan menjadi rutinitas
  • Pelayanan hanya tugas.
  • Khotbah kehilangan urapan,
  • Musik, nyanyian, tarian  menjadi pertunjukan,
  • Organisasi menjadi sekedar aktivitas.

Maka pelayanan doa menjadi sangat penting bagi kita. Mengapa?

  • Pelayanan menghubungkan kita dengan manusia, doa menghubungkan dengan Allah.
  • Pelayanan menampilkan para pelayan, doa membentuk karakter pelayan.
  • Pelayanan mengundang manusia, doa mengundang hadirat Tuhan.
  • Pelayanan membuat kita dipuji-puji, doa membuat kita tahan uji.

Teladan Tuhan Yesus
Ia mengawali pelayanan-Nya dengan doa 
Luk 6:12  Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.
Ia mengisi pelayanannya dengan doa 
Mar 1:35  Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. 
Ia mengakhiri pelayananNya dengan doa.
Luk 23:46  Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. 

2. MELAYANI DENGAN DAYA
Ayat 10b-11
tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit. Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. 

Daya adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu, kekuatan untuk bertindak.

Kita melihat antara Musa, Harun, Hur, dan Yosua beserta pasukannya yang berperang. Masing-masing memiliki daya yang berbeda-berbeda. Musa memiliki daya untuk mendaki bukit dan berdoa. Harun dan Hur, mereka memiliki kekuatan untuk menopang Musa. Yosua dan orang Israel, mereka memiliki kemampuan untuk bertempur melawan musuh. Ketika mereka bekerja sama, masing-masing melakukan sesuai kemampuannya, daya yang dimiliki, akhirnya Israel dapat meraih kemenangan.

Demikian juga kita dengan kita.
Setiap orang memiliki peran berbeda, daya yang berbeda, kemampuan yang berbeda, tetapi semua bisa melayani Tuhan. Tidak semua orang menjadi pengkhotbah. Tidak semua orang bias menjadi pemimpin pujian. Tidak semua orang bisa main musik. Tetapi semua orang bisa melayani sesuai dengan kapasitas masing masing. 

Roma 12:4,5  
Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. 

3. MELAYANI DENGAN DANA
Meskipun tidak disebutkan secara langsung dalam Keluaran 17 ini, tetapi kita tahu setiap peperangan tentu membutuhkan dana, baik untuk menyediakan makanan, pembelian senjata, perlengkapan logistik lainnya. Tidak semua orang maju berperang, hanya orang-orang yang terpilih. Lalu apa yang dikerjakan yang lain? Mereka yang tidak maju berperang, mereka mengumpulkan dana untuk mendukung orang-orang yang ada di medan pertempuran sehingga yang berperang tidak perlu memikirkan apa yang akan dimakan, bagaimana kalau peluru habis, dan sebagainya. Mereka fokus berperang sampai memenangkan pertempuran.

Saudaraku, kita ini bukan ada di garis depan, bukan medan pertempuran, tapi bisa melayani Tuhan dengan dana yang kita miliki. Bagaimana aplikasinya dalam keluarga Mahanaim? Kita bisa mendukung pekerjaan Tuhan di tempat ini dengan memberi persembahan. Baik Perpuluhan, Persembahanku, Komitmenku, Persembahan Misi, Diakonia Sosial, maupun Persembah untuk Rumah Pelayanan.

Lukas 8:3  
Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka. 

Yesus dapat melayani selama 3,5 tahun tanpa dipusingkan dengan kebutuhan hidup sehari-hari karena orang-orang yang rela melayani dengan kekayaan mereka.

Mengapa kita memberi persembahan?
Bukan karena Allah kekurangan tetapi memberi persembahan adalah wujud kasih dan ucapan syukur atas anugerah Tuhan berikan kepada kita.
Kita memberi karena kita telah menerima lebih dahulu dari Tuhan. Semua yang kita miliki adalah dari Tuhan, itulah sebabnya kita kembalikan bagi Tuhan.

Kesaksian: Persembahan Hattie May Wiatt sebesar 57 sen 
Hattie May Wiatt hanyalah seorang anak perempuan kecil yang lahir di sebuah keluarga yang kurang mampu. Suatu hari ia ingin ke Sekolah Minggu, tetapi ia tidak bisa karena tempat duduk di ruang Sekolah Minggu sudah penuh. Ia hanya bisa mengintip dari pagar gereja sambil menangis.

Sampai suatu hari, pendeta dari Gereja Temple Baptist tersebut melihat si Hattie kecil. Pendeta Russell Conwell mengajak Hattie masuk dan mencarikannya tempat duduk di ruangan yang penuh sesak dengan hiruk pikuk anak-anak. Sepulang dari Sekolah Minggu, Hattie sangat bersukacita karena akhirnya ia bisa mendengarkan kisah tentang Yesus Kristus. Sampai di rumah, ia pun bercerita kepada orang tuanya apa yang  ia alami di Sekolah Minggu. 

Singkat cerita, Hattie tiba-tiba jatuh sakit. Hanya beberapa minggu berselang dari kejadian itu, Hattie kembali ke rumah Bapa di surga. Di hari pemakamannya, orang tua Hattie menemukan uang tabungan Hattie sebesar 57 sen dan secarik kertas bertuliskan: “ Untuk Pembangunan Kelas Sekolah Minggu.” Orang tua Hattie membawa tabungan itu dan menyerahkan uang 57 sen kepada Pdt. Russell, sekaligus menyampaikan harapan Hattie. Bapak pendeta ini terharu dengan tindakan kecil yang sudah diperjuangkan Hattie di tengah keterbatasannya. Hattie tidak mempunyai uang yang banyak, tetapi dia berani melepaskan kepemilikan atas uang jajannya demi pekerjaan Tuhan yang lebih besar.

