RUANG TUNGGU seri 18 – oleh Pdt. K. Joseph Priyono (Ibadah Raya 2,3 – Minggu, 23 Oktober 2022)

Kita sudah mempelajari 17 alasan, mengapa kita harus bersedia berada di “ruang tunggu” antara lain:

  1. Di Ruang tunggu Tuhan melatih kesabaran kita.
  2. Di ruang tunggu kita menanti untuk diperlengkapi dengan kuasa Illahi.
  3. Di ruang tunggu Allah menguji iman kita.
  4. Di ruang tunggu kita mendapatkan kekuatan baru.
  5. Di ruang tunggu kita menerima dari Tuhan agar mendapat membagikan.
  6. Di ruang tunggu kita diam agar Tuhan yang berperang
  7. Di ruang tunggu kita diam agar dapat melihat TUHAN.
  8. Anggur baru harus diisikan ke dalam kirbat baru.
  9. Di ruang tunggu Bapa rindu untuk bersekutu
  10. Pertolongan Tuhan datang di batas akhir kekuatan
  11. Karena saat kita meminta kepadaNya, kita harus bersedia mengikuti caraNya
  12. Kemenangan terjadi di akhir pertandingan bukan di awal permainan
  13. Berkat Tuhan dilekatkan pada ketaatan.
  14. Penuaian terjadi lama setelah benih ditaburkan
  15. Berkat Tuhan seiring kedewasaan
  16. Tuhan menghendaki kualitas prima dan hasil yang sempurna
  17. Tuhan menuntun selangkah demi selangkah.

Sekarang marilah kita belajar alasan yang ke 18 mengapa kita berada di ruang tunggu:

TUHAN SENGAJA MENUNDA KEHADIRANNYA

Yohanes 11:6
Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit,  Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada;

Pendahuluan
Tak seorangpun dapat memahami jalan-jalan Tuhan dengan sempurna dan tak seorangpun yang dapat mengerti cara Tuhan bekerja, sebab jalan dan caraNya kadang-kadang berlawanan dengan keinginan manusia. Kita ingin hidup damai, tapi yang kita alami adalah badai. Kita rindu perjalanan hidup menjadi mudah, tapi yang terjadi perjalanan hidup diwarnai banyak masalah. Kita ingin keluarga hidup bahagia, tapi kenyataannya keluarga kita hidup menderita. Kita minta setiap usaha beruntung, tapi yang terjadi usaha malah buntung, dll.

Demikian juga yang terjadi dengan keluarga di Betania ini, yaitu keluarga Maria, Marta dan Lazarus. Ketika Lazarus sakit mereka mengirim kabar kepada Yesus: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” Maria dan Marta mengerti dengan pasti bahwa Lazarus adalah pribadi yang dikasihi oleh Yesus. Maka logikanya, sebagai orang yang dikasihi Tuhan, ketika mendengar kabar Lazarus sakit, pasti Yesus akan segera datang mengunjungi, dan menyembuhkan Lazarus. Tetapi apa yang terjadi? Ayat 6 dikatakan: Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada. TuhanYesus sengaja tinggal dua hari lagi, Dia sengaja menunda kehadiranNya.

Rasanya sulit diterima dengan akal sehat. Bagaimana mungkin Tuhan Yesus menunda kedatanganNya, padahal ayat 5 dikatakan: Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. Bahkan dalam ayat 2 dikatakan: Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya.

Dari sini kita melihat ternyata hubungan keluarga Betania dengan Tuhan Yesus sangat dekat. Mereka saling mengasihi dan dikasihi, tetapi ketahuilah orang-orang yang dikasihi juga dibiarkan untuk menanti. Meski memiliki hubungan yang dekat, tetapi kenyataannya permohonannya tidak selalu dijawab dengan cepat. Bahkan Tuhan Yesus seolah-olah tidak peduli, meski Maria sudah memberi yang terbaik dari apa yang dimiliki. Tuhan menunda kedatanganNya ke Betania. Tuhan seolah-olah membiarkan mereka menderita bahkan berduka cita karena kematian Lazarus saudaranya.

Hari ini marilah kita belajar dari keluarga Betania, bahwa orang-orang percaya harus sabar menunggu di ruang tungguNya, sebab Tuhan kadang kala sengaja menunda kedatanganNya.

Mengapa Tuhan sengaja menunda kehadiranNya?
1. Agar kita belajar percaya
Yohanes 11:14,15  
Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: “Lazarus sudah mati; tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.” 

Mudah untuk percaya ketika semua berjalan sesuai rencana. Keadaan baik, tubuh sehat, kuat penuh berkat. Usaha lancar, keuntungan besar. Tapi apakah kita tetap percaya kepada Tuhan jika yang terjadi adalah kebalikannya seperti yang dialami keluarga Maria dan Marta? Masihkan kita percaya, jika doa tidak dijawabNya? Masihkah kita percaya saat Tuhan menunda kedatanganNya? Sanggupkah kita tetap beriman saat Tuhan seolah-olah diam?

