PILIHAN DALAM HIDUP – oleh Pdm. Melky R. Mokodongan (Ibadah Raya 2 – Minggu, 17 Desember 2023)

Mazmur 1:1-6

Pendahuluan
Hidup kita sebagai orang percaya di tengah dunia ini tidaklah mudah. Ada banyak hal yang harus kita hadapi, termasuk hal-hal yang bersifat dunia yang menarik dan memikat kita sehingga menjauhkan kita dari Tuhan. Kita akan selalu diperhadapkan dengan pilihan-pilihan, dan kita harus memutuskan mana yang akan kita ambil dan jalani.

Dari sekian banyak pilihan yang kita pilih, maka secara garis besar ada dua pilihan yang mempengaruhi hidup kita, dan kedua hal ini menentukan apakah hidup kekristenan kita berekenan kepada Tuhan atau tidak.

Dalam perikop ini, Pemazmur menunjukkan kepada kita dua pilihan serta keputusan hidup, yaitu mengikuti jejak hidup orang benar atau mengikuti jejak hidup orang fasik.

Di ayat  1-3 Pemazmur menggambarkan jalan orang benar dan ayat 4-5 menjelaskan jalan orang fasik. Ini adalah dua hal yang berbeda namun sama-sama diperhadapkan kepada kita dan kita harus memilih jalan mana yang akan kita jalani.

Dari apa yang diangkat oleh Pemazmur ini, sesungguhnya menunjukkan kepada kita bahwa; Allah telah memberikan petunjuk kepada kita bagaimana seharusnya kita memiliki cara hidup yang benar dan berkenan bahkan diberkati oleh Tuhan. Sebaliknya Allah menunjukkan kepada kita, ada konsekuensi yang akan dijatuhkan bagi orang-orang yang pilihannya salah atau menyimpang dari jalan yang Tuhan telah tunjukan.

Ciri atau sifat Orang Benar & Orang Fasik.
1. Orang Benar.
Mazmur 1:1 (TB)  Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

– Menolak nasihat fasik / atau jahat.
Menolak nasihat fasik artinya tidak mengikuti pengaruh apapun yang dapat membentuk atau mengarahkan cara hdup seseorang kepada kefasikan. Lebih jauh lagi bahwa kita tidak setuju, atau tidak terima bahkan melawan segala bentuk pengaruh-pengaruh dari kefasikan. Kita tidak memberi ruang atau kesempatan sedikitpun bagi sesuatu yang salah, keliru yang justru akan semakin membawa seseorang kepada kesalahan-kesalahan yang lebih fatal.

Demikian juga dengan kehidupan kekristenan kita, dalam kita menjalani hidup, tentu kita perlu apa yang namanya nasihat, arahan, petunjuk, apalagi ketika kita punya masalah, jalan buntu menghadapi pergumulan hidup.

Kita ingin keluar dari berbagai kesulitan hidup, dan kita butuh solusinya, tidak salah kita minta nasihat, atau petunjuk kepada orang-orang yang dekat dengan kita, apakah mereka orang tua kita, saudara kita, teman atau sahabat kita, ataupun atasan kita, atau juga orang yang dikenal berpendidikan tinggi. Semua itu tidak salah, sejauh itu tidak melanggar atau bertentangan dengan iman atau kekristenan kita.

Lalu timbul pertanyaan,  apakah ada Penasihat dan nasihat yang bisa salah dan keliru?

Contoh
2 Samuel 15:12 (TB)  Ketika Absalom hendak mempersembahkan korban, disuruhnya datang Ahitofel, orang Gilo itu, penasihat Daud, dari Gilo, kotanya. Demikianlah persepakatan gelap itu menjadi kuat, dan makin banyaklah rakyat yang memihak Absalom.

Seorang Penasihat Daud yang bernama Ahitofel, telah memberikan Nasihat jahat kepada Absalom anak Daud sendiri untuk melawan bahkan ingin membunuh Daud… telah terjadi persepakatan gelap. Dan hal ini disadari oleh Daud sendiri, bahwa nasihat Ahitofel ini sangat manjur, tapi bukan hal yang baik, justru sangat berbahaya, jahat, merusak bahkan menghancurkan, itu sebabnya Daud dia berdoa dan berkata kepada Tuhan:

2 Samuel 15:31 (TB)  Ketika kepada Daud dikabarkan, demikian: “Ahitofel ada di antara orang-orang yang bersepakat dengan Absalom,” maka berkatalah Daud: “Gagalkanlah kiranya nasihat Ahitofel itu, ya TUHAN.”

Daud, dia minta Tuhan menggagalkan semua rancangan dari Nasihat-nasihat Ahitofel yang sangat berbahaya tersebut . Bahkan masih banyak lagi nasihat Ahitofel yang jahat. 2 Sam 16:20, 21 dst.

Kita perlu solusi, jalan keluar, tapi jangan sampai kita dapatkan nasihat yang salah, yang justru akan membuat kita melakukan kejahatan.

Suami, istri; hari-hari ini keadaan kita mungkin lagi sedang mengalami banyak kesulitan, lalu datang seorang sahabat atau keluarga berkata, kesini aja, kesana aja, disana manjur loh, padahal kita udah tahu itu salah dan itu dilarang oleh Firman Tuhan.

