MEMELUK KEHENDAK ALLAH – oleh Pdt. K. Joseph Priyono (Ibadah Raya 3 – Minggu, 21 Desember 2025)

Lukas 1:38
“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”

PENDAHULUAN
Setiap manusia hidup dengan impian. Kita merancang masa depan, menyusun harapan, memilih jalan, dan berharap hidup berjalan sesuai yang kita inginkan. Namun sadarilah, bahwa ada saatnya hidup membawa kita pada persimpangan jalan. Saat itulah kita harus menentukan pilihan antara mempertahankan impian dan memeluk kehendak Tuhan.

Itulah yang dialami Maria saat natal pertama. Secara tiba-tiba, tanpa rencana, dan tak pernah diduga, seorang malaikat datang kepadanya membawa berita sorga yang mengejutkannya. Malaikat itu berkata: Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.

Maria bukan tanpa impian. Sebagai seorang wanita yang sedang bertunangan dengan Yusuf kekasihnya, ia memiliki rencana hidup yang sederhana dan manusiawi yaitu menjadi istri Yusuf. Ia ingin menjalani kehidupan rumah tangga yang tenang, dan hidup normal seperti perempuan lainnya. Namun Allah datang dengan berita yang mengejutkan: “engkau akan mengandung dan akan melahirkan.”

Berita itu bukan hanya mengejutkan, tetapi juga berisiko: risiko dicemooh, ditolak, bahkan kehilangan masa depan. Di titik inilah Maria berada diantara dua pilihan: “mempertahankan impiannya dan mengikuti kehendak Tuhan.” Untunglah Maria memilih: Memeluk Kehendak Tuhan. Dengan penuh keyakinan ia berkata “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”

Inilah teladan hidup yang sesuai kehendak Allah. Memilih memeluk kehendakNya, meski tidak mengerti sepenuhnya. Maria memilih tetap mempercayai walau tidak memahami. Tidak semua kehendak Allah dapat kita pahami, tetapi marilah kita belajar mempercayai. Bagi Maria mengikuti kehendak Allah rasanya tidak masuk akal, namun ia percaya kehendak Allah selalu membawa maksud yang kekal. Memeluk kehendak Allah memang tidak selalu mudah, tetapi selalu berakhir dengan indah.

Sadarilah, hidup ini sering kali memperhadapkan kita pada dua hal: apa yang kita impikan dan apa yang Tuhan inginkan.

Kita merancang hidup dengan harapan terbaik, namun kenyataan yang terjadi justru terbalik. Sebab itu ingatlah jika Tuhan menghentikan langkah kita, seolah menutup jalan kita, itu artinya Tuhan sedang mengarahkan kita agar kita berjalan di jalan-Nya. Impian kita tidak sedang dirampas olehNya, tetapi TUHAN sedang membentuk kita agar hidup kita menjadi selaras dengan kehendakNya.

Mari kita belajar bagaiman cara Maria memeluk kehendak TUHAN.
1.      Memeluk Kehendak Allah dimulai dari kesadaran akan indentitas kita
Ayat 38a – “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan”
Kemampuan Maria memeluk kehendak Allah dimulai dari pengakuan identitasnya, bukan kondisi hidupnya. Maria tidak berkata: “Aku ini perempuan lemah, orang biasa, dari keluarga sederhana, berasal dari desa kecil yang berama Nazaret, aku tidak bisa, aku tidak mampu, aku takut, dll, tetapi yang Maria katakan: “Aku ini adalah hamba Tuhan.”

Maria sadar bahwa ia adalah hamba Tuhan. Sebagai seorang hamba Tuhan, maka baginya tidak ada pilihan lain, selain melakukan perintah dan kehendak Tuhan.

Kegagalan kita memeluk kehendak Tuhan, selalu diawali dari kegagalan kita memahami identitas kita di hadapan Tuhan. Karena ketaatan sejati lahir dari relasi bukan dipaksa untuk mengikuti. Banyak orang taat karena takut hukuman, taat karena ingin mendapat berkat. Tetapi orang yang tahu identitasnya sebagai hamba, ia melakukan segala tugas dengan penuh ketaatan tanpa bantahan ataupun paksaan.

1Petrus 2:18 
Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis. 

 “Orang yang mengenal Allah sebagai Tuhan, tidak akan sulit mempercayakan hidupnya kepada-Nya.”

2. Penyerahan Diri.
Ayat 38b
jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”

Memeluk kehendak Allah hanya bisa dijalani saat ada penyerahan diri.  Ketika Maria berkata: Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu … ini adalah sebuah tanda penyerahan diri. Maria menyerah penuh kepada kehendak Tuhan, meski ia belum sepenuhnya paham. Ia menyerah total, meski perintahNya tidak masuk akal.

Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu, ini menunjukkan penyerahan tanpa syarat. Maria tidak meminta jalan yang lebih mudah, tidak menawar risiko yang akan terjadi, tidak meminta penjelasan lengkap, tidak menuntut jaminan keamanan, tidak meminta jalan alternatif. Maria menyerah penuh kepada kehendak Tuhan. Ia menyerahkan tubuhnya, nama baiknya, bahkan masa depannya kepada Allah yang memanggilNya.

Tuhan tidak mencari orang yang mampu, Tuhan mencari orang yang mau. Tuhan tidak menuntut kita bisa, Ia mencari orang-orang yang bersedia, yang berkata seperti Maria: Jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.

Inilah ekspresi dari iman yang benar. Iman Maria bukan iman yang lahir dari kepastian, melainkan dari penyerahan dan kepercayaan. Ia tidak diberi penjelasan lengkap tentang masa depan, tentang risiko yang dihadapi, tentang penderitaan batin yang dialami, bahkan tidak ada penjelasan bagaimana semuanya itu terjadi. Namun Maria memilih percaya kepada Allah dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan.

Dari Maria kita belajar bahwa iman sejati adalah keberanian untuk mempercayai dan menyerahkan diri kepada kehendak Tuhan, tanpa meminta penjelasan dan jaminan akan masa depan.

Siapakah diantara kita yang mau tetap memeluk kehendak Allah seperti Maria?

  • Tetap percaya meski tidak memahami kehendakNya,
  • Tetap taat, walau jalan hidup terasa makin berat,
  • Tetap berharap walau masa depan masih tampak gelap
  • Memilih tetap mengasihi meski tidak dihargai bahkan dibenci dan dikhianati.
  • Tetap jujur meski harus rugi bahkan usaha hancur.
  • Tetap setia meski mengalami banyak air mata dan luka.

Mazmur 56 : 4,5 
Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? 

3. Firman Tuhan sebagai Dasar Ketaatan
Ayat 38c
jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”

Keberanian Maria memeluk kehendak Tuhan, bukan didasarkan pada perasaan atau logikanya semata, melainkan didasarkan pada firman Tuhan yang didengarnya. Saat malaikat Gabriel menyampikan berita sorga kepadanya, bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus, ia tidak menolaknya, melainkan berserah dan percaya sepenuhnya kepada firman Tuhan. Maria percaya, jika Allah yang berbicara, maka Allah juga yang bertanggung jawab atas segalanya.

Jangan pernah meragukan firman Tuhan, sebab firman Tuhan adalah kebenaran. Alkitab berkata: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Matius 24:35)

Maria tidak menyerahkan diri pada perasaan, melainkan pada kebenaran firman Tuhan. Ia menjadikan firman Tuhan sebagai dasar iman dan sandaran kehidupan. Maria berpegang pada firman, bukan pada rasa aman karena ia percaya segala yang difirmankan pasti menjadi kenyataan.

Ingat, “Firman Tuhan tidak selalu memberi kenyamanan, tetapi selalu memberi kepastian.”

Penutup
Yesus memilih memeluk kehendak Allah
Lukas 22:42 
“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” 

Hari ini kita dihadapkan dengan roti dan anggur perjamuan. Ini adalah buah dari orang yang memeluk kehendak Allah. Di taman Getsemani Yesus berlutut dan berdoa kepada Bapa, Ia berkata: “Ya Bapa, jikalau mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku. Namun bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.”

Getsemani bukan sekadar tempat doa, itu adalah tempat pergumulan antara memilih memeluk kehendak diri sendiri atau memeluk kehendak Bapa. Memeluk keinginan diri sendiri mungkin terasa aman, nyaman, bebas dari penderitaan, tetapi memeluk kehendak Bapa membawa keselamatan bagi dunia. Di taman Getsemani, Anak Allah memilih memeluk kehendak Bapa-Nya dan meletakan keinginan diri sendiri.

Mungkin ada diantara kita yang sedang berdiri di tempat Maria atau seperti Tuhan Yesus di taman Getsemani. Kita diperhadapan kepada pilihan memilih kehendak diri sendiri dan mengikuti kehendak Bapa di sorga.

Tuhan tidak meminta kita mengerti segalanya, Ia hanya mengundang kita untuk percaya dan memeluk kehendak-Nya. Ini memang tidak mudah, tetapi percayalah memeluk kehendak Allah selalu berakhir dengan indah. Kadang-kadang ada rasa sakit dan penderitaan, tetapi ujungnya selalu kebahagiaan. Biarlah malam ini, kita semua berani berkata seperti Maria: “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Atau seperti Tuhan Yesus: “bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Tuhan memberkati. Amin.

Arsip Catatan Khotbah