RUANG TUNGGU 20: IMAN SEJATI BERTUMBUH KARENA MENGALAMI BUKAN OLEH MENGETAHUI – oleh Pdt. K. Joseph Priyono (Ibadah Raya 3 – Minggu, 27 November 2022)

Ayub 7 : 1 – 3
“Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan? Seperti kepada seorang budak yang merindukan naungan, seperti kepada orang upahan yang menanti-nantikan upahnya, demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan. 

Pendahuluan
Kisah kehidupan Ayub selalu menarik untuk dibicarakan, dibahas dan dikhotbahkan, karena pengalaman hidupnya yang sangat luar biasa. Ayub adalah seorang yang saleh, jujur serta takut akan Allah. Ia hidup benar dan menjauhi kejahatan. 

Ayub memiliki tujuh anak laki-laki, tiga anak perempuan dan juga memiliki harta kekayaan yang sangat banyak. Ia memiliki tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina (Ayub 1: 1–3). 

Namun sayangnya, hidupnya yang saleh, benar serta takut akan Tuhan tidak membebaskannya dari kesulitan, kehilangan bahkan penderitaan. Dalam waktu yang hampir bersamaan Ayub kehilangan segala-galanya. Satu persatu para pegawainya datang memberitahukan kepadanya bahwa musuh telah merampas lembu, sapi, kambing, domba serta unta-unta yang mereka gembalakan.Tidak lama berselang, hamba yang lain mengabarkan bahwa 10 anaknya lelaki dan perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, maka tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun; rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang-orang muda itu, sehingga mereka mati.

Dalam keadaan yang seperti ini Ayub bergumul dan sekaligus bertanya kepada Tuhan, mengapa semua ini terjadi? Mengapa orang benar dibiarkan menderita? Mengapa Tuhan seolah diam saja saat penderitaan terjadi? Dari ayat pokok di atas kita melihat jeritan hati Ayub. Dengan jujur Ayub meluapkan isi hatinya kepada Tuhan. Dalam ayat yang ketiga Ayub bertanya mengapa dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan?. 

Mengapa Tuhan membiarkan Ayub melewati bulan-bulan dengan sia-sia serta malam-malam yang penuh kesusahan? Sebab “IMAN SEJATI BERTUMBUH KARENA MENGALAMI BUKAN OLEH MENGETAHUI.”

Allah mengijinkan Iblis mencobai Ayub bukan tanpa tujuan. Dibalik semua penderitaan dan kesulitan yang dialami oleh Ayub, Tuhan sedang mendewasakan iman Ayub. Tuhan membiarkan Ayub berada di “RUANG TUNGGU” mengalami masa sukar dan menikmati kesulitan hidup agar imannya bertumbuh menjadi dewasa, kuat dan teguh. Mengapa harus mengalami penderitaan? Sebab IMAN SEJATI BERTUMBUH KARENA MENGALAMI BUKAN OLEH KARENA MENGETAHUI. Iman ditumbuhkan karena pengalaman bukan karena pengetahuan. Kita mengetahui karena mempelajari, tetapi mempercayai karena mengalami. Sejauh ini iman Ayub hanya sebatas mengetahui tentang Tuhan, Ayub belum mengalami Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan membawa Ayub masuk di ruang tunggu, mengalami banyak penderitaan, kesakitan, dan kesusahan untuk beberapa saat lamanya, kemudian dari ruang tunggu Allah menggiring Ayub berpindah dari mengetahui tentang Allah menjadi sebuah pengalaman dalam perjumpaan bersama Tuhan.

Iman Ayub sebatas pengetahuan
Beberapa pernyataan Ayub berikut ini adalah bukti bahwa Ayub mengenal Tuhan hanya sebatas pengetahuan. Dalam pengetahuannya tentang Tuhan, Ayub berfikir bahwa orang benar layak diberkati, sehat, jauh dari penderitaan dan kesusahan. Sebaliknya orang jahatlah yang wajib dihukum, menderita dan mengalami sakit penyakit. Itulah sebabnya di tengah-tengah penderitaannya Ayub protes kepada Tuhan.

  1. Ayub 3 – Ayub mengutuki hari kelahirannya dan menganggap penderitaan adalah musibah. 
  2. Ayub 6  – Ayub marah kepada Allah karena mendatangkan musibah bagi orang benar.
    Ayub 6:24  Ajarilah aku, maka aku akan diam; dan tunjukkan kepadaku dalam hal apa aku tersesat. 
  3. Ayub 7 – Kemarahan Ayub makin memuncak menganggap dirinya sebagai sasaran kemarahan Tuhan
    Ayub 7:20  Kalau aku berbuat dosa, apakah yang telah kulakukan terhadap Engkau, ya Penjaga manusia? Mengapa Engkau menjadikan aku sasaran-Mu, sehingga aku menjadi beban bagi diriku? 
  4. Ayub 9 – Ayub merasa dirinya dipersalahkan Tuhan
    Ayub 9:29  Aku dinyatakan bersalah, apa gunanya aku menyusahkan diri dengan sia-sia? 
  5. Ayub 10 – Ayub menuduh Tuhan hendak membunuhnya
    Ayub 10:8  Tangan-Mulah yang membentuk dan membuat aku, tetapi kemudian Engkau berpaling dan hendak membinasakan aku?
  6. Ayub 13 – Ayub menganggap Tuhan sebagai musuh
    Ayub 13:24  Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu, dan menganggap aku sebagai musuh-Mu?
  7. Ayub 19 – Ayub merasa dirinya dibiarkan Tuhan. Ia berseru tapi Tuhan tidak menjawab
    Ayub 19:7  Sesungguhnya, aku berteriak: Kelaliman!, tetapi tidak ada yang menjawab. Aku berseru minta tolong, tetapi tidak ada keadilan.

