Jalan Menuju “Kebesaran” – The road to Greatness – Oleh Pdt. Hani Paulus (Ibadah Raya 2 – Minggu, 23 Januari 2022)

Matius 20:20-28
Seluruh umat manusia mempunyai perasaan untuk dianggap sebagai orang yang penting, ingin melakukan sesuatu yang berharga, dan ingin memiliki perasaan berarti, benar bukan? Di jaman Tuhan Yesus, kebiasaan orang-orang Yahudi menganggap diri sebagai orang yang penting dan berharga, dan itu secara umum juga melanda kehidupan masa kini. Itu sebabnya banyak orang berlomba-lomba untuk jadi yang terbesar dan terutama. Apakah yang Yesus lakukan? Apakah Yesus menegur mereka? 

Ada 2 orang murid yang jujur menginginkannya, mereka memutuskan agar Yesus mengetahuinya. Mereka ingin menjadi besar, mereka ingin menjadi pemimpin. Maka dari itu mereka mengirim ibu mereka untuk berbicara kepada Yesus.
Matius 20:20 berkata: “Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.”
Ini merupakan permintaan seorang ibu untuk anak-anaknya, ia mau yang terbaik untuk anak-anaknya. Permintaan yang dipanjatkan sambil bersujud, itu menunjuk kepada kesungguhan hati yang memohon kepada Tuhan. 

Ayat. 21: Kata Yesus: “Apa yang kau kehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”
Permintaan ibu ini adalah permintaan tentang posisi sebelah kanan dan kiri kepada Yesus kelak jika Yesus datang membawa Kerajaan-Nya ke bumi. Suatu permintaan tentang  jabatan, kekuasaan dan kepemimpinan dalam Kerajaan Allah. 

Ayat. 22: Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu(anak-anakmu) meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.” 
Jawaban Yesus cukup berat dalam menjawab permintaan tersebut. Dia bertanya kepada ibu tersebut namun ibu tersebut tidaklah menjawab, malah yang menjawab adalah kedua anaknya. Disini kita bisa melihat bahwa anak-anaknyalah yang ingin bertanya akan hal tersebut. Ini sepertinya kedua anaknya berdiri di belakang ibunya cukup dekat untuk bisa mendengarkan perkataan Yesus. Dan jawaban mereka adalah terlalu cepat, mereka berkata tanpa berpikir dahulu. Demikianlah pula dengan kebanyakan dari kita.

Ayat. 23: Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum (from My cup), tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.”
IA berkata kepada mereka (bukan kepada ibu mereka), bahwa mereka tidak mungkin dapat meminum cawan yang akan diminum oleh Yesus, yang hanya Yesus yang dapat meminumnya. Itu ditentukan oleh Bapa kepada orang-orang yang akan meminumnya. Tidak ada seorangpun dapat meminum cawan yang kita akan minum karena cawan itu sudah ditetapkan Bapa.

Apa cawan yang Yesus harus minum? Itulah cawan penugasan khusus yang hanya dapat diminum oleh Yesus yaitu mati di kayu salib untuk penebusan seluruh umat manusia. Sebenarnya Yesus bergumul di taman Getsemani dengan Cawan ini. 
Matius 26:39 berkata: Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” 
Kunci dari kebesaran yang diraih oleh Yesus adalah SALIB. Yaitu memberikan nyawanya bagi umat manusia. Dia harus mati untuk mengerjakan tugas khusus-NYA.

Mereka berdua akhirnya memang harus mengambil bagian minum dari Cawan yang “telah” diminum oleh Yesus. Dimana Rasul Yakobus kelak mati Syahid (Dipenggal di Yerusalem) dalam Kisah Para Rasul 12:2, begitu juga dengan Yohanes (digoreng dengan minyak mendidih). Demikian kita juga akan mengambil bagian dalam penderitaan Yesus melalui penyangkalan diri, pikul salib, bahkan bisa saja menjadi martir bagi Tuhan Yesus. 

Ayat. 24: Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. 
Murid-murid marah karena menganggap kedua saudara ini mau menjadi pemimpin atas mereka, dengan demikian menyatakan bahwa mereka juga menginginkannya yaitu menjadi yang terbesar atau yang terutama. Dan disini mengherankan, bahwa Yesus tidak memarahi mereka berdua malahan Yesus memberikan jalan untuk menjadi besar kepada semua mereka.

