Kasih Allah Yang Mendisiplin – oleh Pdm. Patrick Byornjovi Lazarus (Ibadah Raya 2 – Minggu, 12 September 2021)

Ibrani 12:5 -11

PENDAHULUAN
Satu hal yang sangat dibanggakan oleh orang percaya dari pribadi Allah adalah kasih.  Pertanyaannya adalah seperti apa kita memahami kasih Allah? Umumnya kita mengerti Allah mengasihi kita maka kita tidak dibiarkan-Nya berjalan sendirian, karena Allah mengasihi kita maka kita diberi kesehatan, karena Allah mengasihi kita maka Dia mendengar doa kita, menjaga kita, memberkati kita.

Sangatlah mudah memahami kasih Allah disaat-saat bahagia dalam hidup kita. Tetapi bagaimana jika kita ada dalam penderitaan? Sebab kita tahu kehidupan orang percaya tidak jarang dihiasi oleh persoalan, tantangan bahkan penderitaan. Dalam Alkitab orang-orang yang dikasihi Tuhan seperti Daniel,Ayub, Daud, Rasul-rasul tidak luput dari penderitaan!

Mungkin ada diantara saudara yang juga mempertanyakan dimana kasih Allah? Jika Tuhan mengasihi aku kenapa sekian lama rumah tanggaku belum dipulihkan, usaha aku macet, anak ku sakit, dalam usaha aku ditipu orang. Cara pikir seperti ini muncul karena kita melihat kasih Allah hanya dari satu sisi saja yaitu berkat, mujizat , jawaban doa dan lain sebagainya. Karena itu pagi ini kita perlu melihat sisi lain dari kasih Allah yaitu Kasih Allah yang “mendisiplin”.

Sedikit gambaran tentang situasi penerima surat Ibrani dimana sejak mereka menjadi orang percaya, mereka mengalami penganiayaan, dihukum dan harta mereka dirampas (10:32-34). Dampak dari situasi yang sulit ini mengguncang kehidupan jemaat sehingga banyak yang mulai meninggalkan ibadah (Ibrani 10:25).

Mengetahui kondisi jemaat maka penulis surat ibrani memberikan pengajaran bahwa Tuhan memiliki tujuan dalam penderitaan yang mereka alami.

Kata “didikan,menghajar, ganjaran” yang muncul berkali-kali (Ayat 5-11) dalam bahasa aslinya menggunakan kata “Paidea” yang mengandung arti membesarkan anak, melatih dan mendisiplin (Strong’s Concordance).  Kata ini menjadi sempit artinya jika diartikan seperti hukuman karena itu dalam beberapa terjemahan inggris untuk kata-kata tersebut digunakan kata disiplin (AMP,NIV, The Msg). Artinya penulis surat Ibrani memberikan sudut pandang bahwa penderitaan yang kita alami adalah bentuk didikan/disiplin dari TUHAN.

Mengapa Allah menunjukan kasih-Nya dengan cara mendisiplin kita?
1.
Kasih yang mendisiplin menunjukan cara Allah memperlakukan kita sebagai anak Allah (5-8)

Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: ”Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Ibrani 12:5-6

Dalam keluarga mendisiplin anak adalah tanda kasih. Setiap orang tua yang mengasihi anaknya pasti pernah mendisiplin anaknya entah dalam bentuk hukuman, teguran yang sifatnya mencegah atau bertujuan memberikan pengajaran. Makna Paidea/disiplin disini mencakup seluruh pelatihan dan didikan yang berkaitan dengan pengembangan pikiran dan juga moral (karakter) seorang anak.

Sebagai anak Allah disiplin ilahi adalah sebuah keniscayaan. Jika kita menyebut diri kita anak Allah tetapi hanya menilai kasih Allah dari apa yang membahagiakan kita maka kita sedang gagal paham terhadap kasih Allah.

Ibrani 12:7-8
Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.

 Jangan termakan oleh teologi kemakmuran sehingga berpikir bahwa status sebagai anak Allah artinya selalu melekat dengan berkat, hidup dilimpahi mukjizat, kesehatan, kelimpahan, kekayaan. Kita sangat menyukai perkataan Yesus: “marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat Aku akan beri kelegaan”, tetapi kita melupakan perkataan Yesus bahwa orang yang ingin mengikut Dia harus siap pikul salib artinya siap didisiplin!

