BERIBADAH SECARA TOTALITAS – oleh Pdt. J.S. Minandar (Ibadah Raya 1,3 – Minggu, 15 Januari 2023)

Wahyu 3:6
“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.”

PENDAHULUAN
Yesus akhiri pesan-Nya kepada jemaat di Sardis, dengan berkata: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat.” Dan, nasihat yang sama juga Yesus sampaikan kepada jemaat lainnya yaitu:    Efesus, Smirna, Tiatia, Pergamus, Filadelfia dan Laodekia. Tetapi, walaupun isi nasihat-Nya sama, namun nasihat Yesus kepada jemaat di Sardis ini memiliki nada dan intonasi yang khusus dibanding dengan nasihat kepada jemaat-jemaat lainnya. Mengapa demikian? Inilah alasannya yaitu agar mereka tidak hanya sekedar mendengarkan saja. Karena tujuan nasihat Yesus kepada jemaat di Sardis yang berkata: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar…” Yang dimaksud mendengar di sini, bukan sekedar mendengar bunyi atau suara tapi mengerti nasihat yang disampaikan itu. Beda kalau kita pakai bahasa Inggris, sebab dalam bahasa Inggris ada perbedaan antara kata: “to hear” dan “to listen.”

Yesus berkata: “Barangsiapa bertelinga hendaklah ia mendengar…”
Kata mendengar, dalam bahasa Inggris dipakai kata: “hear”, dan bukan “listen”
Kata mendengar, Yunani: AKOUO yang artinya: bukan sekedar mendengar “sound” / bunyi ataupun “voice” / suara yang keluar dari mulut Yesus.
Tetapi artinya disini yaitu kita disuruh mendengar pesan Firman Tuhan yang Yesus sampaikan secara totalitas sampai kita benar-benar mengerti apa yang Yesus inginkan untuk kita lakukan atau perbuat. Karena pesan firman Allah yang Yesus sampaikan kepada kita, itu bukan tanpa tujuan atau maksud. Tetapi pesan firman Allah itu merupakan hal yang teramat penting bagi keselamatan jiwa kita.

MENGAPA YESUS INGATKAN?
Mengapa Yesus ingatkan sikap jemaat yang ada di Sardis sehubungan dalam hal “mendengarkan firman Allah?”
Sebab secara fisik jemaat di Sardis datang atau hadir di ibadah dan duduk di gereja seolah-olah mendengar firman Allah. Tetapi di mata Allah, jemaat Sardis tidak benar-benar beribadah. Oleh karena mereka hanya sekedar datang di gereja, seolah-olah beribadah dan mendengarkan firman Allah. Tapi dalam  pandangan mata Allah, mereka tidak sedang beribadah dan tidak benar-benar mendengar Firman Allah. Bagaimana mungkin orang Kristen model seperti jemaat di Sardis bisa melakukan dan menerapkan Firman Allah apabila mereka tidak mengerti firman Allah, sebab ketika beribadah dan ketika mendengar firman Allah, mereka tidak melakukannya secara totalitas.

MENGAPA TIDAK DENGAR FIRMAN ALLAH?
Bila ada jemaat yang tidak sungguh-sungguh dan tidak rajin beribadah kalaupun beribadah ia tidak beribadah dan tidak mendengar firman dengan sungguh-sungguh secara totalitas. Salah satu penyebabnya adalah karena mereka meremehkan Firman Allah.

Dalam ibadah, kita tahu bahwa sumber firman Allah itu adalah Allah sendiri (kecuali mereka yang ada di luar Kristus). Tetapi yang menjadi saluran penyampaian firman Allah itu adalah manusia, bukan Yesus langsung. Hal yang sama terjadi saat Yesus melayani dan berkhotbah di muka bumi ini. Orang Nazaret meremehkan ajaran Yesus, karena orang Nazaret menganggap Yesus adalah manusia biasa yang tidak ada bedanya dengan orang biasa.

Markus 6:2
Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah  dapat diadakan oleh tangan-Nya?”

Markus 6:3,4 
Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita? Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.”

Mari kita perhatikan, disini orang Nazaret kecewa dan menolak firman Allah yang Yesus sampaikan karena mereka tahu persis kondisi lahiriah Yesus. Bahwa Yesus ialah seorang tukang kayu, anak Maria orang miskin, selain itu Yesus bukan dari keturunan imam/orang Lewi. Bahkan, mereka juga mengenal saudara-saudara Yesus adalah masyarakat biasa.