Orang tua, ketika rumah tangga anak kita lagi bermasalah, jangan kita beri nasihat yang salah, dengan berkata ‘pisah saja.’

Anak-anak,  orang-orang muda, kita yang mungkin merasa tidak terlalu diperhatikan oleh orang tua, merasa seolah berjuang sendiri, tidak ada yang menjadi penyemangat,  lalu ada teman yg selalu bersama, mengajak kita untuk cari penghiburan yang kita udah tahu salah.

Semua ada pada pilihan kita, kita yang memutuskan, mau menolak atau tidak. Tetapi hidup orang benar, hidup orang Kristen yang sungguh-sungguh,  hidup jemaat mahanaim yang berkualitas adalah, hidup menolak nasihat fasik, tapi menerima nasihat Firman Allah.

– Tidak berdiri dijalan orang berdosa
Mazmur 1:1 (TB)  Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

Ini menunjukan bahwa orang benar, kita sebagai anak-anak Tuhan, tidak mengikuti prinsip kerja orang fasik/berdosa. Jika orang fasik menghalalkan segala cara untuk keuntungan dirinya sendiri sekalipun itu jahat, maka tidak dengan kita orang percaya.

Prinsip kita, komitmen kita, cara kerja kita adalah kita terus berdiri diatas dasar atau jalan kebenaran. Apapun tawaran atau keuntungan yang ditawarkan kepada kita, sebesar apapun keuntungan tersebut, kalau itu harus didapati dengan cara2 yang salah, menyimpang bahkan jahat, kita harus berani berdiri dijalan yang benar, dengan cara bekerja sesuai aturan yang benar. Kita bukanlah orang fasik yang berjalan sesuai kehendak atau keinginan kita, tetapi kita adalah orang percaya, yang berjalan sesuai dengan tuntunan Firman Tuhan.

– Tidak duduk dalam kumpulan pencemooh.
Mazmur 1:1 (TB)  Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

Orang benar, tidak memiliki persekutuan dengan orang-orang pencemooh.  Ibadah kita bukanlah Ibadah yang menghina Allah, mempermalukan nama Tuhan, tetapi Ibadah yang memuliakan Tuhan.

Kalau orang fasik, orang berdosa,  pencemooh, sifatnya adalah tidak mau taat atau tunduk, dengan sengaja melanggar aturan Tuhan, bahkan menghina Allah, maka tidak dengan kita. Hidup kita, ibadah kita, persekutuan kita sebagai orang benar, adalah persekutuan yang memuliakan Tuhan. Mengapa? Karena kesukaan atau kegemaran kita adalah, Taurat Tuhan. Firman Tuhanlah yang menjadi kesukaan kita.

Mazmur 1:2 (TB)  tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.
Inilah yang menjadi tanda, cirikhas bahkan pembeda kita sebagai orang benar, dengan orang fasik.

Sekarang kita perhatikan seperti apa orang fasik?
Orang fasik tentu sangat kontras dengan cara hidup orang benar, kalau orang benar hidupnya seperti yang sudah dijelaskan dibagian pertama, maka orang fasik adalah kebalikannya.

  • Suka dengan nasihat-nasihat yang salah, jahat yang dia tahu itu menguntungkan dia.
  • cara kerja, atau prinsip kerja yang dijalani adalah selalu cara kerja yang salah, tidak sesuai aturan.
  • persekutuanya adalah selalu mencemooh, bukan untuk memuliakan Tuhan…

Perhatikan akhir dari keadaan orang fasik.
Ay. 4-6.
– Mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.
– Mereka tidak akan bertahan dalam penghakiman
– Jalan mereka menuju kebinasaan.

Lalu bagaimana akhir dengan orang benar?
Ay. 3
– Seperti pohon ditanam di tepi air
– Terus menghasilkan berbuah
– Tidak layu atau kering
– Selalu berhasil

Dalam hidup ini kita bisa melihat contoh dari orang-orang yang memilih hidup di jalan orang benar dan jalan orang berdosa. Alkitab menegaskan hasil akhir dari dua pilihan yang amat berbeda ini. Allah menghendaki agar kita sebagai umat-Nya tidak memilih jalan orang fasik, melainkan jalan orang benar.

Kesimpulan
Yosua 24:15
Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN  !

Kita sebagai orang percaya yang hidup di antara orang tidak percaya harus bijak dalam memilih dan menjalani hidup supaya kita tidak mengikuti pengertian dan kebiasaan orang berdosa.

Firman Tuhan harus  menjadi pegangan kita dalam menjalani kehidupan. Firman Tuhan bukan hanya untuk dibaca, tapi harus menjadi pilihan kita untuk mentaati atau melakukannya, sehingga kehidupan kita senantiasa berkenan di hadapan Tuhan.

Dunia dengan segala cara, daya akan terus menerus berusaha mencoba menjerat kita sebagai umat Tuhan, tetapi Firman Tuhan berkata; bahwa, Tuhan mengenal jalan hidup orang-orang yang bergantung sepenuhnya kepada Dia. Amin.

Arsip Catatan Khotbah