API BAGI BANGSAKU – oleh Pdp. Jeff G. Minandar (Ibadah Raya 2,3 – Minggu, 23 Agustus 2026)

Kisah Para Rasul 2:3-5.

Kita perlu paham bahwa “api” punya kuasa.  Seperti di zaman purba, pemanfaatan api bisa berguna untuk kelangsungan hidup (kehangatan, perlindungan, masakan, produksi alat-alat sederhana). Bahkan perkembangan dunia modern yang salah satunya ditandai industrialisasi didorong oleh api yang membakar batubara untuk menggerakkan mesin-mesin.

Namun api bukan saja unsur alam, tetapi ia juga menjadi simbol semangat dan kekuatan. Misalnya api perlawanan terhadap penjajahan yang membawa pada kemerdekaan. Atau kalau kita menengok ke abad pertama, gereja mula-mula dibangun oleh “api” Roh Kudus.

Api pantekosta yang melawat murid-murid datang oleh karena doa. Karena itu kita juga percaya bahwa kalau kita ingin melihat kebangunan rohani bagi Indonesia, yaitu saat bangsa ini dilawat api Tuhan, kita juga perlu berdoa. Doa yang seperti apa?

1. Doa jangan seperti orang MUNAFIK.
Ini berbicara mengenai MOTIVASI kita dalam berdoa. “…supaya mereka dilihat orang.” Matius 6:5. Kita tidak bisa menghakimi motivasi orang lain. Namun kita bisa mengenal motivasi kita.

Jangan kita menjadi takut karena ini. Malahan sebaliknya, kita hidup dalam kasih karunia ilahi, ini adalah zaman Roh Kudus. Datanglah dengan pengertian tentang doa seperti yang tertulis di Roma 8:26-27.

2. Doa dalam tempat TERSEMBUNYI.
Tersembunyi bukan berarti kita harus berlari ke dalam ruangan khusus untuk berdoa. Lihat perkataan Yesus: “…Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.” Matius 6:6. Hatimu adalah tempat tersembunyi. Mazmur 64:7. Doa harus lahir dari hubungan yang intim dengan Allah.

3. Doa tidak ditentukan panjang-pendek KATA-KATA.
Kita tidak perlu bertele-tele dalam berdoa. Matius 6:7. Kita sedang berbicara dengan BAPA kita bukan kepada hakim, atau karyawan, atau pelanggan dalam usaha menyampaikan maksud kita. Yohanes 11:41-42.

Doa yang dilawat oleh api Roh Kudus akan menghasilkan hal-hal yang besar. Karena itu kita tidak boleh lekas puas dengan pengalaman “sekali seumur hidup”. Kita harus rindu terus menerus dipenuhi api Roh Kudus. Karena dari pengalaman itu hidup kita terus menerus dibaharui. Kolose 3:10. Kerinduan kita ini biarlah menular ke semakin banyak keluarga di gereja kita, di kota kita, di Indonesia. 

Namun kita juga harus berhati-hati dengan kuasa “api” yang negatif, yang bisa merusak. Gambaran yang digunakan di Alkitab, api kecil yang bisa merusak hutan, dihubungkan dengan dosa karena lidah. Yakobus 3:5. Tapi yang ingin saya potret adalah sesuatu yang awalnya kecil, bertambah, semakin besar, sampai dampaknya juga besar.

Hal ini dipakai istilah “compounding” yang arti dasar adalah menggabungkan atau menyatukan elemen-elemen atau bagian-bagian. Hanya saja sering ini dikenal dalam terminologi keuangan. Seseorang yang memulai suatu taburan yang baik akan melihat hasil berlipat kali ganda saat masa penuaian. Markus 4:26-29. 

Tetapi hal yang baik, selalu saja ada ekstrim sebaliknya yang negatif. Ketika suatu hal kecil dilakukan dengan rutin, itu bisa menjadi besar dengan tanpa diduga. Contoh saja penumpukan sampah di selokan, sungai atau pantai. Karena itu biarlah hidup kita seharusnya positif dalam perkara kecil sampai nanti juga positif di perkara besar. Lukas 16:10.

Sayangnya masih banyak orang menumpuk hal yang negatif dalam hidupnya. Bukannya berinvestasi, ia memperbanyak utang. Bukannya hidup sehat, ia hidup sembarangan. Bukannya setia, ia malahan kompromi. Bukankah ini fenomena nyata yang kita lihat di bangsa kita. Ini adalah sesuatu yang berjalan sebagai hukum Allah, bukan sekadar hukum alam. Galatia 6:7.

Api yang mana yang kita mau bawa untuk bangsa kita. Api yang membawa perubahan, atau api yang menghanguskan, dan turun menurun kita ajarkan kepada generasi selanjutnya. Indonesia butuh orang-orang yang mau mulai dari sekarang, yang konsisten melakukan hal baik, yang sabar sampai melihat api ilahi atas Indonesia.

Arsip Catatan Khotbah