Pendahuluan
Dalam Injil Yohanes, kita melihat bahwa Yesus sendiri memberikan teladan dalam melakukan penginjilan. Diceritakan dalam Yohanes 3, Yesus berbicara kepada Nikodemus, seorang Farisi dan pemimpin agama Yahudi. Nikodemus datang kepada Yesus, dan di sana Yesus menjelaskan kepadanya tentang kelahiran baru dan keselamatan.
Bahkan Yohanes 3:16 menyatakan inti dari kabar baik itu:
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Menariknya, setelah perjumpaan Yesus dengan Nikodemus, Yohanes 4 membawa kita kepada sebuah perjumpaan yang sangat berbeda. Yesus berhadapan dengan seorang perempuan Samaria.
Secara sosial, agama, dan budaya, ada banyak alasan mengapa orang Yahudi dan orang Samaria tidak memiliki hubungan yang baik.
Yohanes 4:9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria? “Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.”
Tetapi Yesus tidak membiarkan perbedaan suku, latar belakang, masa lalu, ataupun pandangan manusia menjadi penghalang untuk menyampaikan keselamatan.
Di sini kita melihat sesuatu yang penting: Yesus datang kepada manusia, berbicara kepada manusia, melayani manusia, dan membawa manusia kepada keselamatan. Dan dari perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria, kita dapat belajar bahwa seseorang yang sudah mengalami perjumpaan dengan Kristus dapat dipakai menjadi saksi bagi orang lain.
Coba dari 42 ayat kita baca Yohanes 4:28–29 “Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang di sana: ‘Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?’”
Perempuan ini datang ke sumur untuk mengambil air, tetapi ia pulang meninggalkan tempayannya dengan membawa sesuatu yang jauh lebih besar dari kebutuhan jasmani, jauh dari kepuasan dunia—sebuah pengalaman bersama Yesus yang kemudian ia ceritakan kepada orang lain.
Jadi, penginjilan bukan hanya bagaimana berbicara kepada orang lain tentang Kristus. Penginjilan dimulai dari sebuah perjumpaan pribadi dengan Kristus. Kita mengalami kasih-Nya, kita mengalami pertolongan-Nya, kita mengalami pelayanan-Nya, kemudian kita bersaksi kepada orang lain tentang apa yang sudah Tuhan kerjakan dalam hidup kita.
Ada tiga hal penting yang akan kita renungkan bersama dari Yohanes 4:
1. BERSEDIA DILAYANI UNTUK MENJADI SAKSI
Yohanes 4:29 ‘Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?’”
Kalau kita melihat perempuan Samaria ini, kita menemukan bahwa sebelum ia menjadi saksi, ia terlebih dahulu menjadi orang yang dilayani oleh Yesus. Yesus datang kepadanya. Yesus berbicara kepadanya. Yesus mendengarkan dan membawa percakapannya lebih dalam. Awalnya pembicaraan mereka hanya tentang air, tetapi Yesus tidak berhenti pada kebutuhan yang kelihatan. Yesus membawa perempuan ini kepada kebutuhan yang paling dalam di dalam hatinya.
Yesus berkata kepadanya tentang kehidupannya, tentang suami-suaminya, tentang masa lalunya. Yesus membongkar sesuatu yang selama ini ada di dalam kehidupannya. Tetapi Yesus tidak membongkar untuk mempermalukan dia. Yesus membongkar untuk menyentuh. Yesus menyentuh untuk memulihkan. Dan Yesus memulihkan supaya hidupnya dapat menjadi kesaksian. Jadi sebelum perempuan ini pergi ke kota dan berkata, “Mari, lihat!”, ia terlebih dahulu mengalami pelayanan Yesus secara pribadi.
Ini yang penting kita pahami: kita tidak mungkin menjadi saksi yang benar tentang Kristus kalau kita sendiri belum mau menerima pelayanan Kristus dalam hidup kita.
Dilayani Yesus, Perempuan Samaria itu pertama-tama dilayani, kemudian disentuh, kemudian mengalami perubahan, dan akhirnya menjadi saksi. Ia datang ke sumur sebagai seorang perempuan yang membutuhkan. Tetapi setelah bertemu Yesus, ia pulang sebagai seorang yang membawa berita tentang Yesus kepada orang lain. Karena itu, menjadi saksi bukan pertama-tama tentang seberapa hebat kita berbicara tentang Yesus. Menjadi saksi dimulai dari hati yang terlebih dahulu mau dilayani oleh Yesus. Biarkan Yesus berbicara kepada kita. Biarkan Yesus menyentuh bagian hidup kita yang paling dalam. Biarkan Yesus membongkar apa yang perlu dibongkar dan memulihkan apa yang perlu dipulihkan. Sebab ketika kita sungguh-sungguh menerima pelayanan Yesus, apa yang kita alami bersama Yesus akan menjadi kesaksian yang dapat kita bagikan kepada orang lain.
Perempuan Samaria itu akhirnya berkata:
“Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?”
Mari lihat:
Yang sudah menerima, dipanggil untuk bersaksi.
Yang sudah mengalami, dipanggil untuk menceritakan.
