Galatia 5:15 – “Saudara-saudara, memang kamu dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”
Pendahuluan
Kebebasan orang Kristen adalah kebebasan yang berpusat pada pembebasan dari dosa melalui Kristus. Ada empat (4) hal penting dalam karya salib Tuhan:
1. Kebebasan dari kuasa dosa.
2. Kebebasan hati nurani dari hukum Taurat.
3. Kebebasan yang bertanggung jawab dalam keselarasan dengan kehendak Tuhan.
4. Kebebasan untuk membangun.
1. KEBEBASAN DARI KUASA DOSA.
Yesus membebaskan atau memerdekakan kita dari perbudakan dosa. Kebebasan dari kekuatan yang membuat kita berdosa yaitu Iblis, yang menghalangi hubungan kita dengan Allah. Kita tidak lagi dikendalikan oleh dosa, tetapi oleh kasih karunia Allah melalui Tuhan Yesus (Roma 6:14). Kita dapat berhubungan dengan Allah kapan saja, oleh darah Yesus yang sudah menebus kita.
2. KEBEBASAN HATI NURANI DARI HUKUM TAURAT
Galatia 5:1, 18- “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.”
Kata “Kuk Perhambaan” – ini menunjuk kepada tradisi dan hukum Taurat yang berlaku dalam perjanjian lama yang bersifat seremonial atau forensik. Apa itu hukum seremonial ?
HUKUM SEREMONIAL
Adalah hukum atau aturan yang terdapat dalam kitab Taurat, yang mengatur tata cara peribadatan, korban dan perayaan keagamaan. Hukum ini Allah berikan dalam Perjanjian Lama sebagai upaya Allah untuk mengajarkan rencana-Nya dalam keselamatan manusia, sebagai gambaran akan Kristus, yang kemudian telah digenapi melalui pengorbanan-Nya. Hukum Seremonial ini berfungsi untuk menunjukkan atau menggambarkan Kristus sang Mesias yang akan datang.
Contoh Hukum Seremonial antara lain :
- Tata cara penebusan dosa melalui pencurahan darah korban hewan.
Ini sudah tidak lagi diberlakukan, karena sudah digenapi oleh Yesus sebagai anak domba Allah yang sebenarnya. Oleh penebusan darah-Nya di kayu salib, dosa manusia yang percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan juru selamatnya, dosanya sudah diampuni. ( Efesus 1:7 ).
- Aturan makanan haram dan halal.
Ini juga sudah tidak berlaku lagi, karena hukum seremonial ini diberlakukan dalam Perjanjian Lama hanya untuk membedakan kehidupan umat Israel sebagai umat pilihan Allah dan bangsa lain diluar Israel yang bukan umat pilihan Allah, termasuk juga sunat hukum makanan haram dan halal itu sebagai bentuk ketaatan umat kepada Allah. Setelah penebusan Yesus yang menggenapi korban penebusan dosa, maka keselamatan dibuka bagi seluruh bangsa, dan semua aturan seremonial dalam Taurat tidak berlaku lagi, karena sudah beralih kepada hukum kasih karunia (Kisah 10:15 ; 11:9).
Tentang makanan, Matius 15:17-20 mengatakan bahwa semua makanan yang masuk melalui mulut termasuk makan daging binatang dalam hukuim Taurat itu tidak mempengaruhi manusia menjadi berdosa, atau membuat manusia menjadi najis, karena semua yang dimakan melalui mulut itu semua akan dibuang ke jamban. Yang menajiskan orang itu bukanlah makanan, tetapi hati manusia, karena dari hatilah timbul perzinahan, dusta dan kejahatan itulah yang membuat najis manusia dan menjadi berdosa.
- Mengenai hari-hari raya misalnya : Paskah, Pentakosta, Pondok Daun.
Ini pun sudah tidak berlaku lagi sebab sudah digenapi di dalam Yesus Kristus. Paskah adalah perayaan luputnya Israel dari maut oleh korban sembelihan anak domba, Yesus sudah menggenapinya. Kematian Yesus adalah Paskah bagi kita. Pentakosta adalah hari ke-50 setelah kematian dan kebangkitan Kristus, dimana para murid Tuhan menerima pencurahan Roh Kudus. Ini juga sudah digenapi bagi kita, yaitu pengalaman dipenuhi Roh Kudus adalah Pentakosta bagi kita. Pondok daun, ini yang belum kita alami tetapi sedang menuju kesana, yang pengalaman dimana setiap orang yang percaya yang dipenuhi oleh Roh Kudus, akan disingkirkan ke padang gurun, terhindar dari pemerintahan Antikris. Sampai hari ini bangsa Israel masih melakukan semua hukum seremonial itu, tetapi bagi kita sudah tidak lagi, karena kita tidak lagi hidup dibawah hukum Taurat, tetapi dibawah kasih karunia Tuhan Yesus Kristus yang sudah menggenapi semua hukum Taurat itu.
