Ibr 12:15 Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.
Jagalah dengan segala kewaspadaan dan sungguh (hati – Amsal 4:23), supaya jangan (sampai) ada seorangpun, yang menjauhkan diri (kehilangan), dari kasih karunia Allah (Anugerah Allah), agar jangan tumbuh akar yang pahit (dapat mengeringkan Anugerah) karena seperti benalu, yang menimbulkan kerusuhan (trouble you) dan yang mencemarkan banyak orang (menjadi omongan orang) .
Berjalan dalam Kasih Karunia Allah sebenarnya adalah sebuah anugerah, menyenangkan karena hidup menjadi ringan. Tuhan dapat mengizinkan proses yang menyakitkan terjadi tetapi anugerah akan memampukan kita melewatinya dan mengalami exceeding grace (anugerah yang bertumbuh, 2 Petrus 3:18).
Mari kita belajar dari Saul, mengapa Kasih Karunia Allah sampai hilang dari kehidupannya?
SAUL (Raja pertama Israel)
•1Sam 9:1 Ada seorang dari daerah Benyamin, namanya Kish bin Abiel, bin Zeror, bin Bekhorat, bin Afiah, seorang suku Benyamin, seorang yang berada. 9:2 Orang ini ada anaknya laki-laki, namanya Saul, seorang muda yang elok rupanya; tidak ada seorangpun dari antara orang Israel yang lebih elok dari padanya: dari bahu ke atas ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya.
Kasih Karunia Allah banyak yang sudah diterima oleh Raja Saul dan dapat semakin bertumbuh. Saul dari suku Benyamin. Siapakah Benyamin ini? Benyamin merupakan anak kesayangan dari istri yang dicintai Yakub. Sewaktu di Mesir, Benyamin diperlakukan oleh Yusuf berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain (Kej 43:34) dimana hendak dimusnahkan (Hakim 19-21) tapi mendapat kemurahan Allah. Dari suku ini lahir raja pertama bangsa Israel.
Kita juga sudah menerima banyak anugerah yang berlimpah (temukan itu dalam hidupmu). Poinnya Saul menerima anugerah demi anugerah (anugerah begitu besar) yang diidamkan banyak orang tetapi Saul meninggal dengan mengenaskan di medan perang, dipermalukan begitu rupa, kehilangan perkenanan Tuhan. Seharusnya yang jadi raja selanjutnya adalah dari keturunannya tapi keturunannya dihabiskan, terputus.
SAUL KEHILANGAN KASIH KARUNIA ALLAH?
1. Saul lebih suka mengandalkan manusia daripada Tuhan
1Sa 10:26 Saulpun pulang ke rumahnya, ke Gibea, dan bersama-sama dengan dia ikut pergi orang-orang gagah perkasa yang hatinya telah digerakkan Allah.
Setelah Saul diangkat Tuhan, perkenanan Tuhan ada atas hidup Saul, tiba-tiba ada orang gagah perkasa yang mendedikasikan diri mereka untuk mendukung Saul (orang-orang yang punya kekuatan di bidangnya masing-masing, dana, daya dimana mereka memiliki pengaruh besar di zamannya).
Tuhan yang mengirim mereka kepada Saul (bersama dengan anugerah – Tuhan akan membawa orang-orang yang tepat untuk mendukung/ memperlengkapi kita sehingga rencana Tuhan digenapi). Tapi justru Saul condong kepada orang-orangnya yang perkasa ini.
1Sa 14:52 Hebat peperangan melawan orang Filistin selama zaman Saul. Dan semua pahlawan dan orang gagah perkasa, yang dilihat Saul, dikumpulkannya kepadanya. Saul suka mengoleksi orang-orang hebat. Tidak ada yang salah sampai di sini.
1Sa 22:6 Hal itu terdengar oleh Saul, sebab Daud dan orang-orang yang bersama-sama dengan dia telah diketahui tempatnya. Adapun Saul ada di Gibea, sedang duduk di bawah pohon tamariska di bukit, dengan tombaknya di tangan dan semua pegawainya berdiri di dekatnya.
1Sa 26:7 Datanglah Daud dengan Abisai kepada rakyat itu pada waktu malam, dan tampaklah di sana Saul berbaring tidur di tengah-tengah perkemahan, dengan tombaknya terpancung di tanah pada sebelah kepalanya, sedang Abner dan rakyat itu berbaring sekelilingnya.
