PUJIAN PENYEMBAHAN – oleh Pdt. K. Joseph Priyono (Ibadah Raya 2,3 – Minggu, 8 September 2024)

Pendahuluan
Kekristenan tidak dapat dilepaskan dari pujian penyembahan karena pujian penyembahan adalah salah satu bentuk manifestasi dari iman kristen. Untuk itu, kita perlu memahami arti pujian dan penyembahan yang sebenarnya. Pujian penyembahan sesungguhnya bukan bicara tentang nyanyian atau lagu, bukan pula tentang genre musik ataupun tangisan saat menyanyi. Banyak orang salah mengira kalau lagu yang nadanya cepat disebut pujian, sedangkan yang nadanya lambat disebut penyembahan. Demikian juga dengan genre musik. Kalau musik cepat, nadanya girang-girang disebut pujian sedang yang nadanya syahdu disebut penyembahan. Bahkan ada yang mengartikan kalau seseorang sedang menangis ketika menyanyi atau berdoa kita sebut dia sedang menyembah. Bukan! Pujian penyembahan itu bicara tentang HUBUNGAN yaitu hubungan antara sang penyembah dan yang disembah. Apapun bentuk lagunya, musiknya ataupun ekspresi yang kita tunjukan, jika tidak ada hubungan dengan Tuhan, maka sesungguhnya kita tidak sedang menyembah Tuhan. Sebaliknya, karena hubungan dengan Tuhan, apapun yang kita persembahkan adalah sebuah penyembahan.

Mengapa kita menyembah TUHAN?
Alasan kita menyembah Tuhan karena kita diciptakan untuk kemuliaan TUHAN.

Yesaya 43 : 6-7 
Aku akan berkata kepada utara: Berikanlah! dan kepada selatan: Janganlah tahan-tahan! Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujung bumi, semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!”

Sebagaimana setiap barang diciptakan untuk sebuah tujuan, demikian juga dengan manusia. Manusia diciptakan dengan tujuan untuk menyembah Tuhan.

Penyembahan
Kita dapat belajar tentang penyembahan dari kitab Kejadian sampai Wahyu, namun kali ini kita akan belajar penyembahan dari seorang tokoh iman yaitu Abraham.

Kejadian 22:5 
Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.”

Kata “sembahyang” dalam ayat ini terjemahan bahasa Inggris ditulis dengan kata  “worship”. Inilah pertama kali kata worship muncul dalam alkitab. Sedangkan dalam bahasa Ibrani ditulis dengan kata “shachah” yang artinya sujud menyembah, membungkukan diri.

Jadi dari peristiwa ini kita dapat menarik beberapa kesimpulan tentang penyembahan yaitu:
1. PENYEMBAHAN ADALAH SIKAP HATI BUKAN TRADISI
Kejadian 22:5 
Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.”

Penyembahan yang sejati lahir dari sikap hati. Belajarlah dari Abraham. Penyembahannya dimulai dari sikap hatinya yaitu membungkukan diri (Shachah) di hadapan Tuhan sebelum korban persembahan diberikan. Ketahuilah, penyembahan itu tidak sekedar tradisi atau liturgi kegiatan gerejawi, pelengkap dari ibadah, pengantar firman Allah, penyembahan adalah ekspresi dari hati. Penyembahan tanpa hati akan ditolak oleh Tuhan seperti yang alami oleh bangsa Israel.

Matius 15 : 8-9 
“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.”

2. PENYEMBAHAN DITUNJUKAN MELALUI KETAATAN
Penyembahan yang benar tidak hanya dilakukan dalam ibadah gereja, sebab penyembahan yang benar ditunjukan melalui ketaatan. Ketaatan Abraham untuk mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran adalah wujud tertinggi dari penyembahan yang sejati. (Kej. 22 : 1 – 3) 

Pahamilah penyembahan tanpa ketaatan adalah kesia-siaan. Saul ditolak bukan karena persembahannya yang kurang banyak, tetapi karena hilangnya ketaatan dalam hatinya (1Sam. 15 ). Mari kita berikan penyembahan kepada Tuhan melalui kehidupan yang taat kepada firman Tuhan.

3. PENYEMBAHAN DIBUKTIKAN MELALUI PERSEMBAHAN
Abraham menyembah TUHAN dengan mempersembahkan Ishak sebagai korban bakaran. Kita bisa memberikan banyak hal untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Misalnya waktu, tenaga, pikiran dan harta kekayaan, tetapi kita juga dapat mempersembahkan pujian dan penyembahan kepada Tuhan.

Penyembahan bukan jalan menuju hadirat Tuhan, sebab jalan menuju takhta Allah itu adalah darah Yesus. PengorbananNya di atas kayu salib telah membuka jalan atau akses menuju takhta Allah. Penyembahan adalah PERSEMBAHAN yang kita berikan kepada TUHAN.

4. PENYEMBAHAN ADALAH EKSPRESI KASIH
Kerelaaan Abraham untuk menyembah dan mempersembahkan Ishak adalah bukti kasihnya kepada TUHAN. Mempersembahkan anak yang telah dinanti 25 tahun, tentunya tidak mudah, itu rasanya berat sekali tetapi karena kasihnya kepada Tuhan Abraham mampu melakukannya.  Penyembahan yang sejati adalah ekspresi kasih kepada Ilahi.

Contoh lain juga dapat kita lihat dari seorang wanita berdosa yang meminyaki kaki Yesus. Kerelaannya mempersembahan minyak narwastu yang mahal harganya adalah bukti kasihnya kepada Tuhan Yesus. (Lukas 7 : 36 -50)

EKSPRESI PUJIAN PENYEMBAHAN
1. YADAH
Mengangkat kedua tangan sebagai tanda penyerahan dan pengagungan kepada Tuhan.

Mazmur 7:18
Aku hendak bersyukur kepada TUHAN karena keadilan-Nya, dan bermazmur (Yadah) bagi nama TUHAN, Yang Mahatinggi.

2. TOWDAH
Korban ucapan syukursebagai tanda kita setuju dan mengamini apa yang Tuhan telah perbuat atau apa yang akan diperbuatNya di dalam hidup kita.

Amos 4:5  
Bakarlah korban syukur (TOWDAH) dari roti yang beragi dan maklumkanlah persembahan-persembahan sukarela; siarkanlah itu! Sebab bukankah yang demikian kamu sukai, hai orang Israel?” demikianlah firman Tuhan ALLAH.  

Mazmur 26 : 7 
“sambil memperdengarkan nyanyian syukur (TOWDAH) dengan nyaring, dan menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib.”

3. BARAK 
Berlutut menyembah TUHAN.

Mazmur 95 : 6
“Masuklah, marilah kita (Barak) sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN  yang menjadikan kita.

4. SHABACH
Bersorak-sorai untuk Tuhan dengan segenap kekuatan.

Mazmur 47 : 2
“Hai segala bangsa, bertepuktanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai!”

5. HALAL
Memuji, memancarkan, bercahaya, mengungkapkan dengan bangga atau mengekspresikan pujian penyembahan kepada Tuhan sebagai orang bodoh. (foolish).

Mazmur 22 : 23
Aku akan memasyhurkan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji (halal) Engkau di tengah-tengah jemaah.

Penutup
Sebagai anak-anak Tuhan, marilah kita ekspresikan pujian penyembahan kepada Tuhan dalam hidup sehari-hari. Sadarilah seluruh hidup kita adalah sebuah penyembahan kepada Tuhan. Amin. KJP

Arsip Catatan Khotbah