Orang Nazaret bersikap seperti ini kepada Yesus, karena orang Nazaret belum tahu dan belum mengenal siapa Yesus sebenarnya.
Sebab itu di ayat 6a dikatakan: “Yesus merasa heran atas ketidakpercayaan mereka…”
Kata “Heran” artinya menganggap sesuatu yang tidak masuk akal, karena Ia melihat atau mendengar sesuatu yang tak pernah Ia lihat atau Ia dengar sebelumnya. Kita semua tahu bahwa Yesus adalah Tuhan, Dia adalah Maha Tahu. Jadi, apakah ada sesuatu yang bisa membuat Yesus heran? Tentu saja tidak! Jadi, mengapa Yesus merasa heran? Jawabnya: Yesus heran karena melihat  sikap atau penolakkan orang Nazaret terhadap firman Allah dari Yesus. Perhatikan ajaran Yesus tentang: Bagaimana sikap kita kalau kita mendengar firman Tuhan!

Matius 23:1-3 disana Yesus berkata bahwa: Orang Farisi dan Ahli Taurat menduduki jabatan keimaman. Tetapi hidup mereka tidak berkenan di mata Tuhan. Untuk itu, mari kita pelajari nasihat Yesus.

Bagaimana seharusnya sikap kita bila kita mendengar firman Allah dari orang seperti ahli Taurat dan orang Farisi?
Perhatikan Matius 23:3 Yesus berkata: “Turuti dan lakukan semua yang diajarkan orang Farisi!”
Mengapa Yesus berkata demikian? Sebab, yang diajarkan oleh Ahli Taurat dan orang Farisi adalah murni firman Allah. Kemudian nantinya soal sikap dan perbuatan atau kelakuan orang Farisi, itu adalah urusan dan tanggung jawab orang Farisi itu sendiri di mata Tuhan. Tetapi, tanggung jawab kita sebagai pengikut Yesus adalah kita jadi orang yang mengerti dan melakukan firman Allah secara totalitas.

Dari sini kita diajarkan oleh Yesus bahwa kita harus menghormati firman Allah. Karena firman Allah ialah pribadi Allah sendiri, dan bukan manusia. Sebaliknya, apabila kita diberkati oleh Firman Allah yang kita dengar dari hamba Tuhan, maka dari itu muliakanlah Tuhan di setiap aspek hidup kita. 

Penyebab kedua, mengapa ada jemaat yang tidak mau mendengar firman Allah? Yaitu, karena orang itu tidak bersedia membayar harga. Bila kita tidak mau mendengar dan memperhatikan firman Allah, hal itu sama dengan kita tidak mau membayar harga yaitu berusaha dan berjerih lelah agar kita jadi jemaat yang bertumbuh dan berbuah bagi Kristus.

Juga kita melihat dalam Injil Matius 13:1-23 dijelaskan perumpamaan tentang seorang penabur. Disana ada 4 jenis tanah yang dihadapi oleh sang penabur, antara lain:
1.Tanah yang keras di pinggir jalan, ayat 4.
2. Tanah yang berbatu, ayat 5,6.
3. Tanah yang ditumbuhi semak duri, ayat 7.

SECARA JASMANI
Misalnya kita adalah petani dan kita berhadapan dengan tanah yang keras, berbatu-batu atau bersemak duri. Itu tidak mungkin kita akan taburkan benih kita ke atas tanah seperti itu. Sebab, kalau kita lakukan hal itu, kita tidak mungkin mendapat hasil dari apa yang kita taburkan dan harapkan alias kita akan mengalami kerugian.

SECARA ROHANI
Tetapi secara rohani, kita cenderung kurang peduli. Apakah karena kita tidak tahu, atau kita tidak mengerti, sehingga kita tidak mau bayar harga dengan bekerja keras agar tanah hati kita menjadi tanah yang baik yang menghasilkan buah yang baik pula dan menyenangkan hati Tuhan dan semua orang yang ada di sekitar kita.

Dan inilah akibat jika kita tidak berbuah. Sampai pada usia berapa lama kita berstatus sebagai pengikut Yesus? Sebagai pengikut Yesus, apakah kita sudah menghasilkan buah sebagaimana yang Yesus inginkan dan wajibkan? Sebab ada konsekwensi yang kita terima bila kita tidak berbuah, yaitu akan ditebang oleh-Nya.

