2 Tawarikh 25:2
Ia (Raja Amazia) melakukan apa yang benar di mata Tuhan, hanya tidak dengan segenap hati.
Pendahuluan
Amazia adalah Raja Yehuda, Raja yang diangkat menjadi raja di Yerusalem menggantikan ayahnya Yoas dan pada waktu itu ia masih muda berumur 25 tahun dan selama 29 tahun ia memerintah atas Yehuda. Nama ibunya adalah Yoadan dan mereka dari Yerusalem.
Diawal kisah ini, Raja Amazia ini diperkenalkan bahwa ia seorang raja yang melakukan apa yang benar di mata Tuhan tetapi tidak dengan segenap hati dan ini yang akan kita bahas pagi hari ini.
Amazia tidak dengan segenap hati atau setengah hati, pengertiannya adalah ia tidak sungguh-sungguh atau tidak sepenuh hati. Segala sesuatu yang dilakukan tidak dengan segenap hati tidak akan maksimal hasilnya, apalagi dalam mentaati Tuhan.
Perhatikan disini Raja Amazia pada mulanya melakukan apa yang benar di mata Tuhan dan mengikuti Taurat Tuhan, mau mendengarkan nasihat seorang abdi Allah yang mengingatkan Amazia untuk tidak melibatkan tentara Isarel dalam berperang. Ia mau menerima nasihat untuk menganggap hilang bayaran saat menyewa tentara Israel seratus talenta yang ia sempat bayar dan Abdi Allah berkata Tuhan akan memberikan kepada Amazia lebih dari itu. Karena tidak segenap hati maka beberapa waktu kemudian ia tidak bertahan, ia berubah menjadi tidak setia.
Hal ini terjadi ketika Amazia kembali setelah mengalahkan orang-orang Edom. Amazia mendirikan para allah bani Seir, yang dibawanya pulang sebagai allahnya. Amazia lalu sujud menyembah kepada allah-allah itu dan membakar korban untuk mereka.
Amazia tidak peduli nasihat dari nabi Allah, ia menjadi tinggi hati dengan tidak mau mendengarkan nasihat raja Isarel sehingga Amazia kalah dalam peperangan saat melawan Raja Isarel, 15 tahun setelah Yoas Raja Israel Mati, Amazia melarikan diri ke Lakhis karena orang Yerusalem bersepakat membunuh dia dan akhir hidup Amazia mati terbunuh di daerah Lakhis itulah akhir hidup Amazia.
Kisah yang singkat ini menjelaskan kepada kita sebagai anak-anak Tuhan jangan sampai kita gagal dalam pengiringan kita kepada Yesus. Ada banyak anak Tuhan yang hidupnya berakhir dengan kegagalan walaupun mereka kelihatannya setia beribadah bahkan sudah melayani pekerjaan Tuhan dan dalam rohani sepertinya baik tetapi sesungguhnya mereka “setengah hati” atau “tidak dengan segenap hati “dalam melakukan itu semua.
JIKA KITA SUNGGUH-SUNGGUH DALAM MENGIKUT TUHAN YESUS, TUHANPUN TIDAK AKAN SETENGAH-SETENGAH DALAM MENOLONG DAN MEMBERKATI HIDUP KITA.
Ingat, jika kita sungguh-sungguh dalam mengikut Tuhan Yesus dan melakukan dengan sepenuh hati semua perintah-Nya maka Tuhanpun tidak akan setengah-setengah dalam menolong dan memberkati hidup kita.
Untuk mengerti apa arti kata DENGAN SEGENAP di dalam “dengan segenap hati” kita lihat dalam 2 Tawarikh 25:2. Dalam bahasa Ibrani kata “dengan segenap” dipakai kata “Salem”. Dari kata ‘salem” muncul kata “shalom” yang artinya damai, aman, bahagia, makmur, sehat, sejahtera.
Kata “salem” ini dipakai dalam Alkitab untuk menyatakan beberapa hal, mari kita lihat bersama.
1. Tuntas, Selesai (tidak setengah-setengah)
Ini adalah kata yang dipakai dalam 2 Tawarikh 8:16 ketika Salomo menyelesaikan pembangunan Bait Allah; “Maka terlaksanalah segala pekerjaan Salomo, dari hari dasar rumah Tuhan diletakkan sampai pada hari rumah itu selesai. Dengan demikian selesailah (salem) sudah menjadi rumah Tuhan.”
