BUILDING RESILIENCE (PART 1) – oleh Pdm. Corneles Wim Kandou (Ibadha Raya 1 – Minggu, 9 Oktober 2022)

PENDAHULUAN
Didalam kehidupan ini akan kita temukan ada berbagai fakta, keadaan dan kondisi yang dapat terjadi tiba-tiba dan itu tidak sesuai dengan nilai ideal kenyamanan seseorang. Situasi dan kondisi yang terjadi diluar kendali kita, misalnya finansial kita yang terdampak kondisi ekonomi pasca pandemi, ramalan resesi ekonomi global 2023, Hutang Amerika menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah. Dalam ranah gereja kapan lalu dihebohkan dengan Skandal pelecehan oleh pendeta Megachurch Australia dengan cabang seluruh dunia. Bahkan sebelumnya heboh skandal perselingkuhan pembimbing rohani Justin Bieber.

Atau hal lain seputar kesehatan kita atau anggota keluarga kita, perlakuan-perlakuan tidak adil dari orang sekeliling kita walau kita sudah berbuat baik kepada mereka, bahkan orang-orang yang memanfaatkan kemurahan hati kita dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut dapat terjadi secara tiba-tiba, tanpa pernah kita pikirkan sebelumnya. Menghadapi hal-hal inilah kita butuh yang namanya “Resiliensi.”

PENGERTIAN RESILIENSI
Resiliensi diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai tangguh, ulet, elastis, tabah, berpegas, atau lenting.

Contoh: Suspensi mobil. Mobil semakin mahal dan nyaman dikendarai juga bergantung suspensinya.
Kemampuan seseorang untuk beradaptasi dengan kondisi yang tidak menyenangkan atau buruk. (Garmezy, 1991)
Kemampuan individu dalam mengatasi, melalui dan kembali pada kondisi semula setelah mengalami kesulitan (Reivich dan Shatte, 2002)

BAGIAN FIRMAN TUHAN YANG MENUNJUKKAN PRINSIP RESILIENSI     
Yak 1:2  Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
Yak 1:3  sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

Dari ayat ini, jelas dikatakan bahwa hidup dalam dunia ini manusia akan menghadapi berbagai-bagai pencobaan. Namun yang menarik ayat 3 dikatakan: berbagai-bagai pencobaan ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

Didalam Alkitab NKJV, Yakobus 1:3 “The testing of your faith produces patience”.
Didalam TPT, Yakobus 1:3 “For you know that when your faith is tested it stirs up in you the power of endurance.
Didalam AMP. Yakobus 1:3 “Be assured that the testing of your faith (through experience) produces endurance (leading to spiritual maturity and inner peace)

Kata ‘ketekunan’ disini diterjemahkan dalam bahasa Yunani yaitu hupomonē : daya tahan, keteguhan: – tahan lama, kesabaran atau sebagai kemampuan untuk bertahan pada suatu posisi.

William Barclay mengartikan hupomonē ini sebagai sikap tabah dalam menjalani penderitaan dan berusaha mengubah penderitaan itu menjadi hal yang mulia dan luhur.

Jadi dapat kita simpulkan dari beberapa pengertian diatas bahwa Resiliensi adalah suatu kemampuan seseorang untuk bertahan didalam berbagai kondisi & perubahan dengan kesabaran dan ketabahan yang dapat disimpulkan kedalam satu kata yaitu “ketangguhan.”

 KISAH RESILIENSI AYUB
Ayub adalah sebuah contoh Alkitab yang tepat untuk menggambarkan sebuah kehidupan yang penuh ketangguhan, ketabahan dan ketahanan. Berbagai kondisi buruk seakan-akan menarik dia tetapi dia selalu menemukan jalan untuk kembali percaya kepada Tuhan.

Kondisi buruk yang dialami Ayub:
– Kehilangan usaha dan kekayaan (ternak-ternak dsb)

–  Kehilangan anggota keluarga (semua anak-anak meninggal)
–  Tidak mendapat support Istri
–  Ditimpa sakit penyakit

Pdt. J.S. Minandar menyampaikan bahwa Ayub mengalami ujian dalam semua level. Jasmani (sakit penyakit, kehilangan harta benda), secara Jiwa (kehilangan anak-anak, tidak mendapat support istri), Rohani (pengaruh penderitaan jasmani dan jiwa mempengaruhi rohani).

Di tengah deraan berbagai musibah dan seribu satu masalah, ternyata Ayub tetap tabah. Dia lemah namun tidak kalah. Dari pada menyerah Ayub memilih berpegang pada Allah.Ini yang membuat Ayub tangguh !

Bagaimana karya Allah dan respon Ayub didalam membangun kemampuan resiliensinya ?

