BUILDING RESILIENCE (PART 2) – oleh Pdm. Corneles Wim Kandou (Ibadah Raya 3 – Minggu, 9 Oktober 2022)

PENDAHULUAN
Didalam kehidupan ini akan kita temukan ada berbagai fakta, keadaan dan kondisi yang dapat terjadi tiba-tiba dan itu tidak sesuai dengan nilai ideal kenyamanan seseorang.

PENGERTIAN RESILIENSI
Resiliensi diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai tangguh, ulet, elastis, tabah, berpegas, atau lenting.
Contoh: Suspensi Mobil
Mobil semakin mahal dan enak dikendarai juga bergantung suspensinya.

Kemampuan seseorang untuk beradaptasi dengan kondisi yang tidak menyenangkan atau buruk. (Garmezy, 1991)
Kemampuan individu dalam mengatasi, melalui dan kembali pada kondisi semula setelah mengalami kesulitan (Reivich dan Shatte, 2002)

BAGIAN FIRMAN TUHAN YANG MENUNJUKKAN PRINSIP RESILIENSI
Yak 1:2  Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
Yak 1:3  sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

Dari ayat ini, jelas dikatakan bahwa hidup dalam dunia ini manusia akan menghadapi berbagai-bagai pencobaan. Namun yang menarik ayat 3 dikatakan: berbagai-bagai pencobaan ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

Didalam Alkitab NKJV, Yakobus 1:3 “The testing of your faith produces patience”.
Didalam TPT, Yakobus 1:3 “For you know that when your faith is tested it stirs up in you the power of endurance.
Didalam AMP. Yakobus 1:3 “Be assured that the testing of your faith (through experience) produces endurance (leading to spiritual maturity and inner peace)

Kata ‘ketekunan’ disini diterjemahkan dalam bahasa Yunani yaitu hupomonē : daya tahan, keteguhan: – tahan lama, kesabaran atau sebagai kemampuan untuk bertahan pada suatu posisi.

William Barclay mengartikan hupomonē ini sebagai sikap tabah dalam menjalani penderitaan dan berusaha mengubah penderitaan itu menjadi hal yang mulia dan luhur.

Jadi dapat kita simpulkan dari beberapa pengertian diatas bahwa  Resiliensi adalah suatu kemampuan seseorang untuk bertahan didalam berbagai kondisi & perubahan dengan kesabaran dan ketabahan yang dapat disimpulkan kedalam satu kata yaitu “ketangguhan”

 KISAH RESILIENSI AYUB
Ayub adalah sebuah contoh Alkitab yang tepat untuk menggambarkan sebuah kehidupan yang penuh ketangguhan, ketabahan dan ketahanan. Berbagai kondisi buruk seakan-akan menarik dia tetapi dia selalu menemukan jalan untuk kembali percaya kepada Tuhan.

Di tengah deraan berbagai musibah dan seribu satu masalah, ternyata Ayub tetap tabah. Dia lemah namun tidak kalah. Dari pada menyerah Ayub memilih berpegang pada Allah.Ini yang membuat Ayub tangguh !

Bagaimana karya Allah dan respon Ayub didalam membangun kemampuan resiliensinya ?

Kita akan belajar bagaimana Tuhan membentuk ketangguhan Ayub dan respon-respon yang ditunjukkan oleh Ayub atas pembentukan Tuhan. Kita akan melihat beberapa nilai kehidupan yang harus kita pahami didalam membangun sebuah ketangguhan, ketahanan dan ketabahan kehidupan.
1.   RESILIENSI TERBANGUN OLEH PEMAHAMAN BAHWA RELASI, POSISI, DAN MATERI HANYALAH TITIPAN TUHAN UNTUK KITA NIKMATI.
Ayub 1:13-19
Tuhan ingin menguji Ayub dengan mengambil hal-hal berharga didalam kehidupannya (keluarga, usaha, properti dsb). Dan memang benar, Ayub tidak mundur atau menjadi kecewa dengan Tuhan. Sebab hati Ayub tidak terikat kepada itu semua.

Hal-hal yang kita nikmati didalam kehidupan ini (hubungan, makan, minum, pakai, pencapaian, karier dll) bukanlah milik kita. Tetapi adalah titipan Tuhan untuk kita nikmati.
Yesus berkata :
Mat 6:21  Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.
Kalau Yesus yang menjadi hartamu, maka hatimu juga ada-didedikasikan semua untuk Yesus. Kalau hal-hal materi, duniawi, semu, sementara menjadi hartamu, maka disitu juga hatimu berada. Memiliki – mengumpulkan harta duniawi bukan perkara yang salah. Yang keliru adalah jika kita menempatkan hati kita kepada harta lebih daripada mengasihi Tuhan.