 Sama seperti seorang anak yang seringkali salah memahami maksud baik dari orang tuanya, demikian pula kita dengan Tuhan. Terkadang kita mengeluh pada saat Tuhan mengijinkan kita pada situasi yang tidak menyenangkan, apalagi pada saat Dia menghukum kita rasanya sulit bagi kita untuk memahami tujuan dibalik hukuman itu.

Seringkali kita keliru dalam memahami kasih Allah karena kita hanya mengindentifikasi kasih-Nya dari hal-hal yang menyenangkan . Jika saat ini Tuhan sedang meletakkan kita pada situasi yang serba terbatas dan tidak menyenangkan, atau bahkan itu sebuah hukuman bagi kita. Ingatlah semua itu terjadi karena kita adalah anak-Nya. Percayalah dibalik disiplin Ilahi yang tidak menyenangkan tujuan bagi kebaikan kita.

Wahyu 3:19 berkata: “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!”

Setiap bentuk disiplin ilahi yang diizinkan Allah bertujuan mendatangkan kebaikan bagi kita “…tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita,..” (ayat 10b).

2. Kasih yang mendisiplin adalah cara Allah untuk membawa kita hidup dalam kekudusan.
Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Ibrani 12:10

Kekudusan di sini mengarah pada kekudusan secara progresif (terus-menerus) sampai kita mendapat bagian bersama Tuhan. Firman Tuhan dapat menuntun kita kepada kekudusan tetapi terkadang pengalaman-pengalaman yang tidak mengenakan, bahkan penderitaan menjadi alat yang efektif bagi Tuhan untuk memproses kita menuju keserupaan dengan Allah atau Kristus. Lewat penderitaan iman dan kesetiaan menjadi teruji. Karakter kita dibentuk. Kesombongan akan apa yang kita miliki ditaklukkan. Motivasi kita yang salah dalam mengiring Tuhan dimurnikan. Tujuan hidup kita yang tadinya berpusat pada diri sendiri dibelokkan kepada tujuan yang baru yaitu hidup bagi kemuliaan-Nya.

Terkadang penderitaan menjadi jalan Allah untuk membawa kita alami pertobatan, menyadarkan kita akan kuasa-Nya, dan memproses iman kita agar kita dapat mengambil bagian dalam kekudusan-Nya.

Contoh :

  • Bencana telah mengembalikan Yunus pada rencana Tuhan. (Yunus 1-3)
  • Penderitaan dan kehilangan telah memurnikan iman dan pengenalan Ayub terhadap Tuhan (Ayub 23:10;42:5).
  • Kelemahan menyadarkan Paulus akan kesempurnaan kuasa Tuhan (2 Kor 12:9).

 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. – Ayub 42:5

 Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ”Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.- 2 Korintus 12:9-10

3. Kasih yang mendisiplin adalah cara Allah melatih kita dan memberikan kita kedamaian.
“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Ibrani 12:11

Kedamaian diperoleh dari buah kebenaran artinya ini merupakan sebuah proses. Kedamaian tidak akan muncul di awal. Pandanglah penderitaan yang Tuhan ijinkan sebagai sebuah latihan yang mengokohkan iman, dan ketika kita mampu mempercayai Tuhan ditengah penderitaan kita akan alami kedamaian.

Tuhan tidak menjanjikan bahwa kedamaian dan sukacita akan muncul karena situasi yang diubahkan oleh Tuhan. Situasi bisa saja tetap sama, tetapi yang berbeda adalah orangnya. Tadinya cepat putus asa, sekarang berpengharapan, tadinya jauh dari Tuhan sekarang melekat kepada-Nya, tadinya dikuasai ketakutan tetapi sekarang berlimpah dengan kedamaian.

Saudaraku tetaplah hidup dalam kebenaran sebab kedamaian dari Allah diberikan kepada orang yang terus berjalan dalam kebenaran sekalipun berada dalam penderitaan.

“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus”. Filipi 4:7

Kesimpulan
Sesungguhnya penderitaan tidak mengindikasikan kegagalan Allah mengasihi kita, sebaliknya penderitaan dapat menjadi bukti dari kasih-Nya. Sebab Allah mengasihi kita di dalam dan melalui penderitaan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

Arsip Catatan Khotbah