Roma 12:1- “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Setiap orang yang ditebus Tuhan, bukan supaya bebas dari maut dan masuk ke surga saja, tetapi tiap-tiap orang yang sudah ditebus Tuhan juga dipanggil untuk melayani Tuhan. Kita akan uraikan setiap kalimat ayat pokok di atas, untuk kita dapat memahami makna panggilan Allah bagi setiap orang yang percaya.
Dimulai dengan kalimat “Karena itu”, pemakaian kata ini didasari dari apa yang telah dibahas rasul Paulus di pasal sebelumnya pasal 11:25-32, yaitu demi kasih dan kemurahan Allah yang diberikan dengan cuma-cuma, oleh penebusan Kristus di salib. Kasih sudah merupakan sifat Allah, seperti dinyatakan dalam Keluaran 34:6.
Keluaran 34:6 – “Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru : TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, Panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya.”
Kasih merupakan sifat Allah sendiri, karena Allah itu adalah pribadi kasih itu sendiri.
Selanjutnya demi kasih dan kemurahan Allah itu, kalimat selanjutnya “Demi kemurahan Allah, aku menasihatkan kamu.”
Pemakaian istilah menasihatkan dalam ayat ini tidak berarti bahwa hal ini hanya bersifat nasihat untuk dipertimbangkan, tetapi istilah ini menunjuk pada suatu panggilan pada ketaatan untuk melayani Tuhan yang sudah berkemurahan kepada kita. Sebagaimana dulu kita tunduk dan taat kepada dosa, demikian setelah kita ditebus, kita harus taat dan tunduk kepada Tuhan.
Selanjutnya nasihat “ …supaya kamu mempersembahkan tubuhmu.”
Ini merupakan tindakan dari panggilan untuk melayani, yang meliputi :
1. Mempersembahkan / menyerahkan tubuh.
Tubuh mewakili seluruh kehidupan orang percaya yang diserahkan atau dipersembahkan dengan sukarela karena kasih, bukan karena paksaan, tetapi dengan kesadaran bahwa kita telah ditebus dan hidup kita sudah menjadi milik Kristus. Penyerahan atau persembahan hidup kita itu, bukan merupakan sesuatu yang hanya dilakukan sekali itu saja, tetapi selamanya hidup dalam ketaatan kepada firman Tuhan.
Galatia 2:20a – “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku…”
Jadi hidup kita dipersembahkan menjadi milik Tuhan.
2. Sebagai persembahan yang hidup
Ini artinya anggota-anggota tubuh yang hidup ini harus menjadi alat-alat kebenaran dan kita hidup dalam pembaharuan hidup atau hidup yang baru. Roma 6:13.
Roma 6:13 – “Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.”
Roma 12:2 – “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membendakan manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
Kata “Berubahlah” dalam ayat ini merupakan akar kata dari bahasa Yunani: kainos , artinya berubah dalam segi kualitas rohani, dari hidup lama menjadi hidup yang baru di dalam Kristus.
Selanjutnya kehidupan yang seperti inilah yang kemudian disebut hidup yang kudus dan berkenan kepada Allah.
Istilah kudus ini artinya : dikhususkan untuk pelayanan Allah. Fokus dari kata kudus ini, dalam konteksnya ialah pada pengudusan dan kesediaan diri orang percaya untuk digunakan oleh Allah sesuai dengan tujuannya Allah.
3. “Itu adalah ibadahmu yang sejati”
Hagelberg menerjemahkan kalimat tersebut dengan kalimat: “Itu adalah ibadahmu yang masuk akal.” Penyerahan anggota-anggota tubuh kita untuk melayani Tuhan merupakan ibadah yang masuk akal. Kita menjalankan ibadah dalam kehidupan sehari-hari dengan tubuh yang sudah menjadi persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah. Kita melayani Allah karena kita tunduk dan hidup dalam tuntunan firman-Nya. Tetapi jika ada orang yang melayani Tuhan, tetapi hidupnya bertentangan dengan perintah Allah, ini yang tidak masuk akal, tetapi tidak sedikit orang yang seperti ini banyak di gereja Tuhan. Ibadah yang sejati adalah melayani Tuhan dan hidup taat pada firnan-Nya. Kata “Ibadah” dipakai kata “uesebeia” yang mengejar keserupaan dengan Kristus. Ini adalah ibadah yang masuk akal, arahnya jelas.
Jika kita sudah sampai pada komitmen ini, maka nasihat selanjutnya adalah :
1 Korintus 15:58 – “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”
Berdiri teguh dan jangan goyah untuk terus hidup dalam ibadah yang sejati seperti yang diuraikan di atas, kemudian giatlah dalam melayani pekerjaan Tuhan. Banyak orang tahu melayani Tuhan tetapi tidak hdup di dalam Tuhan, yang benar adalah hidup dalam melayani Tuhan melalui ketaatan kepada firman Tuhan, ini yang disebut melayani Tuhan dengan kehidupan kita, baru kemudian melayani pekerjaan Tuhan. Melayani Tuhan dan melayani pekerjaan Tuhan itu adalah dua hal yang berbeda. Melayani Tuhan adalah hidup tunduk dan taat kepada Tuhan, sementara melayani pekerjaan Tuhan adalah kegiatan pelayanan fisik agar firman Tuhan dapat terus diberitakan dalam ibadah (menjadi pemimpin pujian, memainkan musik dan banyak lagi yang lainnya ).
Mari tunduklah dan taatilah Tuhan dalam hidup kita, dan serahkan hidup kita kepada Tuhan, untuk Tuhan gunakan sebagai alat pelayanan dalam pekerjaan Tuhan. Layanilah Tuhan sesuai dengan kemampuan dan kapasitas yang kita miliki, dan jangan hanya menjadi penonton, kita ditebus Tuhan untuk melayani-Nya.