Mengapa banyak orang imannya rapuh, gampang runtuh saat ekonomi rubuh atau topangan kehidupannya bergoncang ? Karena hatinya terikat kepada kekayaan.
Orang-orang yang menaruh hatinya pada hal-hal materi adalah orang yang paling gampang hancur di hantam berbagai tantangan kehidupan.  Baru saja hal jasmani kita diusik, kita sudah hancur berkeping-keping. Bagaimana bila tantangan yang lebih besar datang ?

Contoh keluarga yang hatinya terikat kepada harta benda: Kisah Ananias dan Safira (Kisah 5) keluarga jemaat gereja mula-mula, aktivis gereja, awalnya berkomitmen berkorban bagi pekerjaan Tuhan, tetapi justru  tergoda dan menaruh semua hatinya kepada harta benda, membuat mereka serakah, dan tidak takut untuk membohongi Tuhan.

Kegagalan kita untuk berdiri tegak ditengah ujian dan tantangan disebabkan oleh pikiran dan hati yang difokuskan untuk hal-hal jasmani.
Kerohanian kita menjadi ambruk ditengah badai kehidupan disebabkan karena hati kita yang terikat kepada hal-hal yang duniawi.

Biarkan hati kita terikat kepada Tuhan yang maha tinggi, jangan sampai hati terikat kepada kekayaan materi. Orang-orang yang mengasihi Tuhan lebih dari hal-hal jasmani dan materi selalu menemukan kekuatan menghadapi tantangan kehidupan.

 2.   RESILIENSI TERBENTUK MELALUI PEMAHAMAN BAHWA TUHAN PAKAI PENDERITAAN UNTUK MENYADARKAN KITA ARTI KEBERADAAN DIRI.
Ayub 1:21  katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

Resiliensi (ketabahan dan ketahanan) ditengah penderitaan terbentuk bila kita memahami bahwa Tuhan pakai penderitaan untuk menyadarkan kita arti keberadaan diri.

Dari keterangan ayat ini kita bisa melihat sebuah nilai yang tersirat. Bahwa Ayub menyadari siapa dirinya, darimana asalnya dan kemana akan berakhir.

Dengan segala pencapaian dan kekayaan yang dimiliki,  Ayub bisa sombong dan melupakan Tuhan. Ia bisa saja lupa siapa dirinya, namun melalui ujian yang dialaminya, Ayub sadar bahwa ia bukan siapa-siapa. Kalau bukan karena anugerah Tuhan tidak ada artinya apa-apa. Dengan jujur ia berkata: Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya.

‘Dengan telanjang’ artinya saat kita lahir kedalam dunia tidak ada hal-hal spesial yang melekat didalam diri kita. Yang ada hanyalah semua potensi dan rencana Allah yang sudah Ia letakkan didalam diri kita sebelum kita didalam kandungan ibu kita. Nilai pentingnya adalah kalau bukan karna Tuhan, kita ini bukanlah siapa-siapa.

Yang menjadi masalah adalah banyak dari kita yang menjadi lupa diri, sombong dan angkuh hanya karena hal-hal dunia yang melekat pada diri kita. Itu sebabnya ketika diuji, kita menjadi kecewa dengan Tuhan.

Tetapi belajar dari Ayub:
Ketangguhan – Kekuatan yang Ayub miliki untuk bertahan ditengah ujian kehidupan salah satunya berasal dari kesadaran akan siapa dirinya.
Kesadaran akan siapa diri kita akan membuat kita menjadi rendah hati dan menyadari anugerah Tuhan  didalam kehidupan kita.
Kesadaran akan siapa kita akan mengarahkan kita untuk bergantung kepada Tuhan yang memberikan kehidupan dan kesempatan.

KESADARAN DIRI PAULUS OLEH ANUGERAH TUHAN
1 Kor 15:10 Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.

BUKTI KESADARAN DIRI PAULUS TEREKSPRESI LEWAT KEKUATAN UNUTK BERTAHAN DITENGAH PENDERITAAN. 2 Korintus 11:23-29
Paulus gila-gilaan untuk melayani Tuhan sekalipun menderita, tetapi itu dilakukan karena ia sadar siapa dirinya, dan anugerah yang sudah ia terima.

Kekuatan ditengah tekanan akan dimiliki oleh orang-orang yang sadar bahwa Tuhan memakai penderitaan untuk menyadarkan – mengingatkan kita tentang arti keberadaan diri kita dan betapa kita memerlukan anugerah Tuhan didalam segala momen kehidupan kita.

 3.   RESILIENSI TERBENTUK MELALUI UCAPAN SYUKUR DITENGAH PENDERITAAN, Ayub 1:21b
Yak 1:21  katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

Resiliensi (ketabahan dan ketahanan) ditengah penderitaan terbentuk bila kita mampu bersyukur didalam menghadapi penderitaan.