Iman Ayub karena pengalaman
Syukur kepada Tuhan, setelah melewati pengalaman di ruang tunggu, Ayub mengalami lompatan iman. Imannya bertumbuh, berubah dan berbuah. Dari hanya mengenal tentang Tuhan, kini Ayub mengalami Tuhan. 

Berikut ini bukti lompatan iman Ayub karena mengalami Tuhan.
1. Dulu penderitan adalah musibah, sekarang penderitaan adalah anugerah
Ayub 23:10  
Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. 

Penderitaan, kehilangan dan kematian anak-anaknya, telah membawa kesadaran Ayub pada rencana dan kehendak Tuhan. Ayub paham bahwa semua penderitaan yang dialami bukan untuk menghancurkan hidupnya sebaliknya untuk menguji dan memurnikan imannya agar timbul seperti emas. Dengan penuh keyakinan Ayub berkata: “karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” 

2. Ayub percaya sanggup melakukan segala sesuatu
Ayub 42:1,2  
Maka jawab Ayub kepada TUHAN: “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. 

Setelah melewati penderitaan panjang akhirnya Ayub percaya bahwa tidak ada rencana Allah yang gagal semua yang dirancangkan Tuhan pasti jadi sesuai dengan firmanNya.

3. Iman Ayub bertumbuh
Ayub 42:5  
Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.

Inilah puncak pertumbuhan iman Ayub. Dengan jujur ia mengakui bahwa dulu ia hanya mengenal Tuhan dari kata orang, sekarang matanya sendiri memandang Tuhan.

  • Dulu ia anggap TUHAN bertindak keji,  tetapi sekarang ia tahu bahwa sebenarnya TUHAN sedang menguji.
  • Dulu ia anggap TUHAN membidik, tetapi sekarang ia tahu bahwa TUHAN sedang mendidik.
  • Dulu ia anggap TUHAN ingin membunuh, tetapi sekarang ia tahu sesungguhnya TUHAN ingin ia bertumbuh
  • Dulu ia anggap TUHAN sedang memukul, tetapi sekarang ia tahu bahwa TUHAN sedang merangkul.
  • Dulu ia anggap TUHAN melukai, tetapi sekarang ia tahu bahwa TUHAN benar-benar menyukai.
  • Dulu ia anggap TUHAN sedang menghajar, tetapi sekarang ia tahu bahwa melalui segala penderitaan TUHAN sedang mengajar

Iman bertumbuh melalui pengalaman
Ibrani 11:1 firman Tuhan berkata: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” 

Bagaimana caranya mendapatkan iman yang menjadi dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat?. Firman Allah dalam Roma 10:17 berkata:  Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus. Artinya kita mendapatkan iman saat kita mendengar firman Tuhan. Lalu bagaimana iman itu menjadi kenyataan? Yakobus 2:22 memberikan jawaban. “Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.”

Jadi melalui mendengar firman, kita timbul iman, lalu dengan perbuatan, iman menjadi kenyataan.  Itulah sebabnya Tuhan kadang-kadang membawa kita masuk dalam pengalaman-pengalam sulit agar kita mengalami kenyataan iman. Contohnya:
a. Untuk mengetahui dan mengalami bahwa Tuhan adalah penyembuh seperti yang dikatakan Yesaya 53:5, maka kita harus bersedia mengalami sakit. Tanpa sakit kita tidak pernah mengalami Tuhan sebagai penyembuh. (1Pet 2:24)
b. Filipi 4:19  berkata “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Pertanyaannya! Kapan kita mengalami Tuhan yang mencukupkan kalau tidak pernah mengalami kekurangan? Hanya dalam kekurangan, kosong dan kemiskinan kita tahu bahwa Tuhan berkuasa mencukupkan.
c. Ibrani 13:6  “Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” Kapan Tuhan menolong jika semua keadaan baik, lancar dan mudah? Hanya dalam masa sukar, penderitaan, dalam tantangan kita mengalami Tuhan sebagai penolong.

Hasil Iman yang bertumbuh
Ayub 42:10  
Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu. 

Percayalah Tuhan tidak pernah bermain-main dengan umatNya. Semua dirancang dengan sempurna. Segala keadaan buruk, kesulitan, masalah, sakit penyakit bukan dimaksudkan untuk memukul kita, itu adalah caraNya untuk merangkul dengan kasihNya yang besar. Pada akhirnya Tuhan memulihkan keadaan Ayub dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu. Tuhan memberkati. KJP!

Arsip Catatan Khotbah