MELAYANI UNTUK MENDEWASAKAN KELUARGA – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 2 – Minggu, 21 Juni 2026)

Pendahuluan
Gereja bukan hanya sebuah tempat ibadah saja, tetapi keluarga rohani yang dibangun oleh Tuhan. Dalam keluarga rohani juga ada kepala keluarga, ada anggota keluarga yaitu jemaat yang memiliki hubungan satu dengan yang lainnya. Gereja yang sehat bukan cuma kuat dalam ibadah, tetapi juga kuat dalam hubungan antar jemaat dalam kasih dan kedewasaan rohani. Apa dan bagaimana jemaat yang dewasa dalam Kristus itu? Inilah yang menjadi pokok bahasan kita berdasarkan 1 Tesalonika 5:12-15.

1 Tesalonika 5:12-13
“Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegur kamu; dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah dalam damai seorang dengan yang lain.”

1 Tesalonika 5:14-15
“Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, dan sabarlah terhadap semua orang. Perhatikanlah, jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, kamu terhadap sesama kamu dan terhadap semua orang.”

3 CIRI KEHIDUPAN JEMAAT YANG DEWASA DI DALAM KRISTUS
I. Jemaat menghormati pemimpin rohani yang melayani dengan setia
1 Tesalonika 5:12-13
“Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegur kamu; dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka. Hiduplah dalam damai seorang dengan yang lain.”

Kata “bekerja keras” berasal dari kata KOPIAO, yang berarti:

  • Bekerja berjerih lelah sampai letih.
  • Menguras tenaga demi orang lain.

Pelayanan pemimpin rohani bukan hanya di mimbar, tetapi juga mencakup banyak pergumulan yang sering tidak dilihat oleh jemaat, seperti:

  • Mendoakan jemaat.
  • Mengunjungi jemaat yang sakit.
  • Mempersiapkan penyampaian Firman.
  • Menanggung beban semua pelayanan.
  • Menghadapi kritik, krisis, tantangan, dan bahkan ketika disepelekan.

Karena itulah Rasul Paulus berkata:

  • Hormati mereka.
  • Kasihilah mereka.
  • Hiduplah dalam damai seorang dengan yang lainnya.

II. Peduli kepada sesama dengan kasih
1 Tesalonika 5:14
“Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, dan sabarlah terhadap semua orang.”

Dalam ayat ini Rasul Paulus menunjukkan bahwa didalam gereja ada banyak jenis kondisi rohani. Ada orang yang:

  • Memberontak.
  • Putus asa.
  • Lemah.
  • Sulit bertumbuh.

Bagi jemaat yang sudah bertumbuh dewasa, tidak boleh cuek terhadap sesamanya. Ada empat tanggung jawab yang harus dilakukan:
1. Menegur yang tidak tertib
Teguran sangat diperlukan supaya orang kembali dalam jalan Tuhan. Teguran yang benar harus dilakukan dengan kasih, bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk memulihkan. Matius 18:15-17

2. Menghibur yang tawar hati
Tidak sedikit orang sedang mengalami kecewa, lelah, hampir menyerah, dan terluka oleh tantangan kehidupan ini. Mereka membutuhkan:

  • Pelukan kasih.
  • Penguatan.
  • Penghiburan dari Firman Tuhan.

3. Menolong yang lemah
Yang dimaksud lemah disini bisa karena:

  • Lemah iman.
  • Lemah ekonomi.
  • Lemah secara emosional.
  • Lemah karena terjerumus dalam dosa.

Gereja dipanggil untuk menjadi tempat pemulihan bagi anggota keluarga gereja yang lemah ini.

Bagaimana Cara Membimbing Anggota Keluarga Jemaat dengan Baik?
2 Timotius 4:2
“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”

Kesabaran merupakan salah satu bukti kedewasaan rohani. Tidak semua orang bisa berubah dengan cepat. Tuhan sabar terhadap kita, maka kita pun harus bersabar terhadap sesama. Ibarat jenis pohon yang gampang layu, seorang tukang kebun yang baik tidak akan membuang tanaman yang lemah, tetapi merawatnya sampai bertumbuh kembali.

Demikian juga gereja sebagai keluarga rohani harus menjadi tempat di mana orang yang lemah dapat dipulihkan, bukan disingkirkan.

Tuhan mengajarkan kepada kita untuk:

  • Menjadi jemaat yang peka terhadap kebutuhan orang lain.
  • Belajar menguatkan, bukan menjatuhkan.
  • Jangan hanya memperhatikan diri sendiri, tetapi juga memperhatikan orang lain.

III. Mengalahkan Kejahatan dengan Kebaikan
1 Tesalonika 5:15
“Perhatikanlah, jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat, tetapi usahakanlah senantiasa yang baik, kamu terhadap sesama kamu dan terhadap semua orang.”

Jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat. Ini merupakan ciri ketiga dari orang yang dewasa rohani. Sebaliknya, sifat orang yang lebih dipengaruhi kedagingannya adalah:

  • Mau membalas.
  • Menyimpan dendam.
  • Membalas dengan hal yang jahat juga.

Dalam ayat ini Firman Tuhan mengajarkan prinsip Kerajaan Allah, yaitu: jangan membalas kejahatan, tetapi balaslah dengan kebaikan.

Ini merupakan karakter Yesus sendiri:

  • Dihina tetapi tidak membalas.
  • Disakiti tetapi tetap mengasihi.
  • Disalibkan tetapi tetap mengampuni.

MENGAPA KITA HARUS MEMBALAS KEJAHATAN DENGAN KEBAIKAN?
1. Karena Kristus terlebih dahulu telah mengampuni kita dan kita hidup dalam kasih karunia-Nya.
Apa kata Alkitab tentang orang percaya yang masih hidup dalam kebencian?
1 Yohanes 4:20; 3:15, disebut:

  • Pendusta.
  • Pembunuh.

2. Karena pembalasan adalah hak Tuhan yang menghakimi dengan adil.
Roma 12:19; Ibrani 10:30

3. Karena kebaikan dapat memenangkan jiwa.
Hanya kasih yang dapat meluluhkan hati yang keras.

4. Karena orang percaya dipanggil menjadi terang dunia.
Dunia dapat melihat terang Kristus melalui cara hidup orang percaya.

Kesimpulan
Ciri kehidupan jemaat yang dewasa:
Pertama: Jemaat yang menghormati pemimpin rohani yang melayani dengan setia.
Kedua: Peduli kepada sesama dengan kasih.
Ketiga: Mampu mengalahkan kejahatan dengan kebaikan.

Arsip Catatan Khotbah