Yohanes 4 : 1-26
Dari kisah ini kita akan belajar dari hati seorang wanita yang terluka. Dipandangan manusia, ia hanya wanita biasa, bahkan alkitab tidak mencatat namanya. Ia dikenal sebagai wanita Samaria yang menunjukan asal usulnya. Nama Samaria adalah sebuah hinaan, karena dianggap kelompok yang rendah dibandingkan dengan orang Yahudi. Namun dibalik segala luka yang dialaminya, ia meninggalkan jejak pujian penyembahan yang menyenangkan hati Tuhan.
Wanita Samaria ini terluka karena penolakan dan pengkhianatan dari suami dan lingkungannya. Ia dihindari, dijauhi, disalahpahami bahkan dibenci oleh orang-orang yang ia kasihi. Di tengah-tengah luka yang sedang dialaminya, ia mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang membawanya masuk dalam pujian penyembahan di hadirat Tuhan. Ia mengalami perjumpaan dengan Tuhan bukan saat ia kuat, sehat tetapi saat hatiya masih terluka hebat. Luka hatinya yang masih terbuka, justru menjadi jalan masuk bagi Tuhan untuk memulihkan hidupnya.
Setiap orang memiliki luka. Ada yang terluka karena penolakan, kegagalan, kehilangan, dosa, atau masa lalu yang kelam. Luka itu terkadang membuat kita merasa tidak layak datang kepada Tuhan. Kita berpikir:
- “Saya terlalu berdosa, tidak layak untuk menyembah Tuhan.”
- “Saya najis, doa saya tidak diterima Tuhan”
- “Saya sudah hancur, bagaimana mungkin saya bisa menyembah Tuhan?”
Tetapi hari ini marilah kita melihat kebenaran tentang pujian dan penyembahan.
Menyembah Dalam Luka
1. Tuhan bertahta diatas hati yang luka bukan hati yang sempurna.
Yohanes 4:3,4
Iapun meninggalkan Yudea dan kembali lagi ke Galilea. Ia harus melintasi daerah Samaria.
Sebenarnya ada jalan yang lebih dekat dan lebih aman untuk menuju Galilea, tetapi Yesus justru memilih melintasi daerah Samaria. Ini bukan jalur biasa bagi orang Yahudi karena mereka menghindari daerah Samaria. Ini bukan salah jalan, tetapi ini adalah keputusan Tuhan, karena di Samaria ada seorang wanita hati yang sedang terluka. Sementara orang-orang menjauhi wanita Samaria, Yesus mendekati, saat semua orang menghindari Yesus justru menghampiri, saat semua orang meninggalkan dan pergi, Tuhan Yesus justru datang dan melayani.
Inilah kebenaranya: Luka tidak menghalangi Tuhan untuk menyatakan kasihNya. Justru di tempat yang penuh luka di situlah kasih Tuhan menjangkau kita. Tuhan bertahta di atas hati yang luka bukan hati yang sempurna.
Yesaya 57:15
Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: “Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.
Di pagi hari ini mari datang di hadapan Tuhan dengan apa adanya. Tidak usah menutupi luka atau bersembunyi dibalik hancurnya hati. Percayalah, Tuhan tahu semua luka kita, Tuhan tahu kehancuran hati kita. Mari bangun tahtaNya di atas luka kita. Dalam rasa sakit yang engkau alami biarlah itu menjadi tempat penyembahan yang paling murni. Wanita Samaria berjumpa dengan Tuhan bukan setelah sembuh, ia bertemu Tuhan saat hatinya masih terluka. Percayalah, Tuhan tidak menunggumu menjadi sempurna baru diterima, DIA menerimamu apa adanya. Meski hatimu terluka, hidupmu penuh dosa, tanganNya selalu terbuka untuk memeluk kita.
Di tempat yang penuh luka itulah perempuan Samaria bertemu Yesus. Jangan tunggu sembuh — datanglah sekarang, karena Tuhan bertahta di atas hati yang luka bukan hati yang sempurna.
Mazmur 51:19
Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.
Tuhan tidak menolak penyembah yang remuk hatinya. Justru di atas hati yang hancur, hati yang patah dan jiwa remuk menjadi tempat bagi kehadiranNya. Di atas hati yang luka kuasa Tuhan bekerja.
2. Penyembahan yang sejati adalah perjumpaan dengan Tuhan bukan kebiasaan keagamaan
Yohanes 4:6,7
6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.
7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.”
