Tema firman Tuhan bulan ini masih tentang keuangan. Tentu saja saya bukan seorang yang ahli dalam bidang keuangan. Mungkin diantara kita yang hadir di pagi hari ini ada beberapa orang yang ahli di bidang keuangan. Ada beberapa diantara saudara yang lulus kuliah sebagai sarjana akuntansi, atau ada yang berprofesi sebagai akuntan, akuntan publik, dan lain lain. Namun pagi hari saya ingin mengajak kita untuk melihat keuangan dari sudut pandang spiritual. Oleh sebab itu, firman Tuhan pagi hari ini saya berikan judul UANG : BERKAT ATAU JERAT
Ada orang bilang begini “untuk apa khotbah tentang keuangan, uang bukan segala-galanya”, benar saya setuju uang memang bukan segala-galanya, tetapi dalam dunia ini segala-galanya perlu uang, betul?!
“Pak, uang tidak dibawa mati.” Benar saya setuju uang memang tidak dibawa mati, tetapi tidak punya uang rasanya sudah mau mati.
“Pak, uang hanya menjadi masalah.” Ya benar, ada banyak masalah karena uang (suami istri ribut karena uang, kakak beradik berantem karena uang, warisan, dan lain-lain) tetapi kita juga harus sadar bahwa banyak masalah di dunia ini bisa diselesaikan karena ada uang.
Oleh karena itu, kita harus memiliki pandangan yang benar terhadap uang, karena cara kita menggunakan uang akan mempengaruhi cara kita menjalani kehidupan. Untuk itu mari kita membuka Kisah Para Rasul 5:1-11 kisah tentang Ananias dan Safira.
Kisah Para Rasul 5: 1-2
Ada seorang lain yang bernama Ananias. Ia beserta istrinya Safira menjual sebidang tanah. Dengan setahu istrinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkannya di depan kaki rasul-rasul.
Kisah singkat
Ananias dan Safira adalah sepasang suami istri dari jemaat mula-mula di Yerusalem. Mereka menjual sebidang tanah dan sepakat menahan sebagian hasil penjualannya, tetapi berpura-pura menyerahkan seluruhnya kepada para rasul seolah-olah itu hasil penuh dari penjualan.
Petrus, melalui pewahyuan Roh Kudus, menegur Ananias karena telah berdusta bukan kepada manusia, melainkan kepada Allah. Seketika itu juga Ananias rebah dan mati. Beberapa waktu kemudian, Safira datang tanpa mengetahui apa yang terjadi pada suaminya dan mengulangi kebohongan yang sama. Ia pun langsung mati setelah ditegur Petrus.
Peristiwa itu menimbulkan ketakutan besar di seluruh jemaat, karena semua orang menyadari bahwa Tuhan menuntut kejujuran dan kemurnian hati dalam kehidupan orang percaya, terutama dalam hal mempersembahkan sesuatu kepada-Nya.
Kisah Ananias dan Safira ini memberikan pelajaran rohani yang sangat kuat tentang bagaimana uang bisa berubah dari sarana berkat menjadi jerat yang mematikan. Untuk itu marilah kita belajar apakah uang yang kita miliki menjadi sumber berkat atau sebagai tali yang menjerat.
Pada bagian ini kita akan mempelajari dari berbagai aspek keuangan sehingga kita memiliki pemahaman yang lengkap tentang uang:
1. ASPEK POSISI
Dari aspek posisi, uang menjadi jerat jika diletakan di hati, uang menjadi berkat jika diposisikan di tangan.
Sadarilah, saat uang ada di hati maka uang menjadi jerat, uang itu menjadi tuan yang jahat, mengikat, mengendalikan dan memperbudak manusia. Tetapi saat uang diletakan di tangan: uang menjadi sumber berkat, uang menjadi hamba yang baik, melayani keinginan sang tuan.
Marilah kita lihat kisah Anania dan Safira.
Kisah Rasul 5:3
Tetapi Petrus berkata: “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?
Masalah utama Ananias dan Safira bukanlah pada jumlah uang yang mereka berikan, tetapi memposisikan uang di dalam hati mereka. Akibatnya uang menjerat hati mereka sehingga melakukan perbuatan yang jahat. Cinta akan uang membuat hati menjadi buta terhadap kebenaran dan membunuh kepekaan terhadap suara Roh Kudus. Paulus mengingatkan: “Akar segala kejahatan ialah cinta uang.” (1 Timotius 6:10)
Berbeda dengan Barnabas
Kisah Para Rasul 4: 36-37
Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kakirasul-rasul.
Barnabas meletakan uang di tangannya bukan di hatinya. Akibatnya ia dengan bebas membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kakirasul-rasul untuk memenuhi kehidupan jemaat. Pertanyaannya: Dimanakah kita meletakan uang kita? Di hati atau di tangan?