Matius 7:19
“Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.”
Bila kita jadi pengikut Yesus yang tidak bertumbuh dan berbuah, penyebabnya bukan karena Tuhan, tetapi karena diri kita yang tidak mau membayar harga, yaitu kita cenderung membiarkan tanah hati kita keras, berbatu dan bersemak.

Seharusnya sesegera mungkin kita:
1. Membajak tanah hati kita yang masih keras agar firman Allah berakar dan bertumbuh di hati dan hidup kita;
2. Membuang batu yang jadi penghalang bagi firman Allah untuk berakar di hati kita;
3. Membuang semak duri yang menghimpit firman Allah untuk bertumbuh di hati.


Secara rohani, ketiga penyebab yang membuat firman Allah tidak bertumbuh di hati kita, telah dijelaskan artinya oleh Yesus dalam Matius 13:18-23.Tetapi pada saat ini, saya ingin menegaskan bahwa kalau kita tidak bertumbuh dan berbuah, sudah pasti ada yang salah dalam diri kita, yaitu kita tidak mau:
1. Membajak tanah yang keras itu sampai gembur, sehingga tanah hati kita menerima benih firman Allah setiap kita beribadah dan benih itu bertumbuh di hati kita.
2. Membersihkan tanah (hati kita) dari bebatuan yang menghalangi benih untuk berakar dan bertumbuh menjadi pohon yang berbuah lebat.
3. Mencabut dan membuang semua semak duri dari tanah hati kita, supaya tidak ada lagi semak duri yang dapat menghalangi dan menghimpit benih firman Allah untuk bertumbuh dan berbuah di tanah hati kita.  Dengan lain kata: Kalau hal ini kita lakukan dengan sungguh-sungguh dari sisa waktu yang masih kita miliki. Kalau hal ini kita lakukan, maka kita akan menjadi pengikut Yesus yang memiliki…
4. Tanah hati yang baik, tidak berbuah dan mengalami janji Tuhan dalam hidupnya, karena rasa kuatir akan dunia dan tipu daya kekayaan menghimpit firman Tuhan dalam hidupnya!

PENGIKUT YESUS SECARA TOTALITAS
Ada yang mengaku dirinya sebagai pengikut Yesus, tetapi ia tak berani menerapkan firman Allah secara totalitas, karena merasa takut menanggung resiko akibat melakukan firman Allah secara totalitas. Kalau pengiringan kita masih diliputi rasa kuatir; hitung-hitungan untung atau rugi, berarti kita belum menjadi pengikut Yesus yang benar-benar totalitas. Dan, bagaimana bila kita mengabaikan atau tidak peduli akan perintah firman Allah. Kita akan jadi orang yang sudah terima janji Tuhan, tetapi kita punya peluang kehilangan janji Tuhan yang mulia dan berharga itu. Untuk itu kita pelajari kesalahan yang pernah dilakukan oleh Abram.

Kejadian 16:16
“Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismail baginya.”
Kejadian 17:1 “Ketika Abram berumur sembilan puluh  sembilan tahun, maka Tuhan  menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.”

Perhatikan antara Kejadian 16:16 dan Kejadian 17:1 ada jarak waktu selama tiga belas tahun (13 tahun) dimana selama itu Allah tidak mau berbicara lagi (bungkam) kepada Abram, apalagi mau datang dan menampakkan diri kepada atau untuk menemui Abram.

Mengapa Allah bungkam sedemikian lama kepada Abraham?
Dalam Kejadian 15:1-5, Allah berfirman kepada Abram, bahwa yang akan mewarisi keturunan Abram yaitu menerima perjanjian Allah untuk Abram yaitu anak kandung dari isteri Abram yaitu Sarai. Dan, bukan Eliezer (hamba Abram), apalagi Ismael anak gundik Abram, yaitu Hagar. Tetapi dalam Kejadian 16:1-4 Abram tidak melakukan perintah Tuhan yaitu firman Tuhan secara totalitas. Karena Abram, lebih mengikuti usulan isterinya, yaitu Sarai untuk tiduri dengan gundiknya Sarai yaitu: Hagar. Karena Abram tidak taat dan mengikuti apa yang diperintah Tuhan secara totalitas. Sebaliknya Abram lebih memperhatikan atau lebih peduli anjuran isterinya Sarai. Apa yang dilakukan oleh Abram, membuat Allah kecewa dan Allah BUNGKAM kepada Abram selam tiga belas (13) tahun

Arsip Catatan Khotbah