DIPANGGIL UNTUK MELAKUKAN KEHENDAK-NYA (Seri Khotbah Perjumpaan Dengan Tuhan – Bagian 3) – Oleh Pdm. Patrick B. Lazarus (Ibadah Raya 2 – Minggu, 26 Maret 2023)

Pendahuluan
Kekristenan diawali oleh perjumpaan dengan Tuhan. Kita mungkin terlahir dari keluarga Kristen. Menjalani hidup kita sekian lama sebagai orang Kristen tetapi kekristenan kita sesungguhnya baru dimulai ketika kita mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan.

Di tahun lalu dalam dua kesempatan khotbah terakhir  (saudara bisa lihat kembali YouTube Channel) kita belajar bahwa Perjumpaan dengan Tuhan adalah sebuah perjumpaan yang mengubahkan. Ini tidak bicara tentang perubahan secara jasmani saja tetapi perubahan secara rohani.

Perjumpaan yang mengubahkan dapat terjadi :
1). Perjumpaan dengan Tuhan adalah perjumpaan hati bukan fisik – (Bagian 1)
2). Perjumpaan dengan Tuhan merupakan kasih karunia – (Bagian 2)
Di bagian ke-3 ini kita akan belajar bahwa dalam “Perjumpaan dengan Tuhan kita dipanggil untuk melakukan kehendak-Nya.”

Pembacaan kita terambil dari Yesaya 6:1-13. Bagian ini mengisahkan tentang perjumpaan Yesaya dengan Tuhan. Di ayat ke-8 merupakan respon Yesaya dalam menjawab panggilan Tuhan.

‘Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: ”Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: ”Ini aku, utuslah aku!”
Yesaya 6:8

Setiap kita memiliki panggilan masing-masing. Kita bisa saja dipanggil Tuhan untuk posisi dan profesi yang berbeda. Namun demikian kita memiliki satu tujuan yang sama yaitu melakukan kehendak Tuhan.

MELAKUKAN KEHENDAK TUHAN TIDAK MUDAH
Lalu Ia menyuruh saya pergi membawa pesan ini kepada umat: “Kamu akan terus mendengarkan, tetapi tidak mengerti. Kamu akan terus memperhatikan, tetapi tidak tahu apa yang terjadi.” Yesaya 6:9 BIMK

Tantangan bagi Yesaya : Karakter orang Yehuda yang tidak mau mendengar dan mengerti Firman. (9-13)
Banyak orang merasa sulit melakukan kehendak Tuhan. Bahkan untuk sekedar tertarik kepada hal-hal yang sifatnya rohani  (Ibadah, bergabung dalam komsel, terlibat pelayanan) bagi orang-orang tertentu terasa sangat sulit.  Sebaliknya Nabi Yesaya adalah contoh bahwa  hanya orang yang mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang memiliki dorongan dari dalam hatinya (kerinduan, ada semangat, ada antusias) untuk melakukan kehendak Allah sekalipun itu sulit.

Setelah mengalami perjumpaan dengan Tuhan, Yesaya bersedia untuk melakukan kehendak Tuhan dengan diutus kepada orang Yehuda. Dengan kata lain melakukan kehendak Tuhan adalah hasil dari perjumpaan dengan Tuhan. Secara sadar Yesaya memahami bahwa keputusan untuk melakukan kehendak Allah akan membuat dia ditolak dan menempatkannya dalam situasi yang berbahaya. Bahkan menurut tradisi Yahudi Yesaya mati dengan cara digergaji oleh raja Manasye (Ibr 11:37).

Jika itu adalah sesuatu yang sulit, mengapa Yesaya mau untuk melakukan kehendak Tuhan? Semua tentu karena perjumpaannya dengan Tuhan. Kita akan melihat pelajaran rohani dari perjumpaan dengan Tuhan yang dapat membantu kita untuk melakukan kehendak Tuhan.

1. Melakukan kehendak Tuhan dibangun atas kesadaran akan kebesaran/kemahakuasaan Tuhan.
‘Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. ‘ Yesaya 6:1

Perikop ini diawali dengan sebuah catatan historis: “dalam tahun matinya Raja Uzia”. Uzia memerintah lebih dari 50 tahun. Dibawah pemerintahannya Kerajaan Yehuda menjadi sangat maju dalam banyak hal, baik secara administrasi maupun militer (2 Taw. 26:1-15). Uzia menjadi “simbol” kebanggaan, pegangan. Kematiannya dapat dikatakan menjadi awal krisis. Ditambah dengan makin besarnya pengaruh bangsa Asyur, membuat keadaan Yehuda benar-benar semakin terpuruk.