“Untuk duduk di sebelah kanan dan kiri-Ku bukan wewenang-Ku untuk memberikannya.”
Dia mengajarkan bahwa posisi, kuasa dan kepemimpinan tidak dapat didoakan. Anda tidak bisa meminta kepada Bapa untuk posisi kepemimpinan. Yesus katakan bahwa bukan wewenang-Ku. Hal tersebut hanya Bapa yang berhak memberikannya kepada orang yang ditentukan oleh Bapa sendiri. Posisi ini diberikan kepada orang yang memang dilahirkan untuk itu, dirancang oleh Bapa sama dengan cawan yang dirancang untuk Yesus dan untuk masing-masing dari kita.

Setiap orang disini punya posisi kepemimpinan yang dimilikinya masing-masing yang dirancang oleh Bapa, yang artinya tidak ada seorangpun yang dapat mengambil posisi anda. Ini yang dapat membuat kita merdeka dari segala persaingan kompetisi dengan orang lain. Kita tidak dapat menjadi orang lain untuk sebuah penugasan ilahi. Demikian orang lain juga tidak dapat menjadi seperti diri kita. Sekali lagi, ini membebaskan hidup kita dari kompetisi, iri hati ataupun rasa bangga kepada diri sendiri.

Ayat. 25: Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 

Kesalahpahaman kebanyakan orang bahwa tentang menjadi pemimpin adalah menjadi pemimpin dapat menguasai orang lain. Cara dunia adalah dengan memakai tangan besi dan berkuasa dengan mengintimidasi orang lain untuk mendapatkan keuntungan diri sendiri dan mencoba menjadi tuan atas orang-orang. Dengan perkataan lain supaya dapat mengontrol orang lain. Ini bukan kepemimpinan sejati.

Ayat 26-27: Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.

Yesus menunjukkan Rahasia Jalan Menuju Kebesaran. Dia tidak mencela keinginan seseorang untuk menjadi yang terutama. Dia mengajarkan bagaimana cara mencapainya. Dia tahu apa yang kita mau. Dia mengatakan jangan ikuti cara atau sistem duniawi yang mengambil keuntungan dari orang lain dan menggunakan orang lain untuk keuntungan diri sendiri. Dia memberikan jalannya, petunjuknya bagaimana menjadi seorang pemimpin besar, yaitu anda harus menjadi pelayan dari semua orang.

Kontradiksi dengan filosofi orang Romawi dan Yunani. Mereka menjadi pemimpin karena orang banyak yang melayani mereka. Semakin besar jumlah para pelayan yang melayani mereka, semakin besar kepemimpinan mereka. Dalam kerajaan sorga, kita menjadi seorang pemimpin karena orang yang kita layani. Semakin banyak kita melayani orang maka semakin besarlah kita. Ini sangat terbalik dengan sistem dunia. Bukan berarti kita menjadi budak orang lain, atau seperti keset tempat orang membersihkan kotoran dari sepatu.

Mari kita melihat kata Yunaninya dari Pelayan / hamba yaitu DOULOS yaitu kita membagikan atau mendistribusikan hidup kita bagi umat manusia. Jadi maksudnya disini adalah kita melayani dengan talenta, kapasitas, karunia yang Tuhan berikan pada kita untuk disajikan bagi orang banyak. Kita menjadi besar ketika kita menemukan talenta dimana kita dilahirkan untuk itu. Sesuatu yang sifatnya menetap di hidup kita. Maka dari itu, putuskanlah untuk melayani komunitas kita. Disinilah kepemimpinan dimulai. Talenta adalah buah hidup kita, gairah kita (Passion), dan sebuah kerinduan yang mendalam dari hidup kita.

Ayat 28: sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.
Yesus memberikan teladan-Nya dengan melayani, bahkan dengan memberikan nyawa-Nya sendiri bagi kepentingan umat manusia. 

Filipi 2:8-9 (TB): Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama.

Maka dari itu, layanilah banyak orang dengan kasih karunia khusus yang sudah Bapa berikan kepada kita masing-masing. Maka kebesaran itu akan datang dengan sendirinya tanpa kita minta, karena Bapalah yang akan memberikannya kepada orang-orang yang setia, yang menjadi jawaban bagi dunia ini.

Arsip Catatan Khotbah