Apakah ditemukan kata-kata ini yang kita bandingkan dengan Daud yang berkata “hanya dekat Allah, aku tenang.” Jawabnya tidak. Saul mencondongkan dirinya kepada orang-orang hebat. Ketika menghadapi peperangan melawan orang Filistin, ketika dilihat Saul orang gagah perkasa yang dimajukan oleh Filistin (Goliat) jauh lebih hebat dari semua orang-orang gagah perkasanya disatukan, ciutlah hatinya (tidak disebutkan Saul berseru kepada Tuhan). Ketika kecenderungan hatimu bergantung kepada manusia, mengandalkan orang-orang gagah perkasa ini, disitulah letak kesalahannya.
Kisah itu berkelanjutan.
1Sa 10:8 Engkau harus pergi ke Gilgal mendahului aku, dan camkanlah, aku akan datang kepadamu untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan. Engkau harus menunggu tujuh hari lamanya, sampai aku datang kepadamu dan memberitahukan kepadamu apa yang harus kau lakukan.”
1Sa 13:8 Ia menunggu tujuh hari lamanya sampai waktu yang ditentukan Samuel. Tetapi ketika Samuel tidak datang ke Gilgal, mulailah rakyat itu berserak-serak meninggalkan dia.
1Sa 13:10 Baru saja ia habis mempersembahkan korban bakaran, maka tampaklah Samuel datang. Saul pergi menyongsongnya untuk memberi salam kepadanya.
Saul mengambil alih fungsi Samuel. Saul lebih takut manusia daripada Tuhan.
Yer 17:5 Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!
Yer 17:7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
Ini yang dialami Daud. Pada saat Daud diangkat menjadi Raja, orang-orang yang gagah perkasa itu pun mendekati Daud. Yang membedakan hatinya Daud tidak pernah condong kepada mereka. (Mzm 62:2 Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. )
Rakyat hendak meninggalkan Daud, merajam Daud ketika Ziklag habis terbakar, tapi Daud datang kepada Tuhan, minta petunjuk dan pertolongan yang daripada Tuhan. Yang dipegang Daud adalah sumber anugerahnya. Orang-orang yang tadinya hendak merajamnya dengan batu, mereka bangkit bersama-sama berperang.
Semua yang Tuhan berikan dalam hidup kita, itu anugerah. Tidak salah kalau kita berusaha, tapi kecondongan hati kita terus kepada Tuhan (sumber berkatnya) bukan mengandalkan manusia, kepandaian, koneksi. Hati ini harus dijaga. Daud menutup matanya sampai di usianya yang sudah tua dengan anugerah yang terus bertumbuh (peganglah anugerah kau tidak pernah kering)
2. Karena Saul tidak menjaga hatinya
1 Samuel 18:6-10;
1Sa 18:8 Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: “Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya.”
1Sa 18:9 Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud.
1Sa 18:10 Keesokan harinya roh jahat yang daripada Allah itu berkuasa atas Saul, sehingga ia kerasukan di tengah-tengah rumah, sedang Daud main kecapi seperti sehari-hari. Adapun Saul ada tombak di tangannya.
Akar pahit yang anda tidak bereskan membuka celah untuk Iblis masuk kesana. Itu mengeringkan anugerah. Kelilingi dirimu dengan orang yang bisa menasihati dirimu dengan tepat. Kalau kamu balas, kamu puas, tapi tanganmu berlumuran darah. Tangan yang berlumuran darah tidak pernah bisa diijinkan Tuhan membangun gereja-Nya. Daud bisa mengalahkan Saul pada saat itu, tapi tangannya akan berlumuran darah. Tuhan yang berurusan sendiri dengan Saul. Bagian kita adalah menjaga hati, jadi alat-Nya Tuhan.
Meneruskan apa yang sudah kita terima kepada orang lain. Kita hidup dalam hukum tabur tuai (selama engkau menabur, engkau pasti menuai). Estafetkan anugerah keselamatan, diselamatkan untuk menyelamatkan orang lain, Matius 18:23- Jangan pernah kemurahan dan anugerah itu berhenti dalam dirimu. Kita sudah terima kemurahan dari Tuhan, murah hatilah kepada yang lain.
Sadarlah! Benalu tak terlihat di permukaan, tapi diam-diam menggerogoti batang pohon hidupmu sampai suatu hari… “KRAAK!” — kau roboh tanpa tanda peringatan.