Seberapa hebat Uzia, dia tidak bisa dibandingkan dengan Tuhan semesta alam. Seharusnya Tuhanlah yang memiliki pengaruh terbesar bahkan menjadi penguasa dalam hidup kita. Selama ada hal-hal yang lebih besar dan berkuasa dalam hidup kita dibandingkan Tuhan maka semakin sulit kita untuk melakukan kehendak-Nya.

Jika uang, pekerjaan, jabatan, hubungan yang kita miliki lebih besar dan berpengaruh dalam hidup kita dibanding Allah maka semakin sulit bagi kita untuk melakukan kehendak-Nya. Contoh : Markus 10:21-23

‘Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: ”Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: ”Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.” ‘ Markus 10:21-23

Ibadah adalah sarana kita untuk berjumpa dengan Tuhan maka dalam ibadah seharusnya kita semakin menyadari kebesaran dan kemahakuasaan Tuhan atas hidup kita.

2. Melakukan kehendak Tuhan tidak dapat dipisahkan dari pemahaman kita tentang kekudusan-Nya
‘Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang. Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: ”Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” Yesaya 6:2-3

Kekudusan menjadi pesan penting ketika Allah memperkenalkan diri-Nya. Para serafim pun tidak tahan dengan kekudusan TUHAN. Mereka menutupi wajah dan kaki mereka sebagai tanda ketidaklayakan. Jika makhluk surgawi yang kudus dan setiap hari berada di sekitar tahta Allah saja tidak tahan berdiri di depan kekudusan Allah, apalagi kita sebagai manusia yang berdosa? Inilah yang disadari oleh Yesaya dalam perjumpaannya dengan Tuhan. Orang yang tidak memahami kekudusan Tuhan akan menyepelekan Tuhan. Mereka bisa datang di gereja tetapi kelakuan mereka menghina Tuhan.

Contoh :
‘Adapun anak-anak lelaki Eli adalah orang-orang dursila; mereka tidak mengindahkan Tuhan, ‘ 1 Samuel 2:12.
‘Inilah yang akan menjadi tanda bagimu, yakni apa yang akan terjadi kepada kedua anakmu itu, Hofni dan Pinehas: pada hari yang sama keduanya akan mati. ‘ 1 Samuel 2:34

Dosa Hofni dan Pinehas terjadi karena tidak menghormati kekudusan Tuhan. Mereka melanggar aturan korban sembelihan dengan mengambil untuk diri mereka sendiri sebelum dipersembahkan bagi Tuhan (1 Sam 2:13-16), bahkan melakukan perzinahan dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan kemah pertemuan (1 Samuel 2:22)

Menghormati kekudusan Tuhan akan terlihat dari bagaimana kita menjaga kekudusan hidup kita. Kekudusan dalam pelayanan kita di gereja tidak hanya tentang motivasi (tulus atau tidak) tetapi juga tentang bagaimana menjaga moralitas kita.

Bagi anak muda menghormati Tuhan dapat terlihat dari bagaimana menjaga kekudusan hubungan berpacaran. Bagi suami/istri kesetiaan kita terhadap pasangan adalah bukti kita menghormati kekudusan Tuhan. Bagi yang bekerja menghormati Tuhan terlihat dari kejujuran dan cara kita bekerja.

‘tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. ‘

1 Petrus 1:15-16
Dengan memahami Kekudusan Allah akan menggerakkan kita untuk melakukan kehendak-Nya.

3. Melakukan kehendak Allah adalah keputusan dari orang yang telah ditebus.
‘Lalu kataku: ”Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam.” Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: ”Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.” Yesaya 6:5-7

Perjumpaan dengan Tuhan membuat Yesaya menyadari siapa dirinya. Dia tidak perlu ditegur, apalagi diancam. Dia langsung menyadari kenajisan dirinya dan bangsa Yehuda.

Di depan kekudusan TUHAN kita akan menyadari kesamaan kita dengan semua orang,yaitu “sama-sama orang berdosa”. Tidak ada yang pantas merasa lebih benar atau kudus, karena semua butuh Penebus.

‘Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. ‘ 1 Petrus 1:18-19

Menyadari hal-hal ini Yesaya berkata iya pada panggilan Tuhan. Dia berkata ya pada kehendak Tuhan.

Bagaimana dengan kita? Bukankah Allah sudah berkarya sedemikian rupa dalam kehidupan kita? Bukankah penebusan Kristus yang sempurna sudah melepaskan kita dari keberdosaan, ketidaklayakan dan kebinasaan? Bagaimana mungkin kita berkata “tidak” pada panggilan untuk melakukan kehendak Allah?

Kesimpulan
Untuk melakukan kehendak Allah ingatlah akan kebesaran/kemahakuasaan Tuhan, hormatilah kekudusan-Nya dan jangan lupakan karya penebusan-Nya.

Arsip Catatan Khotbah