Salomo terus mengerjakan beberapa proyek pentingnya sehingga Israel berkembang menjadi negara yang kuat dan bertahan dalam menghadapi serangan musuh dan stabil secara ekonomi. Salomo pada waktu itu Ia melayani Tuhan dengan membangun Rumah Tuhan, bekerja menyelesaikan apa yang dipesankan Ayahnya Daud untuk membangun Rumah Tuhan dan bertanggung jawab atas apa yang dipercayakan kepadanya sehingga selesailah Rumah Tuhan itu.
Perhatikan dari hari dasar rumah Tuhan diletakkan sampai pada hari rumah itu selesai.
Artinya totalitas “salem”yang Salomo berikan terlihat dari ia menyelesaikan dengan tuntas tidak setengah-setengah. Jika ini ada dalam diri Salomo, seharusnya juga ada dalam kehidupan kita yaitu salem berarti tuntas dan tidak setengah-setengah atau selesai.
Dalam hal melakukan kehendak Tuhan lakukan kehendak Tuhan dengan delesai, jangan setengah-setengah.Kepercayaan tanggung jawab pelayanan atau pekerjaan yang dipercayakan kerjakan dengan tuntas.
Contoh Rasul Paulus yang punya kerinduan menyelesaikan dengan tuntas dan ia selesaikan dengan tuntas.
Kisah Rasul 20:24 Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun,asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karuniaAllah.
2 Timotius 4:7 TB Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.
Selesaikan pekerjaan, pelayanan apapun yang dipercayakan kepada kita Tuhan sampai tuntas !
Contoh Tuhan Yesus- Selesai atau tuntas
Filipi 2:8 (TB) Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah mengikat diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Yesus memulai dan menyelesaikan misiNYA diatas kayu salib sampai selesai. Dia taat dan setia untuk melakukan tujuan yang Bapa tetapkan untuk Dia selesaikan di muka bumi ini. Ia berkata ‘sudah selesai’.
2. Utuh, Tepat (tidak kurang)
Ini adalah pengertian yang terdapat dalam:
Ulangan 25:15, “Haruslah ada satu batu timbangan yang utuh (salem) dan tepat…”
Kata yang sama juga terdapat dalam Amsal 11:1, “Neraca serong adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat (salem).”
Bagian ini menekankan pentingnya menjadi orang benar yang utuh, tepat atau salem. Prinsip kebenaran secara sederhana digambarkan sebagai “batu timbangan yang tepat” (11:1).
Prinsip transaksi jual-beli dengan sarana timbangan atau ukuran yang diberikan Allah di sini mewakili semua prinsip hidup yang menyangkut relasi apapupn itu.
Batu timbangan yang tepat adalah prinsip sederhana agar kita tidak rugi dan tidak merugikan orang lain. Kehidupan yang utuh dan tepat akan membawa dampak yang baik buat diri kita maupun orang lain. Kehidupan yang utuh dan tepat selain berguna bagi diri sendiri dan orang lain, hal yang lebih luar biasa lagi Tuhan berkenan atas kehidupan kita.
Dihadapan Tuhan, saat kita melakukan kehendak Tuhan maka kita harus salem yaitu utuh, tidak kurang, tepat dihadapan Tuhan sehingga kita berkenan karena kalau tidak segenap hati tidak salem maka seperti timbangan yang serong dan itu suatu kekejian dihadapan Tuhan.
Amazia secara kepemimpinan dalam pemerintahan ia bisa dianggap sukses baik ekonomi terlihat dia bisa membayar sewa tentara, secara militer dan lain-lain sangatlah sukses tetapi kejatuhan atau kegagalan dari Amazia adalah kehiduapn yang tidak tepat atau utuh : secara rohani atau iman sangatlah jatuh. Amazia menolak nasihat, meninggalkan Allah (ayat 27). Setelah kekalahannya ia masih hidup 15 tahun lagi tetapi firman Tuhan mencatat Ia menjauhi Tuhan.
Tuhan mau kita utuh dalam pengiringan kekristenan kita dihadapan Allah, jangan main-main lagi. Awal tahun Gembala sudah sampaikan dalam Efesus 5:15-16, untuk menjalani hidup dengan teliti, untuk langkah hidup yang tepat dan kehidupan yang utuh sehingga kita terus berkenan dihadapan Tuhan.
Menjadi perenungan bagi kita apakah kita sudah segenap hati?
