Pendahuluan
Tak terasa waktu cepat berlalu, namun kita masih berada di ruang tunggu. Hari ini kita memasuki ruang tunggu seri ke-10. Kita sudah memperlajari alasan-alasan mengapa Tuhan membawa kita masuk ke ruang tunggu, al.:
- Di Ruang tunggu Tuhan melatih kesabaran kita.
- Di ruang tunggu kita menanti untuk diperlengkapi dengan kuasa Illahi.
- Di ruang tunggu Allah menguji iman kita.
- Di ruang tunggu kita mendapatkan kekuatan baru.
- Di ruang tunggu kita menerima dari Tuhan agar mendapat membagikan.
- Di ruang tunggu kita diam agar Tuhan yang berperang.
- Di ruang tunggu kita diam agar dapat melihat TUHAN.
- Anggur baru harus diisikan ke dalam kirbat baru.
- Di ruang tunggu Bapa rindu untuk bersekutu.
- PERTOLONGAN TUHAN DATANG DIBATAS AKHIR KEKUATAN
Kejadian 17:17
Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya:
“Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?”
Jalan Tuhan kadang-kadang sulit untuk dimengerti, keputusan-keputuasanNya juga sukar untuk dipahami. Kita berharap setiap doa segera dijawab, tapi nyatanya jawaban doa datang begitu lambat. Kita merindukan berkat, tetapi nyatanya hidup yang kita alami semakin berat. Kita berdoa agar usaha kita makin maju, tetapi faktanya usaha kita hancur karena tertipu. Kita berdoa agar setiap janjiNya digenapi, tetapi Tuhan berkata nanti. Kita maunya segera, tapi Tuhan seolah menunda.
Inilah yang akan kita pelajari saat ini. Mengapa Tuhan membawa kita masuk di ruang tunggu, untuk menanti semua janji yang telah Dia beri. Karena pertolongan Tuhan datang dibatas akhir kekuatan. Untuk itu marilah kita belajar dari kisah kehidupan bapa Abraham.
1). Abraham menerima janji Tuhan. Kej. 12:1-4
Ayat 1 : Abraham diperintahkan untuk pergi dari negerinya dan dari sanak saudaranya dan dari rumah bapanya ini ke negeri yang akan Kutunjukkan Tuhan kepadanya.
Ayat 2-3 – Janji Tuhan kepada Abraham:
- Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar
- Memberkati engkau
- Membuat namamu masyhur
- Engkau akan menjadi berkat
- Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau,
- Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.
Ayat 4 : Abraham segera pergi bersama Lot, saat itu ia berumur 75 tahun.
Perhatikanlah catatan usia Abraham. Ia menerima janji saat usianya masih 75 tahun. Jadi baik Abraham maupun istrinya masih muda, kuat, dan hebat.
LELAH MENANTI
Kejadian 15:2
Abram menjawab: “Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.”
Setelah menunggu beberapa tahun, namun janji Tuhan belum juga digenapi, maka Abraham dan Sara mengalami kelelahan. Mereka mempertanyakan janji yang Tuhan telah ucapkan. Katanya: “Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.”
Menanti kadang melelahkan, tapi jangan berhenti untuk menanti, meski rasanya sulit untuk dimengerti tetapi janji Tuhan selalu layak untuk dipercayai. Dia yang berjanji, Dia juga berkuasa menggenapi. Meski rasanya begitu lama, janji Tuhan selalu digenapi tepat pada waktunya.
JALAN PINTAS
Kejadian 16:3
Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, —yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan–,lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya.
Setelah sepuluh tahun menanti dan janji Tuhan belum juga digenapi, Sarai istri Abraham memakai jalannya sendiri dan jalan itu disebut “JALAN PINTAS.” Sarai mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya. Dari Hagar lahirlah Ismail. Cara yang ditawarkan Sarai sepertinya benar, tetapi salah di mata Tuhan, sebab bukan itu yang dikehendaki oleh Tuhan. Janji keturunan itu harus lahir dari Sarai bukan yang lain.
Meski lelah untuk menunggu, jangan ambil jalan pintas. Mengapa?
Jalan pintas itu bukan jalanNya Tuhan, jalan pintas jalan manusia.
Jalan pintas kelihatan cepat, tetapi tidak tepat.
Jalan pintas memang mudah, tetapi akhirnya mendatangkan musibah.
Ingatlah: Kesuksesan yang dicapai dengan jalan pintas, hasilnya hanya dinikmati dalam waktu selintas.
Mungkin saat awal setelah Ismail lahir Abraham dan Sarai sangat bahagia, sebab harapan untuk memiliki keturunan yang banyak telah datang. Ia berfikir janji Tuhan telah digenapi, keturunan yang banyak dan berkat besar telah menanti. Tetapi apa yang terjadi? Kehadiran Ismail justru menimbulkan masalah dalam keluarga bahkan masalah hingga saat ini. Karena itu jangan sekali-kali mengambil jalan pintas, percayalah itu bukan pilihan cerdas, jalan pintas tidak pernah menyelesaikan masalah dengan tuntas.
