SEPERTI APA PERTUMBUHAN ROHANI KITA (Dalam perumpamaan benih yang ditaburkan) – Oleh Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 1 – Minggu, 22 Januari 2023)

MARKUS 4:4-9

Pendahuluan
Perumpamaan penabur ini, tidak berbicara tentang buah-buah kerohanian, tetapi berbicara tentang pertumbuhan dari benih firman yang selama ini kita terima atau kita dengar.

“Penabur” selain dari Tuhan Yesus sendiri, juga menunjuk kepada semua orang yang memberitakan firman Tuhan. “Benih” gambaran dari Firman Tuhan. “Empat jenis tanah” gambaran dari empat jenis sikap hati terhadap taburan firman Allah.

TENTANG PERUMPAMAAN
Markus 4:11 “Jawabnya : Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan.”
Rupanya para murid belum memahami makna perumpamaan yang Yesus ceritakan. “Jawabnya : Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah.”
Kata Rahasia dalam Bahasa Yunani MUSTERION, yang artinya Kebenaran yang terungkap yang tidak bisa dipahami oleh banyak orang.

TUJUAN PERUMPAMAAN
1. Menyembunyikan kebenaran,  Matius 11:25-27. Hb Mark 4:12, Yes 6:9
2. Mengungkapkan kebenaran,  Lukas 10: 29-37.
Bagaimana seseorang dapat memahami perumpamaan, itu tergantung dari bagaimana sikap hati dari si pendengarnya, dan ini yang menjadi kuncinya.

ORANG PERCAYA YANG DIBERI HIKMAT
Bagi setiap orang percaya yang mendapatkan hikmat untuk mengerti rahasia firman yang disingkapkan, maka ia harus :
– Menjadi pengelola yang bertanggung jawab atas kebenaran rohani yang dimiliki.
– Siapa yang banyak diberi, banyak dituntut juga untuk mengajarkannya,  Luk 12:48.  Artinya bertanggung jawab untuk mengajarkan kepada saudara yang lainnya, sebagai pemberita firman Allah.
Untuk kita dapat terlebih dahulu mengerti bagaimana kondisi tanah hati kita, maka kita perlu mengetahui 4 jenis tanah.

EMPAT JENIS TANAH HATI
1. TANAH DI PINGGIR JALAN
Markus 4:15
“Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka.”

Iblis yang digambarkan sebagai burung, ay.4, merampok benih yang adalah firman Allah. Tipe tanah pinggir jalan adalah orang yang tidak memahami firman Tuhan, maka Iblis membawa keluar dari pikiran dan hatinya, sehingga tidak lagi berpikir tentang hal itu lagi, 2 Kor 4:4.

Tipe model ini sebenarnya bukan karena mereka bodoh sehingga tidak mengerti firman Tuhan, tetapi pada cara mereka mendengar firman Tuhan yang tidak dengan sungguh-sungguh. Banyak alasannya, bisa karena tidak suka pada pengkhotbahnya, tetapi yang paling banyak adalah tidak fokus dalam mendengarkannya, apalagi yang menggunakan Hp atau Android mereka akan tergoda dengan hal-hal lain yang ada dalam Hp nya. Teknologi komunikasi termasuk Hp bisa menjadi tipu daya duniawi yang dimanfaatkan Ibils untuk merampas firman yang ditaburkan sehingga tidak dapat masuk kedalam hati pendengarnya.

Kata “Mengambil “ditulis AIRO, memiliki arti:
1). Menghancurkan.
2). Untuk mengambil hidup seseorang.
Sebab tanpa firman kebenaran, tidak ada kehidupan bagi manusia, karena sejak jatuh dalam dosa, roh manusia menjadi mati terhadap kebenaran Allah dan hanya oleh firman kebenaranlah roh manusia dapat dihidupkan kembali.

2. TANAH BERBATU
Markus 4:16-17 Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad.”

Bukan tanah yang bercampur batu, tetapi batu besar yang atasnya dilapisi tanah tipis. Ketika matahari terbit benihnya sementara menjadi subur dan tumbuh, tapi lama-kelamaan batu itu menjadi wajan pemanas yang mematikan benih itu karena tanahnya tipis. Jenis tanah berbatu modelnya, begitu mendengar firman Tuhan, segera menerimanya dengan gembira. Tetapi penerimaan awal seseorang akan kebenaran firman bukanlah satu-satunya kriteria yang Tuhan inginkan. (Ay.17). Iman yang Tuhan mau bukan didasarkan pada keputusan emosional masa lalu, tetapi pada hubungan yang terus berkembang dan bertumbuh. Jadi bukan awalnya yang menentukan, tetapi bagiamana pada akhirnya. Apakah ia tetap tercacak dengan benar dalam kehidupannya, atau hanya sementara saja ia tumbuh selanjutnya menjadi layu, dan terbukti ia segera layu ketika kena terik matahari yang digambarkan sebagai :

Markus 4:17b – “Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad”.

Pada kenyataannya penindasan dan aniaya selalu berkaitan dengan firman Tuhan atau Injil.  Hanya orang yang berakar dalam ketekunan yang dapat bertahan. Tipe orang model ini, biasanya hanya mengenal separuh kebenaran firman dan yang tipis, hanya mengenal sebagian kebenaran, yaitu berkat, mujizat, kesembuhan, pertolongan ajaib, tanpa diajarkan tentang penyangkalan diri, aniaya dan sengsara karena Kristus. Ketika mereka hadapi sisi penderitaan, mereka kecewa dan murtad.

3. TANAH SEMAK DURI
Markus 4:18-19
“Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.”

Jenis tanah ke tiga ini, masalahnya pada eksternal  yaitu
– Kekuatiran dunia ini.
– Tipu daya kekayaan.
– Keinginan-keinginan yang lain.
Semua ini menunjuk kepada godaan duniawi. Semua hal tentang duniawi lebih mendominasi kehidupannya dari pada perkara rohani, lebih percaya apa kata dunia dari pada apa kata firman Tuhan.

4. TANAH YANG BAIK
Markus 4:20
“Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang serratus kali lipat.”

Jenis tanah hati yang terbaik, yang tidak dibebani oleh perkara yang lain seperti yang ada pada ke tiga jenis tanah yang lain. Perbedaan hasil dari buah yang didapatkan adalah sesuai dengan kapasitas yang Tuhan berikan, seperti juga halnya talenta yang berbeda-beda. Sikap hati yang baik jika dapat mengerjakan apa yang dipercayakan dari firman Allah, mereka sanggup mengerjakannya dengan totalitas. Orang yang bekerja dengan totalitas akan mendapatkan hasil yang berkualitas, entah itu 30 kali, 60 kali atau bahkan 100 kali lipat.

Arsip Catatan Khotbah