1 Tesalonika 5:23
“Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.”
Pendahuluan
Ayat ini merupakan doa dan harapan Paulus yang belum terjadi, bukan saja bagi jemaat Tesalonika, tetapi berlaku juga bagi kita, yaitu setiap orang yang percaya Yesus di akhir zaman ini.
Apa yang diharapkan dan didoakan oleh Rasul Paulus ? Allah menguduskan kita seluruhnya yaitu roh, jiwa dan tubuh yaitu kemanusiaan kita seutuhnya.
Terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus.
Kalimat “Menguduskan kamu seluruhnya“ menunjukkan bahwa, belum adanya kesempurnaan dalam kehidupan orang-orang Kudus atau orang-orang percaya yang telah ditebus Tuhan. Kita semua memang masih banyak kekurangan namun ini jangan dijadikan alasan untuk tidak berjalan kepada kesempurnaan yang Kristus inginkan.
1 Petrus 1:15-16
“Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”
Kalimat: Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu.
Perhatikan penekanannya pada kata “Seluruh”, Ini menunjuk kepada kesucian yang menjalar dari roh, kepada jiwa dan tubuh, tidak lain adalah manusia yang seutuhnya.
Pada awalnya Tuhan bekerja lewat roh kita. Sejak Adam dan Hawa berbuat dosa disitu roh mereka mati, sehingga kemuliaan Tuhan hilang dari mereka. Manusia tidak lagi hidup dalam persekutuan dengan Roh Allah yang kudus. Tetapi bersyukur kepada Tuhan, oleh penebusan Tuhan Yesus Kristus, roh kita semua dihidupkan kembali.
Sebab ada tertulis Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.
Ini bukanlah persyaratan baru, tetapi persyaratan berulang, melalui proses kehidupan yang tunduk kepada Roh dan firman Allah sampai pada kesempurnaan yang akan dikerjakan oleh Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya.
Matius 5:48
“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di Sorga adalah sempurna.”
Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa tujuan / sasaran hidup dari kekristenan adalah bukanlah semata-mata surga saja ketika kita meninggal, tetapi mengenai keserupaan dengan Yesus itulah yang Tuhan inginkan.
Roma 8:29
“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara“
(2 Kor 3:18; 7:1; Gal 4:19; Ef 1:4; 2:10; 4:13; 1 Tes 3:13; 4:3,7; 5:23).
Sejak kita terima Yesus, pada saatl itu pula kita dirancang untuk menjadi serupa dengan-Nya. Tuhan Yesus menjadi patron atau menjadi teladan dalam hidup kita, untuk kita kembali menjadi serupa dengan gambar Allah. Tugas Yesus bukan hanya pada pengampunan dosa lewat kematian-Nya di salib, tetapi juga pada pemulihan gambar Allah dalam diri manusia yang telah jatuh dan kehilangan kemuliaan Allah atau gambar Allah itu, yang kita bisa lihat dalam Kejadian 1:26-27.
MENJADI SEPERTI YESUS
Bagaimana kita dapat meneladani kehidupan Yesus yang kudus?
Kekudusan atau kesucian disini bukan berbicara tentang ketidakberdosaan kita, tetapi pada penundukan hidup kita pada kebenaran firman Tuhan yang kita bisa lihat dalam Yohanes 17:17 “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran.” Dengan tunduk dan hidup sesuai dengan petunjuk firman-Nya itulah yang akan membawa manusia pada pengudusan hidupnya.
1 Yohanes 3:3.
“Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia (Yesus) yang adalah suci“
Setiap orang yang mau kembali dirinya menjadi kudus sehingga menjadi serupa dengan gambar Yesus, maka ia akan menyucikan dirinya dengan taat kepada firman-Nya. Jejak kehidupan Yesus menjadi patron atau teladan hidup kita.
Kata ” Pengharapan pada ayat diatas dalam terjemahan aslinya itu sama dengan kata Percaya yang dalam bahasa Yunani ditulis PISTEUO, memiliki arti yang mendalam, tidak sekedar percaya kepada Kristus.
Akan tetapi percaya dengan menyerahkan diri dan mengandalkan hidup sepenuhnya kepada Dia, artinya terlibat sepenuhnya di dalam seluruh kebenaran yang diajarkan oleh Yesus dan tentang Yesus, yaitu menjadi pelaku dari firman Allah. Jadi maksudnya adalah kita terlibat penuh, kita mempraktekan apa yang Kristus lakukan, praktekkan firman Allah.
Kekristenan tidak hanya mengajarkan bagaimana hidup beragama, tetapi hakikinya kepada penebusan dosa dan pemulihan kembali gambar Allah dalam hidup manusia, melalui keserupaan dengan Yesus sebagai gambar dan teladan bagi kita, dengan hidup tunduk pada firman-Nya.
