Roma 4:18-22
Pendahuluan
Kita akan belajar dari teladan seorang Abraham mengapa ia mendapatkan gelar bapa bagi semua orang yang percaya, melalui pengalaman hidupnya. Kita mulai dari ayat ke 18.
“Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa bagi banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan : Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”
Kata “Tidak ada dasar” dalam bahasa Yunaninya ditulis PARA artinya suatu keadaan yang berlawanan atau bertentangan dengan janjinya Tuhan kepada kita. Sebagai contoh Tuhan janji akan memberikan kita jalan keluar, tetapi kenyataannya masalah yang kita hadapi belum juga terselesaikan. Tuhan berjanji akan memberikan kesembuhan, tetapi yang terjadi di depan mata kita justru alami sakit yang berkepanjangan. Pada waktu seseorang menghadapi kenyataan itu, inilah yang Alkitab katakan tanpa dasar atau tidak ada dasar untuk berharap. Tetapi luar biasanya, dikatakan bahwa Abraham berharap juga dan percaya. Tidak heran Abraham diberi gelar bapa semua orang percaya dan sebagai orang-orang percaya seharusnya kita juga mencontoh Abraham, dimana seharusnya realita yang terjadi di depan mata kita tidak menggoncang harapan kita kepada Tuhan, tidak menggoncang percaya kita pada Tuhan. Yang menjadi masalah secara umum adalah banyak orang mau percaya dan berharap kepada Tuhan, tetapi itu dipicu oleh perasaan semata, karena perasaan yang kemudian lebih mendominasi dalam hidupnya, maka ketika menghadapi realita tanpa dasar, maka yang terjadi adalah harapan dan percayanya kepada Tuhan sangat mudah tergoncang.
Bagaimana Abraham bisa tetap berharap dan percaya kepada Tuhan ketika menghadapi realita tanpa dasar untuk berharap? Kita lihat kembali pada ayat 18a-nya saja. “Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham BERHARAP juga dan PERCAYA.” Jadi ada dua kata kunci yang harus dibahas :
I. BERHARAP.
Kata “Berharap” kata Yunaninya ELPHIS, yang memiliki beberapa pengertian :
1. Antisipasi
Ternyata Abraham sudah mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi dalam hidupnya. Kebanyakan atau umumnya orang beranggapan kalau berdoa pasti akan segera dijawab, kalau minta kepada Tuhan pasti diberi, umumnya orang tahu bahwa teorinya kalau Tuhan sudah janji pastilah diberikan, tetapi realitanya tidak seperti itu.
Abraham ternyata satu pribadi yang sangat menarik untuk diteladani, ia tahu bagaimana mengantisipasi kondisi itu, ia sudah memikirkan situasi yang terburuk yang akan ia hadapi. Jika yang ia harapkan ternyata kenyataannya tidak seperti yang ia harapkan, maka harapan dan percayanya tetap tegak tidak akan gugur. Sebagai contoh saya selalu menyiapkan jas hujan di jok motor saya, saya mengharapkan tidak akan ada hujan, tetapi ketika ternyata yang terjadi justru sebaliknya, terjadi hujan besar, saya tidak akan mundur apalagi membatalkan untuk melakukan perjalanan karena sudah mengantisipasi kondisi tersebut.
