Pendahuluan
Tidak sedikit orang bertanya, ditengah-tengah kehidupan yang sulit ini, yang diakibatkan oleh pandemik berkepanjangan, mengapa justru orang-orang percaya yang harusnya berdiri paling depan untuk menjadi teladan ketaatan dan kesetiaan, apalagi sebagai aktifis, pelayanan Tuhan, justru pada menghilang dengan banyak alasan selain dari menghindari dampak pandemik covid? Ada yang beralasan tetap ikuti ibadah lewat on line, benar atau tidaknya tidak ada yang tahu karena itu dilakukan di rumahnya masing-masing. Bagaimana agar kita orang percaya tetap dalam kondisi apapun iman kita terus terpelihara, sehingga tidak sampai meninggalkan pelayanan dan komitmen untuk mengikut Tuhan. Mari kita simak apa kata Rasul Paulus dalam bagaimana caranya ia memelihara imannya.
1 Korintus 9:27 – “Tetapi aku melatih tubuhku dan mengusainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”
Kalimat “Aku melatih tubuhku”, ini bukan fitness, atau bentuk latihan badani, tetapi melatih diri dalam ibadah, seperti juga yang Paulus katakan dalam:
1 Timotius 4:7 – “Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek tua. Latihlah dirimu beribadah.”
Kata “Beribadah” dalam Bahasa Yunani : THRESKOS, artinya disipilin rohani. Daya tahan kerohanian seseorang bukan karena ia melayani Tuhan atau bahkan hamba Tuhan, tetapi bagaimana ia dapat melatih disiplin kerohaniannya. Dalam ibadah yang kita tangkap adalah: Firman Tuhan, firman jangan berhenti sampai dipendengaran, tetapi harus direnungkan. Bagaimana kita dapat berdisipilin dengan firman Tuhan ? Kita belajar dari pemazmur.
Mazmu. 119:105-106
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Aku telah bersumpah dan aku akan menepatinya, untuk berpegang pada hukum-hukum-Mu yang adil.”
PERTAMA :
Kita akan pelajari dulu tentang, Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Maz.119:105.
1. Firman itu pelita
Pelita dalam bhs. Ibrani : NYR, artinya lampu yang memiliki kobaran. Orang percaya yang benar-benar memiliki firman dan merenungkannya, ia akan memiliki kobaran Illahi, sehingga tidak mudah padam atau menyerah menghadapi kesulitan dan tantangan apapun, ia akan tetap antusias dan bersemangat di dalam Tuhan.
2. Bagi kakiku
Kaki dalam bhs. Ibrani – REGEL, artinya tumpuan atau landasan kaki. Jika langkah kehidupan kita bertumpu pada firman Tuhan, maka jalan kehidupan kita akan diterangi oleh kobaran hadirat Tuhan dan berdaya tahan. Mat 7:24-27 – menjelaskan tentang dua macam dasar, rumah yang didirikan di atas batu, yaitu firman Allah, ia akan kokoh berdiri meski dihantam badai ombak dan banjir yang besar seperti apapun, tetapi orang yang mendirikan di atas kebenaran dirinya sendiri, tidak berdasarkan firman Tuhan, yang digambarkan sebagai pasir sebagai landasannya, maki ia tidak dapat bertahan menghadapi badai, ombak dan banjir, rumahnya akan roboh dan dikatakan hebatlah kerusakkannya.
3. Terang
Dalam bhs. Ibrani – OR, artinya Matahari – Cahaya – Petunjuk. Firman yang kita renungkan dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan :
- Cahaya dalam hidup kita, yang dapat menuntun pada tujuan Allah.
- Dapat mengerjakan apa saja, ditengah-tengah situasi yang gelap sekalipun, karena Tuhan sebagai mataharinya.
- Memberi petunjuk yang tepat, dalam keadaan sesulit apapun.
Kehidupan yang sedang kita jalani ini dan kedepannya tidaklah semudah dari tahun-tahun yang berlalu. Perlu petunjuk dari terang firman Tuhan, untuk :
- Bagaimana seharusnya kita jalani hidup
- Menimbang dengan benar
- Mengambil keputusan yang tepat
Orang yang tidak melatih diri dalam firman Tuhan untuk disiplin rohaninya, ia memang bisa hidup, tetapi ia tidak memiliki matahari untuk menerangi dan tidak ada petunjuk dalam kehidupannya, tidak heran mereka akan tersesat, terhilang.
4. Jalan
Dalam bhs. Ibrani – NATIYB, artinya Jalur atau lintasan perjalanan. Orang yang berpegang pada firman Tuhan, maka lintasan atau jalur hidup yang harus dilalui sesulit apapun ia tetap akan berhasil menempuhnya karena ia diterangi dan mendapat petunjuk dari firman-Nya. Sangatlah penting untuk kita mendisiplin kehidupan rohani kita perenungan firman dan mempraktekkan firman dalam kehidupan ini. Jangan mendengar dan melihat apa kata dunia ini, tapi lihatlah dan dengar apa kata firman-Nya. Nabi Yeremia memberi nasihat dalam hal ini.
Yeremia 6:16a “Beginilah firman Tuhan, ambilah tempatmu di jalan-jalan yang dahulu kala, dimanakah jalan yang baik, tempuhlah itu, dengan demikian kamu mendapat ketenangan..”
Orang yang hidupnya ada pada jalan yang benar, berpegang pada firman Tuhan, ia akan mendapatkan kobaran kuasa Tuhan, hidupnya diterangi oleh matahari kebenaran Tuhan, dan mendapatkan petunjuk yang tepat, sehingga kesulitan apapun yang ia hadapi, ia tetap kuat, tidak undur, karena dorongan dari kobaran firman dan Roh Kudus terus meliputi kehidupannya.
Namun sayangnya dalam kenyataannya, tidaklah sedikit orang yang justru terhilang, atau undur dari Tuhan ketika mnenghadapi kesulitan itu, mengapa ? Nabi Yeremia memberikan jawabannya.
Yeremia 6:16b – Tetapi mereka berkata: Kami tidak mau menempuhnya!” Rupanya petunjuk firman Tuhan yang disampaikan oleh Nabi Yeremia, banyak yang menolaknya. Mereka lebih mempercayai situasi dan kondisi kenyataan yang dihadapinya, dari pada firman Allah. Mereka lebih mencondongkan telinganya untuk mendengar apa kata dunia dan situasinya dari pada apa kata Tuhan dengan Firman-Nya.
KEDUA
Kita akan pelajari Mazmur 119:106 “Aku telah bersumpah dan aku akan menepatinya, untuk berpegang pada hukum-hukum-Mu yang adil.”
Kata “berpegang “ dalam bhs Ibrani : SAMAR – artinya : Aku akan memperhatikan dan mempertahankan firman Tuhan, yaitu hukum-hukum Tuhan dan kebenarannya. Untuk kita kuat menghadapi situasi apapun dalam hidup ini, maka perhatikanlah dan pertahankanlah firman Tuhan. Daud sampai bersumpah dalam hal ini. Mengapa kita harus mengikuti prinsip dari pemazmur? Karena apa yang kita kerjakan ini adalah untuk diri kita sendiri dan menguntungkan diri kita sendiri. Kita tidak dapat bergantung dari iman orang lain, dan kita juga tidak dapat dipengaruhi oleh kerohanian orang lain, tetapi kita sendirilah yang harus membangun dan memperkuat iman kita dengan mendisiplinkan diri hidup dalam firman Tuhan. Tidak ada pegangan hidup yang lain yang menjamin kita untuk tetap dapat bertahan menghadapi kesulitan kehidupan, diluar firman Tuhan.