CAWAN PAHIT KEHIDUPAN – oleh Pdt. K. Joseph Priyono (Ibadah Raya 2 – Minggu, 13 Agustus 2023)

Mat 26:27  
Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. 

Pendahuluan
Perjalanan hidup tak lepas dari beragam persoalan dengan sejuta rasa yang berbeda. Ada yang manis untuk dirasakan, namun juga ada yang pahit untuk telan. Pahit manis kehidupan yang terjadi memang harus kita alami walau tidak semua menyukakan hati.

  • Kita memang bisa meminta yang manis kepada Tuhan, tetapi kita tidak bisa menolak jika yang pahit Tuhan berikan. 
  • Kita boleh memohon berkat kepada Tuhan, tetapi jangan marah jika yang Tuhan berikan adalah perjalanan hidup yang berat. 
  • Berdoalah untuk hal-hal yang baik, tetapi jangan kecewa jika yang buruk justru menjadi jawaban.

Inilah kehidupan! Siap atau tidak kita harus bersedia menelan “CAWAN PAHIT KEHIDUPAN.” Dalam hidup ini ada banyak cawan pahit yang harus dirasakan, dan cawan pahit kehidupan yang pertama yang akan kita pelajari disebut “PENDERITAAN.”

Firman Allah berkata:
Mat 26:27  Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. 

Di malam yang terakhir menjelang kematianNya, Tuhan Yesus mengajak murid-muridNya untuk makan malam bersama. Ketika mereka sedang makan, Tuhan Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. 

Pada masa itu, cawan yang digunakan dalam perjamuan Paskah adalah satu cawan besar yang dipakai secara bergantian. Kebiasaannya adalah saat cawan tiba di tempat seseorang duduk bersandar, orang itu wajib menghabiskan isi cawan, meneguk sampai habis, sebelum cawannya diisi kembali lalu diberikan ke orang yang di sebelahnya. Di bagian dasar cawan sering ada ampas pahit. Dan ampas itu harus diminum juga supaya anggur bisa diisikan lagi untuk diminum orang berikutnya.

Dalam firman Tuhan cawan adalah gambaran tentang penderitaan atau murka Tuhan. (Maz 75:9, Yes 51:17,22, Yer 25:15, Yeh 23:31-33, Wah 14:10, Wah 16:19). Oleh karena kehendak BapaNYA dan untuk menggenapi misi kedatanganNYA ke bumi Tuhan Yesus Kristus rela dan bersedia meminum cawan pahit penderitaan karena dosa yang dilakukan oleh umat manusia. 

Selesai meminum cawan ini, kurang dari 24 jam, maka penderitaan demi penderitaan dialami oleh Tuhan Yesus. Mulai dari taman Getsemani hingga puncak Golgota, penderitaan demi penderitaan datang secara silih berganti. Di taman Getsemani Yesus ditangkap, dihina, dipukuli, dicambuk, diludahi, diadili hingga puncaknya disalibkan di bukit Golgota. Ini adalah cawan pahit yang diminum oleh Tuhan Yesus, yaitu menderita karena dosa manusia.

PENDERITAAN ANAK-ANAK TUHAN
Tidak ada orang yang yang bebas dari penderitaan. Semua orang pernah mengalami penderitaan apapun agamanya, profesinya, jabatannya, tua atau muda, besar atau kecil semua pernah menderita. Apakah itu penderitaan secara fisik, atau penderitaan dalam jiwanya. Termasuk juga bagi anak-anak Tuhan. Penderitaan tidak mengenal agama, semua orang bisa menderita.

Firman Tuhan tidak menyembunyikan penderitaan yang akan dialami oleh anak-anak Tuhan. Sejak awal Tuhan Yesus sudah mengingatkan bahwa kalau ingin menjadi murid Tuhan, maka ia harus bersedia menyangkal dirinya dan memikul salibnya. Artinya menjadi pengikut Yesus harus siap untuk menderita. 

Meski Tuhan Yesus sudah memperingatkan tentang penderitaan yang akan terjadi, namun demikian bukan berarti mudah untuk menghadapi penderitaan. Respon orang dalam menghadapi penderitaan.

a. Menolak penderitaan.  
Kelompok ini memilih lari dari penderitaan dengan cara bunuh diri.
b. Menyangkali penderitaan – berpura-pura seolah-olah tidak terjadi apa-apa. 
c. Menyalahkan diri sendiri atau orang lain, keadaan.
d. Menghadapi dengan berani.