Dalam perjalanan kehidupan rohani kita juga harus belajar dan membiasakan dengan apa yang kita sebut “mengantisipasi.” Sebab jika kita tidak terbiasa untuk mengantisipasi, maka ketika apa yang kita harapkan ternyata tidak menjadi kenyataan, maka yang terjadi adalah kita menjadi gampang marah dan kecewa kepada Tuhan, dan yang membahayakan adalah percaya dan harapan kita kepada Tuhan akan gugur. Mengantisipasi ini beda dengan iman, mengantisipasi adalah suatu sikap yang tetap positif ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Misal ketika kita berdoa kepada Tuhan, tetapi tidak mendapat jawaban, ya tidak masalah karena setidaknya kita sudah membicarakan hal kita kepada Bapa. Kiita harus bertindak seperti Abraham yang memahami bahwa Tuhan punya pertimbangan yang pasti jauh lebih baik, jauh lebih menguntungkan yang saat ini kita tidak pahami yang sedang Tuhan kerjakan bagi kita. Pemikiran ini sebenarnya dalah pemikiran yang sudah terbangun di atas kebenaran firman Allah, karena Tuhanlah yang lebih tahu apa yang terbaik dalam hidup kita, Dialah yang berdaulat dan berkuasa menentukan kehidupan, dan percayalah apapun yang Tuhan buat tidak ada maksud jahat sedikitpun, tetapi semata-mata karenja kasih dan bagi kebaikan kita.
2. Berharap akan terjadinya kebaikan dari Tuhan.
Tidak heran Abraham meskipun tidak ada dasar untuk berharap, imannya tidak gugur karena ia memiliki harapan akan terjadinya kebaikan dari Tuhan. Abraham punya keyakinan kalau Tuhan belum jawab saat ini, ia percaya Tuhan punya pertimbangan yang jauh lebih baik dari apa yang kita minta, atau jika Tuhan sedang mengerjakan apa yang menjadi pertimbangan Tuhan biarlah Tuhan kerjakan seturut kehendak-Nya, karena Abraham yakin hasilnya pasti lebih baik sehingga yang terjadi pada Abraham adalah berharap apa yang akan Tuhan kerjakan dalam kehidupannya.
2. Keyakinan yang Konkret.
Harapan kepada Tuhan adalah suatu keyakinan yang konkret bukan abtrak, bukan keyakinan yang dibangun alakadarnya, tetapi konkret, nyata.
Kita punya keyakinan bahwa Tuhan punya pertimbangan jauh lebih hebat dari pertimbangan kita. Tuhan punya perhitungan atau kalkulasi yang jauh lebih tepat dari perhitungan kita, sehingga ketika harapan dan perhitungan yang kita inginkan ternyata tidak menjadi kenyataan, maka biarlah kita percayakan kepada pertimbangan dan perhitungan Allah saja yang pasti jauh lebih baik dari yang kita inginkan. Inilah yang selalu ada dalam pikiran Abraham. Orang-orang percaya sebagai anak-anak Abraham secara rohani, kita pun melatih dan membiasakan hal ini dalam kehidupan kita, sehingga hal buruk apapun yang terjadi dalam hidup kita, kita selalu dapat mengantisipasinya sehingga iman dan harap kita kepada Allah tetap kokoh dan tidak gugur. Kalau apa yang Abraham lakukan ini juga terbangun dalam kehidupan kita, maka kita akan menjadi anak Tuhan yang tidak mudah kecewa , tidak mudah pahit , tidak mudah marah kepada Tuhan, apalagi menuduh Tuhan sedang berlaku tidak adil.
II. PERCAYA
Kata “ Percaya “ ditulis PISTEO , memiliki beberapa pengertian :
1. Mengakui fakta tentang Tuhan.
Abraham dalam hidupnya telah mengalami fakta bertemu dengan Tuhan, sehingga meskipun ia mengadapi kenyataan hidup yang tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan Tuhan, ia tetap memilih percaya bahwa Tuhan itu adil, maha kuasa, semua yang dikatakan-Nya selalu akan terjadi. Apa yang tidak ada Ia dapat membuatnya menjadi ada, apa yang tidak mungkin bagi manusia semuanya mungkin bagi Allah inilah fakta tentang Tuhan bagi Abraham.
