2 TIMOTIUS 3:1-9
Pendahuluan
Kalimat “Pada hari-hari terakhir” ini tidak menunjuk kepada zaman yang akan datang, tetapi menunjuk zaman sekarang, meliputi kurun waktu sejak kedatangan Yesus yang pertama sampai pada kedatangan-Nya yang ke dua nanti.
MASA YANG SUKAR
Dalam bahasa aslinya KHALEPOS, artinya sukar ; ganas ; berat untuk dipikul atau dihadapi. Apa yang menyebabkan masa yang sukar ini?
2 Timotius 3:1-2a – Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan …. Jadi manusianyalah yang membuat masa yang sukar itu.
Orang-orang yang seperti apa yang membuat masa yang sukar dan penuh ancaman ?
– Orang-orang yang jatuh dalam dosa.
– Yang jahat dan bertabiat bejat.
– Perilakunya berpusat pada diri sendiri.
– Tidak takut akan Allah, memusuhi Allah
– Menyebarkan kejahatan dan kemurtadan.
SITUASI YANG KITA HADAPI
Rasul Paulus memberitahu kepada muridnya Timotius, untuk bersiap serta menyadari bahwa :
1. Kita hidup pada hari-hari terakhir, menjelang kedatangan Yesus ke dua kali.
2. Hari-hari ini, mencakup masa yang sukar karena ulah manusianya.
3. Kita harus bersiap menghadapinya.
Ada 19 ungkapan yang digunakan untuk menggambarkan orang-orang jahat yang bertanggung jawab atas masa yang sukar itu. Kita dapat mengetahui melalui kalimat pertama dan kalimat terakhir.
2 Timotius 3:2-4 – Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama.Tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.
Yang pertama mengatakan bahwa mereka mencintai dirinya sendiri φιλαυτοι – philautoi (jamak), dari kata φιλαυτος – philautos(tunggal)), dan yang terakhir (lihat ayat 4) bahwa mereka bukan sebagaimana seharusnya mencintai Allah, sebaliknya tidak mencintai Allah (φιλοθεοι – philotheoi).
Sangat menonjol sekali, bahwa 4 dari 19 ungkapan itu ada hubungannya dengan kasih ( φιλ- ; phil-), sehingga memberi kesan bahwa yang mendasari kesalahan pada manusia ini, adalah bahwa kasih mereka salah kaprah.
Mat 24:12 – “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Akibat yang sangat mengerikan manusia kasihnya akan menjadi dingin satu sama lain. Mereka bukannya paling pertama dan di atas segala-galanya menjadi pecinta Tuhan, melainkan pencinta diri sendiri, pencinta uang (New English Bible (NEB): manusia tidak akan mencintai apa-apa kecuali uang dan diri sendiri) dan menuruti hawa nafsu (lihat ayat 4).
Dengan diapit oleh keempat ungkapan inilah muncul kelima belas ungkapan lainnya, yang hampir semuanya menggambarkan kemerosotan hubungan manusia satu sama lain. Ketiga ungkapan pertama menguraikan makna cinta kepada diri sendiri. Orang yang paling mencintai dirinya sendiri akan menjadi ‘sombong, angkuh dan tidak peduli‘. Kata pertama berarti ‘pembual‘ atau ‘sok jago‘ (αλαζονες – alazones; dan yang kedua ‘tinggi hati’ atau ‘suka memandang rendah orang lain’ (υπερηφανοι- huperêphanoi), Sebab bagi orang yang mempunyai pendapat yang berlebih-lebihan tentang dirinya sendiri, cenderung anggap rendah terhadap orang lain serta suka menjelekkan mereka, sampai pada memfitnah.
Kelima kata berikutnya dapat dimasukkan dalam satu kelompok. Kedua kata pertama adalah: Berontak terhadap orang-tua (Blasphemoi = suka menghina) sedang Alkitab mengatakan bahwa anak-anak harus menghormati orangtuanva dan mematuhinya, sebaliknya: Tidak tahu berterima kasih, bahkan tidak mampu berterima kasih. Bagaimana mau berterima kasih, kepada orang tuanya saja memberontak, tidak menghargai, menghina.