Yang sudah bertemu Yesus, dipanggil untuk membawa orang lain datang kepada Yesus dia tidak datang membawa dirinya sebagai pusat berita. Dia membawa orang lain untuk melihat Yesus..
Saudara-saudara, sebelum kita berbicara tentang menjadi saksi, mari kita bertanya kepada diri kita sendiri:
Adakah di antara kita yang hari ini sebenarnya sedang membutuhkan pelayanan Yesus?
Mungkin ada hati yang sedang terluka.
Mungkin ada kehidupan yang sedang lelah.
Mungkin ada pergumulan yang tidak pernah kita ceritakan kepada siapa pun.
Mungkin ada bagian dari hidup kita yang selama ini kita sembunyikan.
Perempuan Samaria mengajarkan kepada kita: datanglah kepada Yesus dan izinkan Dia melayani kita.
Izinkan Yesus berbicara kepada hati kita.
Izinkan Yesus menyentuh bagian hidup kita yang paling dalam.
Izinkan Yesus membongkar apa yang perlu dibongkar dan memulihkan apa yang perlu dipulihkan.
Karena sebelum kita dipanggil menjadi saksi bagi orang lain, kita terlebih dahulu harus bersedia dilayani oleh Yesus.
2. KEBERANIAN BERSAKSI
Yohanes 4:28–29 “Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang di sana: ‘Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?’”
Perempuan ini kemudian kembali ke kotanya. Yang luar biasa, ia tidak datang dengan khotbah panjang. Ia tidak menjelaskan teologi yang rumit. Ia hanya berkata: “Mari, lihat!” Kemudian ia menceritakan pengalaman pribadinya: “Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.”
Ini adalah bentuk kesaksian yang sederhana tetapi sangat kuat.
Mengapa dia berani?
- Karena ia sudah mengalami perjumpaan dengan Yesus. Orang yang mengalami Kristus mempunyai sesuatu untuk diceritakan.
- Perempuan ini juga ia tidak menyembunyikan bahwa Yesus mengetahui kehidupannya.
- Ia tidak berusaha membuat dirinya terlihat sempurna. Ia justru berkata bahwa Yesus mengetahui segala sesuatu yang telah diperbuatnya.
Penginjilan tidak membutuhkan orang yang merasa dirinya sempurna.
Penginjilan membutuhkan orang yang bersedia berkata: “Saya sudah mengalami Yesus.”
“Sering kali yang menghalangi kita bersaksi bukan karena kita tidak punya pengalaman dengan Yesus, tetapi karena kita terlalu takut dengan penilaian manusia, takut ditolak, tidak didengar, tidak diterima, merasa tidak layak” tetapi perempuan Samaria tidak membiarkan semua ketakutan itu menghentikannya. Ia memilih untuk pergi dan menceritakan apa yang sudah dialaminya.
Markus 5:19-20
Ay.19 Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!
Ay.20 Orang itu pun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.
“Kita dipanggil bukan hanya untuk mengalami Yesus, tetapi juga untuk menjadi saksi tentang Yesus. Dan Tuhan tidak menyuruh kita bersaksi dengan kekuatan kita sendiri; Roh Kuduslah yang memberikan kuasa dan keberanian.”
3. SATU SAKSI BANYAK JIWA
Inilah bagian yang luar biasa. Kesaksian perempuan Samaria tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ada dampak yang meluas.
Yohanes 4:39 Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.”
Perhatikan: “Banyak orang…” Satu perempuan bersaksi. Banyak orang percaya.
Ini menunjukkan bahwa kita tidak pernah tahu seberapa besar dampak dari satu kesaksian yang kita sampaikan. Perempuan itu mungkin berpikir: “Saya hanya menceritakan apa yang saya alami.” Tetapi Tuhan memakai kesaksiannya untuk membawa banyak orang kepada Yesus.
Yohanes 4:35 “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.”
Ay.36 Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita.
Ay.37 Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai.
Ay.38 Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka.”
Saudara, Yesus berkata: “Lihatlah sekelilingmu.”
Ada orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan Yesus. Penginjilan adalah pekerjaan yang berdampak. Kita mungkin hanya berbicara kepada satu orang tetapi Tuhan dapat memakai satu orang itu untuk menjangkau keluarganya. Satu keluarga dapat menjangkau lingkungan. Satu lingkungan dapat menjangkau komunitas. Dan akhirnya banyak orang dapat mengenal Kristus. Perempuan Samaria melihat satu kesempatan untuk bersaksi, tetapi Yesus melihat satu kota sebagai ladang yang siap dituai.
Itulah sebabnya jangan pernah berkata: “Kesaksian saya tidak penting.”
Jangan berkata: “Saya bukan siapa-siapa.” Di tangan Tuhan, satu kehidupan yang bersedia dipakai dapat membawa dampak bagi banyak orang. Tetapi perhatikan satu hal penting perempuan Samaria bersaksi, tetapi akhirnya orang-orang itu sendiri datang kepada Yesus.
Yohanes 4:40–41 “Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka. Dan Ia pun tinggal di situ dua hari lamanya. Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya.”
- Dilayani
- Berani beraksi
- Banyak jiwa
- Bawalah satu jiwa bagi Tuhan
Selamat melayani