Bagaimana caranya kita tunduk?
Yaitu dengan kita mempraktekkan firman Tuhan. Kita harus mempraktekkan cara kehidupan Tuhan. Jangan praktekkan dengan caranya kita sendiri.
Lalu bagaimana dengan orang yang hanya percaya kepada Yesus, tetapi menolak tunduk kepada firman-Nya, yang tidak mau menghidupi firman Tuhan dalam seluruh kehidupannya (meliputi roh, jiwa dan tubuhnya) seperti Yesus, bagaimana kerohaniannya orang tersebut?
Kalau hanya percaya, iblis saja percaya kepada Yesus. Namun yang dituntut disini yaitu “mempraktekkan” firman Tuhan. Bukan cuma sekedar ucapan percaya, namun harus ada tindakan.
Meskipun kita bisa berbahasa roh, rajin beribadah, rajin melayani namun ketika tidak mempraktekkan firman Allah, itu sama saja nihil. Ibadahnya hanyalah mempraktekkan ritual-ritual agamawi, rutinitas ibadah yang sudah diatur manusia, tidak menghidupi firman Tuhan dalam kehidupannya, sehingga mengaku beragama Kristen puluhan tahun, tetapi kelakuannya tidak ada perubahan sedikitpun. Hidupnya masih dikuasai kedagingannya, sehingga ibadahnya cuma verbal saja tetapi tidak dengan hatinya.
Yesaya 29:13.
“Tuhan telah berfirman: Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan.”
Beragama jasmaninya, tetapi tidak dengan roh / hatinya. Yesus memberikan nasihat kepada murid-murid-Nya
Matius 5:20.
“Maka Aku berkata kepadamu : Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”
Orang Farisi dan ahli Taurat tahu tentang hukum Allah, mereka setia beribadah, setia bawa persembahan, setia mengembalikan milik Tuhan, itu bagus, tetapi tidak berhenti disitu, karena yang lebih daripada itu adalah menjadi pelaku firman Tuhan.
Matius 23:2-3.
“Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”
TIDAKLAH MUDAH MENJADI PELAKU FIRMAN
Memang tidaklah mudah dalam mempraktekkan firman Allah dalam kehidupan kita. Lalu bagaimana caranya kita dapat mengerjakannya
1 Korintus 9:27
“Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak“
Paulus memulai dari dirinya sendiri, yaitu dengan melatih tubuhnya dengan segala keinginannya menguasai sepenuhnya untuk ditundukkan kepada kehendak Tuhan, dan menjadi pelaku firman-Nya dalam seluruh kehidupannya . Sebagai pengkhotbah / pemberita firman pun dituntut untuk melakukan firman yang diberitakan.
Jadi semua kalangan baik jemaat dan para pelayan Tuhan, semua dituntut untuk menjadi pelaku firman Tuhan, supaya jangan sampai kita kelak malah ditolak Tuhan, karena hanya tahu mengajarkannya tetapi tidak melakukan seperti orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Kemudian tindakan yang sepatutnya yang harus kita lakukan setelah kita menguasai hidup kita, maka harus ada pembebasan.
Yakobus 4:8 yang berbunyi: “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! Dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!“
Tangan berbicara perbuatan kita harus dibereskan dari segala perbuatan dosa, dan hati kita tidak lagi mendua, mengikuti keinginan daging dan Roh, tetapi satu keinginan yaitu hidup didalam kebenaran firman dan Roh Kudus. Setelah pemulihan, maka berlaku bagi kita
Galatia 6:1
“Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.”
Bagi kita yang sudah sembuh yang rohani, kita mempunyai tugas, yaitu memimpin orang-orang sakit kerohanianjya ke jalan kebenaran dengan roh lemah lembut, dengan tetap menjaga diri agar tidak masuk dalam pencobaan untuk jatuh lagi dalam kehidupan yang lama. Kita harus mempertahankan kesehatan batin kita, kita harus tampik, tolak segala tawaran-tawaran iblis untuk membuat kita sakit kembali ( jatuh dalam dosa ).
MENIKMATI SUASANA SORGA
Ketika kita hidup dalam tuntunan kebenaran firman Allah, maka suasana Sorgapun dapat kita nikmati dalam kehiduoan ini,sebab dikatakan.
Roma 14:17
“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus“
Orang yang ada dalam Kristus adalah sehat rohani, memiliki suasana hati yang sejuk, yang penuh damai sejahtera, penuh sukacita. Orang ini dipimpin oleh Roh Kudus untuk selalu tinggal dalam kebenaran firman-Nya, sampai kelak kita akan benar-benar tinggal dalam Sorga yang mulia. Amin.