Seberapa giat kita mencari Tuhan, seberapa besar pengorbanan kita untuk kita diperkaya akan hal rohani? Atau kita lebih giat mencari kesusksesan dunia, perkenanan dan penghormatan manusia dari pada kita mencari perkenan Tuhan. Mungkin tahun 2022 kita sering gagal dan tidak setia, masih dihari ke-8 ini kita didorong lagi untuk lebih baik lagi setia di tahun 2023.
Kehidupan salib adalah kehidupan yang seimbang.
Salib Kristus adalah contoh kehidupan yang seimbang. Yesus menunjukkan kasih horizontal dan vertikal di atas kayu salib. Kita juga perlu hidup seperti Kristus, mengasihi Tuhan dan juga sesama kita.
Dalam kehidupan, kita perlu menyeimbangkan antara kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani. Kita tidak bisa mementingkan atau memilih salah satunya saja. Apa jadinya hidup kita jika hanya mementingkan kebutuhan jasmani dan mengesampingkan kebutuhan rohani kita? Apa gunanya harta yang banyak jika kehidupan rohani untuk menjamin kita memperoleh kehidupan yang kekal sangat memprihatinkan?
Dalam Yohanes 6:26 Tuhan Yesus menegaskan kepada orang banyak yang mencari Dia, Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.
Penegasan Tuhan Yesus ini menjelaskan bahwa orang banyak yang mencari-Nya bukan dilatarbelakangi oleh iman akan Dia yang telah memberikan tanda-tanda dan mujizat, tetapi karena mereka telah makan apa yang diberikan oleh Yesus dan mereka kenyang. Penegasan Yesus ini sebenarnya mau mengkritik mereka yang lebih memfokuskan diri pada kebahagiaan duniawi yang bersifat sementara saja. Atas dasar kebahagiaan sesaat tersebut, mata hati mereka tertutup dan hanya melihat apa yang dilakukan oleh Yesus, menguntungkan bagi kehidupan jasmani mereka atau tidak.
3. Sudah siap (dipersiapkan memberi yang terbaik)
Kata ini terdapat dalam 1 Raja-raja. 6:7, “Pada waktu rumah itu didirikan, dipakailah batu-batu yang telah disiapkan (selem) di penggalian, sehingga tidak ada kedengaran palu atau kapak atau sesuatu perkakas besipun selama pembangunan rumah itu.”
Arti Salem selanjutnya dipersiapkan dengan baik.
Suatu proyek yang besar yaitu pembangunan bait suci. Daud sudah mempersiapkan semua bahan yang dibutuhkan walaupun bukan ia yang akan membangun tetapi Salomo anaknya. Untuk suatu hasil yang baik, memuaskan, menyukakan maka diperlukan kesiapan yang baik sehingga yang dibangunpun selesai dengan baik.
Mengapa Daud dapat siap, mempersiapkan yang terbaik?
Daud dapat mempersiapkan yang terbaik bagi Rumah Tuhan karena Daud memiliki hubungan yang berkualitas dengan Tuhan. Hubungan yang kita miliki berpengaruh terhadap standar kita dalam memberi. Semakin berkualitas sebuah hubungan, semakin tinggi standar memberi yang ada dalam hubungan tersebut.
Bertolak dari pemahaman ini, standar kita dalam memberi bagi pekerjaan Tuhan melalui Gereja salah satunya juga ditentukan oleh kualitas hubungan kita dengan TUHAN. Kita bisa melihat hal ini dari catatan Alkitab. Nuh, Abraham, Ayub, menjadi salah satu contoh teladan bahwa memberi bukan karena ada hukum yang mencatat atau mengatur tentang hal itu, tetapi memberi karena mereka memiliki hubungan yang berkualitas dengan TUHAN. Jadi kesiapan, mempersiapan yang terbaik dari saudara dapat dilihat dari hubungan. Mereka yang memiliki hubungan yang berkualitas dengan TUHAN umumnya memiliki standar yang tinggi dalam memberi, yakni senantiasa berupaya memberi yang terbaik.
Dalam Perjanjian Baru kita bisa meneladani apa yang Maria lakukan (Yohanes 12:1-8). Ayat 3, maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesusdan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. Maria mempersembahkan minyak narwastu murni yang harganya diperkirakan hampir setara dengan upah buruh selama setahun. Bukan hanya soal harga minyaknya yang menjadikan persembahan Maria berkualitas, tapi juga apa yang ia lakukan selanjutnya, menyeka kaki Yesus dengan rambutnya.
