EMPAT JENIS TANAH HATI YANG MENERIMA TABURAN BENIH FIRMAN TUHAN  – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 2 – Minggu, 21 Januari 2024)

LUKAS 8:5-15

Pendahuluan 
Untuk menghasilkan buah atau panen yang baik dan melimpah diperlukan dua unsur penting :
1. Benih yang unggul – Firman Tuhan.
2.  Kondisi tanah yang ditaburi.

Yang menjadi permasalahan adalah kondisi tanahnya, benih seunggul apapun jika tidak didukung oleh oleh tanah yang baik tidak akan menghasilkan hasil yang baik. Ada maksud tujuan dari Yesus menggunakan perumpamaan bagi semua para pendengarnya. Harapannya dengan perumpamaan dapat mudah dimengerti oleh mereka dan kemudian mereka mau percaya dan mnenerima Dia sebagai Tuhan dan juru selamatnya. Namun demikian tidak sedikit orang yang tetap menolak Yesus. Bagaimana dengan orang yang menerima-Nya?

Lukas 8:10  – “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.”

Orang-orang yang rindu ingin menerima pengajaran dari Tuhan, mendapat hak istimewa untuk mendapatkan penyingkapan rahasia firman-Nya. Bagi orang yang acuh tak acuh dan tetap tidak percaya hal itu hanya menjadi perumpamaan sekedar sebagai penghibur hati tanpa dibukakan kebenaran.

Hati manusia, adalah seperti tanah bagi benih yang adalah firman Tuhan. Tanpa benih yang ditaburkan, maka tanah itu tidak akan menghasilkan apa pun yang berharga. Tanpa firman Tuhan, hidup kita tidak akan menghasilkan apapun yang baik, selain dosa dan kejahatan.

Empat jenis tanah hati, berbicara empat macam respon terhadap firman Tuhan yang ditaburkan :
1. Benih yang ditaburkan di pinggir jalan
Lukas 8:5b – “Pada waktu ia menabur, Sebagian benih jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis.  

Ada dua hal yang menjadi indikasi orang yang hatinya seperti tanah di pinggir jalan yaitu benihnya diinjak orang dan dimakan burung-burung.


BENIHNYA DIINJAK ORANG

  • Ini adalah tipe orang yang acuh tak acuh dan menutup telinga ketika mendengar firman Tuhan, sebenarnya itu sama dengan menganggap rendah firman Tuhan, dan menginjak-injak firman Tuhan. Mendengar firman Tuhan sambal main Hp, cerita sendiri tanpa menghiraukan apa yang dikhotbahkan oleh hamba Tuhan yang menyampaikan firman.
  • Menilai firman dari siapa yang membawakan atau siapa yang menaburkan atau mengkhotbahkan firman Tuhan. Jika yang berkhotbah orang yang tidak ia sukai, ia akan menutup telinga dan memilih keluar dari gereja.

Hal seperti ini, yang ditolak sebenarnya bukan hanya orangnya, tetapi juga firman Tuhan yang disampaikannya. Nasihat dan perintah Yesus  dakam Matius 23:1-3 – “Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa, Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”

Yesus mengajarkan siapapun yang memberitakan firman Tuhan, meski orang yang memberitakan sebenarnya tidak pantas memberitakannya karena tidak memiliki kesaksian hidup yang benar seperti orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang hidupnya munafik. Kita harus tetap mendengar dan melakukan perintah yang sesuai dengan firman yang diberitakannya. Mengenai pribadi yang memberitakan itu bukan urusan kita, biarlah ia berurusan sendiri dengan Tuhan yang empunya firman dan yang menghakimi dengan adil. Kita harus terima firman yang disampaikan tetapi kelakuan si pemberitanya jangan kita tiru.

BENIHNYA DIMAKAN BURUNG
Makna dari burung-burung itu dijelaskan pada Lukas 8:12: “Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya kemudian datanglah Iblis mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan.”