Kata berikutnya diterjemahkan tidak mempedulikan agama (ανοσιοι – anosioi, yang tidak suci), melawan Allah. Tidak heran orang seperti ini tidak dapat menghormati orang tua, apalagi berterima kasih sedang ajaran firman saja ia lawan. Tidak tahu mengasihi’ (αστοργοι – astorgoi) oleh JB Philips diartikan dengan sama sekali tidak menaruh perasaan kasih sayang manusiawi yang wajar dan normal’. Oleh Terjemahan Revised Standard Version (RSV) dalam Roma 1:31 diartikan sebagai ‘tidak mengenal belas kasihan’, sebab adalah termasuk hukum alam dan hukum ciptaan, bahwa orangtua dan anak harus saling mengasihi. Yang terakhir dari kelompok lima kata ini ialah : Tidak mau berdamai (ασπονδοι – aspondoi). Kata ini menjelaskan bahwa, karena sedemikian kerasnya orang ini memberontak/durhaka, sehingga tidak mau datang bahkan ke meja perundingan untuk berdamai.
Dalam suatu masyarakat yang ideal, hubungan baik antara anak dan orang tua ditandai dengan ketaatan, rasa terima kasih, rasa hormat, kasih sayang dan itikad baik. Dalam masa yang sukar kelima-limanya itu tidak ada.
Tujuh kata yang sisa konteksnya jelas lebih luas. Yang pertama suka menjelekkan orang (διαβολοι – diaboloi, harfiah, pendakwa, kata ini juga dipakai untuk menyebut ‘setan-setan’). E.K Simpson menerjemahkannya ‘pemfitnah’ dan (oleh NEB dengan ‘penjaja keonaran’.
Dosa mereka adalah berbicara jahat tentang orang lain terutama di belakang punggungnya. Berbicara tentang membicarakan orang dibelakangnya, orang Jawa mengenalnya dengan istilah NGRASANI ORANG, membicarakan orang boleh-boleh saja asal jangan yang jahat, tetapi hati-hati jangan suka membicarakan orang yang tidak baik atau yang jahat. Selanjutnya mereka juga cabul dan pemboros (ακρατεις – akrateis tidak bisa mengekang diri), ‘tidak dapat diperintah’ (E.K Simpson), ‘ganas/garang’ (ανημεροι – anêmeroi), (AG) ‘liar’, dan ‘benci ke pada yang baik’ (αφιλαγαθοι – aphilagathoi) atau ‘asing terhadap segala yang baik.‘
Kemudian mereka ‘bertabiat suka berkhianat’ (bandingkan Lukas 6: 16 tentang pengkhianatan Yudas). ‘nekat’ (sama sekali Tidak berpikir panjang di perkataan dan perbuatan). dan ‘berlagak tahu’ (menganggap dirinya sangat penting). Dengan demikian kita tiba kembali pada kejahatan asasi dengan mana daftar kebejatan itu dimulai, yaitu kesombongan. Iblis jatuh dibuah Allah bukan karena mencuri atau membunuh, tetapi kesombongannya dan yang memberontak untuk coba menyamai Allah.
Yang terakhir, 2 Tim 3:5 – Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! Kata jauhilah dalam Bahasa aslinya usirlah. Ini diberlakukan kepada pengajar dan guru-guru yang palsu. Sementara terhadap masyarakat yang harus dijauhinya adalah cara hidup mereka jangan sampai ditiru. Bandingkan Mazmur 1:1.
Jadi akar bencana dalam ‘masa yang sukar’ itu adalah karena manusia teramat egosentris (J.B Philips), pencinta diri sendiri (φιλαυτοι – philautoi), ‘suatu istilah yang menunjuk kepada cinta yang tak terbatas terhadap diri sendiri’.
PERINGATAN BAGI GEREJA TUHAN
Lukas 21:34 – “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukkan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.”
PERINGATAN BAGI HAMBA-HAMBA TUHAN
Kisah Para Rasul 20:28 – “Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri.”