RUANG TUNGGU seri 15 – oleh Pdt. K. Joseph Priyono (Ibadah Raya 1,3 – Minggu, 12 Juni 2022)

BERKAT TUHAN DIBERIKAN SEIRING KEDEWASAAN

Ibrani 5:13,14
Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.

Kita percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Allah yang maha murah. Dialah raja pemberi, namun tidak semua permohonan dan doa segera dipenuhi. Kadang-kadang Tuhan berkata: nanti, tunggu, belum waktunya atau tidak sekarang. Mengapa demikian? Karena berkat Tuhan diberikan seiring kedewasaan. 

Penulis kitab Ibrani menunjukan gambaran yang jelas tentang hubungan kedewasaan dan berkat yang diterimanya. 
Perhatikan : 
Anak-anak – diberi susu
Orang dewasa – diberi makanan keras
Apa yang diberikan orang tua kepada anaknya, bukanlah tindakan pilih kasih atau membeda-bedakan tetapi pemberian tersebut didasarkan tingkat kedewasaan. Kondisi anaklah yang menentukan seorang ibu memberikan susu atau makanan keras. Jadi siapa kita menentukan apa yang kita terima. 

Demikian juga dengan Tuhan kita. Meski Dia penuh kemurahan namun Dia Tidak melepaskan berkatNya secara serampangan. Tuhan hanya memberikan berkatNya berdasarkan kedewasaan. Itulah sebabnya Tuhan membawa kita untuk menunggu di ruang tunggu, sebab Tuhan menanti kita bertumbuh dewasa.

Tanpa kedewasaan berkat Tuhan membahayakan bahkan menghancurkan.
Kisah tentang anak yang hilang dalam alkitab adalah sebuah contoh ketidakdewasaan seorang anak. Harta warisan yang diterima si bungsu dari ayahnya tidak membuat hidupnya sejahtera, malah menghancurkan masa depannya. Untuk alasan inilah kadang-kadang Tuhan menahan berkatNya, sampai Ia lihat kita bertumbuh dewasa. Dalam kemahatahuanNya, Tuhan telah melihat dan mengukur dengan tepat batas kemampuan kita untuk menerima berkatNya. Tuhan tidak ingin berkat-berkat yang Dia berikan justru akan menghancurkan hidup anak-anakNya.

Untuk semua orang tua, berhati-hatilah dalam memberikan berkat kepada anak-anak, jangan sampai kebaikan dan berkat yang kita berikan justru menghancurkan anak itu sendiri. Perlakukan anak-anak kita sesuai dengan tingkat pertumbuhan kedewasaan mereka, sehingga semua kebaikan dan berkat yang kita berikan menumbuhkan tanggung jawab dan kedewasaan.

Pahamilah bahwa berkat Tuhan diberikan seiring kedewasaan.
Kedewasaan tidak datang dengan bertambahnya usia; kedewasaan datang dengan penerimaan tanggung jawab. Orang-orang yang dewasa ditandai dengan kemampuannya menerima tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Oleh sebab itu, sebelum Tuhan melepaskan berkatNya, Dia terlebih dahulu memberikan ujian kedewasaan untuk memastikan kesiapan seseorang menerima berkat Tuhan.

Belajar dari kehidupan Yusuf.
Kej. 37:2  
Inilah riwayat keturunan Yakub. Yusuf, tatkala berumur tujuh belas tahun–jadi masih muda–biasa menggembalakan kambing domba, bersama-sama dengan saudara-saudaranya, anak-anak Bilha dan Zilpa, kedua isteri ayahnya. Dan Yusuf menyampaikan kepada ayahnya kabar tentang kejahatan saudara-saudaranya. 

Kej. 41:46  
Yusuf berumur tiga puluh tahun ketika ia menghadap Firaun, raja Mesir itu. Maka pergilah Yusuf dari depan Firaun, lalu dikelilinginya seluruh tanah Mesir. 
Saat Yusuf berusia 17 tahun Tuhan telah menunjukan masa depannya. Melalui mimpinya, Yusuf akan menjadi seorang pemimpin, bahkan seluruh saudaranya akan sujud kepadanya. Lalu mengapa Allah tidak langsung mengangkat Yusuf menjadi pemimpin? Mengapa harus menunggu 13 tahun? Sebab “Berkat Tuhan diberikan seiring kedewasaan.” Selama 13 tahun Yusuf dibawa masuk ke ruang tunggu, menghadapi berbagai ujian kedewasaan agar mampu menerima tanggung jawab sebagai seorang pemimpin.

Ujian-ujian Kedewasaan Yusuf.
1. Siap menerima perlakuan tidak adil.
Kej. 37:20  
Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!” 

Yusuf disuruh ayahnya mengunjungi kakak-kakaknya yang sedang berada di padang penggembalaan. Tetapi sesampainya di sana, bukan perlakukan baik yang ia terima, kakaknya justru melemparkan dia ke dalam sumur. Inilah ketidakadilan yang dialami oleh Yusuf. Seperti kata pepatah: air susu dibalas air tuba, kebaikan dibalas kejahatan.

Bagaimana Yusuf lulus dari ujian ketidakadilan? 
Yusuf menyerahkan segala ketidakadilan terhadap dirinya kepada Tuhan yang bertindak dengan adil. Inilah kedewasaan! Kedewasaan adalah kesediaan untuk mengalami ketidakadilan.

Kej. 50:20  
Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. 

