SETIA MEMELUK DALAM KEHENDAK ALLAH – oleh Pdt. K. Joseph Priyono (Ibadah Raya 2- Minggu, 28 Desember 2025)

Lukas 2:4 
Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, –karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud.

Pendahuluan
Natal dimulai dari kesediaan Maria untuk memeluk kehendak Allah. Ketika malaikat Gabriel menyampaikan pesan Allah kepadanya bahwa: ia akan akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, Maria tidak menolaknya. Ia tidak berbantah, tidak berdalih, atau mencari alasan, sebaliknya dengan sepenuh hati ia berkata:“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu.”Dengan rela Maria menyerahkan seluruh hidupnya, segala rencananya, tubuhnya bahkan masa depannya kepada kehendak Tuhan. Maria rela rencananya tidak terjadi, asal kehendak Tuhan yang jadi.

Namun perlu kita sadari bahwa natal bukan hanya tentang keputusan Maria berkata “ya”, tetapi tentang kesetiaan Maria dan Yusuf menjalani keputusan itu dalam realitas hidup dari hari ke hari.

Setelah Maria memeluk kehendak Allah, hidupnya tidak serta-merta menjadi mudah. Tidak ada fasilitas istimewa yang diterima, tidak ada perlakuan khusus dari Tuhan. Sebaliknya, yang ada adalah: kesulitan, ia harus menempuh perjalanan jauh dalam kondisi hamil tua, mengalami ketidaknyamanan, penolakan dari satu penginapan ke penginapan lainnya, dan keterbatasan saat melahirkan anakNya. Sekalipun demikian Maria tetapi setia memeluk kehendak Tuhan.

Meskipun melelahkan dan tidak nyaman, Maria dan Yusuf tetap setia melakukan kehendak Tuhan, dari kota Nazaret mereka berjalan menuju kota Betelehem. Betlehem bukan kota pilihan Maria dan Yusuf. Mereka sudah nyaman tinggal di Nazaret. Meski hidup sederhana, namun di sana mereka bahagia. Tetapi kehendak Allah membawa mereka keluar dari zona nyaman. Dalam kondisi hamil tua mereka harus menempuh perjalanan panjang dari Nazaret menuju Betlehem.

Ketahuilah, memeluk kehendak Allah adalah awal iman, tetapi berjalan di dalam kehendak Allah adalah bukti iman. Iman yang benar tidak berhenti pada pengakuan, iman sejati dibuktikan melalui perbuatan. Iman yang benar tidak hanya percaya dan berkata ya, iman yang benar bersedia melakukan kehendakNya. 

Mengapa kita harus setia melakukan kehendakNYA?
1. Iman diuji melalui ketaatan
Tuhan tidak pernah menjelaskan semuanya kepada Maria. Tuhan hanya berkata “engkau akan mengandung dari Roh Kudus dan melahirkan seorang anak laki-laki.” Meskipun tidak memahami semuanya, dan apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi Maria memilih untuk taat dan menerima kehendak Tuhan. Ia hanya berkata, “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu.”

    Ketahuilah: Iman sejati itu bukan tentang mengetahui apa yang akan terjadi, tetapi tentang mempercayai bahwa TUHAN selalu pegang kendali.

    Maria dan Yusuf berjalan bukan karena mereka tahu akhir cerita, tetapi karena mereka percaya kepada Allah yang memegang cerita hidup mereka. Mereka tidak tahu: di mana akan bermalam, bagaimana persalinan akan terjadi, apakah perjalanan itu aman. Dan seribu satu pertanyaan yang tidak pernah menemuan jawaban.  Namun satu hal yang mereka tahu Tuhan setia pada firman-Nya.  Meski tidak tahu segala yang akan terjadi didepan, Maria dan Yusuf tetap berjalan menuju Betlehem dalam ketaatan.

    Ibrani 11:8 
    Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. 
    Abraham taat meski tidak mengetahui tempat yang ia tuju. Ia melangkah tanpa peta, tanpa kepastian, tanpa jaminan. Ia berjalan menuju Kanaan karena percaya kepada firman Tuhan. Beberapa hari lagi kita memasuki tahun yang baru 2026. Kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi di tahun yang akan datang. Tahun depan tidak akan sepi dengan tantangan, akan ada masalah ekonomi yang akan kita hadapi, masalah kesehatan, keluarga, pelayanan dll. Tetapi iman tidak menuntut kepastian; iman menuntut kepercayaan. Berjalanlah bukan karena tahu segalanya, tetapi melangkah dengan percaya.