2. Percaya dengan komitmen.
Artinya kita jangan hanya percaya karena Tuhan sudah jawab doa kita, sudah tolong kita, sudah adakan mujizat buat kita, tetapi kita juga harus komitmen untuk mempercayai Allah ketika kita alami kebalikannya, ketika doa kita tidak terjawab, ketika tidak mendapatkan petolongan dan ketika tidak ada mujizat yang terjadi dalam hidup kita. Abraham berkomitmen bahwa ia percaya Tuhan dapat mengerjakan apa yang diinginkan, tetapi ketika Tuhan tidak mengerjakan apapun yang Abraham inginkan ia tetap percaya kepada Allah, meskipun tidak ada dasar untuk berharap, tetapi ia tetap percaya.
Percaya kita jangan sampai didasarkan perasaan kita, harapan dan percaya kita harus dibangun atas dasar fakta siapa Tuhan di dalam firman-Nya. Perhatikan Roma 4:18 – “ Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan-Nya: Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Selama harapan dan percaya kita didasarkan atas perasaan kita, maka kita mudah gugur dalam peperangan iman, sebaliknya percaya dan harapan kita didasarkan dan dibangun diatas kebenaran firman, maka kita akan kokoh dan melihat bagaimana Tuhan bekerja dengan cara-Nya yang heran. Sekali lagi belajarlah mengantisipasi dalam menghadapi situasi yang tidak kita inginkan dan tetaplah komitmen untuk mepercayai Allah, karena jika tidak saat ini, pasti pada kesempatan lain Allah pasti bertindak, karena hanya soal waktunya Tuhan saja. Sebab kalau Tuhan sudah berfirman, maka tidak mungkin firman itu kembali dengan sia-sia, tetapi selalu terlaksana. Setiap janji firman-Nya akan bekerja sesuai dengan rencana Tuhan bukan rencana kita, sampai firman itu mencapai tujuannya.
Jadi inilah rahasia Abraham bisa tetap berharap dan percaya karena ia percaya atas dasar kebenaran firman Tuhan. Perhatikan ayat 19 – “Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira serratus tahun tahun, dan rahim Sara telah tertutup.” IMAN bahasa Yunaninya PISTIS yang artinya keteguhan karena adanya sistem kebenaran yang telah terbangun di dalam kita. Kapan kita dapat disebut sebagai orang-orang yang beriman, ketika sebuah sistem kebenaran yang telah solid terbangun di dalam kita, yang pada waktu kita digempur oleh keadaan yang berlawanan dengan apa yang kita harapkan, kita tetap teguh dalam mempercayai Tuhan. Jika sebuah kerajaan atau kepemerintahan atau rumah tangga sistem pemerintahannya tidak kokoh apalagi tidak benar, tinggal tunggu waktu saja untuk hancur, karena mudah untuk digoyahkan.
Bagaimana sistem ini terbangun, sistem ini akan terbangun dari hari ke hari yang kita jalani, kita harus melatih diri kita untuk merenungkan firman, memahami, menyetuiui dan mentaatinya. Kerjakan hal ini tiap hari, maka secara alami sistem kebenaran dari firman Tuhan akan terbangun dalam hidup kita. Jika sistem ini terbentuk dalam hidup kita, mau dibombardir oleh kesukaran model seperti apapun, iman kita tidak akan tergoyahkan, seperti yang dikatakan dalam Roma 8:35 – Siapakah yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakkan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?
Bagi orang yang sekualitas Abraham jawabannya pasti tidak ada, bahkan berani menyatakan sekali Yesus tetap Yesus. Mengapa? Karena semua penderitaan tanpa dasar itu tidak dapat memisahkan cinta Tuhan terhadap kita, dan terus akan memanifestasikan cinta-Nya kepada orang yang teguh berpegang dalam harap dan percaya kepada-Nya. Kalau kita memiliki cinta atau kasih Tuhan dalam hidup kita, maka Tuhan lakukan banyak hal untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang dicintai-Nya.