Kita akan belajar bagaimana Tuhan membentuk ketangguhan Ayub dan respon-respon yang ditunjukkan oleh Ayub atas pembentukan Tuhan. Kita akan melihat beberapa nilai kehidupan yang harus kita pahami didalam membangun sebuah ketangguhan, ketahanan dan ketabahan kehidupan

1.   RESILIENSI DIBENTUK MELALUI PEMAHAMAN BAHWA KESALEHAN BUKAN BERARTI MENIADAKAN UJIAN KEHIDUPAN.
Ayub 1:4  Anak-anaknya yang lelaki biasa mengadakan pesta di rumah mereka masing-masing menurut giliran dan ketiga saudara perempuan mereka diundang untuk makan dan minum bersama-sama mereka.

Ayub 1:5  Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.

Resiliensi (ketabahan dan ketahanan) ditengah penderitaan terbentuk bila kita memahami bahwa kesalehan bukan berarti meniadakan ujian kehidupan.
Dari keterangan ayat ini kita bisa melihat bahwa Ayub adalah kepala keluarga yang menjadi teladan didalam mengupayakan kehidupan yang berkenan dihadapan Allah (Kesalehan Ayub di konfirmasi di ayat 1-3).  Tetapi jika kita melihat seluruh kisah Ayub maka, kita dapat melihat sebuah nilai yang penting bahwa kesalehan-kesetiaan kita kepada Tuhan bukan berarti meniadakan ujian dan tantangan kehidupan.

Seringkali orang Kristen berpikir bahwa upaya-upaya kesalehan dan kesetiaan hidupnya akan membuat perjalanan hidupnya menjadi mudah dan gampang dilewati. Rajin gereja, rajin ibadah, setia persepuluhan, setia berkorban, setia melayani, hidup penuh kasih, kebaikan dan pengampunan dan masih banyak hal lainnya adalah hal yang dikehendaki Allah untuk kita lakukan sebagai ekspresi syukur atas keselamatan yang Yesus berikan. Tetapi jangan salah . . .

Kesalehan tidak membebaskan kita dari ujian dan masalah, justru kesalehan memberikan kita kemampuan menghadapi dan mengatasi semua masalah. Kesalehan Ayub justru menjadi pondasi yang kokoh dalam menghadapi masalah yang dialami. Semakin saleh, semakin kuat rohani kita untuk menghadapi ujian.

Kesetiaan yang kita bangun kepada Tuhan membentuk kedewasaan kita, membuat hubungan kita makin dalam dengan Tuhan, dan membuat kita mengerti rencana Tuhan bahkan melalui ujian dan kesukaran yang kita alami.

Ketidaksanggupan kita untuk bertahan ditengah badai kehidupan, karena kita berpikir untuk menukar kesalehan dan kesetiaan kita dengan sebuah kemudahan hidup. Tuhan tidak berjanji akan melalukan masalah dan pergumulan hidup, Dia berjanji untuk menyertai kita melalui itu semua.

KEHIDUPAN DANIEL
Daniel hidup benar dihadapan Tuhan dan memiliki jam doa yang disiplin. Tetapi kesalehan dan kesetiaan hidup Daniel tidak pernah menempatkan Daniel pada posisi-posisi yang mudah untuk dihadapi. Justru berbagai deraan, fitnahan, dan ancaman mewarnai kesalehan hidupnya. Kesalehan dan kesetiaan hidup Daniel membangkitkan kekuatan baginya untuk selalu bertahan ditengah ujian kehidupan yang datang dalam berbagai macam. Catatan Alkitab tidak pernah menunjukkan momen-momen dimana Daniel mundur ataupun berkompromi.

KEHIDUPAN SADRAKH, MESAKH, ABEDNEGO
Sadrakh, Mesakh dan Abednego adalah anak-anak muda yang menjaga kehidupan mereka dihadapan Tuhan. Dapur api yang menyala-nyala tidak pernah membuat mereka mempertanyakan  keputusan Tuhan. Tetapi justru membuat mereka menyatakan iman mereka kepada Tuhan dan dunia tanpa berharap ada balasan yang setimpal daripada Tuhan.

Pola pikir yang harus kita miliki sekarang adalah semakin kita setia, maka persiapkan diri untuk hadapi ujian-ujian yang lebih besar.
Kemampuan untuk bertahan didalam momen tersulit dikehidupan akan muncul bila kita belajar membangun kesetiaan hidup bukan dengan motivasi akan terbebas dari segala masalah dan pergumulan.

 2.   RESILIENSI TERBENTUK MELALUI KESADARAN BAHWA KEHIDUPAN KITA ADALAH MEDAN ‘PERTARUHAN’ ANTARA TUHAN DAN SETAN.
Ayub 1:6-12
Resiliensi (ketabahan dan ketahanan) ditengah penderitaan terbentuk bila kita menyadari bahwa hidup kita adalah medan pertaruhan antara Tuhan dan setan.

BAGI TUHAN HIDUP KITA ADALAH KEBANGGAAN, BAGI SETAN SASARAN KEHANCURAN.
Kemampuan kita untuk bertahan ditentukan dari bagaimana kita menempatkan diri kita. Apakah kita akan memilih untuk menjadi kebanggaan Tuhan melalui sikap-sikap hidup yang sesuai kehendakNya. Atau memilih untuk terjebak didalam berbagai siasat iblis yang ingin menghancurkan kita ditengah ujian kehidupan.