Burung-burung adalah gambaran dari Iblis yang mengambil firman Tuhan yang diberitakan, sehingga orang-orang yang hatinya bertipe pinggir jalan, yang acuh tak acuh terhadap firman Tuhan tidak akan mengerti firman Tuhan dan tetap tidak diselamatkan. Yang menjadi pertanyaan mengapa Iblis begitu mudahnya mengambil benih firman dalam hati mereka ?  Orang-orang yang hatinya tipe pinggir jalan, biasanya masih lekat dengan hal-hal yang dari Iblis, masih percaya dukun, ramalan dan hal-hal mistis. Mereka lebih mudah percaya kepada hal-hal yang demikian dari pada percaya kepada berita firman Tuhan.

2. Jenis tanah yang berbatu
Lukas 8:13 – “Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad.”
Dengan tegas Yesus memberitahukan kepada kita bahwa, orang yang menerima firmanpun masih bisa murtad dan meninggalkan Tuhan. Mengapa bisa murtad?
– Tanah hatinya dangkal sehingga pertumbuhan benih firmannya tidak maksimal.
– Tidak bisa berakar dalam karena ada batunya.

Batu dapat berbicara tentang : kekerasan hati,eEgoistis, tidak sedikit orang yang sebenarnya tahu tentang kebenaran firman Tuhan dan percaya, tetapi ia tetap mengeraskan hatinya untuk tidak mau mentaatinya. Jika hal ini terus-menerus dilakukan, ia akan menjadi orang yang tahu firman Tuhan tanpa menjadi pelaku firman itu sendiri. Ketika datang pencobaan, tekanan dan aniaya maka akan dengan mudah menyangkali imannya dan murtad.

Ibrani 3:15- “Tetapi apabila pernah dikatakan : Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman.”

Nasihat dari surat Ibrani, kita harus bersegera, dikatakan hari ini jangan menunda mengubah kondisi hati kita, jangan lagi mengeraskan hati untuk tidak mentaati firman Tuhan.

3. Tanah yang bersemak duri
Lukas 8:14 – “Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhannya selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.”

Tanah yang ditumbuhi benih yang baik dan duri adalah jenis tanah hati orang yang mendua hati. Hidupnya dipenuhi kekuatiran dan kebimbangan. Yang membuat bimbang adalah terpikat oleh kekayaan dan kenikmatan hidup yang justru menghimpit pertumbuhan rohaninya. Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa kita tidak dapat mengabdi pada dua tuan yaitu Tuhan dan mamon.  Karena dihimpit oleh keinginan menjadi kaya, maka pengiringannya kepada Tuhan dilakukan hanya untuk mencari keuntungan. Himpitan lainnya adalah kenikmatan hidup, maka iapun melakukan pelayanannya hanya untuk mencari kepentingan diri sendiri tanpa memikirkan kepentingan orang lain.

Karena tidak dapat lepas dari himpitan kekayaan dan kenikmatan hidup, maka ia tidak dapat menghasilkan buah yang matang, artinya hasilnya buah  mentah, dan asam. Dalam kitab nabi Yesaya 5:1-2 – dikatakan bahwa, bangsa Israel yang ditanam Tuhan seperti pokok anggur, hasilnya mengecewakan karena hasil buahnya adalah anggur yang asam. Hal ini terjadi karena Israel selalu mendua hati dan tidak setia kepada Tuhan.

4. Tanah yang baik
Lukas 8:15 – “Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”

Ini adalah jenis tanah hati yang ideal yang diinginkan Tuhan. Ia menerima firman Tuhan dengan baik, menyimpannya dalam tanah hatinya yang baik dan mengerti firman itu, mengerjakan firman dengan penuh ketekunan dan hasilnya memuaskan Tuhan. Jenis tanah hati yang baik adalah orang yang sepenuhnya menerima hanya benih firman Tuhan, tidak ada duri maupun batu yang menghalangi pertumbuhannya, hati yang murni yang sepenuhnya fokus kepada Firman-Nya.

Arsip Catatan Khotbah