JANJI YANG DIGENAPI
Kej. 17:1
Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.
Kej. 17:6
Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja.
Ketika Abraham berumur 99th, Tuhan datang menampakkan diri kepada Abraham untuk menggenapi janjiNya. Lalu bagaimana respon Abraham saat Tuhan datang kepadanya untuk menggenapi janjiNya ketika umurnya telah mencapai 99 th. ?
Kej. 17:17 Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: “Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?”
Kej. 18:11 Adapun Abraham dan Sara telah tua dan lanjut umurnya dan Sara telah mati haid.
Dari dua ayat di atas, kita ketahui bahwa Abraham dan Sara telah berada dibatas akhir kekuatan, Abraham berusia 99 tahun, sedangkan Sara berusia 90 tahun dan telah mati haid. Itulah sebabnya Abraham berkata: Mungkinkah? Tidak mungkin! Mustahil! Namun yang mustahil bagi manusia, tidak pernah mustahil bagi Tuhan. Yang tidak mungkin bagi manusia selalu mungkin bagi Allah. Ketika Abraham dan Sara telah sampai pada batas akhir kekuatan bahkan berada dibatas kemustahilan, pada saat itulah Allah datang menunjukan pertolongan untuk menggenapi janji yang telah Dia berikan.
Pertanyaan yang dapat kita ajukan dari kisah ini adalah: mengapa Tuhan seolah-olah membiarkan Abraham dan Sara menunggu selama 25 tahun, dan baru Tuhan menggenapi janjiNya? Mengapa Tuhan tidak melakukan saat Abraham dan Sara saat masih kuat secara fisik? Mengapa pertolongan Tuhan justru datang di batas akhir kekuatan Abraham dan Sara?
- Tuhan satu-satunya harapan dan andalan.
Inilah alasan mengapa Tuhan membiarkan kita berada di ruang tunggu, agar kita menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber harapan dan pertolongan. Saat usia Abraham 75 tahun dan Sara 65 tahun. Saat itu mereka dalam kondisi kuat, jos, jaya, hebat. Lalu Tuhan memberikan anak, maka mereka menganggap bahwa itu adalah hasil usaha mereka sendiri. Oleh karena itu, Tuhan membiarkan mereka menunggu selama 25 tahun agar mereka mengakui bahwa keberhasilan terjadi hanya oleh karena kuasa Tuhan bukan oleh kehebatan atau kekuatan manusia.
Kisah lain dapat kita pelajri dari kisah seorang wanita yang 12 tahun sakit pendarahan dalam Markur 5:25,26.
Ayat 25 Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.
Ayat 26 Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.
Mengapa wanita ini dibiarkan menanti selama 12 tahun sampai seluruh hartanya habis untuk mengobati sakitnya? Supaya ia tahu bahwa satu-satunya penolong atas sakitnya adalah Tuhan Yesus Kristus. Itulah sebabnya dengan percaya ia berkata: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” (Markus 5:27,28) Ketika tidak ada lagi harapan maka harapannya hanya kepada Tuhan, saat tiada lagi yang bisa diandalkan maka andalannya hanya kepada Tuhan. Dan saat ia berharap dan mengandalkan Tuhan, maka terjadilah kesembuhan.
2. Kuasa Tuhan mengatasi kemustahilan.
Tuhan membiarkan Abraham dan Sara menunggu 25 tahun sampai mereka berada pada batas akhir kekuatan bahkan mereka berada pada garis batas kemustahilan, karena Tuhan ingin menunjukan bahwa kuasa Tuhan mengatasi segala kemustahilan. Bagi Tuhan kemustahilan adalah tempat lahirnya keajaiban. Ketika tidak ada lagi kemungkinan, disanalah tercipta keajaiban. Sebaliknya selama kita masih menemukan kemungkinan-kemungkinan maka kita tidak akan melihat lahirnya keajaiban.
Lukas 1:37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”
3. Kuasa TUHAN bekerja dalam kelemahan manusia.
Tuhan menyatakan kuasaNya bukan saat Abraham dan Sara masih muda, hebat, kuat, tetapi mereka tua dan tak berdaya. Mengapa? Sebab kuasa TUHAN bekerja dalam kelemahan manusia.
2 Korintus 12:9-10
Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
Penutup
Percayalah bahwa Tuhan paling tahu batas kemampuan kita. Jika Tuhan seolah menunda jawaban doa, sebab Tuhan mau agar kita percaya bahwa DIA berkuasa mengenapi firmanNya, DIA bekerja dibatas akhir kekuatan manusia. Sebab itu bertahanlah, jangan menyerah, teruslah melangkah maju, Tuhan tahu batas kekuatanmu. Tuhan memberkati. KJP!