DASAR KEIMANAN YANG BENAR DAN TEGUH – Oleh: Pdt. Gideon Santoso (Ibadah Raya 2 – Minggu, 12 Juni 2022)

Lukas 6:46-49

Pendahuluan
Ayat pokok yang akan kita bahas ini, sudah sering dikhotbahkan, yaitu tentang dua dasar bangunan. Tetapi yang akan dibahas disini lebih kepada bagaimana kita dapat memiliki dasar keimanan yang benar dan teguh itu. Kita akan bahas ayat per ayat.

I. Lukas 6:46. – “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan ?”
Ini adalah perkataan dan ungkapan kekecewaan Tuhan kepada siapa saja yang hanya bisa berseru Tuhan, Tuhan, tetapi pada kenyataannya tidak melakukan apa yang Tuhan katakan.   

Kata TUHAN – Yunani : KIRIOS, yang punya tiga pengertian, yaitu :

  • Memiliki otoritas tertinggi.
  • Pemegang kendali kehidupan.
  • Memberi keputusan atas kehidupan.

Dengan kesimpulan bahwa, jika seseorang mengakui bahwa yang memiliki otoritas adalah Tuhan, yang mengendalikan hidupnya adalah Tuhan dan yang memberi keputusan terbaik dalam kehidupannya Tuhan. Tetapi dalam kenyataannya justru tidak pernah melakukan apa yang Tuhan katakana, maka itu sama dengan mendustai dirinya sendiri dan itu juga sama dengan menyangkali Tuhan. Inilah yang menjadi kekecewaan Tuhan.

Selanjutnya kata MELAKUKAN ditulis dengan kata POIEO. Inilah yang Tuhan inginkan dalam hal kita melakukan kehendak Tuhan. Melakukan dalam pengertian yang bagaimana ?

Kata POIEO Memiliki tiga ( 3 ) Pengertian :
1). Melakukan karena sudah setuju dari awal.   
Artinya, orang dapat melakukan atau mengerjakan sesuatu karena sudah menyetujui. Dan orang yang sudah setuju itu karena ia sudah memahami perintah-Nya.

2). Pelatihan
Artinya, setelah kita setuju dengan firman-Nya, paham dengan firman-Nya, maka kita harus melatih diri kita untuk mengikuti apa yang Tuhan katakan sampai pada tahap mampu untuk melakukan perintah Tuhan dengan benar.

Menjadi sabar tidaklah terjadi dengan tiba-tiba, demikian juga untuk seseorang menjadi mahir melakukan sesuatu, tidaklah mungkin hanya sekali dua kali belajar, tetapi berkali-kali. Jangan putus asa apabila kita gagal, bangkit dan kerjakan lagi, lagi dan lagi ikuti terus dan lakukan apa yang Tuhan perintahkan. Alkitab mencatat bahwa semua orang saleh mulai dari Adam, Abraham, Ishak, Yakub, Musa, Daud dan lainnya semuanya pernah alami kegagalan dalam mengikuti perintah Tuhan, namun mereka kemudian bangkit dan memulai lagi untuk kembali apa yang Tuhan rancangan Tuhan atas kehidupan mereka.

3). Mengerjakan sampai tujuan yang diperintahkan Tuhan tercapai.
Tuhan tidak pernah perintahkan hal yang tidak mungkin. Tetapi yang Tuhan perintahkan semuanya dapat dikerjakan manusia. Jadi tidak ada alasan untuk tidak bisa mengerjakan. 

Dengan semua penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa, Lukas 6:46 merupakan tahapan yang Tuhan inginkan agar kita dapat melakukan perintah Tuhan :
1, Mendengar firman Tuhan dengan benar dan sungguh-sungguh.
2. Memahami dan menyetujui semua firman Tuhan.
3. Melatih diri untuk mengikuti.
4. Kerjakan dengan kesungguhan.

II. Lukas 6:47 – “Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya. Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa dapat disamakan.”

Kata DATANG dalam ayat ini ditulis ERKOMAIA, memiliki dua pengertian :
1. Setiap orang yang memutuskan mengikut Aku.
2. Siapapun yang menemukan Aku dan menjadikan tempat perteduhan.
Tuhan ingin siapapun yang telah memutuskan hidup untuk mengikut Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai tempat perteduhannya, maka ia harus hidup dalam tuntunan firman-Nya dan melakukannya.

Selanjutnya kata MENDENGARKAN dalam Bahasa Yunani ditulis AKOE, artinya mendengarkan dengan saksama, tidak sekedar sungguh-sungguh. Mendengarkan dengan seksama ini membutuhkan perhatian dan fokus yang sungguh-sungguh. Dalam bahasa Inggris dikenal dua kalimat Listening dan Hearing.  Hearing itu pendengaran, bisa mendengar tetapi asal mendengar, sementara Listening, itu mendengarkan, fokus mendengar, bukan asal dengar. Akoe disini adalah Listening. Ketika kita mendengarkan suara orang yang kita kenal, anak atau isteri ditengah kerumunan banyak orang, maka kita akan mendengar dengan hanya fokus pada suaranya, itulah ynag dimaksud dengan AKOE.