    Beberapa hari lagi kita memasuki tahun yang baru 2026. Kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi di tahun yang akan datang. Tahun depan tidak akan sepi dengan tantangan, akan ada masalah ekonomi yang akan kita hadapi, masalah kesehatan, keluarga, pelayanan dll. Tetapi iman tidak menuntut kepastian; iman menuntut kepercayaan. Berjalanlah bukan karena tahu segalanya, tetapi melangkah dengan percaya.

    2. Tuhan menuntun kita selangkah demi selangkah.
    Lukas 2:6,7 
    Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.

    Tuhan tidak membawa Maria dan Yusuf langsung ke tujuan dengan cara ajaib. Mereka harus berjalan selangkah demi selangkah, menikmati dinginnya malam, kelelahan, penolakan, dan berbagai macam kesulitan di sepanjang jalan. Sampai akhirnya mereka tiba di Betlehem dan melahirkan bayi Yesus di sebuah kandang.

    Itulah cara Tuhan bekerja untuk menggenapi kehendakNya. Meski Tuhan mampu untuk melakukan segalanya, menyediakan tempat yang istimewa bagi kelahiran AnakNya, tetapi Tuhan memilih kandang sebagai tempat persalinan dan palungan sebagai tempat pembaringan sang juru selamat dunia. Itulah alasan mengapa kita harus setia melakukan kehendak Tuhan, sebab Tuhan menuntun kita selangkah demi selangkah.

    Allah tidak pernah menunjukkan seluruh peta hidup sekaligus. Ia hanya memberi terang untuk satu langkah agar kita dapat berjalan. Mengapa? Karena Tuhan ingin kita berjalan dengan iman, bukan dengan penglihatan. Tuhan mau kita bergantung kepadaNYA dari hari ke hari.

    Sering kali ketakutan kita lahir bukan karena ancaman besar yang kita hadapi, melainkan kita lupa siapa yang menyertai. Mata kita lebih tertuju kepada gelap yang disekiar kita daripada terang yang Tuhan yang menyinari.

    Tahun yang baru 2026 terasa masih gelap. Kita belum tahu apa yang akan terjadi. Tidak ada jaminan kepastian di masa depan. Apakah keadaan akan makin baik atau malah memburuk? Apakah ekonomi makin maju atau justru turun, usaha makin berhasil atau bangkrut? Namun satu hal yang pasti, Tuhan menuntun dan menyertai kita berjalan selangkah demi selangkah. Ingat, kita tidak dipanggil untuk mengetahui seluruh masa depan, tetapi untuk percaya kepada Dia yang memegang masa depan.

    Ketika Tuhan menjadi terang, ketidakpastian tidak lagi menakutkan, melainkan menjadi ruang bagi iman untuk bekerja.

    Yesaya 41:10
    “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, jangan bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”

    Penutup
    Hari ini kita berdiri di sebuah ambang waktu. Diantara tahun 2025 yang akan berlalu dan tahun 2026 yang akan kita masuki. Di belakang kita ada kenangan, di depan kita terbentang hari-hari yang belum kita ketahui. Penuh tanda tanya, penuh harap, dan mungkin juga penuh kekhawatiran.

    Namun hari ini Tuhan tidak memanggil kita untuk takut. Ia memanggil kita untuk percaya dan setia. Seperti Maria dan Yusuf yang melangkah ke Betlehem tanpa tahu apa yang menanti, Tuhan memanggil kita memasuki tahun yang baru dengan satu sikap: setia.

    Mari kita melangkah ke tahun yang baru bukan dengan keraguan, melainkan dengan keyakinan bahwa Tuhan setia.
    Biarlah langkah kita menjadi doa.
    Biarlah kesetiaan kita menjadi kesaksian.
    Dan biarlah hidup kita menjadi alat bagi kemuliaan-Nya.
    Percayalah Tuhan yang setia di masa lalu, akan setia juga di masa depan.

    Tuhan memberkati – KJP!

    Arsip Catatan Khotbah