Mengambil air di sumur Yakub adalan kebiasaan rutin yang dilakukan setiap hari oleh wanita Samaria ini. Dari hari ke hari ia selalu pergi ke sumur Yakub untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi ia tidak pernah mengalami kepuasan dalam dirinya. Ia selalu merasakan kekeringan dan kosong setiap hari. Saat ia berjumpa dengan Yesus, di sanalah kehidupannya berubah. Wanita ini tidak hanya menerima air dari sumur Yakub, ia juga menerima air hidup. Inilah penyembahan sejati. Penyembahan sejati adalah perjumpaan dengan Tuhan bukan tindakan kebiasaan yang diulang-ulang.
Berhati-hatilah, karena banyak orang sibuk untuk Tuhan tetapi lupa bersama Tuhan. Setiap Minggu ke gereja bertemu hamba Tuhan tetapi tidak bertemu dengan Tuhan. Datang ke gereja setiap Minggu, tetapi hatinya tetap beku. Di gereja sering berkata amin, tetapi hatinya tetap dingin. Mengapa bisa terjadi? Sebab mereka tidak mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Mereka menjadikan gereja sebagai pusat kegiatan tetapi bukan tempat perjumpaan.
Kalau kita ingin mengalami kepuasan dalam jiwa, kesegaran roh, dan pemulihan dalam hati, mari jadikan gereja sebagai tempat perjumpaan bukan pusat kegiatan. Datanglah kepada Tuhan dengan hati yang rindu, bukan sekedar rutinitas setiap Minggu. Ingat, rutinitas mematikan, tetapi perjumpaan menghidupkan.
Yeremia 29:12, 13
Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati,
3. Penyembahan sejati dimulai dari hati bukan karena lokasi.
Yohanes 4:20-23
20.Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.”
23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
Wanita Samaria ini berbicara tentang lokasi penyembahan. Orang Samaria menyembah di gunung Gerizim, sedang orang Yahudi menyembah di Yerusalem, tetapi Yesus berkata bahwa penyembahan bukan tentang lokasi tapi tentang hati. Penyembah yang benar bukan di mana kita menyembah, tetapi bagaimana cara kita menyembah. Penyembahan yang benar dilakukan dalam roh dan kebenaran. Kita bisa menyembah Tuhan di mana saja, yang utama adalah hati kita terhubung dengan DIA. Tuhan tidak tertarik dengan posisi ataupun lokasi, Tuhan tertarik dengan hati. Tuhan mendengar suaramu, tetapi yang DIA cari adalah hatimu.
4. Penyembahan yang sejati mengalir dari hati yang haus bukan karena harus.
Yohanes 4:15
Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.”
Wanita Samaria ini menimba air di sumur Yakub adalah sebuah keharusan, tetapi menerima air dari Yesus adalah sebuah kehausan. Penyembahan yang benar tidak terjadi karena keharusan, tetapi kerinduan akan Tuhan. Penyembah sejati bukan harus tetapi haus akan Tuhan. Banyak orang menganggap penyembahan sebagai kewajiban yang harus dilakukan, bagian dari tata cara ibadah, atau karena ajaran/dogma gereja. Penyembahan yang sejati lahir dari hati yang haus dan lapar akan hadirat-Nya.
Mazmur 42:2,3
Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?
Inilah gambaran dari sebuah jiwa yang haus akan Tuhan. Ia terus menerus mencari Tuhan, hatinya tidak dapat dipuaskan dengan apapun juga selain hadirat-Nya.
Bagaimana dengan kita saat ini? Apakah kita datang karena rasa harus atau karena harus. Kita datang beribadah sebagai kewajiban atau didorong karena kerinduan akan Tuhan. Ingat hanya mereka yang haus dan lapar akan Tuhan yang akan dipuaskan.
Mengapa hati kita tetap kering setelah pulang dari gereja? Mengapa jiwa kita kosong setelah beribadah? Sebab kita tidak datang dengan hati yang haus akan Tuhan, kita kehilangan kerinduan akan Tuhan.
Dulu, hari Minggu adalah hari selalu ditunggu.
Dulu, kita rela bangun pagi untuk berdoa, bertemu dengan Bapa di sorga.
Dulu, alkitab kita baca setiap hari.
Tetapi bagaimana sekarang? Pelan-pelan semua memudar. Ibadah menjadi rutinitas, kita sering lupa berdoa, bahkan alkitab pun jarang kita buka. Hati yang dulu terbakar sekarang mulai dingin.
Pagi hari ini, Tuhan masih menunggumu, sama seperti Ia menunggu wanita Samaria di tepi sumur Yakub. Tuhan tidak pergi, IA tidak menjauh, Tuhan tetap ada di tempat yang sama, saat pertama kali kita berjumpa. Kembalilah, datanglah lagi kepadaNya. Jumpailah DIA di tahtaNya dalam pujian dan penyembahan. Tuhan memberkati. – KJP!