Lukas 8:18 – “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.”

Penekanan pada ayat ini adalah perhatikan cara kita mendengar. Jadi budayakanlah mendengar firman Tuhan dengan baik, jangan main Hp kalau firman Tuhan sedang dikhotbahkan. 

III. Lukas 6:48 – “Ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah. Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasar di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.”

Orang yang telah melewati tahapan ayat 46-47, maka ia akan bertindak, menggali dalam-dalam, dan meletakkan dasar bangunan kehidupannya di atas dasar batu yang kokoh. Kata DASAR disini ditulis TEMELIOS, yang artinya : SEBUAH SISTEM.

Jadi apa yang sedang dikerjakan oleh orang yang mendengar firman Tuhan dan melakukannya, ia sedang membangun sistem kebenaran, untuk itulah ia menggalinya dalam-dalam. Mengapa tokoh-tokoh Alkitab, seperti Ayub, Yusup, Daniel, Sadrak, Mesakh dan Abednego begitu kuat menghadapi ujian dan tantangan yang begitu berat?. Itu bukan karena mereka hebat, tetapi karena mereka telah membangun dalam dirinya sistem kebenaran Allah yang begitu dalam di dalam dirinya. Sehingga iman Ayub tidak rontok ketika alami pencobaan dari Iblis, Yusup menang dari godaan sexual, tegar dalam menghadapi ketidakadilan, Daniel dan kawan-kawan tidak goyah imannya meskipun dihadapkan pada ancaman maut, dapur api dan goa singa. Mereka semuanya imannya kokoh dan tidak dapat digoyahkan, karena sistem kebenaran Allah tertanam kuat didalam hidup mereka. Kata GOYAHKAN ditulis SELEO, artinya : Mengalami Agitasi jiwa. Apakah agitasi jiwa itu ? Ada dua pengertian :

  • Gampang terhasut untuk memberontak.  
    Dikit-dikit kecewa, tidak berpikir panjang, mudah sekali menyalahkan orang lain, menyalahkan keadaan, yang pada akhirnya Tuhan juga disalahkan.
  • Gampang digulingkan. 
     Rapuh tidak perlu dengan kekuatan besar, cukup angin kecil saja, ia sudah roboh dan terguling.
    Tetapi orang-orang yang telah membangun system kebenaran yang kokoh dan dalam, tidak dapat diprofokasi oleh keadaan, maupun profokasi Iblis sekalipun, ia tetap kuat tak tergoyahkan. Dikatakan air bah dan banjir tidak dapat merobohkan bangunan kehidupan imannya.

IV. Lukas 6:49 – “Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.”

Ini adalah kondisi sebaliknya dari orang yang mendengar tetapi tidak melakukannya. Yang didengar sama yaitu firman Tuhan, sumbernya juga sama, tetapi ia menolak untuk melakukannya. Ia mendirikan rumah kehidupannya diatas tanah, tanpa sistem. Ketika banjir datang, cuma banjir bukan air bah, tidak tunggu lama, dikatakan rumahnya segera rubuh. Kata RUBUH ditulis dalam Bahasa Yunaninya PIPTO, memiliki dua pengertian :

  • Penurunan kualitas, sampai sama sekali tidak ada kualitasnya.  Orang yang tidak membangun sistem kebenaran Allah dalam hidupnya, ia tidak memiliki kualitas sama sekali, tidak ada yang dapat diharapkan.
  •  Gampang diserang roh jahat. Karena tidak memiliki sistem kebenaran.  Hb. Matius 12:43-45. Dalam ayat ini menceritakan perumpamaan sebuah rumah yang adalah kehidupan manusia, Tuhan sudah bersihkan dari roh jahat yang menghuninya, namun kemudian hidupnya tidak diisi dengan kebenaran firman Tuhan, hidupnya dibiarkan kosong. Iblis yang melihatnya mengajak tujuh roh lain untuk datang Kembali merasukinya, sehingga keadaannya menjadi lebih jahat dari semula. Lukas 6:49, mengatakan hebatlah kerusakannya.

Kata KERUSAKKAN dalam bagian ini ditulis REKMA, artinya mengalami apa yang disebut DISTORSI, yaitu :

  • Pemutar balikan fakta.  Semua yang ia alami, selalu tertujunya bahwa ini karena Tuhan yang tidak mau bertindak untuk menolong. Padahal dialah yang salah dalam segalanya.
  • Penyimpangan – tidak ada kebenaran.   Hidupnya di luar jalur kebenaran
  • Gangguan ke arah yang tidak diinginkan. (Gatot). Inginnya berbuat baik, tetapi selalu hal yang buruk yang dikerjakannya, ia selalu gagal untuk melakukan apa yang baik.

Sebagai pengikut Kristus di akhir zaman ini, mari kita miliki dasar keimanan yang benar dan teguh, dengan membangun sistem kebenaran Allah di dalam kedalaman hidup kita, agar kita pun dapat berdiri kokoh untuk kita mampu menghadapi apapun kedepan dengan kemenangan sehingga kita dapat berkata sekali Yesus tetap Yesus.

Arsip Catatan Khotbah