(Mazmur 51:1-21)
baca ayat 1-3
Untuk pemimpin biduan. Mazmur dari Daud, ketika nabi Natan datang kepadanya setelah ia menghampiri Batsyeba. Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!
Pendahuluan
Ada beragam definisi tentang doa, berikut ini beberapa definisi terkenal tentang doa dari tokoh-tokoh rohani dan teolog ternama, Augustinus (St. Augustine) “Doa adalah pertemuan hasrat manusia dengan kerinduan Allah.” Di sini, doa bukan sekadar kata-kata, melainkan ruang pertemuan antara hati manusia yang haus dan kasih Allah yang selalu rindu. Seperti dua kekasih yang sedang merindu (bagaimana telponan)
Martin Luther
“Doa adalah napas dari jiwa, dan tidak bisa tidak dilakukan jika kita ingin hidup rohani yang sehat.” Doa bukan tambahan atau pilihan dalam kehidupan orang percaya. Artinya semua orang perlu.
Ini definisi yang benar dan sangat baik, pagi hari ini kita akan merenungkan bersama tentang doa adalah jalan.. Doa bukan sekadar kewajiban rohani, tapi jalan untuk menemukan kedamaian sejati dan mendapatkan tuntunan Ilahi.
Apa makna doa sebagai jalan?
1. Doa adalah Jalan Kembali kepada Tuhan (Ayat 3-5)
Mazmur 51:3-5 “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.”
Daud tidak menyembunyikan dosanya. Ia tidak membuat alasan, tidak bersilat lidah.
Ia datang dengan hancur hati, dan berkata: “Aku salah, Tuhan…”Inilah kekuatan doa: Doa menjadi jalan kembali bagi orang yang tersesat. Doa bukan hanya pelarian, tapi pintu pertobatan. Doa bukan alat penghibur sementara, tapi jalan pulang menuju kasih yang kekal.
Banyak orang mengira doa hanya untuk yang suci dan rohani, padahal justru yang berdosa paling membutuhkan doa sebagai jalan untuk kembali.
Ada sebuah lagu dari UX Band – yang terinspirasi dari pertobatan Daud. Daud menunjukan bahwa solusi dari kehidupan yang salah bukanlah menjauh dari Tuhan tetapi kembali datang di dalam doa..
Yesaya 55:7 berkata: “Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya… dan kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihinya…”
Lukas 18:13–14 (Perumpamaan pemungut cukai dan orang Farisi)
“Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: ‘Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.’ Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah…”
“Doa bukan hanya kata yang kita ucapkan, tapi jalan pulang yang Tuhan bukakan.”
“Pengakuan Daud telah menolong orang-orang untuk memeriksa berbagai dalih, pertobatan setengah hati, dan kurangnya kesedihan terhadap dosa yang bisa menjauhkan mereka dari pengampunan” – Life Aplication Study Bible
Artinya doa yang sungguh-sungguh menjadi jalan pertobatan yang sungguh-sungguh juga.
2. Doa adalah Jalan Alami Pemulihan (Ayat 12-13)
Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!
Daud mengakui bahwa pemulihan sejati bukan hasil usaha manusia, tetapi hasil karya Allah yang memperbarui hati. Dalam permohonan yang penuh kerendahan hati, ia berkata: “Jadikanlah hatiku tahir” ini permintaan untuk perubahan dari dalam.
Dalam doa ini, Daud tidak sedang meminta perubahan situasi. Ia tidak berdoa agar reputasinya dibersihkan, tahtanya dikembalikan, atau masalahnya diselesaikan. Ia meminta sesuatu yang jauh lebih dalam: pemulihan batin. Itu sebabnya dia berkata, “Perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh.” Yang rusak bukan hanya perbuatannya, tapi juga hatinya. Dan hanya Roh Kudus yang bisa memperbaharuinya.
Banyak dari kita, ketika jatuh dalam dosa atau sedang hancur secara emosional, mencoba memperbaiki diri lewat kesibukan, melayani lebih giat, bekerja lebih keras, atau bersosialisasi lebih sering. Tapi seperti Daud, kita dipanggil untuk berhenti sejenak, masuk ke ruang doa, dan berkata, “Tuhan, hatiku rusak… dan hanya Engkau yang bisa memperbaikinya.”
Kita percaya pada bahwa dalam doa kita dapat melihat mujizat-mujizat yang besar yang sanggup merubah keadaan. Tapi doa juga mengubah hati.
Amsal 21:1 (TB) Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini.
3. Doa adalah Jalan Menundukkan hati kepada Kehendak Allah (Ayat 14)
Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!
Daud memohon supaya Allah memberikan roh yang rela artinya tidak terpaksa, tidak dipaksa oleh rasa bersalah, atau karena takut, tetapi lahir dari kasih dan kerinduan untuk taat kepada Tuhan.
“Doa bukan tempat membujuk Tuhan menuruti kehendakku, tapi tempat aku belajar menundukkan hatiku kepada kehendakNya.”
Tuhan Yesus memberikan kita contoh penundukan dalam doa
Markus 14:36 (TB) Kata-Nya: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.”
Pahamilah Doa bukan sekadar minta apa yang kita inginkan, tapi tunduk pada apa yang Tuhan putuskan.
Penutup
Doa adalah jalan; jalan yang membimbing kita kembali kepada Allah, jalan yang membuka ruang pertolongan-Nya, dan jalan untuk menyelaraskan hati kita dengan kehendak-Nya.