2. ASPEK MOTIVASI
Uang menjadi jerat jika motivasinya adalah demi gengsi, ingin dipuji, dan mencari penghormatan duniawi. Sebaliknya uang akan menjadi berkat jika motivasi kita mencari uang adalah untuk kemuliaan nama Tuhan.
Amsal 3:9
“Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu.”
Perbedaan antara Barnabas dan Ananias bukan pada jumlah pemberian, tetapi pada motivasi hati mereka. Ananias dan Safira memberi karena ingin dipuji, tetapi Barnabas memberi karena ketulusan hati. Ananias dan Safira memberi karena butuh validasi, diakui dan dihormati tetapi Barnabas memberi dengan kerendahan hati. Ia memberi karena ingin memberkati.
Hati-hatilah jangan sampai uang menjerat kita, sehingga rasa hormat dan harga diri ditentukan jumlah uang yang kita miliki. Akibatnya kita menghalalkan segala cara demi rasa hormat, pujian dan pengakuan seperti yang dilakukan Ananias dan Safira. Demi gengsi dan penghormatan diri sendiri ia rela mendustai Roh Kudus.
3. ASPEK SIKAP
Dari aspek sikap, uang bisa menjadi jerat jika uang menjadi tujuan hidup, sebaliknya uang bisa menjadi berkat tatkala uang menjadi sarana hidup bukan tujuan hidup. Orang yang terjerat terhadap uang akan menempatkan uang sebagai tujuan hidup menjadikan uang sebagai hal utama yang dikejar dan diutamakan di atas segalanya. Segala tindakan, keputusan, dan nilai hidupnya diukur dari seberapa banyak uang yang bisa dihasilkan. Akibatnya ia menjadi serakah, tamak, selalu merasa kurang dan segala-galanya hanya demi uang.
Tetapi orang yang menjadikan uang sebagai berkat menyikapi uang sebagai sarana hidup. Uang digunakan secara bertanggung jawab dan sarana untuk mencapai kebaikan bagi banyak orang dan kemuliaan nama Tuhan.
4. ASPEK MORAL
Kisah Para Rasul 5:4
Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.”
Orang-orang yang terjerat pada uang, mengorbankan nilai moral, etika demi mendapatkan uang/keuntungan. Mereka rela berbohong demi uang, korupsi bahkan menipu demi keuntungan duniawi. Petrus sudah mengingatkan: selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Tetapi karena hatinya terjerat pada uang Ananias dan Safira rela mendustai Allah.
Saudara yang kekasih,
- Kejujuran lebih penting daripada persembahan
- Ketaatan kepada Tuhan lebih mulia daripada kehormatan di mata manusia.
Orang yang terjerat pada uang pandangan moralnya:
- Moral cenderung lemah atau fleksibel — bisa dikorbankan demi keuntungan.
- Uang menjadi ukuran baik-buruk, bukan lagi benar-salah secara moral.
- Tindakan baik dilakukan kalau menguntungkan secara materi.
- Cenderung egois dan pragmatis: yang penting dirinya untung, meski orang lain rugi.
- Bisa menipu, mengambil hak orang lain, atau berbuat curang jika itu menghasilkan uang.
Orang yang memaknai uang sebagai berkat pandangan moralnya:
- Moral dan nilai menjadi kompas utama, uang hanya alat untuk mencapai kebaikan.
- Memandang uang sebagai amanah: harus dicari dan digunakan dengan cara yang benar.
- Lebih menghargai kejujuran, keadilan, dan empati daripada keuntungan pribadi.
- Menyadari bahwa uang bukan segalanya — masih ada tanggung jawab sosial dan spiritual.
5. ASPEK SPIRITUAL
Secara spiritual orang yang terjerat dengan uang maka uang menjadi tuhan, tetapi mereka yang menjadikan uang sebagai berkat maka uang adalah sarana penyembahan. Ananias dan Safira menjadikan uang sebagai tuhan. Mereka rela mendustai Roh Kudus demi kelihatan rohani atau orang yang murah hati. Mereka memilih mencintai uang dan mengorbankan kebenaran. Sedangkan orang yang memandang uang sebagai berkat, ia tahu bahwa uang adalah titipan Tuhan dan mengelolanya dengan jujur. Ketika uang digunakan dengan benar, ia dapat menjadi sarana untuk menolong, membangun, dan memperluas Kerajaan Allah di dunia.
Penutup
Bersyukurlah atas setiap berkat Tuhan, tapi jangan ijinkan uang bertahta di hati kita. Gunakan uang dengan bijak agar uang bukan jadi jerat tetapi justru menjadi berkat. Tuhan Memberkati. – KJP!