Selain hukum Seremonial, Taurat juga memiliki dua hukum lainnya, yaitu : Hukum Moral dan Hukum Sipil.
Hukum Moral : adalah hukum kebenaran dan kesalahan yang bersifat universal, yang berlaku untuk semua waktu dan tempat. Contoh : Hukum sepuluh perintah Allah, yang terbagi dalam dua kategori :
- Hukum 1-4 – Mengatur hubungan manusia dengan Allah. Didalam ada perintah: jangan ada Allah lain diantaramu, jangan menyebut nama Allah dengan sembarangan dan lainnya yang mengatur hukum hubungan manusia dengan Allah, dari ayat 1-4.
- Hukum 5-10 – Mengatur hubungan manusia dengan sesamanya. Diantaranya : jangan membunuh, jangan mencuri, dl,l semua tertulis dalam Keluaran 20:1-17.
Hukum ini sudah sudah digenapi juga dalam hukum kasih karunia, semuanya sudah disempurnakan oleh Yesus dengan dua hukum yang utama. Ay. 1-4 menjadi hukum ‘kasihilah Tuhan Allahmu’ dan ayat 5-10 menjadi hukum ‘kasihliah sesamamu manusia.’ Matius 22:37-40. Sepuluh hukum perintah Allah itu tercakup dalam dua hukum kasih itu.
Hukum Sipil : adalah hukum yang mengatur sosial dan masyarakat, antara lain hubungan tuan dan hamba, hukum pembalasan mata ganti mata, hukuman rajam. Ini tidak berlaku lagi, tidak ada lagi tuan dan hamba, tetapi semua adalah saudara di dalam Kristus.
Jadi semua hukum seremonial itu sudah tidak diberlakukan lagi, karena di dalam Kristus kita berada di bawah hukum kasih karunia. Semua yang dikerjakan oleh Yesus bukan untuk meniadakan Taurat, tetapi menggenapinya di dalam Diri-Nya. Matius 5:17.
Matius 5:17 – “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”
3. KEBEBASAN YANG BERTANGGUNG JAWAB DAN KETAATAN
Dalam Kristus kita memiliki kebabasan untuk memilih, tetapi pilihan kita harus didasarkan pada hati dan motivasi yang bersih dan dalam pengetahuan akan kebenaran firman Tuhan. Seperti yang Tuhan katakan bahwa ‘kebenaran akan memerdekakan kamu’ (Yohanes 8:3 ). Ketika kita melakukan apa yang benar, maka kebenaran itu akan memerdekakan kita dari segala tuduhan apapun, tetapi jika kita melakukan apa yang tidak benar, maka hal yang tidak benar itu, akan menuduh kita sehingga kita menjadi tidak merdeka.
4. KEBEBASAN UNTUK MEMBANGUN
Kebebasan yang kita terima bukan saja menguntungkan diri sendiri, dalam hal ini untuk kita dapat terus bertumbuh menjadi seperti Yesus, tetapi juga dapat digunakan untuk membangun orang lain, dalam pelayanan dan kesaksian hidup agar oang lainpun dapat dimerdekakan dan dibebaskan dari hukum dan kuasa dosa. Juga dalam hidup yang bijaksana agar tidak menjadi batu sandungan bagi sesama, terutama dalam soal apa yang bisa kita makan, bisa dipelajari dalam 1 Kor 10:23-24.
Kesimpulan :
Kebebasan orang Kristen, adalah bebas dari kuasa dosa dan penghukuman melalui Kristus, serta bebas untuk hidup dalam kebenaran dan ketaatan kepada Allah. Kebebasan ini tidak lepas dari tanggung jawab untuk mengolah hati agar menjadi bersih dan menggunakannya untuk menbangun orang lain, bagi kemuliaan Allah di dalam Kristus Yesus.