Saudaraku yang kekasih, Tuhan menunda kedatanganNya menuju ke Betania, sebab Ia sedang melatih murid-muridNya agar dapat belajar percaya. Percaya bukan karena mereka melihat tanda dan mujizat yang dibuatNya, tetapi tetap percaya walau rasanya Tuhan tidak melakukan apa-apa. Inilah iman yang benar. Iman yang sejati, tidak meragukan Tuhan walau seolah Tuhan diam. 

Contoh iman yang sejati ditunjukan oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego (Daniel 3:17-18).
Sadrakh, Mesakh dan Abednego tetap percaya dan setia kepada Allah baik ketika Tuhan Allah menolong dan menyelamatkan mereka, bahkan kalau Tuhan tidak menolong mereka tetapi membiarkan mereka masuk perapian, mereka tetap percaya dan menyembah kepada Tuhan. Iman mereka tidak memudar meski  menghadapi masalah besar. Demikian juga dengan iman Ayub (Ayub 23 : 8-12). Dalam penderitaan Ayub tidak menemukan pertolongan Tuhan meskipun ia sudah mencarinya ke segala penjuru bumi. Namun demikian semuanya itu tidak membuat Ayub berpaling dari Tuhan, Ayub percaya bahwa Tuhan tahu yang terbaik bagi dirinya. Dalam ayat 10 ia berkata: “Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.”  Keyakinan imannya membawanya untuk berkomitmen hidup dalam kebenaran. (ayat 11,12) 

Yohanes 20:29  
Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” 

2. Jika Tuhan datang terlambat sebab Dia merancangkan sebuah mujizat.
Yohanes 11:4  
Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” 

Cara Tuhan bekerja tidak sama dengan cara manusia. Maria dan Marta menginginkan Yesus segera datang untuk menyembuhkan Lazarus yang sedang sakit, tapi kenyataannya Tuhan Yesus malah menunda kedatanganNya sampai akhirnya Lazarus meninggal dunia. Apakah Tuhan Yesus tidak mengerti yang dialami Maria dan Marta? Apakah Tuhan Yesus tidak peduli kepada mereka? Tidak!, Tuhan sengaja melakukan itu sebab Ia ingin menyatakan kemuliaanNya melalui sakit yang diderita Lazarus. Tuhan datang terlambat sebab Dia merancangkan sebuah mujizat.

Pahamilah, semua masalah, sakit yang engkau alami, penderitaan, dan duka yang engkau rasakan adalah kesempatan Tuhan untuk menyatakan kemuliaanNya. Tidak ada mujizat yang lahir dari keadaan normal, mujizat tidak terjadi dalam keadaan biasa, mujizat terjadi pada saat kita tidak berdaya bahkan di tengah-tengah kemustahilan. Maria dan Marta merindukan kesembuhan, tetapi Tuhan merencanakan kebangkitan. Tuhan memberikan lebih dari yang diminta bahkan yang tidak pernah dipikirkan.

1Korintus 2:9  
Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”

Efesus 3:20  
Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, 

3. Agar kita mengetahui bahwa Tuhan mengatasi segala situasi dan kondisi
Mari kita perhatikan cara berfikir dan pemahaman Maria dan Marta tentang Yesus.

Yoh 11:21  
Maka kata Marta kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada disini, saudaraku pasti tidak mati. 

Yoh 11:32  
Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada disini, saudaraku pasti tidak mati.” 

Maria dan Marta berfikir, kalau saja Yesus datang beberapa hari yang lalu saat Lazarus masih sakit, tentunya Lazarus akan sembuh. Tapi sekarang Lazarus sudah meninggal bahkan sudah 4 hari di dalam kubur. Rasanya mustahil untuk dibangkitkan dari kematian. 

Ada sebuah tradisi dalam masyarakat Yahudi tentang orang mati, ketika seseorang meninggal dunia, maka dalam tiga hari rohnya masih bersama tubuhnya, tetapi memasuki hari keempat, tubuhnya mulai rusak/hancur dan membusuk sehingga kelihatan jelek. Saat melihat tubuhnya menjadi rusak dan jelek, maka roh manusia pergi meninggalkan tubuhnya. Itulah sebabnya Maria dan Marta berfikir bahwa mustahil Lazarus bisa dibangkitkan.

Tetapi apakah benar, Tuhan Yesus hanya mampu menolong Lazarus saat ia masih sakit, dan setelah Lazarus meninggal Yesus tidak dapat berbuat apa-apa? TIDAK! Kuasa Tuhan Yesus mengatasi segala situasi dan kondisi. 

1Samuel 14:6  
Berkatalah Yonatan kepada bujang pembawa senjatanya itu: “Mari kita menyeberang ke dekat pasukan pengawal orang-orang yang tidak bersunat ini. Mungkin TUHAN akan bertindak untuk kita, sebab bagi TUHAN tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang maupun dengan sedikit orang.”

Ibrani 13:8  
Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. 

Penutup
Setialah menanti di ruang tunggu, sabarlah sejenak hingga Tuhan datang melawat hidupmu. Meski kadang-kadang Tuhan menunda kedatanganNya, tapi Tuhan tidak pernah terlambat untuk menolong anak-anakNya. Percayalah, ketika Tuhan seolah datang terlambat, Dia sedang merencanakan mujizat. Percaya saja, Tuhan memberkati, Amin – KJP!

Arsip Catatan Khotbah