Pdt. Russell membawa impian Hattie kepada jemaatnya. Kisah Hattie ini menjadi narasi yang dikisahkan kepada para pengurus gereja. Bahkan, cerita yang mengundang haru ini menjadi buah bibir di kota Filadelfia, Amerika Serikat. Mereka yang digerakkan oleh cerita Hattie dengan segera mengucurkan aliran dana ke kas gereja. Akhirnya, bukan hanya ruangan Sekolah Minggu yang diperbesar dan diperbanyak, tetapi keseluruhan gereja berhasil direnovasi untuk menampung lebih banyak jemaat. 

Hari ini, di kota Filadelfia, jika kita melihat ada gedung Temple Baptist Church yang bisa menampung tiga ribu jemaat, Temple College yang bisa menampung ribuan mahasiswa, serta Temple Hospital; semua bentuk pelayanan ini dimulai dari 57 sen yang menyimpan cita-cita mendalam dari seorang Hattie kecil, yang mengharapkan ruangan kelas Sekolah Minggu yang lebih luas. Uang 57 sen pada saat itu pun bukan nominal yang besar, tetapi kita menemukan dampak yang besar dari hati yang rindu untuk memberikannya bagi pekerjaan Tuhan. 

4. KORELAS MELAYANI DENGAN DOA, DAYA, DAN DANA
Dari Keluaran 17 menunjukkan melayani dengan doa, daya dan dana adalah satu kesatuan yang saling menopang. Ketika ketiganya dikerjakan bersama-sama maka akan menghasilkan kemenangan. Musa, Harun, dan Hur berdoa, Yosua dan pasukan Israel berjuang dan yang tidak ikut berperang mendukung dengan keuangan mereka maka kemenangan terjadi.

Saya percaya gereja ini akan terus berkembang kalau setiap jemaat mau ambil bagian melayani. Yang bisa berdoa berdoalah, yang memiliki daya, kemampuan berikan untuk Tuhan, dan punya dana persembahkan untuk Tuhan.

Gereja tidak akan maju kalau ditopang hanya satu bagian saja.

DOADANADAYA
Memberi kuasaMemberi saranaMemberi tindakan
Kekuatan rohaniKekuatan materiKekuatan pelayanan
BerlututMemberiBekerja
HatiHartaHidup

Pelayanan akan pincang bila hanya memiliki salah satunya.

  • Doa tanpa daya menjadi kerinduan tanpa tindakan.
  • Daya tanpa doa berubah menjadi kerja keras yang mengandalkan kekuatan manusia.
  • Dana tanpa doa mudah menjadi sekedar donasi tanpa nilai rohani.
  • Doa dan dana tanpa daya berarti ada kerelaan, tetapi tidak ada keterlibatan langsung.
  • Doa dan daya tanpa dana sering membatasi jangkauan pelayanan ketika Tuhan juga memanggil kita untuk memberi.
  • Dana dan daya tanpa doa berisiko kehilangan arah dan kuasa Roh Kudus.

KONEKSI DENGAN INJIL
Apa yang telah dilakukan Musa, Harun dan Hur di atas bukit, ini adalah bayangan (tipologi) dari karya Kristus.  Di bukit, Musa berdiri dengan mengangkat kedua tangannya. Selama tangannya terangkat kepada Tuhan, Israel menang. Ketika tangannya mulai turun karena kekalahan.

Berabad-abad kemudian, di bukit yang lain, yaitu Bukit Golgota, Yesus Kristus mengangkat kedua tangan-Nya, bukan dalam sikap berdoa, tetapi terbentang di kayu salib untuk menebus dosa manusia. 

Di atas bukit, Musa membutuhkan Harun dan Hur untuk menopang tangannya. Yesus di kayu salib tidak ditopang oleh siapa pun. Ia ditinggalkan murid-murid-Nya dan menanggung salib seorang diri agar manusia memperoleh keselamatan.

Di Rafidim, bangsa Israel diselamatkan dari musuh yang sementara. Di Golgota seluruh umat manusia diselamatkan dari hukuman kekal dan diberikan jaminan kehidupan kekal. Di Rafidim, Israel memperoleh kemenangan atas Amalek. Di Golgota kemenangan diperoleh atas dosa, maut, dan Iblis.

Karena itu orang yang percaya pada injil tidak sedang berjuang untuk meraih kemenangan. Gereja melayani karena Kristus telah lebih dahulu mengalami kemenangan. Tanpa kemenangan Kristus segala pelayanan yang kita lakukan tidak artinya.

Oleh kemenangan Kristus, melayani dengan doa, dana, dan daya mencerminkan penyerahan hidup secara penuh kepada Allah. 
Dengan Doa kita mempersembahkan hati kepada Tuhan.
Dengan Daya kita mempersembahkan kemampuan kepada Tuhan.
Dengan Dana  kita mempersembahkan harta kepada Tuhan.

Ketika gereja berdoa dengan setia, memberi dengan sukacita, dan melayani dengan segenap kemampuan, pelayanan tidak hanya akan bertahan, tetapi juga menghasilkan buah yang memuliakan Tuhan dan membawa banyak orang percaya kepada Kristus. Tuhan memberkati. KJP!

Arsip Catatan Khotbah