Ujian dan tantangan tidak pernah dimaksudkan Tuhan untuk mempermalukan kita. Tetapi justru menjadi sebuah kesempatan untuk mengeluarkan semua hal terbaik yang Tuhan sudah taruh didalam diri kita. Berbeda dengan iblis, yang justru ingin menjatuhkan kita lewat respon-respon negatif ditengah ujian dan tantangan yang kita hadapi.

Saat kita diuji, kerajaan sorga dan kerajaan iblis menjadi heboh. Tuhan dengan segala upayanya, Iblis dan segala upayanya menanti kita untuk membuat keputusan-keputusan yang membanggakan Tuhan atau justru membuat iblis tersenyum. Saat kita diuji, kita sedang berada dititik-titik krusial didalam kehidupan. Sebuah titik kehidupan yang akan mempengaruhi segalanya termasuk masa depan kita.

Bagi istri-istri, harga BBM naik, gaji – income suami tidak naik !
Tuhan menanti respon saudara: Suamiku, tidak mengapa pemasukan tidak seberapa, mari percaya Tuhan buka sumber-sumber keuangan yang baru.
Iblis menanti respon saudara: Kamu suami macam apa ! Cari caralah supaya dapat uang lebih banyak, kan itu urusanmu bukan urusanku !

Konflik hubungan rumah tangga
Tuhan menanti respon saudara: saling mengaku salah, meminta maaf satu dengan yang lainnya.
Iblis menanti respon saudara: saling menyalahkan, mengutuki.

Saat kita diuji Tuhan ingin mengeluarkan kualitas kita yang sesungguhnya.  Tetapi Iblis ingin menunggangi kepedihan penderitaan, untuk menghancurkan kita.

Contoh:  TUHAN YESUS
Bapa disorga membanggakan Yesus (Mat 3:17  “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” ). Tetapi Iblis ingin menjatuhkan Yesus dengan berbagai macam godaan dan tawaran kekuasaan ( Mat 4)

Kemampuan kita untuk bertahan ditengah ujian ditentukan oleh kesadaran bahwa hidup kita selalu menjadi sasaran tembak setan. Penting untuk kita menjaga kehidupan kita didalam Tuhan dengan membuat keputusan-keputusan yang sesuai kehendak Tuhan. Keputusan yang sesuai kehendak Tuhan bukan hanya menyelamatkan kita. Tetapi membanggakan Tuhan !

3.   RESILIENSI DIBENTUK BILA KITA PERCAYA BAHWA TUHAN IJINKAN PENDERITAAN TIDAK UNTUK SELAMANYA & TIDAK MELEWATI BATAS KESANGGUPAN KITA.

Ayub 1:12  Maka firman TUHAN kepada Iblis: “Nah, segala yang dipunyainya ada dalam kuasamu; hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya.” Kemudian pergilah Iblis dari hadapan TUHAN.

 Resiliensi (ketabahan dan ketahanan) ditengah penderitaan terbentuk bila kita percaya bahwa Tuhan ijinkan penderitaan tidak untuk selamanya dan tidak melewati batas kesanggupan kita.

Kuasa Tuhan tak terbatas, tetapi kuasa iblis itu terbatas, ujian dan tantangan hanya berlaku sebatas yang Tuhan ijinkan.
Seringkali kita berpikir bahwa ujian kehidupan yang terjadi dihidup kita akan terjadi selamanya dan akhirnya membuat kita bereaksi berlebihan karena berpikir bahwa kitalah orang yang paling menderita. Akhirnya membuat doa-doa kita menjadi sebuah doa sayang diri dan bukan menjadi doa pernyataan iman.

Catatan akhir dari kisah Ayub, justru dipenuhi fakta bahwa penderitaan Ayub berakhir. Ada masanya Tuhan memulihkan semua hal didalam diri Ayub. Bahkan Tuhan memberkati Ayub berlipat kali ganda karena kesetiaannya untuk bertahan

1 Kor 10:13  Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Kekuatan untuk bertahan disituasi tersulit terbentuk bila kita memahami
– Ujian atau pencobaan yang kita alami adalah hal yang lumrah
–  Tidak akan melebihi batas manusia
–  Kesetiaan Allah ditengah ujian yang kita hadapi
–  Tuhan menyediakan pertolongan  dan kekuatan

KESIMPULAN
Resiliensi / Ketangguhan kita didalam menghadapi berbagai problematika hidup yang kompleks terbentuk bila kita memahami bahwa upaya kesetiaan dan kesalehan kepada Tuhan bukan berarti meniadakan ujian; kita pun harus membangun kesadaran bahwa setiap hari hidup kita merupakan medan pertempuran antara Tuhan dan setan; kita pun harus percaya bahwa ujian-ujian yang membentuk ketangguhan kita tidak terjadi untuk selamanya dan tidak melebihi batas kesanggupan kita.

Arsip Catatan Khotbah