Kalimat selanjutnya pada ayat 19 – “Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui..” Kata “Mengetahui” disini artinya Melihat dan menemukan. Abraham tidak dengar dari kata orang lain, tetapi ia melihat dan mengalaminya sendiri, dan menemukan fakta bahwa hal itu mustahil. Jadi Abraham melihat memang tidak ada dasar, ia menemukan memang tidak ada dasar, dan ia paham betul memang tidak ada dasar untuk berharap dan Abraham disini sedang membicarakan apa ia alami sendiri. Abraham melihat dan mengetahui bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usia sudah seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Realita dari sudut pandang alamiah tidak bisa dibantah dan Abraham bukanlah laki-laki yang bodoh yang menutup mata dengan kenyataan fisiknya dan juga kondisi isterinya. Ada dasar apa yang dapat dipegang untuk pada akhirnya menyakini bahwa dari padamu akan lahir keturunan seperti banyaknya bintang di langit dan pasir di laut . Tetapi apa yang terjadi dari apa yang tertulis dalam firman Tuhan ini, dalam diri Abraham telah terbangun sistem kebenaran yang sangat solid dalam dirinya, sehingga apa yang ia lihat yang memang tidak mungkin itu, imannya tidak menjadi lemah karena, kita lihat ayat selanjutnya.
Ayat 20 “Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah.”
Kata janji Allah dalam ayat ini, mengandung arti Tuhan punya jaminan, Tuhan punya pesan, Tuhan punya tindakan yang Tuhan sendiri katakan Ia akan kerjakan. Inilah yang membuat iman Abraham tidak menjadi lemah dan mengapa ia terbiasa mengantisipasi kondisi yang realitanya tidak ada lagi dasar untuk berharap. Dijelaskan dalam ayat ini karena Abraham :
- Memiliki firman Allah.
- Ia punya janji dari firman itu yang dikatakan sendiri oleh Tuhan.
- Ia lebih menyakini dan mempercayai apa kata firman-Nya daripada realita yang ia hadapi.
Semua perkataan yang keluar dari mulut Tuhan semua mengandung kehidupan di dalamnya. Itulah sebabnya yang matipun bisa bangkit karena perkataan Tuhan atau firman-Nya mengandung kehidupan. Laut terbelah, tembok tebal Yeriko dapat ambruk karena ada kuasa kehidupan dalam setiap perkataan firman Allah. Orang yang memiliki sistem yang kuat dari kebenaran firman Tuhan yang hidup tidak akan tergoyahkan imannya, karena jika janji firman-Nya belum tergenapi, maka seperti Abraham tetap pegang teguh hal itu, karena hanya soal waktu dan janji itu pasti akan tergenapi.
Perhatikan kalimat selanjutnya dari ayat 20 “Terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan.” Ketidakpercayaan inilah yang membuat orang jadi bimbang. Karena berbicara tentang iman, berharap, dan percaya akan firman Allah, janji Allah dan tindakan Allah, jika sampai sistem kebenaran dari firman Allah belum terbangun dengan kuat, maka kita akan terjerat kepada ketidakpercayaan yang menghasilkan kebimbangan. Orang yang bimbang sangat rapuh jika menghadapi realita yang tidak sesuai dengan harapannya, ia segera meninggalkan imannya. Berbeda dengan orang yang sistem kebenaran firman Allah sudah terbangun kokoh seperti Abraham. Kita lihat ayat 20 selengkapnya “Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah.” Abraham lebih mempercayai apa yang difirmankan Allah dari pada realita atau kenyataan yang ia hadapi, karena keadaan bisa dirubah tetapi firman Tuhan tidak dapat dirubah apa lagi dibatalkan. Ia akan tetap terlaksana terhadap yang mustahil sekalipun. Dalam perkara ini Abraham memuliakan Allah karena imannya, dan ia dibenarkan juga karena imannya. Mari semua orang percaya, bangunlah Iman, harap dan percaya kita diatas dasar iman kita yang paling suci dan kokoh yaitu Firman Tuhan yang ya dan amin.