Respon syukur Ayub ini dicatat dalam bagian-bagian awal dari kitab Ayub. Yang menunjukkan bahwa respon syukur Ayub ini jelas terlontar tak lama setelah berbagai ujian dan tantangan yang terjadi. Respon syukur Ayub seakan-akan menjadi modal kekuatan didalam pergumulan panjang kehidupan Ayub.

Dari sini kita bisa melihat bahwa mengucap syukur adalah kekuatan didalam menghadapi tantangan kehidupan. Ujian hidup semudah apapun akan terasa berat, bila kita tidak mampu bersyukur. Sebaliknya ujian hidup seberat apapun, akan terasa mudah bila kita mampu bersyukur terlebih dahulu.

Kegagalan kita untuk bersyukur disebabkan oleh cara pandang kita yang keliru terhadap penderitaan yang kita alami.

Yak 1:2  Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,

Ucapan syukur kita akan bertumbuh bila kita belajar melihat-menganggap tantangan dan ujian kehidupan sebagai suatu kebahagiaan. Mengapa harus demikian ? Karena Tuhan punya agenda-agenda yang lebih besar melalui ujian-ujian yang diijinkan untuk kita alami.

Seiring rasa syukur kita yang makin bertumbuh, maka kekuatan untuk menghadapi tekanan dan tantangan juga akan bertumbuh dengan sendirinya.

UCAPAN SYUKUR PAULUS YANG TERSIRAT MELALUI PENGALAMAN PENJARA
Fil 1:12  Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil,
Fil 1:13  sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus.
Fil 1:14  Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut.

Paulus justru bersyukur karena pemenjaraannya justru menjadi cara untuk membangkitkan semangat pemberitaan injil, dan makin banyak jiwa percaya. Disisi yang lain kekuatan Paulus untuk bertahan ditengah penjara juga semakin kuat.
Makin berat penderitaan, harus makin banyak bersyukur, agar makin kuat dan tabah.

4.   RESILIENSI MENOLONG KITA UNTUK TETAP HIDUP DALAM KEBENARAN.
Ayub 1:22  Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.

Resiliensi (ketabahan dan ketahanan) ditengah penderitaan akan menolong kita untuk terus  berkomitmen hidup didalam kebenaran tak peduli seberapa besar rasa sakit dan tekanan kehidupan yang kita alami.

Firman Allah menegaskan bahwa respon Ayub ditengah-tengah penderitaan yang dialami tidak membuat dia berdosa dihadapan Tuhan. Memang sepanjang kitab Ayub kita dapat melihat beberapa argumen-argumen Ayub kepada Tuhan.  Tetapi saya percaya Ayub melakukan itu didalam ketundukkan kepada kehendak Tuhan, sehingga kemudian Alkitab mengkonfirmasi bahwa Ayub hidup dalam kebenaran sekalipun harus menerima pedihnya penderitaan atas ujian imannya.

Artinya kemenangan sejati bukan saat kita bisa menyelesaikan masalah/ mampu melewati badai, tetapi ketika kita tetap hidup dalam kebenaran meski ditengah berbagai gempuran. Kegagalan untuk bertahan karena tergoda mencari kelepasan tanpa mempertahankan kebenaran.

Hidup dalam kebenaran adalah tujuan utama dari sebuah resiliensi (ketabahan dan ketahanan). Kehendak Tuhan melalui kekuatan-kekuatan yang Ia anugerahkan ditengah penderitaan adalah supaya setiap orang mampu terus hidup didalam kebenaran meski mengalami ujian dan tantangan. Terus mengasihi Tuhan tak peduli seberapa besar bahaya yang menghadang.

Kisah Yusuf : memiliki resiliensi ketika digoda istri Potifar. Ia memilih hidup benar walau dalam penjara. Yusuf terus membangun ketangguhan melalui berbagai pengalaman.

Mulai ketika ia diperlakukan buruk oleh saudara-saudaranya; dijual sebagai budak; bahkan ketika difitnah oleh istri Potifar. Apakah berhenti disitu ? Pengalaman fitnahan istri Potifar mempersiapkan Yusuf untuk tetap teguh sekalipun ia dilupakan oleh orang-orang yang ditolongnya didalam penjara.

Kemenangan atau kesuksesan Yusuf bukan ketika ia dipromosikan sebagai pemimpin di Mesir (ini hanyalah bagian bonus dari Tuhan). Kemenangan sejati Yusuf dimulai ketika ia memilih untuk hidup didalam kebenaran didalam setiap fase-fase kehidupan yang menyakitkan.

KESIMPULAN
Resiliensi / Ketangguhan terbentuk:
– Pemahaman bahwa relasi, posisi, dan materi hanyalah titipan tuhan untuk kita nikmati.
– Pemahaman bahwa tuhan pakai penderitaan untuk menyadarkan kita arti keberadaan diri.
– Ucapan syukur ditengah penderitaan.
– Akan menolong kita UNTUK TETAP HIDUP DALAM KEBENARAN.

Arsip Catatan Khotbah