Berani menghadapi penderitaan adalah pilihan terbaik bagi kita. Perhatikan ayat pokok kita: Mat 26:27  Sesudah itu Ia mengambil cawan, mengucap syukur lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Tuhan Yesus ingin agar kita tidak menolak atau menyangkali penderitaan tetapi dengan penuh kesadaran menerima cawan pahit penderitaan lalu meminumnya.

Bagaimana caranya agar kita mampu meminum cawan pahit penderitaan?
1. Terimalah Penderitaan sebagai KASIH KARUNIA ALLAH
1Petrus 2:20  
Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. 

Penderitaan sebagai kasih karunia artinya bahwa oleh penderitaan iman kita didewasakan, rohani dibawa naik tingkat, hati kita dimurnikan, keyakinan kita diteguhkan. Penderitaan membawa kita mengenal dan mengalami Tuhan lebih dalam. Ketahuilah dalam keadaan damai kita mengetahui tentang TUHAN, tetapi dalam penderitaan kita mengenal TUHAN.

Kisah Rasul 5:41  
Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus.

2. Ikutilah teladan Kristus
1Petrus 2:21  
Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.

Sadarilah saat kita menderita kita tidak menderita sendirian. Kita bukan orang yang paling malang dalam menghadapi penderitaan. Jangan hukum dirimu seolah-olah menjadi orang yang paling menderita. Ingatlah Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Semua yang engkau alami Yesus sudah pernah alami, semua yang engkau rasakan Yesus sudah pernah rasakan dan meninggalkan jejak bagi kita.

Penderitaan yang telah dialami Kristus bukan hanya sebagai penghiburan, melainkan keteladanan. Ini bukan hanya demonstrasi ketahanan untuk dikagumi, melainkan kemenangan untuk diikuti. KemenanganNya dalam menghadapi penderitaan adalah sebuah teladan yang ditinggalkan bagi kita. 

Kata teladan digunakan dengan kata : hypogrammos. Artinya menyalin dengan cara mengikuti pola yang telah tersedia. Masih ingat saat baru belajar menulis? Ada titik-titik yang membentuk pola abjad, kemudian kita mengikuti titik-titik tersebut untuk membuat abjad itu yang disebut hypogrammos.

3. Pandanglah hadiah yang tersedia
2Korintus 4:17  
Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. 

Dibalik segala penderitaan yang kita alami ada hadiah yang telah menanti yaitu kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan yang kita alami. Mana yang kita pandang: kita memandang penderitaan yang sedang terjadi, rasa sakit yang dialami, cawan pahit yang sedang dinikmati atau hadiah yang telah menanti.

Ingatlah kata pepatah : no pain no gain, no cross no crown. Artinya tidak ada keberhasilan tanpa rasa sakit dantidak ada mahkota tanpa salib.

Contoh: Para atlet olah raga. Mereka rela berlatih keras, menahan rasa sakit demi kemenangan dan hadiah yang dijanjikan. Jangan hindari penderitaan, atau kurangi beban yang engkau pikul, tetapi tambahlah kekuatan dalam dirimu sehingga mampu menanggung semua beban penderitaan yang kita alami.

DIMANA TUHAN SAAT PENDERITAAN DATANG?
Maleakhi 3:2.3  
Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN.

Nabi Maleakhi menubuatkan kedatangan Mesias seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu.

Dalam industri emas, api berfungsi memisahkan kotoran yang menempel pada logam emas. Panasnya api bukan dimaksudkan untuk menghancurkan emas melainkan untuk mendapatkan emas yang murni. Demikian juga dengan sabun. Sabun berfungsi untuk membersihkan pakaian yang kotor. 

Pertanyaannya, dimanakah tukang pandai emas selama emas dipanaskan dalam api? 

Ayat 3 
Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN.

Pandai emas tetap berada di depan tungku pemanasan sampai emas murni dihasilkan. Percayalah TUHAN tetap dekat dengan Anda, Dia memperhatikan dan berdaulat penuh atas penderitaan yang sedang engkau alami. Tuhan tahu kapan emas diangkat dari tungku. Percayalah selama cawan pahit kita rasakan, di sana Tuhan ada menyertai kita sampai kita meraih kemenangan. Tuhan memberkati. KJP!

Arsip Catatan Khotbah