Bagi seorang perempuan rambut adalah mahkotanya yang berharga. Semua yang Maria lakukan adalah contoh standar yang tinggi dalam memberi, yang dilakukan karena memiliki hubungan yang berkualitas dengan TUHAN.Ketika Maria melakukan hal tersebut, tidak semua orang mendukung apa yang dilakukannya. Kritik datang dari seorang yang cinta uang dan suka mencuri uang kas yang biasa disimpan dan digunakan untuk mendukung pelayanan dan perjalanan Tuhan Yesus beserta dengan murid-murid yang lain.
Yudas bersama dengan Yesus tetapi tidak memiliki hubungan yang berkialitas dengan Yesus sehingga tidak mengerti apa yang Maria lakukan. Mereka yang tidak memiliki hubungan yang berkualitas dengan TUHAN hanya dapat memahami pemberian sebagai sebuah hukum yang tertulis. Sehingga ukuran dan keputusan dalam memberi senantiasa ditimbang berdasarkan hukum yang tertulis semata, sambil meninjau konteks, konteks dan konteksnya. Ketika yang lainnya sudah dengan tekun dan setia mengembalikan persepuluhan, dirinya masih sibuk menggali:
- Apakah persepuluhan ini benar Alkitabiah?
- Apakah persepuluhan tetap berlaku di masa Gereja sekarang ini?
- Ataukah hanya di Perjanjian Lama?
- Apakah Persepuluhan bisa diterapkan dalam jemaat masa kini atau hanya bagi orang Yahudi saja?
Dan masih banyak lagi pembahasan-pembahasan yang demikian. Sebenarnya ujung pangkal dari semuanya itu adalah mencari sebuah pijakan untuk menguatkan agar tidak mengembalikan persepuluhan tidak berkorban.
Betapa indah dan luar biasanya jemaat yang mengembalikan persepuluhan atau memberi dengan standar yang terbaik karena dorongan kasih kepada TUHAN, karena memiliki hubungan yang berkualitas dengan TUHAN dan bukan sekedar dorongan dari hukum yang tertulis.
Kekristenan adalah hubungan.
Saya percaya ketika hubungan kita dengan Tuhan berkualitas maka Dalam pelayanan pun seorang pengkhotbah, pemimpin pujian, musik, penari dan lain-lain sebelum melayani mereka sudah mempersiapakan yang segala sesuatu dengan baik, memberi yang terbaik
Begitu juga dengan hati kita dihadapan Tuhan, hal yang sangat sederhana Ketika datang beribadah, apakah kita datang dengan hati yang siap salem dengan segenap atau dengan tidak dengan segenap hati atau hati sekedarnya? Banyak yang beribadah tanpa kesiapan hati sehingga tidak dapat memuji Tuhan, bahkan tidak dapat menerima firman.
Hati yang tidak siap sama seperti tanah yang di pinggir jalan, sehingga benih firman yang ditaburkan tidak ada gunanya karena tidak pernah masuk dalam hati kita. Datanglah beribadah bukan saja dengan kesiapan jasmani, namun yang terutama adalah dengan kesiapan hati.
Kesiapan hati mempengaruhi kesediaan Allah melawat kehadiran kita ditempat ini, kehadiran kita tidak menjadi sia-sia karena Allah melawat setiap hati yang siap dijamah oleh Tuhan.
Saudara yang melayani dengan penuh kesiapan, diperlukan juga Salem kesiapan hati sehingga Pelayanan saudara, korban saudara tidak menjadi sia-sia karena ada Salem dengan segenap , kesiapan hati.
Kesimpulan
Matius 22.37 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama
Ini adalah pelajaran yang berharga bagi orang yang percaya, menjadi pengikut Yesus harus dengan segenap hati. Ketika Tuhan memberikan kesempatan kita ada ditahun 2023 kita mau memperbaiki diri kita dengan memberi totalitas dari seluruh hidup kita dengan berkomitmen melakukan dengan tuntas apa yang tuhan ingin kita lakukan, keutuhan hidup yang berkenan dihadapan Tuhan dan kesiapan hati yang sungghu untuk Tuhan lebih lagi memakai kita, melawat kita dan berkarya dalam diri kita. Tuhan Yesus Memberkati.