Jika kita mengalami perlakukan tidak adil, ingatlah kisah Yusuf bahwa sesungguhnya Tuhan sedang menguji kita agar bertumbuh dewasa. Dari sini kita dapat menarik beberapa pelajaran kehidupan, yaitu:

  • Tidak ada kegelapan/penderitaan yang berlangsung selamanya, semua penderitaan ada batas waktunya.
  • Orang bisa berusaha menghancurkan hidupmu, tetapi Tuhan yang menentukan masa depanmu.
  • Jika manusia memasukkanmu ke dalam sumur, Tuhan berkuasa mengangkatmu dari dalamnya.

Roma 12:19
Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. 

2. Menjadi seorang pelayan.
Kej. 37:28  
Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir. 

Kej. 39:1  
Adapun Yusuf telah dibawa ke Mesir; dan Potifar, seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja, membeli dia dari tangan orang Ismael yang telah membawa dia ke situ.

Ujian kedua yang dihadapi oleh Yusuf adalah menjadi seorang pelayan. Dari dalam sumur, Yusuf diangkat kemudian dijual kepada orang Ismael dan akhirnya menjadi pelayan di rumah Potifar. Mengapa Allah menguji Yusuf menjadi seorang pelayan? Karena Pelayanan adalah tanda kedewasaan dan landasan dari kepemimpinan.  Kedewasaan itu ditandai dengan kesediaan untuk melayani. Anak-anak selalu minta dilayani, tetapi orang yang dewasa bersedia untuk memberi diri.

Tuhan Yesus berkata: bahwa seorang pemimpin adalah seorang pelayan.
Luk 22:25, 26  
Yesus berkata kepada mereka: “Raja-raja bangsa-bangsa memerintah rakyat mereka dan orang-orang yang menjalankan kuasa atas mereka disebut pelindung-pelindung. Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan. 

Ketahuilah, seorang pemimpin adalah seorang pelayan. Pemimpin sejati bersedia untuk melayani. Anda berhak untuk memimpin, sejauh anda bersedia untuk melayani.

Ingatlah bahwa pelayanan adalah kunci sukses dari semua hubungan. 

Dalam usaha dagang: orang tertarik untuk membeli tidak selalu didasarkan karena barang dan harga yang ditawarkan tetapi PELAYANAN yang diberikan. Orang bisa tertarik karena barang yang Anda tawarkan, tetapi orang berkesan karena pelayanan yang Anda diberikan. Oleh sebab itu kalau ingin diberkati ubah cara Anda melayani. Jadilah seperti Yusuf yang melayani dengan segenap hati.

3. Ujian Kepercayaan.
Kej. 39:3,4 
Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya, maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf. 

Kepada Yusuf diberikan kepercayaan atas seisi rumah Potifar. Inilah ujian kepercayaan. Apakah benar-benar Yusuf sebagai hamba yang dapat dipercaya atau tidak. Dan ternyata Yusuf dapat dipercaya. Ia lulus dari ujian kepercayaan.

Ketahuilah, kepercayaan adalah dasar dari semua hubungan. Jatuh bangunnya sebuah hubungan ditentukan dari kepercayaan yang diberikan. Sesungguhnya kepercayaan tidak diberikan, kepercayaan itu didapatkan. Lihat ayat 3 “Setelah dilihat oleh tuannya…” Yusuf mendapatkan kepercayaan dari tuannya, setelah tuannya itu melihat segala yang dikerjakan Yusuf. Ternyata dari semua pekerjaan yang dilakukan Yusuf di rumah tuannya, membuktikan bahwa Yusuf layak dipercayai.

4. Menang atas fitnahan. Kej. 39 : 11-21
Pepatah berkata: Fitnahan lebih kejam dari pembunuhan. Difitnah memang menyakitkan, tetapi sebagai orang percaya kita harus bisa menang terhadap segala bentuk fitnahan.

Bagaimana cara menghadapi fitnahan?
– Jangan membalas fitnahan dengan fitnahan 
– Sampaikanlah kebenaran dengan kasih
– Berserah penuh kepada Allah yang menggunakan segala keadaan untuk mendatangkan kebaikan. Roma 8:285.

5. Tidak kecewa saat dilupakan.
Kej. 40:23  
Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya.

Jangan kecewa jika kebaikan yang engkau lakukan diabaikan, karena orang-orang yang dewasa melakukan kebaikan tanpa menuntut balasan. Orang yang dewasa melakukan kebaikan tanpa meminta penghargaan atau balasan. Tetaplah melakukan kebaikan, meski kebaikanmu dilupakan, ketahuilah bahwa dalam hidup ini bukan mencari siapa yang terbaik, tetapi siapa yang berbuat baik. Jika kebaikan yang engkau lakukan tidak diperhatikan, bahkan dilupakan, tidak dihargai, itu berarti engkau sedang belajar arti ketulusan. Percayalah balasan kebaikan datangnya dari Tuhan.

Penutup
Ketika Yusuf lulus dari semua ujian kedewasaan, saat itulah Tuhan menggenapi mimpinya. 
Kej. 41:41  
Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: “Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.” 

Dari penjara, Tuhan bawa ke istana, dari seorang narapidana menjadi orang yang ternama. 
Percayalah : BERKAT TUHAN DIBERIKAN SEIRING KEDEWASAAN. Ketika kita bertumbuh dewasa, Tuhan pasti mencurahkan berkatNya. Jadi bertumbuhlah dewasa, jadilah pribadi-pribadi yang pantas untuk menerima segala berkatNya. GBU – KJP!

Arsip Catatan Khotbah