MENJADI SATU  DENGAN ALLAH – oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 3 – Minggu, 26 Mei 2024)

Pendahuluan
Mungkin ada yang bertanya apakah mungkin manusia dapat menjadi satu dengan Allah? Tinggal bersama Allah mungkin, bagaimana dengan menjadi satu dengan Allah? Tinggal bersama dan menjadi satu dengan Allah adalah merupakan konsep Allah sejak semula manusia diciptakan. Hal ini dapat kita lihat pada doa Yesus.

Yohanes 17:20-21 “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”

Jadi tinggal menyatu dengan Tuhan adalah adalah kemauan  dan konsep Allah dari semula. Kita juga dapat lihat hal itu, bagaimana Allah mengerjakannya dalam :
Kejadian 2:8 – “Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur, disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu.” ( Bd. Kej 2:15 )

Allah sampai membuat tempat khusus di bumi bagi manusia, agar dimana Allah ada manusia juga berada. Manusia dapat memandang Allah karena manusia diciptakan menurut rupa, gambar dan kemuliaanNya, juga sedikit lebih rendah dari penciptanya, lebih mulia dari para malaikat, spesial bagi Allah dan mempercayakan semua yang Ia ciptakan termasuk bumi untuk dikelola oleh manusia. Selanjutnya Allah ingin bumi dipenuhi oleh keturunan manusia, yaitu keturunan ilahi, sehingga bumi dipenuhi oleh kemuliaan Allah oleh keturunan manusia ilahi. Namun sayang kerinduan Allah menjadi berantakan.

Dosa menghancurkan keharmonisan manusia dengan Allah, manusia lalai dan lebih percaya hasutan Iblis dari pada perkataan Allah. Akibatnya :  Roma 3:23“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”  Kemuliaan Allah, adalah sesuatu yang bersifat ilahi yang Tuhan berikan kepada manusia, yang memungkinkan manusia dapat menghampiri dan berhubungan erat dengan Tuhan. Kemuliaan yang sebenarnya menjadi kodrat ilahi manusia itu hilang, sehingga manusia terpisah dari Allah, tidak dapat menghampiri Allah kembali.   

Kejadian 2:17“Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” 

Kata mati disini adalah kodrat ilahinya yang adalah kemuliaan Allah dalam diri manusia itu hilang, manusia menjadi manusia yang murni daging tanpa memiliki kodrat keilahiannya lagi. Itulah sebabnya manusia bisa menjadi tua, sakit-sakitan, mati dan masuk pada penghukuman kekal, yang sebenarnya tidak disediakan untuk manusia tetapi bagi Iblis.

Berdiamdirikah Tuhan dan menyerah atas kelakuan manusia yang memilih memberontak kepada perintah-Nya? Tidak! Usaha Tuhan untuk tetap bisa berada bersama dengan manusia yang dikasihi-Nya tetap berlanjut, selain dari usaha untuk menebusnya kembali dari dosa. Kerinduan Allah untuk tetap dapat berada ditengah umat-Nya, dalam perjanjian lama terlaksana lewat Kemah suci atau Tabernakel Musa( Keluaran 25).

Tidak puas dengan Tabernakel, Allah sendiri turun menjadi manusia, selain untuk menuntaskan penebusan-Nya, Ia juga dapat tinggal diantara manusia yang begitu dikasihi-Nya.

Matius 1:23“Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamai Dia Imanuel – yang berarti : Allah menyertai kita.

Kalimat Allah menyertai kita dalam terjemahan Ibrani “Bertabernakel” artinya berkemah diantara umat-Nya.

Yohanes 1:14“ Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”

Kesempurnaan Allah tinggal bersama umat-Nya adalah ketika pribadi ke tiga dari Allah memenuhi hidup setiap orang yang percaya, yaitu Roh Kudus. Tuhan tidak lagi tinggal diluar tetapi di dalam hidup setiap orang percaya, untuk memberi kemampuan menang terhadap tabiat daging manusia yang cenderung berbuat dosa. Bagaimana Roh Kudus bekerja di dalam kehidupan umat ketebusan-Nya?

Kisah 1:8“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalua Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. “

Kuasa untuk menjadi saksimerupakan kuasa yang bekerja menjadi saksi dalam dua hal:
1. Ke dalam pribadi kehidupan orang  percaya.
2. Keluar menjadi saksi dalam pekerjaan pemberitaan Injil.

I. Kuasa kedalam kehidupan pribadi orang percaya meliputi :

  • Memberi kuasa yang mengubahkan hidup orang percaya. Kehidupan lamanya berlalu, ia menjadi ciptaan baru atau manusia yang telah diperbaharui.

2 Korintus 5:17“ Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan yang baru yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”

Perubahan dalam kehidupannya inilah yang menjadi kesaksian bagi tiap-tiap pribadi orang percaya, ia mengalami lebih dulu perubahan hidupnya sebelum Tuhan pakai untuk mengubahkan orang lain.

  • Memberi control disiplin ilahi, untuk cepat menyadari jika melakukan kekeliruan.
    Yohanes 16:8“Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman.”

Roh Kudus akan menjaga kehidupan orang percaya untuk tetap dalam kebenaran, dengan selalu menginsyafkan untuk tidak terjerumus lagi ke dalam dosa dan konsekuensinya yaitu penghakiman.

  • Melengkapi dengan karunia-karunia-Nya, untuk siap mengerjakan pelayanan kesaksian. 1 Kor 12:1-11.

II. Keluar menjadi saksi :

  •  Diberi kuasa dalam pemberitaan Injil.  Mat 28:19.
  •  Diberi kuasa dalam bertahan menghadapi tantangan dan perlawanan.  Filipi 1:29.

Filipi 1:29“Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia.”

Mau tidak mau, suka tidak suka, setiap orang percaya yang menjadi saksi bagi Injil keselamatan akan menghadapi perlawanan dan aniaya. Tanpa topangan kekuatan Roh Kudus tidak akan sanggup menghadapinya.

Hal terakhir dari kepenuhan Roh Kudus adalah memampukan orang-orang yang dipenuhiNya, menjadi gereja sempurna yang serupa dengan gambaran Yesus, Roma 8:29. Dari sinilah manusia baru akan dengan sempurna kembali kepada kodrat ilahinya, kembali kepada rancangan Tuhan semula tinggal dan bersatu dengan Allah di dalam kekekalan. Yang mati tubuhnya akan dibangkitkan dalam tubuh kemuliaan dan yang masih hidup tubuh kedagingannya akan diubahkan menjadi tubuh kemuliaan.

Arsip Catatan Khotbah